Home / Pendekar / Pendekar Salah Zaman / 90. Yodha, Resi, Apalagi Ini?

Share

90. Yodha, Resi, Apalagi Ini?

Author: SleepyFace
last update publish date: 2026-05-01 22:19:21

Sampai di ruangan, Pak Hendro mempersilakan mereka masuk.

Di dalam hanya ada mereka berlima—Rangga, Mira, Agung, Putra, dan Wira.

Mereka duduk di sofa panjang, berjejer.

Pak Hendro memesan minuman sebentar, lalu ikut duduk di depan mereka.

“Jadi gimana, Mas Rangga,” katanya membuka pembicaraan.

“Sudah mulai terbiasa dengan lelang ini, kan?”

Rangga menggeleng santai.

“Saya sebenernya belum, Pak.”

Dia menunjuk Mira.

“Kan Mira yang handle semuanya.”

Mira langsung nyeletuk,

“Iya, karena kakaknya si
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Salah Zaman   124. Undangan Keluarga Brawijaya

    Malam itu dua motor akhirnya berhenti pelan di depan sebuah gerbang besar dengan pagar hitam tinggi menjulang.Rangga yang buka helm duluan langsung bengong.“…anjir.”Agung di belakangnya ikut nengok ke dalam lewat sela pagar.“BRO. Ini rumah apa istana.”Motor satunya berhenti juga.Putra turun sambil melongo ke arah bangunan besar bergaya klasik modern di dalam sana.Lampunya terang. Halamannya luas. Dan bahkan dari luar aja keliatan mahal banget.Sementara Wira cuma berdiri biasa sambil matiin motor. Rangga nengok ke ponselnya lalu ke rumah itu lagi.“…ini alamatnya bener?”Putra langsung nyeletuk.“Jangan-jangan Rendi typo.”Belum sempet mereka debat lagi satpam di pos depan sudah keluar menghampiri mereka.Tapi berbeda dari ekspektasi mereka, wajah satpam itu malah ramah.“Mas Rangga ya?”Rangga langsung kaget.“…eh iya pak.”

  • Pendekar Salah Zaman   123. Jejak Pendaki Nyasar

    Di lantai paling atas sebuah gedung modern, Gayatri berdiri di depan jendela kaca besar sambil memandangi kota di bawah sana.Ruangan kantornya sunyi, hanya suara AC dan sesekali bunyi halaman dokumen yang dibalik pelan.Di meja kerjanya masih ada foto-foto Gunung Sumbing dan catatan tentang pusaka yang hilang lalu ponselnya bergetar.Gayatri langsung mengangkatnya.“Ya?”Suara dari seberang langsung terdengar cepat.“Nona. Kami dapat informasi baru dari desa.”Gayatri menoleh sedikit.“Lanjutkan.”“Ada satu kelompok lain yang kemungkinan belum terdata.”“Mereka datang hampir bersamaan dengan kelompok lain waktu perebutan pusaka.”“Empat orang. Masih muda. Membawa carrier besar seperti pendaki biasa.”Gayatri langsung diam beberapa detik. Matanya menyipit tipis.“Turun lewat jalur mana?”“Kami belum tahu. Warga desa bilang mereka belum terlihat turun lagi wak

  • Pendekar Salah Zaman   122. Asturi Menyusun Puzzle

    Asturi masih diam beberapa detik setelah mendengar nama Gunung Sumbing lalu perlahan senyum tipis muncul lagi di wajahnya.“Kalau begitu…”Dia menoleh ke mereka satu per satu.“…saya jadi makin penasaran.”Rangga langsung bingung.“Hah?”Asturi terkekeh kecil.“Saya ingin dengar ceritanya. Nadanya terdengar cukup lucu.”Agung langsung nyengir lebar.“Lucu sih bu.”“Dia nyasar.”“WOI.”Putra langsung ikutan ketawa kecil.“Terus panik ketemu macan. ITU NORMAL ANJIR.”Asturi akhirnya benar-benar ketawa kecil kali ini.Dan entah kenapa, melihat mereka ngomong soal Gunung Sumbing seperti cerita camping absurd biasa terasa sangat aneh buatnya.Padahal sejak tadi pagi organisasi besar datang mencari informasi tentang gunung itu.Sementara kelompok ini malah debat soal nyasar dan macan.Asturi lalu mengangkat tangan kecil ke arah k

  • Pendekar Salah Zaman   121. Habis Camping Lanjut Sparing

    Besok paginya rumah Rangga kembali rame.Agung baru keluar kamar sambil nguap ketika lihat Rangga udah duduk di bale dengan kopi dan brass knuckle di tangannya.“Pagi nyet.”Rangga nengok.“Pagi.”Putra keluar belakangan sambil masih setengah ngantuk.“Masak apa bang?”“Belum masak.”“Yah.”Agung duduk selonjor lalu nengok ke brass knuckle itu.“Mau latihan lagi?”Rangga muter-muter gelang besi di tangannya pelan.“Kayaknya iya. Kemarin badan gue masih kaku.”Dia ngelirik Agung dan Putra.“Kita ke tempat Bu Asturi yuk.”Agung langsung melek.“Hah? Ngapain?”“Sparing lah.”Rangga berdiri sambil stretching bahu.“Kemarin lumayan enak pas lawan orang. Sekalian nyoba gerakan lagi.”Putra langsung meringis kecil.“Bang… Kalau lawan orang jangan bilang enak dong.”“Lu aja yang lemah.”

  • Pendekar Salah Zaman   120. Jejak Pendekar Dharmasraya

    Malam kembali turun di Gunung Sumbing.Kabut tebal bergerak pelan di antara pepohonan sementara suara serangga malam bercampur dengan langkah kaki panik yang menghantam tanah hutan.“CEPET WOI!”Beko hampir terpeleset waktu lompat turun dari akar besar sambil ngos-ngosan parah.Muka mereka semua udah kayak gembel gunung.Baju kotor. Mata merah. Badan bau hujan dan keringat.Tiga hari nungguin gak jelas di dekat air terjun ternyata berakhir jadi bencana.Karena sekarang puluhan orang berbaju hitam sedang mengejar mereka dari belakang.Dan tidak seperti kelompok biasa, orang-orang ini bergerak rapi.Cepat. Diam. Kayak bayangan di tengah hutan.Mandala Gupta.Organisasi kuno itu benar-benar turun tangan.“ANJIR GUE BILANG JUGA APA!”Oji teriak sambil lompat ngelewatin batang tumbang.“KITA HARUSNYA CABUT DARI KEMARIN.”Karta yang lari paling belakang me

  • Pendekar Salah Zaman   119. Pusaka dalam Kaleng Khong Guan

    Rumah Rangga kembali rame seperti biasa setelah mereka turun dari Gunung Sumbing lewat jalur resmi dengan badan remuk semua.Carrier dilempar sembarangan. Sepatu berjejer berantakan di teras. Dan suasana rumah langsung hidup lagi.Di halaman belakang, Rangga sibuk manjat kursi kecil sambil masang anggrek liar hasil panjat mautnya tadi ke pohon besar dekat bale tempat mereka biasa nongkrong.“Nah… Disini cocok.”Dia mundur sedikit sambil memperhatikan posisi anggrek itu dengan puas.Bunganya sekarang keliatan jauh lebih cantik kena lampu halaman malam.Agung yang lewat sambil bawa minum langsung nyeletuk.“Lu hampir mati demi tanaman. Tapi cakep sih.”“NAH.”Rangga langsung bangga sendiri.“Makanya.”Setelah selesai, dia masuk lagi ke dalam rumah dan langsung melongo.Di ruang tengah, Agung udah gelar semua hasil “jarahan” dari gua harimau tadi di atas lantai.Barang-b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status