LOGIN"Ingin rasanya aku menyusul muridku dan memberikan bantuan padanya untuk mengatasi setiap kesulitan. Pasti perjalanan untuk mendapatkan Pedang Pusaka Istana Es menjadi sulit karena kuyakin banyak tokoh yang menginginkan senjata aneh sakti mandraguna itu." Kata si nenek.
Dia terdiam lagi, namun tangan kirinya tiba-tiba terkepal. Dia terlihat begitu marah, tak jelas kesalahannya ditujukan pada siapa.
"Semuanya gara-gara Pedang Pusaka Istana Es. Aku bersusah payah, rela mengambil r
Begitu tangan terlepas dari genggaman Untari terlihat kembali. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya. Tak jauh di depan dia melihat dua altar. Satu simbol bintang pada altar pertama juga patung.Patung seekor burung Rajawali Emas.Baik Untari maupun Hyang Kelam sampai saat itu tak pernah menyadari bahwa Rajawali Emas yang berdiri di altar kedua bukanlah patung tapi mahluk hidup yang bernafas dan memperhatikan gerak gerik mereka."Menurut saya ini adalah sebuah tempat yang aneh.Tidak terlihat tanda tanda pedang pusaka disembunyikan di tempat ini." Ucap Untari."Benda yang kita cari memang ada di tempat ini. Aku yakin sekali. Sekarang aku akan melakukan pemeriksaan!" Kata Hyang Kelam masih dalam ujud gaibnya.Angin menderu disertai suara berdesir, menyapu ke segenap penjuru ruangan lalu kembali ke tempat semula."Bagaimana guru?" Tanya Untari kepada Hyang Kelam yang telah berdiri di sebelahnya."Aku telah memeriksa setiap sudut tempat i
Hanya Untari saja yang selalu luput dari kebejatan mahluk alam gaib ini. Enam saudara berbeda-beda karena tak tahan menerima perlakuan keji dari Hyang Kelam. Tiga di antaranya malah mengakhiri hidup setelah berbadan dua.Sebagai murid. Untari sebenarnya tidak begitu setuju dengan keinginan sang guru bejad yang menghendaki dan berkeinginan kuat mendapatkan Pedang Pusaka Istana Es. Apalagi Pedang Pusaka Istana Es adalah senjata pusaka milik kerajaan. Dan rasanya hanya pewaris kerajaan saja yang berhak memiliki senjata itu.Walau kehendak hati bertentangan dengan keinginan sang guru. Untari tidak berani membantah. Dia hanya bisa mengikuti kemauan guru karena khawatir dengan murkanya.Beberapa tugas telah dia lakukan. Diantaranya termasuk menyirap kabar tentang keberadaan pedang. Tapi pertemuannya dengan Angon Luwak yang terjadi secara tak sengaja di kedai tak jauh dari Tepi Kali Pening dalam perjalanan pertamanya itu telah memberi kesan tersendiri di hati Untari.
Dengan perhatikan keadaan ruangan yang luas. Ruangan luas dibatasi empat pilar tiang penyangga dengan empat ruang bersekat setinggi dada. Kemudian di ujung ruangan yang paling besar terdapat dua buah altar berupa batu empat persegi yang terdiri dari dua tingkat.Penasaran pemuda ini mendekati kedua altar bertingkat itu. Dari jarak dekat dengan jelas dia melihat dipermukaan altar pertama di bagian tengahnya yang sejajar dengan lubang menganga di langit-langit ruangan terdapat sebuah simbol bintang empat sudut berwarna putih kecoklatan.Di sekeliling simbol dibatasi dengan sebuah garis empat persegi seluas panjang lengan orang dewasa. Ketika Angon Luwak dongakkan kepala menatap ke langit-langit. Dia melihat lubang bundar seukuran tubuh manusia tembus hingga ke puncak bukit induk.Dari tempat itu secara samar dia melihat cahaya bulan. Karena bulan belum mencapai titik tertingginya. Maka cahayanya belum masuk tembus hingga menyinari lambang bintang empat persegi di
Merasa Bocah Ontang Anting tidak bicara jujur. Angon Luwak menyela. "Hah, burung lagi...? Burung Apa? Burung perkutut?!" Desis Angon Luwak dengan mata mendelik."Bukan. Cuma seekor burung cucak rawa. Ha ha ha!" Sahut Bocah Ontang Anting diiringi gelak tawa."Edan! Kau benar-benar gila kek," Maki Angon Luwak kesal. Sambil bersungut-sungut pemuda ini memutar tubuh. Menatap ke langit sebelah barat dilihatnya matahari yang merah nyaris terbenam diperaduannya."Kek... matahari hampir tenggelam. Kita harus cepat menyingkir ke tempat yang aman.""Hh, mengapa harus tergesa-gesa. Bulan purnama belum kelihatan. Lagi pula sekitar tengah malam nanti tepat bulan di atas kepala kita baru bisa mengambil benda itu.""Menunggu tengah malam hingga letak bulan persis di atas kepala? Mengapa begitu?" Tanya Angon Luwak tidak mengerti."Ketahuilah, Paduka. Di dalam gua Empat Ruang Satu Pintu ada sebuah rahasia besar yang hanya aku saja mengetahuinya. Di langit-la
UJUNG LORONG jalan rahasia berakhir di ujung pintu batu. Bocah Ontang Anting menghela nafas sambil pandangi pintu tebal berat luar biasa yang menghadang di depannya. Menatap ke arah pintu yang luasnya cuma seukuran besar tubuh laki-laki dewasa ini membuat Ingatannya melayang jauh pada masa dua puluh tahun silam. Dulu dia datang ke tempat ini membawa benda milik prabu Sangga Langit penguasa Istana Pulau Es. Benda berharga yang dia bawa dan harus disimpan di salah satu ruangan rahasia dalam gua Satu Pintu Empat Ruang tak lain adalah senjata pusaka berupa sebilah pedang Maha Sakti.Seperti telah dikisahkan sebelumnya. Istana Pulau Es diserbu sekaligus dihancurkan oleh Sang Maha Sesat. Seluruh penghuni kerajaan yang terdiri dari raja, permaisuri dan dua putra mahkota juga para pembesar dan para perajurit menemui ajal. Sang Maha Sesat tidak sendiri, dia dibantu oleh tokoh sesat yang tidak lain adalah Penyihir Racun Utara.Lima hari sebelum peristiwa penyerangan yang melibatkan pasukan alam
Demi berbakti pada guru yang sangat dihormati. Kupu Kupu Putih berangkat menuju tiga bukit yang terdapat di pantai utara. Sejauh ini dia belum mengetahui bahwa Penyihir Racun Utara telah tewas terbunuh di tangan sahabatnya sendiri yang tak lain adalah Sang Maha Sesat."Aku telah penuhi permintaan kalian." Berkata dara cantik jelita itu sambil menatap tiga pengawal yang duduk bersimpuh di depannya.Tiga pengawal tundukkan kepala tak berani menatap. Kupu Kupu Putih tersenyum. Sekejab matanya yang indah memperhatikan keadaan di sekitarnya.Diam-diam dia terkejut.Tanpa sadar dia berseru."Ternyata kita tidak berada di bukit Induk. Kita berada di bukit sebelah selatan. Bukit induk ada di tengah dan bukit itu adalah bukit paling besar dibandingkan dua bukit yang mengapitnya. Sebagai anjing penjaga yang mempunyai penciuman tajam. Mengapa kalian memilih tempat ini?" Tanya Kupu Kupu Putih sambil menatap tiga penjaganya satu persatu.Kajero atau Maut





![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

