Masuk"Jenazah itu sudah hampir membusuk. Rasanya gila sekali. Aku tidak percaya telah tidak sadarkan diri dalam waktu selama itu. Tapi.... dimana gusti Mangir Ayu putri gusti tumenggung? Apakah mungkin Mata Bara membawanya pergi. Celaka nasib gadis itu bila sampai terjatuh di tangan manusia haus darah. Aku harus mencarinya," Pikir Mbah Krupuk.
Ketika si kakek hendak pergi.
Orang tua ini tiba-tiba menjadi bimbang karena dia tidak tega meninggalkan mayat-mayat orang yang dikenalnya beg
"Jenazah itu sudah hampir membusuk. Rasanya gila sekali. Aku tidak percaya telah tidak sadarkan diri dalam waktu selama itu. Tapi.... dimana gusti Mangir Ayu putri gusti tumenggung? Apakah mungkin Mata Bara membawanya pergi. Celaka nasib gadis itu bila sampai terjatuh di tangan manusia haus darah. Aku harus mencarinya," Pikir Mbah Krupuk.Ketika si kakek hendak pergi.Orang tua ini tiba-tiba menjadi bimbang karena dia tidak tega meninggalkan mayat-mayat orang yang dikenalnya begitu saja. Sedangkan menguburkan sendiri tidak mungkin.Mbah Krupuk pun akhirnya mengumpulkan para penduduk desa untuk menguburkan mayat mereka. Menjelang gelap barulah pemakaman selesai dilakukan. Sebelum pergi mencari Mangir Ayu, Mbah Krupuk masih sempat membagi-bagikan sisa perbekalan dalam kereta kudanya pada penduduk itu.Malamnya dengan menunggang seekor kuda dan membawa sekantong krupuk kesukaannya si kakek memulai perjalanannya. Mengingat Mbah Krupuk tak tahu secara pasti ke
Sebelum sosoknya benar-benar lenyap dari pandangan laki-laki Itu. Sempat sayup-sayup terdengar Penyair Sinting melantunkan bait-bait syairnya."Kulihat kepiting berjalan miring. Anak monyet duduk menungging. Berjalan jauh tanpa pengiring. Tersesat jalan jadi pusing. Aku datang membawa sejuta kedamaian. Kebencian melenyapkan kasih sayang. Masa lalu lama telah dilupakan. Kini saatnya menuai malapetaka. Senopati ! Aku cuma bisa memberi jalan. Tinggalkan kemewahan. Mencari selamat. Pergilah bertobat. Sebelum nyawa menjadi busuk....""Bangsat sialan! Dasar penyair gila. Aku tak perlu nasehat, aku tak butuh syair. Kurang ajar! Cuma membuang-buang waktuku saja!" Geram senopati sambil membanting kakinya.Dengan membawa rasa kesal dihati laki-laki ini kemudian bergegas turun lalu menghampiri kudanya yang menunggu di tepi pantai. Tapi sesampainya di tepi pantai dia lebih marah lagi ketika melihat bagian pelana kudanya ternyata dipenuhi kotoran manusia."Keparat! Bagaimana bisa begini? Siapa yan
"Apa maksudmu. Mengapa gusti adipati dikaitkan dengan kematiannya?""Sebabnya tak lain semua persoalan berasal dari adipati sendiri. Sebagai senopati kau telah lama mengabdi padanya. Aku yakin kau tahu sejarah riwayat kehidupan adipati belasan tahun yang lalu. Yang terjadi sekarang adalah apa yang disebutkan sebagai sebab dan akibat. Makanya kau tak usah heran ketika melihat para tumenggung yang menjadi bawahan adipati semuanya menemui ajal. Para tumenggung itu dulu pernah terlibat persekutuan dengan adipati dalam melakukan pembantaian di Lembah Bangkal." Terang Penyair Sinting, membuat senopati terperangah seolah tidak percaya dengan pendengarannya sendiri."Lembah Bangkai. Telah lama dilupakan orang, aku sendiri tidak tahu menahu peristiwa pembantaian di Lembah itu. Yang kudengar semua penghuni lembah itu tewas terbunuh. Malah senjata pusaka yang menjadi kebanggaan kaum Kutukan kuketahui ada di tangan gusti adipati. Bila semua penghuni lembah terbantai, lalu mengapa
Senopati terpejam. Dia berpikir siapa gerangan orang yang bicara dengannya itu. Bersikap seakan mengerti apa yang dipikirkan senopati kadipaten Blora.Pemilik suara yang belum juga menunjukkan diri itu kini berkata. "Kau belum mengenalku. Kau ingin tahu siapa aku. Wahai orang yang selalu melumuri kedua tangan dengan darah. Wahai orang yang mengayun senjata sambil tertawa. Aku langit engkau bumi, engkau keji aku murah hati. Engkau seorang pembunuh aku hanyalah perangkai kata-kata indah. Ketahuilah aku sama sekali tidak terlibat segala bentuk urusan darah yang kau ributkan bersama adipati Seta Kurana. Aku cinta damai dan ingin menjadikan dunia menghargai surga kebahagiaan bukannya neraka kebencian. Dengan semua alasan yang kusebutkan ini apakah sekarang kau sudah tahu siapa aku?""Penyair Sinting...." Sentak senopati dengan suara berdesis mulut ternganga.Terdengar suara tawa mengikik kemudian disusul dengan suara bergemerincing dan.Byar! Byar!Tiba
"Siapa yang tertawa.Apa yang ditertawakan? Aku sedang tergesa-gesa.Tidak ada yang lucu. Hanya orang sinting yang tertawa tidak pada tempatnya," Membatin senopati dalam hati.Baru saja dia bicara seperti itu. Seakan mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu, suara tawa mengikik tiba-tiba lenyap. Tapi ketika senopati kembali melangkah menuruni undakan tangga-tangga batu menuju ke kaki bukit.Anehnya tawa kembali terdengar seolah orang yang tertawa seperti mentertawai dirinya. Senopati yang mempunyai sifat tidak sabaran dan termasuk orang tinggi hati ini tentu saja merasa tersinggung. Dia tidak dapat memastikan apakah orang yang tertawa itu sengaja mempermainkannya. Yang pasti dia tidak suka dipermainkan seperti itu. Tidak mengherankan senopati pun kemudian berteriak."Siapa yang tertawa selagi orang berduka dan diliputi kegalauan adalah manusia yang sama sekali tidak punya budi tak punya otak!""Hik hik. hik Edan! Orang waras begini dia bilang tak punya ot
SETELAH hampir setengah malam penuh menunggang kuda putih bernama Cantrik Abimayu. Laki-laki gagah berpakaian bagus warna hitam membekal senjata berupa keris ini sampai di selatan gunung Kidul. Laki-laki berusia empat puluhan ini tak lain adalah senopati Gagak Panangkaran. Seperti telah dikisahkan dalam episode sebelumnya, Sang senopati sekaligus orang kepercayaan adipati ditugaskan untuk menghubungi beberapa tokoh sakti yang masih terhitung sahabat dekat adipati.Para sahabat itu diharapkan membantu pihak kadipaten untuk meringkus pembunuh haus darah yang telah melakukan serangkaian pembunuhan terhadap para pejabat kerabat adipati, para tumenggung juga beberapa orang penting lainnya.Gagak Panangkaran seperti telah diketahui memutuskan untuk pergi sendiri tanpa didampingi pasukan kadipaten. Kini setelah tiba di tepi pantai tak jauh dari bebukitan batu karang tempat dimana Windu Saketi atau yang juga dikenal dengan julukan si Tongkat Bala menetap, Gagak Panangkaran seg
"Ha ha ha! Kau lihat sendiri rajawali itu sekarang memang hidup. Sapalah dia, kau boleh memanggilnya dengan Paman Langit. Rajawali Itu usianya sudah berabad-abad. Dia bernama Samudra Langit. Dia bisa menjadi sahabatmu. Bila kelak kau mengalami kesulitan, cukup kau sebut namanya. Dimanapun kau ber
Bocah Ontang Anting memperhatikan ke arah patung lebih seksama. Mata si kakek membeliak besar begitu menyadari apa yang dikatakan Pendekar Sinting. sang Patung sekarang memang telah menjelma menjadi mahluk yang hidup."Rajawali... Rajawali Emas sahabat pedang...! Ha ha ha! Dengan terjagany
Perasaan tidak tega di hati Untari untuk menciderai Angon Luwak. Tanpa disadari Untari sebenarnya telah terhanyut oleh suasana hatinya. Sementara itu Angon Luwak sendiri begitu berhasil menghindari sergapan Untari segera menghantam Hyang Kelam dengan pukulan Gelombang Badai Laut Merah.
"sepertinya aku pernah melhatmu. Tapi aku lupa di mana..!""Paduka, kalau dia mengenalmu mengapa dia memukulku dengan cara pengecut seperti Itu!" Tukas Bocah Ontang Anting kesal.Kakek ini segera berdiri sambil mengusapi perutnya yang berdenyut sakit Angon Luwak tersenyum."T







