LOGINMendapat serangan sedemikian hebat Sang Maha Sesat terkesiap dan sempat merasa ciut. Namun dia tidak kehabisan akal. Segera laki-laki itu melepas pakaian hitamnya yang tebal. Sambil keluarkan suara menggerung dia memutar jubah hitam yang telah dialiri tenaga dalam. Suara menderu disertai kilatan cahaya hitam.
Di tempatnya berdiri Penyihir Racun Utara sempat tergontai. Tapi dengan tongkat sakti ditangan dia tidak merasa gentar. Malah sekarang dia kerahkan tenaga saktinya hingga berkali
Senopati terpejam. Dia berpikir siapa gerangan orang yang bicara dengannya itu. Bersikap seakan mengerti apa yang dipikirkan senopati kadipaten Blora.Pemilik suara yang belum juga menunjukkan diri itu kini berkata. "Kau belum mengenalku. Kau ingin tahu siapa aku. Wahai orang yang selalu melumuri kedua tangan dengan darah. Wahai orang yang mengayun senjata sambil tertawa. Aku langit engkau bumi, engkau keji aku murah hati. Engkau seorang pembunuh aku hanyalah perangkai kata-kata indah. Ketahuilah aku sama sekali tidak terlibat segala bentuk urusan darah yang kau ributkan bersama adipati Seta Kurana. Aku cinta damai dan ingin menjadikan dunia menghargai surga kebahagiaan bukannya neraka kebencian. Dengan semua alasan yang kusebutkan ini apakah sekarang kau sudah tahu siapa aku?""Penyair Sinting...." Sentak senopati dengan suara berdesis mulut ternganga.Terdengar suara tawa mengikik kemudian disusul dengan suara bergemerincing dan.Byar! Byar!Tiba
"Siapa yang tertawa.Apa yang ditertawakan? Aku sedang tergesa-gesa.Tidak ada yang lucu. Hanya orang sinting yang tertawa tidak pada tempatnya," Membatin senopati dalam hati.Baru saja dia bicara seperti itu. Seakan mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu, suara tawa mengikik tiba-tiba lenyap. Tapi ketika senopati kembali melangkah menuruni undakan tangga-tangga batu menuju ke kaki bukit.Anehnya tawa kembali terdengar seolah orang yang tertawa seperti mentertawai dirinya. Senopati yang mempunyai sifat tidak sabaran dan termasuk orang tinggi hati ini tentu saja merasa tersinggung. Dia tidak dapat memastikan apakah orang yang tertawa itu sengaja mempermainkannya. Yang pasti dia tidak suka dipermainkan seperti itu. Tidak mengherankan senopati pun kemudian berteriak."Siapa yang tertawa selagi orang berduka dan diliputi kegalauan adalah manusia yang sama sekali tidak punya budi tak punya otak!""Hik hik. hik Edan! Orang waras begini dia bilang tak punya ot
SETELAH hampir setengah malam penuh menunggang kuda putih bernama Cantrik Abimayu. Laki-laki gagah berpakaian bagus warna hitam membekal senjata berupa keris ini sampai di selatan gunung Kidul. Laki-laki berusia empat puluhan ini tak lain adalah senopati Gagak Panangkaran. Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya, Sang senopati sekaligus orang kepercayaan adipati ditugaskan untuk menghubungi beberapa tokoh sakti yang masih terhitung sahabat dekat adipati.Para sahabat itu diharapkan membantu pihak kadipaten untuk meringkus pembunuh haus darah yang telah melakukan serangkaian pembunuhan terhadap para pejabat kerabat adipati, para tumenggung juga beberapa orang penting lainnya.Gagak Panangkaran seperti telah diketahui memutuskan untuk pergi sendiri tanpa didampingi pasukan kadipaten. Kini setelah tiba di tepi pantai tak jauh dari bebukitan batu karang tempat dimana Windu Saketi atau yang juga dikenal dengan julukan si Tongkat Bala menetap, Gagak Panangkaran seg
Karuan saja ucapan Angon Luwak ini membuat kedua manusia kera seperti kebakaran jenggot. Ukuwudra melompat maju. Dengan sangat marah dia berteriak. "Pemuda sinting kurang ajar. Beraninya kau mencampuri urusan kami? Sekarang juga kau harus merasakan akibatnya!" Teriakan Ukuwudra disusul dengan tindakan sambil melompat maju.Lalu dengan mengandalkan jurus-jurus keranya Ukuwudra menyerang Angon Luwak. Diserang sedemikian rupa pemuda ini berkelit menghindar, lalu membalas serangan itu dengan jurus Badai Menggusur Gunung.Ketika Angon Luwak memutar dan mendorong kedua tangan ke arah Ukuwudra. Tiba-tiba terdengar suara menggemuruh seperti topan.Ukuwudra terkesima begitu melihat segulung angin menghantam tubuhnya. Secepat kilat dia jatuhkan diri. Serangan luput, Angon Luwak memutar tubuh dan menghantam kaki Ukuwudra dengan menggunakan kaki kiri. Tapi yang diserang telah bergulingan menjauh.Hentakan kaki Angon Luwak menimbulkan guncangan pada permukaan tanah. M
Ketika dua manusia berwajah kera melewati jalan setapak di Lor Ploso, Mereka merasa lega karena dalam perjalanan ternyata tidak ada hambatan atau rintangan berarti yang mereka temui.Kedua orang ini terus berlari. Ukuwudra yang membawa Mangir Ayu dalam panggulan berada di sebelah depan. Sedangkan Kara terus mengikuti tak jauh di belakangnya.Setelah melewati jalan berliku dan memasuki sebuah tikungan panjang. Di ujung tikungan tak jauh dari samping tebing terlihat sebuah gua besar menghadap ke sebuah lembah subur. Itulah guo Cerekan yang menjadi tempat tinggal mereka selama ini.Melihat tempat yang mereka tuju telah berada diambang mata. Kedua manusia kera ini pun mempercepat larinya. Tapi sejarak lima puluh tombak lagi mereka sampai di depan mulut gua.Tanpa pernah terduga Mangir Ayu yang berada di atas bahu Ukuwudra tiba-tiba tersadar dari pingsannya. Gadis cantik ini mula-mula mengeluh, tapi ketika kesadarannya mulai pulih dan dia merasa seperti sedang
Begitu tangan dikibaskan ke depan. Si Mata Bara melihat seolah-olah tangan lawan bertambah panjang dan tambah membesar. Lima jemari tangan yang berubah sebesar pisang ambon terus meluncur siap menjebol dadanya."ilmu setan!" Dengus Mata Bara.Dia menggeser kaki sambil miringkan tubuh. Serangan tangan besar luput dan lewat sejengkal di depan dada Si Mata Bara. Begitu tangan lawan lewat secepat kilat dia mencengkeram tangan itu.Tumenggung Dadung Kusuma yang tak menyangka bakal mendapat serangan seperti itu segera berusaha menarik tangan yang dicekal sekaligus tikamkan tombak di tangan kanannya.Usaha menarik tangan sekaligus membunuh lawan terlambat. Dengan tak terduga Mata Bara tiba-tiba kedipkan matanya ke arah tangan dalam cengkeramannya.Dua cahaya merah membara setajam mata pedang membersit dan siap menebas putus tangan sang tumenggung. Ketika tusukan tombak datang siap menembus perut, si Mata Bara segera melompat mundur ke belakang selamatkan
Kupu Kupu Putih menatap sekilas pada laki-laki muka hijau tersebut. Kemudian perhatiannya dialihkan ke mulut gua. Dia berkata. "Hal itu tak dapat kubuktikan. Saat ini Sobo Guru telah sepuh. Beliau menyerahkan semua persoalan yang belum terselesaikan kepadaku. Ketika penyerbuan ke Istana Es dilaku
Kedua laki-laki yang sesungguhnya memiliki nama Kalebu dan Kalametu ini kemudian merasakan tubuhnya melayang sedemikian rupa, lalu meluncur jatuh di undakan anak tangga tak jauh dari tumpukan tengkorak.Si gadis tertawa mengekeh begitu Kalebu dan Kalametu menghaturkan sembah sambil benturk
Sesuatu berupa cairan pekat menebar bau aneh, seperti bau tembakau tapi bercampur bau pesing. Sosok bayangan yang berkelebat diatas tubuh si kakek tertawa-tawa, sementara si kakek keluarkan suara bersin-bersin dan suara seperti orang yang mau muntah. Sosok yang mengguyurkan cairan aneh dengan bau
Bocah Ontang Anting terkesima, mukanya yang polos pucat pasi. Dia mendekap mulut dan hidung. Tapi ketika sadar begitu banyak lubang yang lain dalam tubuhnya dia menjadi bingung."Mana yang mau kudekap, lubang mana yang paling utama harus kulindungi mengingat banyak lubang ditubuhku!" Memba







