LOGINMereka akhirnya pulang, membawa tiga bungkus nasi goreng dan beberapa kopi sachet.
Sampai di kosan, Rangga langsung melihat Wira duduk bersila di depan pintu. Pintu terbuka, tapi lampu masih mati semua. Rangga turun dari motor. “Wir, udah jam segini, lu gak nyalain lampu sih?” Agung ikut turun sambil parkir. “Mungkin biar prananya stabil, Ngga.” Wira membuka mata, lalu berdiri. “Aku tidak menemukan sumber untuk menerangi ruangan ini. Tidak ada obor.” Rangga langsung masuk, menekan saklar. Lampu menyala. “Obor apaan yang lu cari…” gumamnya. Wira menatap lampu itu beberapa detik, jelas heran. Rangga langsung naruh makanan. “Udah, makan. Gue beli nasgor.” Agung menepuk pundak Wira. “Makan, Wir.” Mereka bertiga duduk di lantai, mulai makan. Di tengah makan, Rangga nengok ke Agung. “Gung, lu minggu ini bayar kosan, kan?” Agung mengangguk. “Iya. Pake duit tadi. Akhirnya bisa bayar.” Rangga ikut mengangguk. “Pindah sini aja, Gung. Kamar sebelah kan kosong. Biar gue bisa pinjem motor lu juga.” Agung langsung nengok, matanya agak berbinar. “Wah, ide bagus. Biar gue juga bisa belajar sama Wira, gak diganggu setan nenek itu.” Wira menatap mereka berdua. “Agung ingin pindah ke sini?” katanya datar. “Ruangan ini hanya sebesar kandang kambing. Apakah cukup?” Agung langsung keselek. “Uhuk—uhuk—” Rangga langsung nyaut. “Kaga. Lu di kamar sebelah, bukan di sini.” Wira mengangguk pelan. Agung yang sudah reda langsung ketawa. “Sialan lu, Bang Wir. Gue keselek.” Dia menunjuk sekeliling. “Ini bukan kandang kambing, tapi kandang monyet.” Dia ngakak sendiri. Wira ikut mengangguk kecil, seolah menerima istilah baru itu. Rangga langsung nengok ke Agung. “Kerjain tugas lu sendiri mulai sekarang. Jangan nanya gue, monyet.” Agung nyengir. “Ya jangan gitu, Ngga. Otak lu encer, gue mah mampet.” Setelah selesai makan, Rangga langsung pindah posisi, membuka laptop dan kembali ke tugasnya. Di sampingnya, Agung sudah geser mendekat ke Wira. “Bang Wir, ajarin lagi. Lanjutin yang tadi.” Wira menatapnya, lalu mengangguk. “Kamu masih ingat tentang prana?” Agung langsung semangat. “Ingat, bang. Ada tiga.” Dia menunjuk perutnya. “Di sini.” Lalu ke dada. “Di sini.” Terakhir ke antara alisnya. “Sama di sini.” Wira mengangguk pelan. “Sekarang rasakan itu melalui pernapasan.” Agung langsung merem, mulai menarik napas dalam-dalam. Wira membimbing dengan suara tenang. “Tarik perlahan… tahan… rasakan alirannya… lepaskan.” Agung mengikuti serius, wajahnya tegang seolah benar-benar berusaha merasakan sesuatu. Wira terus memberi instruksi, ritmis, stabil, seperti sudah terbiasa melakukan itu. Rangga yang duduk tidak jauh dari mereka sempat melirik. Beberapa detik dia hanya menatap. Lalu kembali ke layar laptopnya. “Ini makin parah…” gumamnya pelan. “Anak kampret jadi dua.” Agung tiba-tiba membuka mata. “Berasa, bang, berasa!” katanya antusias. “Tangan gue ujungnya kesemutan.” Wira mengangguk pelan. Agung langsung nengok ke Rangga. “Nyet, punggung gue panas, nyet. Beneran ini.” Rangga yang tadinya ngetik langsung berhenti. Dia geser laptopnya, lalu berdiri dan mendekat. “Itu namanya saraf vagus lu ke-stimulus, bukan prana.” Agung langsung mengernyit, lalu nengok ke Wira. “Bang Wir, susah banget ngomong sama orang yang apa-apa otak, saraf…” Dia lanjut serius. “Tapi gimana, prana gue udah stabil belum?” Wira menjawab datar. “Belum. Pranamu belum stabil. Nadimu belum terbuka semua.” Agung langsung balik lagi ke Rangga. “Apa lagi sekarang? Lu mau bilang pembuluh darah?” Rangga cuma geleng kepala. “Justru susah ngomong sama orang yang gak mau dijelasin.” Dia duduk lagi, balik ke laptop. “Udah, lu main aja sama prana lu. Biar otak lu makin error. Gue mau ngerjain tugas.” Agung mencibir. “Otak lu noh yang error. Ayo, Bang Wir, ajarin gue buka nadi.” Wira menggeleng. “Tidak bisa instan. Ini butuh waktu dan proses. Selama kau bernapas dengan cara itu, nadimu akan terbuka perlahan.” Dia lalu menoleh ke Rangga. “Kecuali dibuka secara paksa. Itu berbahaya.” Rangga yang ketatap langsung bereaksi. “Ngapain lu liat gue?” katanya. “Kaga. Gue gak mau ikutan kultus lu. Udah sana, ladenin Agung.” Malam itu berakhir dengan Agung yang masih semangat “berlatih” sampai akhirnya harus pulang. “Bang Wir, besok gue pagi ke sini lagi ya,” katanya sambil pakai sepatu. “Lanjutin ngajarin gue.” Wira mengangguk tenang. “Hati-hati di perjalanan.” Rangga yang sudah setengah rebahan langsung nyaut. “Iya, udah sana balik. Gue mau tidur.” Agung pamit, lalu pergi. Kosan kembali sepi. Rangga meregangkan badan, lalu berkata tanpa nengok, “Gue tidur duluan, Wir. Lu kalau mau tidur di dalam, jangan di depan pintu.” Wira mengangguk, lalu masuk. Rangga sudah rebahan menghadap tembok. Tidak butuh waktu lama, napasnya mulai stabil—dia tertidur. Wira berdiri diam beberapa saat, menatapnya. “Sudah tidur…” Dia mendekat, lalu duduk bersila di dekat kasur. Matanya mengamati Rangga dengan lebih serius dari biasanya. “Pengaktifan nadi memang berbahaya…” gumamnya pelan. “Tapi aku sudah di tahap Dharmasraya. Ini hal mudah.” Wira mengangkat telapak tangannya ke arah tubuh Rangga. Udara di sekitarnya perlahan bergetar halus, seperti terdistorsi tanpa suara. “Kau tidak begitu sehat, Rangga,” katanya pelan. “Aku akan menyembuhkanmu.” Dia memfokuskan energinya. Getaran halus itu semakin terasa di sekitar telapak tangannya. Rangga yang tertidur hanya bergerak sedikit, bergeser tanpa sadar. Tidak tahu apa yang sedang dilakukan padanya. Keesokan paginya, Rangga bangun. Begitu membuka mata, dia langsung sadar ada yang berbeda. Tubuhnya terasa ringan. Bukan sekadar segar biasa—lebih seperti habis tidur sangat nyenyak, tanpa beban. Dia duduk perlahan, lalu refleks menoleh ke arah pintu. Wira masih di sana. Duduk bersila. Sama seperti kemarin. Rangga menatap beberapa detik, lalu menggeleng sendiri. “Gak mungkin ada hubungannya sama dia…” Dia bangkit, menyalakan teko listrik untuk bikin kopi, lalu langsung masuk ke kamar mandi. Di luar, Wira tetap dalam posisi semedi. Namun saat Rangga masuk kamar mandi, senyum tipis muncul di wajahnya. Suara klakson terdengar dari depan. Agung datang dengan wajah ceria, melambaikan tangan setelah memarkir motor. “Bang Wir! Gue dateng! Ajarin gue lagi, ayo!” Dia langsung masuk tanpa nunggu, duduk di depan Wira dengan posisi yang sama seperti kemarin. Wira tetap tenang. “Lakukan pernapasan prana.” Agung langsung merem. “Siap, bang.” Dia mulai menarik napas dalam, fokus, wajahnya serius banget. Beberapa detik suasana tenang. Sampai—“Aaaaaahhh! APAAAN NIH ANJING!” Suara Rangga dari kamar mandi. “KENCING GUE MERAH, BABI!” Agung langsung buka mata. “HAH?!” Dia nengok ke arah kamar mandi, panik setengah mati. “Ngga?! Lu kenapa, ngga?!” Dari dalam masih kedengeran suara panik Rangga. “Ini darah apa apaan sih?! Anjing… anjing…” Agung langsung berdiri, maju setengah langkah, tapi ragu. “Bang Wir… ini… ini kenapa bang?” Wira perlahan membuka matanya.Beberapa bulan kemudian. Apa yang awalnya hanya obrolan iseng di bale rumah Rangga akhirnya benar-benar berdiri.Bukan padepokan biasa. Bukan juga sekolah biasa. Melainkan sesuatu yang aneh berada di tengah-tengah keduanya.Bangunannya luas. Beberapa rumah di sekitar sudah berubah fungsi menjadi ruang belajar, asrama, area latihan, dan kebun. Di salah satu papan besar dekat gerbang bahkan terpampang jadwal.Meditasi Dasar, Biologi Dasar, Pemahaman Alam, Latihan Fisik, Teknik DasarYang membuat banyak orang dunia bawah mengernyit setiap kali membacanya.Pagi itu, di rumah utama. Rangga berdiri di depan cermin ruang tamu memakai kemeja rapi. Rambutnya sudah disisir meski ekspresinya tetap terlihat tidak rela.Di belakangnya, Wira duduk santai sambil minum teh mint dan Rangga menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama lalu menghela napas.“Anjir... Gue jadi kepala sekolah sekarang.” Dia memiringkan kepalanya. “Ini pake izi
Rangga turun dari bale dengan senyum yang membuat Wira langsung menggeleng pelan. Di teras, Kael, Sena, Lendra, Tora, Agung, dan Putra masih sibuk main monopoli. Agung lagi debat sama Putra soal uang sewa.“Itu tanah gue.”“Lah lu lewat situ ya bayar.”“Korupsi lu.”“Ngawur.”Rangga berdiri di belakang mereka beberapa detik lalu bertanya santai.“Lu pada darimana main monopoli?”Agung nengok.“Ya dari tadi nyet. Kenapa?”Rangga mengangguk.“Mending bantuin gue.”Hening dan Agung langsung geleng.“Gamau.”Putra lebih cepat lagi.“Ogah.”Rangga langsung menunjuk Agung.“Oke... Mulai sekarang tugas kuliah lu kerjain sendiri.”Agung membeku lalu Rangga melanjutkan.“Sampai skripsi, isi SPSS sendiri... Trua analisis sendiri. Interpretasi sendiri... Gue ga bantu lu lagi.”“YAH, KAMPRET LAH.”Agung langsung berdiri.“Jangan gitu lah nyet... Lu tau
Seminggu kemudian, Rangga duduk di bale kayu depan rumahnya sambil memandangi jalan kampung. Atau lebih tepatnya bekas jalan kampung.Karena dalam beberapa hari terakhir, suasana di sekitar rumahnya berubah drastis. Mobil pickup keluar masuk hampir setiap hari.Warga yang rumahnya berada di sekitar area Rangga satu per satu pindah setelah menerima penawaran harga yang bahkan menurut mereka sendiri terlalu tinggi untuk ditolak.Ada yang pindah ke kompleks baru, ada yang beli rumah lebih besar, qda yang langsung pensiun dini dan sekarang beberapa dari mereka masih melambai ramah setiap kali lewat.“Mas Rangga! Terima kasih ya!”Rangga membalas lambaian itu dengan senyum yang terlihat terpaksa.“Iya pak…”Mobil pickup itu pergi dan Rangga kembali menatap kosong ke depan. Di kejauhan terdengar suara.BRRRRRM.Sebuah alat berat sedang merobohkan rumah yang baru dibeli beberapa hari lalu.Debu beterbangan, tru
Ruangan kembali tenang setelah Gayatri selesai membaca perkamen itu, semua orang terdiam beberapa saat. Masing-masing mencerna informasi yang baru saja mereka kumpulkan.Akhirnya Aditya menghela napas pelan.“Setidaknya sekarang kita tahu satu hal.”Gayatri mengangguk.“Jalur yang ditempuh berbeda.”Asturi menambahkan pelan.“Dan perbedaannya bukan sekadar nama tingkatan... Fondasinya memang berbeda sejak awal.”Rangga mengangguk.“Nah itu. Kalau sekarang sih paling kita baru tahu bedanya dimana. Tapi kenapa bisa begitu? Dan kenapa berubah?”Dia mengangkat bahu.“Belum tahu.”Aditya tersenyum kecil.“Itu sudah lebih banyak daripada yang kami ketahui selama puluhan tahun.”Gayatri pun mengangguk setuju. Untuk pertama kalinya sejak lama Mandala Gupta mendapatkan petunjuk yang benar-benar masuk akal.Rangga lalu berkata santai.“Yaudah... Nanti kalau saya tahu lagi, saya kabarin pakde.”
Ruangan langsung menjadi jauh lebih serius setelah hasil Gayatri keluar. Karena kalau alat ini benar, maka Grandmaster modern ternyata hanya setara tingkat kelima.Sadhaka.Dan itu membuat seluruh asumsi mereka selama ini mulai goyah.Asturi yang sejak tadi diam memperhatikan akhirnya bersandar sedikit.“Kalau begitu… saya juga ingin mencobanya.”Rangga langsung mengangguk.“Boleh bu. Tapi sama ya, sakit kalau udah lewat batas.”Asturi tersenyum kecil.“Saya rasa saya bisa menahannya.”Dia mengulurkan telapak tangannya ke atas meja dan Rangga mulai lagi.Satu lidi.CTAS.Tidak ada reaksi.Dua. CTAS. Tiga. CTAS. Empat. CTAS dan Asturi masih terlihat santai.Lima.CTASSS.Tubuh Asturi sedikit tersentak. Mata indahnya langsung menyipit.“…!”Tangannya refleks bergerak sedikit ke belakang. Rasa sakit yang tajam itu muncul sesaat lalu menghilang.
Rangga mengangkat ikatan sapu lidi itu sedikit lebih tinggi.“Ini buat ngetes.”Hening.Gayatri, Asturi, dan Aditya tetap memperhatikan benda itu dengan ekspresi yang kurang lebih sama, mereka bingung.Karena setelah semua pembicaraan tentang Dharmasraya dan kanuragan kuno, alat tes yang keluar justru sapu lidi. Rangga sendiri santai.“Katanya tiap lidi mewakili satu tingkatan.”Lalu dia menunjuk Gayatri.“Tante tingkat berapa?”Gayatri mengernyit.“Kalau klasifikasi modern... Grandmaster.”Rangga mengangguk lalu menoleh ke Asturi.“Kalau bu Asturi?”Asturi tersenyum kecil.“Sama. Saya Grandmaster.”Rangga lalu menoleh ke Aditya.“Kalau pakde?”Aditya menjawab tenang.“Anuttara.”Agung yang duduk di belakang langsung refleks bicara.“Lho? Bukannya kata Pak Hendro Anuttara itu udah paling tinggi?”Aditya tersenyum tipis.“Untuk sistem modern.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Rangga keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.Dia langsung berhenti.Di lantai, Agung sudah duduk bersila lagi, mata terpejam, wajahnya serius. Di sebelahnya, Wira duduk tenang sambil berkata pelan,“Pusat prana ada di kepala. Rasakan alirannya men
Rangga mengerjakan tugasnya sampai lewat jam tiga sore. Matanya mulai pegal, tapi dia masih fokus di depan laptop.Tiba-tiba suara klakson motor terdengar dari depan kosan.Agung.Rangga langsung menoleh. Temannya itu turun dari motor dengan wajah cerah, seperti biasa.“Woi, Ngga! Gimana healing lu
Pagi hari, Rangga membuka mata.Baru beberapa detik sadar, dia langsung duduk dan menoleh ke arah pintu.“Yaaah… bukan mimpi ternyata.”Di depan pintu, Wira masih duduk bersila. Posisi, postur, bahkan arah hadapnya sama persis seperti semalam.Rangga berdiri, berjalan ke arah dapur kecilnya, lalu me
“Bajingan!” teriak Rangga, suaranya ketahan angin.Angin kencang menyapu lereng gunung.Seng tua di atap pos tiga berisik, kebanting tiap diterpa angin, bunyinya nyeret—kraaang, kraaang—membuat kuping tidak nyaman.Rangga duduk di dalam bilik kecil yang sudah setengah miring, punggungnya menempel k







