Share

75. Part 6

last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-14 01:01:06

"Apa yang ingin kau katakan? Apa kau sudah berubah pikiran ingin memberitahu keberadaan senjata yang kucari?"

Angon Luwak unjukkan wajah serius, tapi mulutnya tetap terpencong. Setelah menggerutu dia lalu menjawab. Jawaban yang tak lebih dari omelan layaknya orang tua yang memarahi anaknya.

"Kalau merasa tak punya hubungan kerabat dengan Istana Es, bila tak ada pertalian darah. Mengapa mau bersusah payah menyiksa badan menyeberangi laut sejauh ini. Kau telah banyak membunuh, mal

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   157. Part 17

    Begitu tangan kiri disentakkan jaring cahaya yang memancar dari jari Kupu Kupu Putih mengerut. Dengan demikian tentu saja bagian ujungnya yang lebar dan melibat tubuh si nenek ikut terbetot.Tanpa ampun Momok Laknat terseret mendekati lawan. Puteri Pemalu yang sempat menyaksikan apa yang dialami sahabatnya sempat tercengang namun dia tidak bisa menolong karena saat itu Maut Merah, Maut Hijau dan Maut Biru menghujaninya dengan pukulan ganas dari tiga penjuru.Sementara Momok Laknat yang terperangkap muslihat lawan berusaha menahan daya betot yang dilakukan Kupu Kupu Putih dengan alirkan tenaga dalam ke bagian kaki. Kaki dihentakkan hingga menancap di batu karang yang atos.Sejenak terlihat saling tarik. Kupu Kupu Putih lipat gandakan tenaga dalam, dalam usahanya menarik lawan. Sementara tongkat hitam Geger Gaib di tangan dia pegang sedemikian rupa hingga begitu lawan berada dalam jangkuannya tinggal mengayunkan tongkat ke kepala Momok Laknat.Upaya untuk m

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   156. Part 16

    Hawa dingin dan hawa panas menderu silih berganti. Rasanya Sulit bagi Puteri Pemalu dapat meloloskan diri dari serangan. Tapi si gadis bersikap tenang. Dia malah tertawa mengikik. Sambil tertawa dia membuat satu gerakan aneh, tubuh berputar sambil melompat tinggi.Wuus! Crak! Bum! Bum!Puteri Pemalu lenyap.Serangan bersaudara Tiga Pembawa Maut mengenai tempat kosong. Tiga Pembawa Maut geram. Serentak mereka dongakkan kepala. Memandang ke atas lawan raib entah kemana."Aku disini!" Kata Puteri Pemalu memberi tahu.Maut Merah, Maut Hijau dan Maut Biru balikkan badan. Menatap ke depan mereka belalakan mata sekaligus keluarkan seruan kaget.Di luar dugaan lawan ternyata telah berada di depan hidung mereka sedangkan dua tangan Puteri Pemalu yang berkuku panjang menyambar deras siap menghunjam di bagian wajah mereka."Keparat!" Maki Maut Biru sambil cepat selamatkan wajah dengan melompat ke belakang."Jadah!" Maki Maut Merah dan Hij

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   155. Part 15

    Si Gadis yang bersama si kakek yang tak lain adalah Dewi Harum alias Puteri Pedang Harum terkejut tak menyangka Kupu Kupu Putih mau membeberkan kesalahan gurunya. Sambil berdecak kagum dan menatap Kupu Kupu Putih yang berjarak sejauh lima belas tombak di depannya.Dewi Harum berucap dengan suara lantang."Para manusia terkutuk. Kalian semua akan aku binasakan. Tapi terus terang aku merasa kagum karena baru malam ini kudengar ada seorang murid mau mengakui kesalahan gurunya. Sayang... aku tidak melihat gurumu Penyihir Racun Utara hadir disini, Walau begitu kau cukup layak menggantikan gurumu untuk menebus dosa-dosanya!""Hik hik hik! Kalian punya hubungan apa dengan kerabat istana Pulau Es?" Tanya Kupu Kupu Putih disertai tawa tergelak."Soal itu bukan urusanmu" Jawab Dewi Harum.Sang Maha Sesat menyeringai."Katakan memang bukan urusan kami. Tapi sadarilah kalian cuma berdua. Sedangkan kami sangat banyak sekali. Bagaimana mungkin seekor mony

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   154. Part 14

    "Hmm, Janji tetap kupenuhi. Itu sebabnya aku datang kemari membawa orang banyak. Selain itu aku juga masih punya pasukan gaib yang ampuh. Bila keadaan memaksa aku bakal mengerahkan mereka!" Ujar Sang Maha Sesat.Kupu Kupu Putih tersenyum puas. Dia sama sekali tidak tahu dalam hati Sang Maha Sesat sesungguhnya berkata lain."Pedang Pusaka Istana Es, mana pantas kuberikan pada orang yang sudah mampus. Sebagai penyihir kuanggap kau sebagai orang bodoh. Andai saja kau gunakan tongkat untuk melihat keadaan gurumu. Aku yakin kau pasti berubah pikiran. Kau tidak lagi datang demi pedang tapi demi menghabisi nyawaku. Gadis cantik luar biasa. Aku akan memanfaatkanmu. Dan sesungguhnya telah lama sekali aku ingin mendapatkan kehangatan tubuhmu! ""Saya berterima kasih karena ternyata kau memegang janji, paman." Sahut Kupu Kupu Putih sambil tersenyum."Gusti Ayu, saya merasa Sang Maha Sesat telah menyembunyikan sesuatu. Jangan percaya dengan segala bualannya." Kata Ma

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   153. Part 13

    Bocah Ontang Anting yang merasa diselamatkan keluarkan suara raungan lalu lepaskan cekalan pada ujung kotak selanjutnya berguling menjauh selamatkan diri. Benturan cahaya hitam dan dua pukulan yang dilepaskan Angon Luwak tak dapat dihindari lagi.Dentuman keras di dalam gua mengguncang seluruh penjuru bukit dan menimbulkan lubang menganga lebar di seluruh lereng bukit Induk. Pijaran api bekas ledakan memenuhi seluruh penjuru ruangan gua.Kepulan asap menghalangi pandangan. Angon Luwak tergontai menatap ke arah altar di antara keremangan cahaya.Dia melihat kotak hitam bergerak-gerak dengan sendirinya. Dan melihat Bocah Ontang Anting berusaha bangkit kembali hendak mengambil kotak hitam.Di sudut yang gelap terdengar suara makian."Jadah! Menggagalkan niatku berarti kematian bagimu," Teriak satu suara."Keparat penyusup. Jangan cuma menyumpah serapah. Perihatkan dirimu agar aku bisa melihat seperti apa tampang rupamu!" Maki Pendekar Sinting s

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   152. Part 12

    Melihat kejadian ini Bocah Ontang Anting dengan suara lantang membuka mulut berucap. "Gua Gaib jagad gaib. Kunci gaib simbolnya berupa bintang. Bintang merindukan bulan. Bulan memancarkan cahaya kasihnya pada yang merindukan. Atas restu dewa, kunci gaib simbol gaib melebur. Pintu ruang menuju kotak penyimpanan terbuka. Kemudian atas ijin pemilik langit bumi. Kutitah pada Pedang Pusaka Istana Es untuk keluar dari tempat penyimpanan. Seiring dengan itu hiduplah siapa saja yang menjadi sahabat. Sahabat yang muncul apapun ujud dan rupanya saling menolong dalam hal kebaikan bukan tolong menolong dalam kejahatan!"Selesai dengan ucapannya Bocah Ontang Anting mengusap wajahnya sebanyak dua kali. Setelah mengusap wajah, kakek ini cepat berjongkok lalu usapkan dua tangan yang dipergunakan mengusap wajah ke permukaan simbol bintang yang disinari cahaya.Begitu usapan selesai dilakukan. Bocah Ontang Anting melompat turun menjauhi altar. Begitu kedua kaki menjejak lantai gua yang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   145. Part 5

    Begitu tangan terlepas dari genggaman Untari terlihat kembali. Gadis itu memperhatikan sekelilingnya. Tak jauh di depan dia melihat dua altar. Satu simbol bintang pada altar pertama juga patung.Patung seekor burung Rajawali Emas.Baik Untari maupun Hyang Kelam sampai saat itu tak p

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   144. Part 4

    Hanya Untari saja yang selalu luput dari kebejatan mahluk alam gaib ini. Enam saudara berbeda-beda karena tak tahan menerima perlakuan keji dari Hyang Kelam. Tiga di antaranya malah mengakhiri hidup setelah berbadan dua.Sebagai murid. Untari sebenarnya tidak begitu setuju dengan keinginan

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   142. Part 2

    Merasa Bocah Ontang Anting tidak bicara jujur. Angon Luwak menyela. "Hah, burung lagi...? Burung Apa? Burung perkutut?!" Desis Angon Luwak dengan mata mendelik."Bukan. Cuma seekor burung cucak rawa. Ha ha ha!" Sahut Bocah Ontang Anting diiringi gelak tawa."Edan! Kau benar-benar gi

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   141. PEDANG PUSAKA ISTANA ES

    UJUNG LORONG jalan rahasia berakhir di ujung pintu batu. Bocah Ontang Anting menghela nafas sambil pandangi pintu tebal berat luar biasa yang menghadang di depannya. Menatap ke arah pintu yang luasnya cuma seukuran besar tubuh laki-laki dewasa ini membuat Ingatannya melayang jauh pada masa dua pulu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status