LOGINOrang tua sakti misterius itukah yang telah sengaja menyalurkan tenaga dalamnya ke diri Angon Luwak hingga membuatnya sanggup bertahan terhadap terjangan kekuatan tenaga dalam yang disalurkan Dirgasura dalam bentakannya? Ah, Ki Kusumo sendiri saat itu malah sedang sibuk menggeleng-gelengkan kepala. Biar mampus disambar capung, dia terheran-heran menyaksikan si bocah sehat wal'afiat.
Padahal Ki Kusumo sudah mengukur kekuatan teriakan bertenaga dalam kedua Dirgasura. Teriakan itu lebih k
DI KAWASAN hutan rimba Ciandur yang dikenal angker ada sebuah telaga luas bernama telaga Warna. Sesuai namanya bila siang hari warna air telaga hitam pekat seperti jelaga. Sebaliknya bila hari beranjak malam warna hitam air telaga berubah menjadi bening berkilau seperti Mutiara.Telaga Warna yang terletak di tengah hutan itu airnya tak pernah surut dimusim kemarau dan tidak pernah meluap dimusim penghujan. Banyak penduduk yang berdiam diluar kawasan hutan yang tahu air telaga Warna bila diambil pada malam hari dapat dipergunakan untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit.Sayangnya walau air telaga Warna mempunyai khasiat luar biasa untuk menyembuhkan. Sejauh itu tak seorang penduduk setempat yang berani datang ke telaga itu. Jangankan mendatangi telaga di tengah hutan, memasuki bagian tepi hutan untuk sekedar mencari kayu bakar sekalipun penduduk tak punya nyali. Dulu ketika wabah melanda salah satu desa terdekat memang ada beberapa orang yang berlaku nekat mendatangi
“Apa?!” tanya Dewa Mabok cepat karena penasaran.“Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul memberikan saya kesaktian Ilmu Amukan Badai Laut Selatan”“Apa?!” Dewa Mabok berteriak kaget. “kesaktian Ilmu Amukan Badai Laut Selatan itu merupakan ajian dasyat yang katanya mampu memporak porandakan Tanah Dwipa”Pendekar Sinting hanya mengangkat kedua bahunya mendengar kata-kata Dewa Mabok.“Kau beruntung sekali anak muda. Oh ya bagaimana kabar gurumu?""Beliau baik-baik saja, kek.""Lalu bagaimana kau bisa kemari?""Saya seorang pengembara. Orang sepertiku bisa berada dimana saja. Terus terang saat ini aku tidak ingin membicarakan masa laluku, kek. Aku hanya ingin menolong, membantu kerajaan Malingping dari kehancuran." terang Pendekar Sinting yang tidak mau diungkit tentang masa lalunya."Baiklah." Dewa Mabok anggukan kepala."Keputusanmu baik untuk membantu prabu Malimping. Namun kau
Hawa panas menghampar.Dewa Mabok jatuh terduduk. Sedangkan tiga tombak didepannya Pendekar Sinting terjengkang dengan posisi menungging.Megap-megap Dewa Mabok mengusap wajahnya yang pucat berkeringat. Ketika menatap ke depan, dia tertawa melihat Pendekar Sinting dalam keadaan seperti itu."Ha ha ha! Kau hebat.""Tapi kau cuma bisa membuatku jatuh terduduk. Sedangkan kau malah kubuat terjungkir."Pendekar Sinting menggeliat bangkit. Setelah berdiri tegak dan meluruskan punggungnya dia balikkan badan menghadap ke arah Dewa Mabok.Mulut menyeringai namun dengan tatapan dingin dia berucap. "Orang tua kau jangan bangga dulu. Ilmu kesaktianmu memang sangat tinggi kalau bukan aku yang kau serang mungkin sudah celaka. Tapi lihatlah, aku masih bisa mencabut rambut di janggutmu yang hanya beberapa helai itu. Sekarang kau mau bilang apa?" Kata pemuda itu.Dewa Mabok cepat tekap dan raba dagunya. Begitu sadar bulu-bulu yang tumbuh didagunya ber
"Ah kulihat kau masih utuh, tubuhmu belum ada yang terluka. Ingin kulihat apakah kau sanggup menghindar dari serangan Bumbung Kosong Menggebuk Naga?!" Kata Dewa Mabok.Si kakek segera miringkan tubuhnya. Telunjuk tangan kiri menunjuk ke langit. Sedangkan tangan kanan bergerak mengusap wajah. Sambil memutar mutar tangan kanan, tangan kiri yang menunjuk ke langit dia lambaikan ke arah bumbung-bumbung yang mengambang di udara."Kepruk! Buat tubuhnya babak belur!" Seru si kakek.Pendekar Sinting tersenyum, menyambut dingin ucapan Dewa Mabok. Dan senyum pemuda itu lenyap. Tiba tiba terdengar suara berdengung tak ubahnya sekawanan lebah berpindah sarang.Ketika Pendekar Sinting dongakan kepala memandang ke atas, tiba-tiba saja dia melihat belasan bumbung bambu telah berpencar didelapan penjuru, lalu seperti elang menyambar benda-benda itu menghantam Pendekar Sinting dengan bertubi-tubl.Tiada kesempatan bagi Pendekar Sinting untuk menghindar. Sambil katu
Wuut!Sekali kaki dihentakkan. Tubuh si kakek melayang ke tepi lapangan pasir. Dengan segenap kesaktian yang dia miliki dan didukung oleh mantra-mantra sakti yang dimilikinya Penujum Aneh melakukan gebrakan. Sambil mengibaskan sorban ditangannya dia berusaha menghalau bocah-bocah yang mengepung dan menyerang para perajurit itu.Sementara itu patih Tubagus Aria Kusuma begitu menyaksikan para pengawalnya semakin banyak yang menemui ajal segera ikutan menyerbu. Laki-laki itu mengamuk dengan melepaskan pukulan dan mengumbar tendangan sakti. Setiap kaki dan tangan bergerak, para bocah yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang itu pasti Jatuh terpelanting sambil menjerit dan menggeram. Diantara bocah yang menjadi korban tendangan ada yang kepalanya remuk. Namun aneh. Bocah iblis yang terkapar tiba tiba bangun lagi. Kepala yang remuk kembali utuh sedangkan kekuatan mereka semakin berlipat ganda."Kita telah banyak kehilangan perajurit, paman patih!" teriak penujum Aneh
Tiga batu segi tiga berkilau tak ubahnya Mutiara. Semakin lama tiga batu memancarkan cahaya putih terang benderang. Melihat ini Penujum Aneh segera silangkan kedua tanganya di depan dada, kedua kaki ditekuk sedangkan sorban hitam yang sejak awal dililitkan dipergelangan tangan kanan nampak bergetar."Lentera itu akan menyerang kita. Terlambat sedikit menyalakan sembilan obor penolak bala, kita semua bakal menuai nasib celaka!" Menerangkan si kakek.Penjelasan Peramal Aneh membuat Patih menyadari banyak sekali hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan alam gaib yang tak diketahuinya. Laki-laki ini tidak mau diam. Dia segera menghunus senjata andalannya berupa sebuah kujang yang dikenal dengan nama Penakluk Jiwa.Baru saja senjata sakti berada dalam genggaman. Di tengah hamparan pasir sedikitnya enam cahaya yang berasal dari tiga batu segi tiga berkiblat lalu menderu menghantam ke arah Penujum Aneh, patih juga para perajurit itu.Melihat cahaya putih menyil
Hari makin tua.Sinar merah tembaganya meredup dan terengah-engah. Matahari terkapar disudut barat bumi. Di batas Kadipaten Ketawang, dua perempuan berjalan perlahan menuju arah matahari tenggelam. Mereka adalah Nyai Cemarawangi dan anaknya, Tresnasari."Kita membutuhkan kuda untuk sampai di Jogobo
TEMPAT keributan kembali tenang. Beberapa orang yang menjadi penonton kejadian memulai kembali kegiatan masing-masing. Sementara si perempuan berpakaian silat warna ungu mendekati anak gadisnya."Kapan kau mempelajari gerakan secepat itu, Anakku?" Tanyanya, ingin tahu bagaimana anaknya bisa bergera
"Biar tahu rasa kau!"Terdengar bentakan dari si penyerang gelap. Siapa lagi kalau bukan Angon Luwak? Menyaksikan cara menyerang si bocah yang begitu konyol, mendadak saja terurailah tawa kecil Tresnasari."Hi-hi-hi!"Ditertawakan begitu, Angon Luwak jadi tersinggung. Sudah ditolong kok malah mener
Dia sebenarnya tidak ngeri pada pelototan mata bocah ayu itu. Sebaliknya, Angon Luwak malah jadi senang bukan alang kepalang. Hanya saja dia tak tahu, kenapa merasa berdebar-debar.Biasalah, cinta monyet! Saking gugupnya, tak sengaja dia menginjak jempol kaki Pale Tua pemilik warung.Untung lelaki







