LOGIN"Siapa mereka itu? Melakukan perjalanan dengan cara sembunyi-sembunyi. Maksudnya bisa aku menduga agar mereka tak mengalami banyak rintangan. Berpakaian hijau kelabu mempunyai tiga begundal biasa di sebut Anjing Penjaga. Sekarang aku tahu. Yang suka membawa tongkat kemana-mana hanyalah tua bangka jahat gila bergelar Penyihir Racun Utara."
"Tapi yang ini masih muda, tidak salah lagi dia pasti murid penyihir itu. Dia bernama Kupu Kupu Putih."
"Rupanya dia mendapat perintah gurunya
"Pemuda kurang ajer. Lebih baik kau cium bokong kuda. Ada-ada saja. Mengapa kita tidak istirahat saja. Malam semakin larut, suasana di tempat ini aku rasakan begitu sunyi." Ujar Mangir Ayu dengan mata menerawang memperhatikan kegelapan di sekitarnya.Pendekar Sinting tidak menjawab. Sebaliknya menyandarkan punggungnya pemuda ini berkata. "Aku tidak risau dengan keadaan di tempat ini. Yang aku risaukan mengapa orang tuamu dibunuh. Apa sebenarnya yang terjadi?"Mangir Ayu yang duduk di tangga gubuk menatap ke arah Pendekar Sinting. Tapi belum sempat bicara apapun tiba-tiba saja terdengar suara gelak tawa memecah kesunyian. Seiring dengan terdengarnya suara tawa terdengar pula ada orang berkata."Hi hi. Bukannya aku mau usil tapi terus terang bila aku yang diajak oleh seseorang apalagi pemuda tampan untuk berciuman. Mana mungkin aku bisa menolaknya."Tak menyangka ucapannya didengar orang baik Pendekar Sinting maupun Mangir Ayu tentu saja terkejut. Si gadis
"Jenazah itu sudah hampir membusuk. Rasanya gila sekali. Aku tidak percaya telah tidak sadarkan diri dalam waktu selama itu. Tapi.... dimana gusti Mangir Ayu putri gusti tumenggung? Apakah mungkin Mata Bara membawanya pergi. Celaka nasib gadis itu bila sampai terjatuh di tangan manusia haus darah. Aku harus mencarinya," Pikir Mbah Krupuk.Ketika si kakek hendak pergi.Orang tua ini tiba-tiba menjadi bimbang karena dia tidak tega meninggalkan mayat-mayat orang yang dikenalnya begitu saja. Sedangkan menguburkan sendiri tidak mungkin.Mbah Krupuk pun akhirnya mengumpulkan para penduduk desa untuk menguburkan mayat mereka. Menjelang gelap barulah pemakaman selesai dilakukan. Sebelum pergi mencari Mangir Ayu, Mbah Krupuk masih sempat membagi-bagikan sisa perbekalan dalam kereta kudanya pada penduduk itu.Malamnya dengan menunggang seekor kuda dan membawa sekantong krupuk kesukaannya si kakek memulai perjalanannya. Mengingat Mbah Krupuk tak tahu secara pasti ke
Sebelum sosoknya benar-benar lenyap dari pandangan laki-laki Itu. Sempat sayup-sayup terdengar Penyair Sinting melantunkan bait-bait syairnya."Kulihat kepiting berjalan miring. Anak monyet duduk menungging. Berjalan jauh tanpa pengiring. Tersesat jalan jadi pusing. Aku datang membawa sejuta kedamaian. Kebencian melenyapkan kasih sayang. Masa lalu lama telah dilupakan. Kini saatnya menuai malapetaka. Senopati ! Aku cuma bisa memberi jalan. Tinggalkan kemewahan. Mencari selamat. Pergilah bertobat. Sebelum nyawa menjadi busuk....""Bangsat sialan! Dasar penyair gila. Aku tak perlu nasehat, aku tak butuh syair. Kurang ajar! Cuma membuang-buang waktuku saja!" Geram senopati sambil membanting kakinya.Dengan membawa rasa kesal dihati laki-laki ini kemudian bergegas turun lalu menghampiri kudanya yang menunggu di tepi pantai. Tapi sesampainya di tepi pantai dia lebih marah lagi ketika melihat bagian pelana kudanya ternyata dipenuhi kotoran manusia."Keparat! Bagaimana bisa begini? Siapa yan
"Apa maksudmu. Mengapa gusti adipati dikaitkan dengan kematiannya?""Sebabnya tak lain semua persoalan berasal dari adipati sendiri. Sebagai senopati kau telah lama mengabdi padanya. Aku yakin kau tahu sejarah riwayat kehidupan adipati belasan tahun yang lalu. Yang terjadi sekarang adalah apa yang disebutkan sebagai sebab dan akibat. Makanya kau tak usah heran ketika melihat para tumenggung yang menjadi bawahan adipati semuanya menemui ajal. Para tumenggung itu dulu pernah terlibat persekutuan dengan adipati dalam melakukan pembantaian di Lembah Bangkal." Terang Penyair Sinting, membuat senopati terperangah seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri."Lembah Bangkai. Telah lama dilupakan orang, aku sendiri tidak tahu menahu peristiwa pembantaian di Lembah itu. Yang kudengar semua penghuni lembah itu tewas terbunuh. Malah senjata pusaka yang menjadi kebanggaan kaum Kutukan kuketahui ada di tangan gusti adipati. Bila semua penghuni lembah terbantai, lalu mengapa
Senopati terpejam. Dia berpikir siapa gerangan orang yang bicara dengannya itu. Bersikap seakan mengerti apa yang dipikirkan senopati kadipaten Blora.Pemilik suara yang belum juga menunjukkan diri itu kini berkata. "Kau belum mengenalku. Kau ingin tahu siapa aku. Wahai orang yang selalu melumuri kedua tangan dengan darah. Wahai orang yang mengayun senjata sambil tertawa. Aku langit engkau bumi, engkau keji aku murah hati. Engkau seorang pembunuh aku hanyalah perangkai kata-kata indah. Ketahuilah aku sama sekali tidak terlibat segala bentuk urusan darah yang kau ributkan bersama adipati Seta Kurana. Aku cinta damai dan ingin menjadikan dunia menghargai surga kebahagiaan bukannya neraka kebencian. Dengan semua alasan yang kusebutkan ini apakah sekarang kau sudah tahu siapa aku?""Penyair Sinting...." Sentak senopati dengan suara berdesis mulut ternganga.Terdengar suara tawa mengikik kemudian disusul dengan suara bergemerincing dan.Byar! Byar!Tiba
"Siapa yang tertawa.Apa yang ditertawakan? Aku sedang tergesa-gesa.Tidak ada yang lucu. Hanya orang sinting yang tertawa tidak pada tempatnya," Membatin senopati dalam hati.Baru saja dia bicara seperti itu. Seakan mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu, suara tawa mengikik tiba-tiba lenyap. Tapi ketika senopati kembali melangkah menuruni undakan tangga-tangga batu menuju ke kaki bukit.Anehnya tawa kembali terdengar seolah orang yang tertawa seperti mentertawai dirinya. Senopati yang mempunyai sifat tidak sabaran dan termasuk orang tinggi hati ini tentu saja merasa tersinggung. Dia tidak dapat memastikan apakah orang yang tertawa itu sengaja mempermainkannya. Yang pasti dia tidak suka dipermainkan seperti itu. Tidak mengherankan senopati pun kemudian berteriak."Siapa yang tertawa selagi orang berduka dan diliputi kegalauan adalah manusia yang sama sekali tidak punya budi tak punya otak!""Hik hik. hik Edan! Orang waras begini dia bilang tak punya ot
Kalaupun Ki Kusumo tetap juga memutuskan untuk menguntit Angon Luwak dan Mayangseruni dalam perjalanan ke Gunung Sumbing, semata karena dia tak bisa membiarkan muridnya seorang diri menghadapi tokoh tak terkalahkan sejenis Nini Jonggrang. Belum lagi beban yang harus dipikul Angon Luwak dengan tur
"Apakah tak ada cara lain, Angon Luwak?" bisik Mayangseruni, lemah. Masih pula terdengar lirih.Nini Jonggrang menertawai ucapannya. Kikik mendirikan bulu romanya merebak ke angkasa, melanglanginya beberapa saat, lalu pupus dilarikan angin."Jangan bodoh, Anak Perempuan! Tak ada pil
KADIPATEN WADASLINTANG.Sebentang lembah berbukit. Tempat di mana rerumputan liar tumbuh menghampar. Tempat di mana seseorang bisa melihat cakrawala dengan lapang. Juga tempat bagi empat orang yang sedang terlibat satu urusan. Sementara keempatnya seperti tak pernah cukup peduli pada rona
"Perbuatan biadab siapa ini?" desis Angon Luwak geram.Mendadak kuda Angon Luwak meringkik-ringkik liar. Kaki depannya menendang-nendang. Ada sesuatu telah mengusik naluri hewannya, sekaligus membuatnya demikian gelisah. Bahkan mungkin takut.Tingkah serupa terjadi pula pada kuda tu







