共有

214. Part 5

last update 公開日: 2026-07-05 14:39:34

Sebelum sosoknya benar-benar lenyap dari pandangan laki-laki Itu. Sempat sayup-sayup terdengar Penyair Sinting melantunkan bait-bait syairnya.

"Kulihat kepiting berjalan miring. Anak monyet duduk menungging. Berjalan jauh tanpa pengiring. Tersesat jalan jadi pusing. Aku datang membawa sejuta kedamaian. Kebencian melenyapkan kasih sayang. Masa lalu lama telah dilupakan. Kini saatnya menuai malapetaka. Senopati ! Aku cuma bisa memberi jalan. Tinggalkan kemewahan. Mencari selamat. Pergilah bertoba
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   215. Part 6

    "Jenazah itu sudah hampir membusuk. Rasanya gila sekali. Aku tidak percaya telah tidak sadarkan diri dalam waktu selama itu. Tapi.... dimana gusti Mangir Ayu putri gusti tumenggung? Apakah mungkin Mata Bara membawanya pergi. Celaka nasib gadis itu bila sampai terjatuh di tangan manusia haus darah. Aku harus mencarinya," Pikir Mbah Krupuk.Ketika si kakek hendak pergi.Orang tua ini tiba-tiba menjadi bimbang karena dia tidak tega meninggalkan mayat-mayat orang yang dikenalnya begitu saja. Sedangkan menguburkan sendiri tidak mungkin.Mbah Krupuk pun akhirnya mengumpulkan para penduduk desa untuk menguburkan mayat mereka. Menjelang gelap barulah pemakaman selesai dilakukan. Sebelum pergi mencari Mangir Ayu, Mbah Krupuk masih sempat membagi-bagikan sisa perbekalan dalam kereta kudanya pada penduduk itu.Malamnya dengan menunggang seekor kuda dan membawa sekantong krupuk kesukaannya si kakek memulai perjalanannya. Mengingat Mbah Krupuk tak tahu secara pasti ke

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   214. Part 5

    Sebelum sosoknya benar-benar lenyap dari pandangan laki-laki Itu. Sempat sayup-sayup terdengar Penyair Sinting melantunkan bait-bait syairnya."Kulihat kepiting berjalan miring. Anak monyet duduk menungging. Berjalan jauh tanpa pengiring. Tersesat jalan jadi pusing. Aku datang membawa sejuta kedamaian. Kebencian melenyapkan kasih sayang. Masa lalu lama telah dilupakan. Kini saatnya menuai malapetaka. Senopati ! Aku cuma bisa memberi jalan. Tinggalkan kemewahan. Mencari selamat. Pergilah bertobat. Sebelum nyawa menjadi busuk....""Bangsat sialan! Dasar penyair gila. Aku tak perlu nasehat, aku tak butuh syair. Kurang ajar! Cuma membuang-buang waktuku saja!" Geram senopati sambil membanting kakinya.Dengan membawa rasa kesal dihati laki-laki ini kemudian bergegas turun lalu menghampiri kudanya yang menunggu di tepi pantai. Tapi sesampainya di tepi pantai dia lebih marah lagi ketika melihat bagian pelana kudanya ternyata dipenuhi kotoran manusia."Keparat! Bagaimana bisa begini? Siapa yan

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   213. Part 4

    "Apa maksudmu. Mengapa gusti adipati dikaitkan dengan kematiannya?""Sebabnya tak lain semua persoalan berasal dari adipati sendiri. Sebagai senopati kau telah lama mengabdi padanya. Aku yakin kau tahu sejarah riwayat kehidupan adipati belasan tahun yang lalu. Yang terjadi sekarang adalah apa yang disebutkan sebagai sebab dan akibat. Makanya kau tak usah heran ketika melihat para tumenggung yang menjadi bawahan adipati semuanya menemui ajal. Para tumenggung itu dulu pernah terlibat persekutuan dengan adipati dalam melakukan pembantaian di Lembah Bangkal." Terang Penyair Sinting, membuat senopati terperangah seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri."Lembah Bangkai. Telah lama dilupakan orang, aku sendiri tidak tahu menahu peristiwa pembantaian di Lembah itu. Yang kudengar semua penghuni lembah itu tewas terbunuh. Malah senjata pusaka yang menjadi kebanggaan kaum Kutukan kuketahui ada di tangan gusti adipati. Bila semua penghuni lembah terbantai, lalu mengapa

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   212. Part 3

    Senopati terpejam. Dia berpikir siapa gerangan orang yang bicara dengannya itu. Bersikap seakan mengerti apa yang dipikirkan senopati kadipaten Blora.Pemilik suara yang belum juga menunjukkan diri itu kini berkata. "Kau belum mengenalku. Kau ingin tahu siapa aku. Wahai orang yang selalu melumuri kedua tangan dengan darah. Wahai orang yang mengayun senjata sambil tertawa. Aku langit engkau bumi, engkau keji aku murah hati. Engkau seorang pembunuh aku hanyalah perangkai kata-kata indah. Ketahuilah aku sama sekali tidak terlibat segala bentuk urusan darah yang kau ributkan bersama adipati Seta Kurana. Aku cinta damai dan ingin menjadikan dunia menghargai surga kebahagiaan bukannya neraka kebencian. Dengan semua alasan yang kusebutkan ini apakah sekarang kau sudah tahu siapa aku?""Penyair Sinting...." Sentak senopati dengan suara berdesis mulut ternganga.Terdengar suara tawa mengikik kemudian disusul dengan suara bergemerincing dan.Byar! Byar!Tiba

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   211. Part 2

    "Siapa yang tertawa.Apa yang ditertawakan? Aku sedang tergesa-gesa.Tidak ada yang lucu. Hanya orang sinting yang tertawa tidak pada tempatnya," Membatin senopati dalam hati.Baru saja dia bicara seperti itu. Seakan mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu, suara tawa mengikik tiba-tiba lenyap. Tapi ketika senopati kembali melangkah menuruni undakan tangga-tangga batu menuju ke kaki bukit.Anehnya tawa kembali terdengar seolah orang yang tertawa seperti mentertawai dirinya. Senopati yang mempunyai sifat tidak sabaran dan termasuk orang tinggi hati ini tentu saja merasa tersinggung. Dia tidak dapat memastikan apakah orang yang tertawa itu sengaja mempermainkannya. Yang pasti dia tidak suka dipermainkan seperti itu. Tidak mengherankan senopati pun kemudian berteriak."Siapa yang tertawa selagi orang berduka dan diliputi kegalauan adalah manusia yang sama sekali tidak punya budi tak punya otak!""Hik hik. hik Edan! Orang waras begini dia bilang tak punya ot

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   210. Cambuk Sakti Naga Intan

    SETELAH hampir setengah malam penuh menunggang kuda putih bernama Cantrik Abimayu. Laki-laki gagah berpakaian bagus warna hitam membekal senjata berupa keris ini sampai di selatan gunung Kidul. Laki-laki berusia empat puluhan ini tak lain adalah senopati Gagak Panangkaran. Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya, Sang senopati sekaligus orang kepercayaan adipati ditugaskan untuk menghubungi beberapa tokoh sakti yang masih terhitung sahabat dekat adipati.Para sahabat itu diharapkan membantu pihak kadipaten untuk meringkus pembunuh haus darah yang telah melakukan serangkaian pembunuhan terhadap para pejabat kerabat adipati, para tumenggung juga beberapa orang penting lainnya.Gagak Panangkaran seperti telah diketahui memutuskan untuk pergi sendiri tanpa didampingi pasukan kadipaten. Kini setelah tiba di tepi pantai tak jauh dari bebukitan batu karang tempat dimana Windu Saketi atau yang juga dikenal dengan julukan si Tongkat Bala menetap, Gagak Panangkaran seg

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   160. Part 20

    Orang tua ini cepat jatuhkan diri rebah sama rata dengan tanah.Wuus! Wuus! Glaar!Lima cahaya menyerupai pedang dan deru angin hitam bergulung yang mengiringi kelima cahaya hanya menyambar, memapas rambut putih gimbal si kakek tapi tak melukainya.Kelima cahaya terus menderu

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   159. Part 19

    Ketika pedang diputar sebat membentuk perisai diri terlihat kilatan cahaya hitam kecoklatan menderu bergulung-gulung disertai menebarnya bau harum menyengat.Pukulan Maha Sesat dan gulungan cahaya angin Laksana badai yang bersumber dari pedang di tangan Dewi Harum tak dapat dihindari bentr

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   157. Part 17

    Begitu tangan kiri disentakkan jaring cahaya yang memancar dari jari Kupu Kupu Putih mengerut. Dengan demikian tentu saja bagian ujungnya yang lebar dan melibat tubuh si nenek ikut terbetot.Tanpa ampun Momok Laknat terseret mendekati lawan. Puteri Pemalu yang sempat menyaksikan apa yang d

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   156. Part 16

    Hawa dingin dan hawa panas menderu silih berganti. Rasanya Sulit bagi Puteri Pemalu dapat meloloskan diri dari serangan. Tapi si gadis bersikap tenang. Dia malah tertawa mengikik. Sambil tertawa dia membuat satu gerakan aneh, tubuh berputar sambil melompat tinggi.Wuus! Crak! Bum! Bum!

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status