Share

131. Part 14

last update publish date: 2026-03-12 01:01:49

"Waduuh, mulas perutku" Teriaknya sambil tekab perutnya yang besar bundar. Rasa mulas diikuti dengan rasa sakit.

Tak terduga sama sekali.

Bes! Buut! Buut!

Angin Pesut keluarkan suara kentut bertalu-talu. Dara cantik ini memaki panjang pendek dan buru-buru melompat ke belakang menghindari bau busuk menyengat.

Ketika sang dara pandangi tubuh sebelah bawah yang hanya terbungkus celana hitam besar selutut itu. Dia tercengang.

Tubuh di bagian bawah Angin Pesut di

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   148. Part 8

    "Aku tahu. Orang yang berhak mewarisi senjata itu adalah pewaris tahta Istana Pulau Es. Aku belum pernah bertemu orangnya. Kita hanya diberi tahu bahwa orang yang harus kita bantu bernama Angon Luwak dikenal dengan sebutan Pendekar Sinting atau Dewa dari Istana Es. Bagaimana rupa pemuda itu kita belum pernah melihatnya""Ya. Siapa saja nanti yang muncul disini asalkan bernama Angon Luwak tak perduli apakah dia Pendekar Sinting, Pendekar Gila, Pendekar Penyamun, Pendekar Pengintip atau Pendekarnya para maling asal namanya Saka Buana pasti kita dukung" Kata Angin Pesut sambil mengulum senyum.Dewi Harum ikutan tersenyum. Tapi senyum sang dara lenyap, pandangan matanya tertuju lurus ke arah beberapa gundukan karang tak jauh dari bukit induk."Lihat saudaraku," Kata Dewi Harum dengan suara lirih sementara tangan menggamit lengan kakek berusia tiga ratus tahun itu. Angin Pesut menoleh sekaligus menatap ke arah yang ditunjuk saudari angkatnya. Bertubuh tinggi besar, b

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   147. Part 7

    "Terimalah hormat kami wahai paduka penolong. Kami semua siap menjadi pelayanmu dan patuh terhadap semua perintah." Kata orang-orang itu sambil bungkukkan tubuh dalam-dalam.Sang Maha Sesat tertawa tergelak-gelak. Sambil mengumbar tawa dia berucap."Bagus! Sudah sepatutnya kalian semua membalas budi hutang nyawa kepadaku. Siapa saja yang membangkang pasti kubunuh. Jika bukan karena kemurahan hatiku kalian saat Ini pasti masih mendekam dalam tawanan gadis aneh Dewi Harum.""Kami bisa menerima, apa yang paduka penolong katakan memang benar adanya. Maka sebagai balas budi yang telah paduka berikan pada kami.Kami semua siap berbakti dan mengabdi sampai mati." Kata salah seorang di antara mereka mewakili teman-temannya.Sang Maha Sesat tertawa tergelak-gelak. Tapi dia tidak percaya begitu saja dengan segala janji kesetiaan bekas tawanan ‘Kejahatan Dunia Persilatan’ itu. Setelah tawanya terhenti Sang Maha Sesat mengambil sebuah kantong merah dari ba

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   146. Part 6

    "Tapi aku masih belum mengerti mengapa dia membawa pemuda itu?""Guru. Bukankah aku telah mengatakan padamu. Pemuda berambut kemerahan yang bersama kakek kerdil itu adalah pemuda yang telah membuat Golok Terbang Cambuk Api dan empat anak buahnya jadi pecundang? Dia mengaku bernama Angon Luwak. Ya. Dialah yang dijuluki Dewa dari Istana Es."Terang Untari membuat Hyang Kelam terkaget-kaget."Murid bodoh. Mengapa waktu itu kau tidak mengatakan apa julukannya? Kau cuma mengatakan dia bernama Angon Luwak." Geram Hyang Kelam."Sst. Jangan marah-marah. Nanti mereka mendengar suara kita. Lagi pula apa artinya sebuah julukan?" Tanya sang murid."Mengapa takut. Kita berada di alam gaib. Mereka tak bisa mendengar suara kita walau kita menjerit keras." Dengus Hyang Kelam.Setelah menghela nafas Hyang Kelam melanjutkan ucapan. "Kau masih belum mengerti juga? Jika dia mempunyai sebutan Dewa dari Istana Es. Artinya dia berasal dari Istana itu.""Apa

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   145. Part 5

    Begitu tangan terlepas dari genggaman Untari terlihat kembali. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya. Tak jauh di depan dia melihat dua altar. Satu simbol bintang pada altar pertama juga patung.Patung seekor burung Rajawali Emas.Baik Untari maupun Hyang Kelam sampai saat itu tak pernah menyadari bahwa Rajawali Emas yang berdiri di altar kedua bukanlah patung tapi mahluk hidup yang bernafas dan memperhatikan gerak gerik mereka."Menurut saya ini adalah sebuah tempat yang aneh.Tidak terlihat tanda tanda pedang pusaka disembunyikan di tempat ini." Ucap Untari."Benda yang kita cari memang ada di tempat ini. Aku yakin sekali. Sekarang aku akan melakukan pemeriksaan!" Kata Hyang Kelam masih dalam ujud gaibnya.Angin menderu disertai suara berdesir, menyapu ke segenap penjuru ruangan lalu kembali ke tempat semula."Bagaimana guru?" Tanya Untari kepada Hyang Kelam yang telah berdiri di sebelahnya."Aku telah memeriksa setiap sudut tempat i

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   144. Part 4

    Hanya Untari saja yang selalu luput dari kebejatan mahluk alam gaib ini. Enam saudara berbeda-beda karena tak tahan menerima perlakuan keji dari Hyang Kelam. Tiga di antaranya malah mengakhiri hidup setelah berbadan dua.Sebagai murid. Untari sebenarnya tidak begitu setuju dengan keinginan sang guru bejad yang menghendaki dan berkeinginan kuat mendapatkan Pedang Pusaka Istana Es. Apalagi Pedang Pusaka Istana Es adalah senjata pusaka milik kerajaan. Dan rasanya hanya pewaris kerajaan saja yang berhak memiliki senjata itu.Walau kehendak hati bertentangan dengan keinginan sang guru. Untari tidak berani membantah. Dia hanya bisa mengikuti kemauan guru karena khawatir dengan murkanya.Beberapa tugas telah dia lakukan. Diantaranya termasuk menyirap kabar tentang keberadaan pedang. Tapi pertemuannya dengan Angon Luwak yang terjadi secara tak sengaja di kedai tak jauh dari Tepi Kali Pening dalam perjalanan pertamanya itu telah memberi kesan tersendiri di hati Untari.

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   143. Part 3

    Dengan perhatikan keadaan ruangan yang luas. Ruangan luas dibatasi empat pilar tiang penyangga dengan empat ruang bersekat setinggi dada. Kemudian di ujung ruangan yang paling besar terdapat dua buah altar berupa batu empat persegi yang terdiri dari dua tingkat.Penasaran pemuda ini mendekati kedua altar bertingkat itu. Dari jarak dekat dengan jelas dia melihat dipermukaan altar pertama di bagian tengahnya yang sejajar dengan lubang menganga di langit-langit ruangan terdapat sebuah simbol bintang empat sudut berwarna putih kecoklatan.Di sekeliling simbol dibatasi dengan sebuah garis empat persegi seluas panjang lengan orang dewasa. Ketika Angon Luwak dongakkan kepala menatap ke langit-langit. Dia melihat lubang bundar seukuran tubuh manusia tembus hingga ke puncak bukit induk.Dari tempat itu secara samar dia melihat cahaya bulan. Karena bulan belum mencapai titik tertingginya. Maka cahayanya belum masuk tembus hingga menyinari lambang bintang empat persegi di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status