Mag-log inKEMBALI pada nenek renta tak berhidung, tak bermata bernama Momok Laknat. Tak lama setelah menyelinap keluar dari pondok tulang bersama gadis tak berkulit berkepala botak tak berambut bernama Puteri Pemalu. Dia dan gadis berpakaian merah itu bersembunyi di sudut sebelah kiri pondok yang gelap.
Dari tempat itu si nenek tak bermata namun mempunyai penglihatan batin yang tajam segera layangkan pandang ke arah datangnya suara bergemuruh. Setelah menunggu sekian lama suara bergemuruh semaki
Ratusan rambut panjang berputusan. Namun Maha Sesat mampu menyarangkan pukulan ganasnya ke bagian dada Maut Biru. Tanpa ampun cekalan Maut Biru pada rambut awan terlepas, tubuhnya terpental sejauh lima tombak dan dia jatuh terkapar dengan mulut semburkan darah sementara di bagian dada terdapat sepuluh bekas jemari tangan menghitam.Dada Maut Biru hangus gosong. Dia meregang ajal dengan mata mendelik. Maha Sesat menyeringai melihat lawannya tewas. Dia kemudian meludah sedangkan dari mulut terdengar ucapan."Manusia keparat! Ternyata kau bukan lawan mudah bagiku.Gara-gara perbuatanmu jadi rusak rambutku!"Maha Sesat kemudian menyisir rambut panjangnya yang awut-awutan dengan jemari tangan. Dia merasa puas dapat menghabisi Maut Biru.Ingat pada Kupu Kupu Putih itu Maha Sesat segera memutar tubuh dan berjalan cepat menuju ke arah di mana dara cantik tergeletak tak sadarkan diri. Tetapi ketika sampai di tempat yang dituju. Kejut dihati laki-laki bukan main mel
Dia melompat ke arah Maha Sesat melepaskan dua pukulan sekaligus lancarkan tendangan menggeledek ke bagian pinggang.Empat cahaya biru terang berkiblat dari tangan dan kaki Maut Biru.Dua serangan yang berasal dari tangan menghantam dada dan kepala Maha Sesat sedangkan dua serangan lain yang berasal dari kakinya menghantam pinggang dan membabat kedua kakinya.Hawa panas menyengat menyambar tanpa suara deru. Maha Sesat tercekat. Sama sekali dia tak menyangka dia akan mendapat serangan seperti itu."Pengecut sialan!"Maha Sesat keluarkan suara menggembor marah. Dia tidak tinggal diam. Sadar serangan lawan sangat mematikan, dia memutar tubuh. Sambil berputar rambutnya yang tergerai dikibaskan, sementara ujung jubah hitam dia kebutkan menghalau serangan ganas Maut Biru.Segulung angin dingin menderu dahsyat dari ujung jubah. Sementara ratusan helai rambut Maha Sesat yang panjang sepinggang berubah kaku seperti kawat baja menghantam sekaligus mencari sas
Dengan seksama sambil berpikir Maut Biru memperhatikan sosok gadis didepannya. Dia menatap wajah yang cantik luar biasa itu, dia juga memandang ke arah dada membusung yang hanya terbalut gaun tipis berwarna hijau kelabu. Dada yang putih dan sebagian menyembul dari belahan gaun tipis ketat. Membuat Maut Biru jadi belingsatan.Maut Biru menelan ludah. Sekujur tubuhnya menggeletar. Dia menjadi lupa diri. Hasrat begitu menggebu hingga membuatnya hilang kewaspadaan. Maut Biru sama sekali tidak menyadari di tempat itu baru saja ada orang yang datang.Orang yang sengaja menguntitnya sejak dari pendataran bukit Induk."Anjing penjaga jahanam! Berani sekali kau hendak berbuat aib pada calon istriku!"Satu bentakan menggelegar merobek kesunyian.Maut Biru terkesiap. Dia tidak sempat melihat siapa yang datang. Tahu-tahu semak belukar terkesingkap, sebuah kaki terbalut celana hitam terjulur. Sambaran kaki disertai suara deru angin dingin.Maut Biru terk
BERLARI jauh meninggalkan pendataran bukit induk Maut Biru yang tengah mengalami cidera di bagian dalam akibat pukulan Puteri Pemalu akhirnya merasa perlu untuk melepas lelah. Apalagi dalam pelariannya Maut Biru membawa serta majikannya yang tak lain adalah Kupu Kupu Putih yang aslinya bernama Ni Ambar Sabanantang dan merupakan murid Penyihir Racun Utara.Selama melarikan diri sambil memanggul Kupu Kupu Putih di bahu kanan. Beberapa kali Maut Biru yang telah kehilangan saudara tuanya Maut Merah dan Maut Hijau sengaja mengambil jalan sulit. Tindakan ini terpaksa dia lakukan karena khawatir ada musuh atau pihak-pihak tertentu yang mengamatinya.Kini setelah cukup lama berlari, laki-laki yang sekujur tubuh serta rambutnya berwarna serba biru itu memperlambat larinya. Di suatu tempat ketinggian tak jauh dari deretan pepohonan besar yang tertutup semak belukar Maut Biru hentikan langkah. Sambil memegang tongkat hitam bernama Geger Gaib milik sang majikan di tangan kiri dia
Tapi apa yang terjadi. Pedang tetap tak beranjak dari tempatnya menancap. Malah kini seolah mengejek orang tua itu sang pedang yang lentur meliuk, melenggang lenggok selayaknya orang yang menari.Penasaran, Bocah Ontang Anting datang mendekat sambil angsurkan rangka pedang ke arah senjata mustika itu.Tuiing!Pedang malah melenting berpindah tempat, lalu melompat turun naik tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang bermain-main."Edan! Benar-benar Pedang Pusaka Istana Es! Sama seperti pewarisnya Paduka" Menggerutu si kakek sambil geleng-geleng kepala.Di luar tahu Bocah Ontang Anting. Pendekar Sinting telah berada di dalam ruangan itu. Ketika pertama kali masuk ke dalam ruangan Gua Empat Ruang Satu Pintu. Pemuda ini tertegun melihat Sang Samudra Langit telah bergeser jauh meninggalkan altar kedua. Kemudian dia juga melihat Pedang Pusaka Istana Es yang telah keluar dari tempat penyimpanannya.Pendekar Sinting menjadi heran saat mengetahui sa
"Pemuda itu bernama Angon Luwak. Tapi nama sebenarnya adalah Saka Buana, dia lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Sinting, tapi gelar sebenarnya adalah Dewa dari Istana Es." Terang si kakek."Hm, apakah dia murid kakek aneh bernama Dedengkot Sinting?" Tanya suara itu."Betul. Dia juga murid Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu." Bocah Ontang Anting menambahkan.Sunyi sejenak."Ternyata apa yang kau katakan tentang ciri-ciri pemuda itu sesuai dengan garis suratan nasib. Pemuda itu nampaknya memang berjodoh dengan Pedang Pusaka Istana Es..."Bocah Ontang Anting sambil senyum senyum cepat memotong."Ya, aku setuju. Orang gila pantasnya memang berpasangan dengan orang sinting.""Jangan suka menyela bila orang belum selesai bicara. Apa kau ingin aku menyumpal mulutmu hingga membuatmu tak mampu bicara seumur hidup atau kau ingin aku membuatmu sakit perut selama satu purnama?" Tanya suara tak berujud itu membuat Bocah Ontang Anting melengak k
Kedua laki-laki yang sesungguhnya memiliki nama Kalebu dan Kalametu ini kemudian merasakan tubuhnya melayang sedemikian rupa, lalu meluncur jatuh di undakan anak tangga tak jauh dari tumpukan tengkorak.Si gadis tertawa mengekeh begitu Kalebu dan Kalametu menghaturkan sembah sambil benturk
Sesuatu berupa cairan pekat menebar bau aneh, seperti bau tembakau tapi bercampur bau pesing. Sosok bayangan yang berkelebat diatas tubuh si kakek tertawa-tawa, sementara si kakek keluarkan suara bersin-bersin dan suara seperti orang yang mau muntah. Sosok yang mengguyurkan cairan aneh dengan bau
Bocah Ontang Anting terkesima, mukanya yang polos pucat pasi. Dia mendekap mulut dan hidung. Tapi ketika sadar begitu banyak lubang yang lain dalam tubuhnya dia menjadi bingung."Mana yang mau kudekap, lubang mana yang paling utama harus kulindungi mengingat banyak lubang ditubuhku!" Memba
Berbarengan dengan teriakannya itu si bocah tiba-tiba lakukan gerakan tak terduga. Tubuh si kakek melambung. Tangan terjulur ke arah batok kepala Ratu Lintah siap menjebol bagian ubun-ubun dan membongkar isinya.Si nenek yang selalu menganggap remeh kakek kerdil ini sempat dibuat terkesiap







