LOGINYang sangat mengagumkan walau ratusan kelelawar berusaha selamatkan diri, namun yang telah menjadi incaran sasaran cahaya tak bisa lolos dari maut. Tanpa ampun puluhan cahaya menembus tubuh mahluk-mahluk malam itu. Kelelawar yang menjadi korban keluarkan suara pekik mengerikan. Mereka melayang jatuh jungkir balik dalam keadaan meregang ajal dan darah bercucuran.
Terdengar suara berdebum berkali-kali. Debu beterbangan, di halaman tempat Penyihir Racun Utara berdiri puluhan kelelawar yan
"Terimalah hormat kami wahai paduka penolong. Kami semua siap menjadi pelayanmu dan patuh terhadap semua perintah." Kata orang-orang itu sambil bungkukkan tubuh dalam-dalam.Sang Maha Sesat tertawa tergelak-gelak. Sambil mengumbar tawa dia berucap."Bagus! Sudah sepatutnya kalian semua membalas budi hutang nyawa kepadaku. Siapa saja yang membangkang pasti kubunuh. Jika bukan karena kemurahan hatiku kalian saat Ini pasti masih mendekam dalam tawanan gadis aneh Dewi Harum.""Kami bisa menerima, apa yang paduka penolong katakan memang benar adanya. Maka sebagai balas budi yang telah paduka berikan pada kami.Kami semua siap berbakti dan mengabdi sampai mati." Kata salah seorang di antara mereka mewakili teman-temannya.Sang Maha Sesat tertawa tergelak-gelak. Tapi dia tidak percaya begitu saja dengan segala janji kesetiaan bekas tawanan ‘Kejahatan Dunia Persilatan’ itu. Setelah tawanya terhenti Sang Maha Sesat mengambil sebuah kantong merah dari ba
"Tapi aku masih belum mengerti mengapa dia membawa pemuda itu?""Guru. Bukankah aku telah mengatakan padamu. Pemuda berambut kemerahan yang bersama kakek kerdil itu adalah pemuda yang telah membuat Golok Terbang Cambuk Api dan empat anak buahnya jadi pecundang? Dia mengaku bernama Angon Luwak. Ya. Dialah yang dijuluki Dewa dari Istana Es."Terang Untari membuat Hyang Kelam terkaget-kaget."Murid bodoh. Mengapa waktu itu kau tidak mengatakan apa julukannya? Kau cuma mengatakan dia bernama Angon Luwak." Geram Hyang Kelam."Sst. Jangan marah-marah. Nanti mereka mendengar suara kita. Lagi pula apa artinya sebuah julukan?" Tanya sang murid."Mengapa takut. Kita berada di alam gaib. Mereka tak bisa mendengar suara kita walau kita menjerit keras." Dengus Hyang Kelam.Setelah menghela nafas Hyang Kelam melanjutkan ucapan. "Kau masih belum mengerti juga? Jika dia mempunyai sebutan Dewa dari Istana Es. Artinya dia berasal dari Istana itu.""Apa
Begitu tangan terlepas dari genggaman Untari terlihat kembali. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya. Tak jauh di depan dia melihat dua altar. Satu simbol bintang pada altar pertama juga patung.Patung seekor burung Rajawali Emas.Baik Untari maupun Hyang Kelam sampai saat itu tak pernah menyadari bahwa Rajawali Emas yang berdiri di altar kedua bukanlah patung tapi mahluk hidup yang bernafas dan memperhatikan gerak gerik mereka."Menurut saya ini adalah sebuah tempat yang aneh.Tidak terlihat tanda tanda pedang pusaka disembunyikan di tempat ini." Ucap Untari."Benda yang kita cari memang ada di tempat ini. Aku yakin sekali. Sekarang aku akan melakukan pemeriksaan!" Kata Hyang Kelam masih dalam ujud gaibnya.Angin menderu disertai suara berdesir, menyapu ke segenap penjuru ruangan lalu kembali ke tempat semula."Bagaimana guru?" Tanya Untari kepada Hyang Kelam yang telah berdiri di sebelahnya."Aku telah memeriksa setiap sudut tempat i
Hanya Untari saja yang selalu luput dari kebejatan mahluk alam gaib ini. Enam saudara berbeda-beda karena tak tahan menerima perlakuan keji dari Hyang Kelam. Tiga di antaranya malah mengakhiri hidup setelah berbadan dua.Sebagai murid. Untari sebenarnya tidak begitu setuju dengan keinginan sang guru bejad yang menghendaki dan berkeinginan kuat mendapatkan Pedang Pusaka Istana Es. Apalagi Pedang Pusaka Istana Es adalah senjata pusaka milik kerajaan. Dan rasanya hanya pewaris kerajaan saja yang berhak memiliki senjata itu.Walau kehendak hati bertentangan dengan keinginan sang guru. Untari tidak berani membantah. Dia hanya bisa mengikuti kemauan guru karena khawatir dengan murkanya.Beberapa tugas telah dia lakukan. Diantaranya termasuk menyirap kabar tentang keberadaan pedang. Tapi pertemuannya dengan Angon Luwak yang terjadi secara tak sengaja di kedai tak jauh dari Tepi Kali Pening dalam perjalanan pertamanya itu telah memberi kesan tersendiri di hati Untari.
Dengan perhatikan keadaan ruangan yang luas. Ruangan luas dibatasi empat pilar tiang penyangga dengan empat ruang bersekat setinggi dada. Kemudian di ujung ruangan yang paling besar terdapat dua buah altar berupa batu empat persegi yang terdiri dari dua tingkat.Penasaran pemuda ini mendekati kedua altar bertingkat itu. Dari jarak dekat dengan jelas dia melihat dipermukaan altar pertama di bagian tengahnya yang sejajar dengan lubang menganga di langit-langit ruangan terdapat sebuah simbol bintang empat sudut berwarna putih kecoklatan.Di sekeliling simbol dibatasi dengan sebuah garis empat persegi seluas panjang lengan orang dewasa. Ketika Angon Luwak dongakkan kepala menatap ke langit-langit. Dia melihat lubang bundar seukuran tubuh manusia tembus hingga ke puncak bukit induk.Dari tempat itu secara samar dia melihat cahaya bulan. Karena bulan belum mencapai titik tertingginya. Maka cahayanya belum masuk tembus hingga menyinari lambang bintang empat persegi di
Merasa Bocah Ontang Anting tidak bicara jujur. Angon Luwak menyela. "Hah, burung lagi...? Burung Apa? Burung perkutut?!" Desis Angon Luwak dengan mata mendelik."Bukan. Cuma seekor burung cucak rawa. Ha ha ha!" Sahut Bocah Ontang Anting diiringi gelak tawa."Edan! Kau benar-benar gila kek," Maki Angon Luwak kesal. Sambil bersungut-sungut pemuda ini memutar tubuh. Menatap ke langit sebelah barat dilihatnya matahari yang merah nyaris terbenam diperaduannya."Kek... matahari hampir tenggelam. Kita harus cepat menyingkir ke tempat yang aman.""Hh, mengapa harus tergesa-gesa. Bulan purnama belum kelihatan. Lagi pula sekitar tengah malam nanti tepat bulan di atas kepala kita baru bisa mengambil benda itu.""Menunggu tengah malam hingga letak bulan persis di atas kepala? Mengapa begitu?" Tanya Angon Luwak tidak mengerti."Ketahuilah, Paduka. Di dalam gua Empat Ruang Satu Pintu ada sebuah rahasia besar yang hanya aku saja mengetahuinya. Di langit-la







