Se connecterOrang tua sakti misterius itukah yang telah sengaja menyalurkan tenaga dalamnya ke diri Angon Luwak hingga membuatnya sanggup bertahan terhadap terjangan kekuatan tenaga dalam yang disalurkan Dirgasura dalam bentakannya? Ah, Ki Kusumo sendiri saat itu malah sedang sibuk menggeleng-gelengkan kepala. Biar mampus disambar capung, dia terheran-heran menyaksikan si bocah sehat wal'afiat.
Padahal Ki Kusumo sudah mengukur kekuatan teriakan bertenaga dalam kedua Dirgasura. Teriakan itu lebih k
Melihat kepala pengawal begitu tegang, wajah pucat mata mendelik seperti baru melihat setan, sang patih jadi tidak sabar lalu cepat-cepat ajukan pertanyaan."Apa yang kau lihat?"Dengan suara terbata Gondang Ageng menjawab."Mayat-mayat, gusti patih. Mayat-mayat penduduk desa. Rasanya mereka belum lama menemui ajal, tapi tubuh mereka meleleh seperti bubur.""Hoek!" Gondang Ageng kembali keluarkan suara mau muntah. Dan kali ini dari mulutnya menyembur cairan dan makanan."Manusia jorok. Lekas kembali ke kuda dan kita lanjutkan perjalanan!"Perintah patih Tubagus Aria Kusuma jijik juga marah. Terbungkuk-bungkuk Gondang Ageng kembal ke kudanya.Semua prajurit tak ada yang berani membuka mulut walau sebenarnya mereka merasa geli melihat Gondang Ageng kena didamprat karena muntah. Setelah lewat tengah malam, udara dingin terasa tambah mencucuk.Jalan yang mereka lewati dipenuhi bebatuan licin berlumut. Iringan-iringan rombongan berk
"Kalau benar. Kekuatan apa yang bisa membuat rontok tubuh manusia. Lagi pula mengapa kita tidak menemukan mayat-mayat penduduk desa ini di rumah yang lain?" kata patih Aria terheran-heran."Kau tidak melihat kejadian yang lainnya, Manyun Pambayo," Tanya Penujum Aneh sambil menatap ke arah si wajah muram di depannya."Tidak Penujum. Saya dan yang lainnya tidak melihat apa-apa." Sahut Manyun Pambayo.Penujum Aneh menoleh pada sang patih."Pelakunya masih orang yang sama. menyerang penduduk desa adalah pasukan Lebah bernama Lebah Kepala Hati Berbunga. Penduduk yang tidak dibutuhkan dibunuh, sedangkan para anak gadisnya disengat dengan bisa asmara. Bila tersengat gadis-gadis itu berubah menjadi liar. Yang seperti orang yang kasmaran.""Aku tidak tahu apa maksudmu kakek Penujum aneh." Kata patih Aria Kusuma bingung"Semua ini perbuatan Pangeran Durjana. Dia seperti ayam jantan. Dia sengaja meracuni lalu mengumpulkan gadis-gadis itu untuk dijadika
"Itu artinya semua orang bakal menuai celaka.""Bencana tidak akan terjadi bila kita dapat mencegahnya." Kata pemuda itu."Ha ha ha. Kalau kau menyebut kita, berarti engkau dan aku. Aku tidak mau ikut campur.""Kalau begitu aku akan menghadapi pangeran Gila itu seorang diri." Tegas Pendekar Sinting tanpa keraguan."Kau.... ha ha ha! Kau mau menghadapi manusia sakti luar biasa itu seorang diri? Manusia sombong! Kau mengira dirimu siapa?" Hardik Dewa Mabok dengan mata mendelik.Pendekar Sinting tersenyum. Enak saja dia menjawab. "Aku adalah aku, bukan dirimu apalagi mbahmu. Ha ha ha!""Orang Gila. Kau sungguh keterlaluan. Kalau begitu aku sudah selayaknya mengujimu!" Teriak si kakek lantang.Keputusan Dewa Mabok sudah tentu membuat Pendekar Sinting terkejut. Namun dia tidak merasa takut. Malah kemudian dia menjawab, sengaja memanasi hati si kakek."Kusangka kau seorang dewa sungguhan. Tidak tahunya hanya seorang kakek renta yang
"Angon Luwak, nama apa itu? Nama yang aneh. Ha ha ha."Angon Luwak hanya bisa geleng kepala. Namun kemudian cepat-cepat berkata. "Aku senang-senang saja. Tapi aku juga ingin tau siapa dirimu ini. Apakah kau orang yang ku cari atau sebaliknya.""Memangnya siapa yang kau cari?""Aku mencari seseorang?""Seseorang itu apakah kunyuk atau mungkin dia punya nama yang lebih bagus dari namamu?" Kata si kakek,Walau merasa kesal, namun Pendekar Sinting tetap menjawab juga pertanyaan si kakek"Namanya aku tidak tahu. Mungkin juga dia bernama Si Monyet tua. Tapi aku diberi tahu oleh seseorang. Orang yang kucari itu biasa disebut Dewa Mabok."Sikakek berjingkrat kaget. Dia menatap Pendekar Sinting sekaligus memperhatikan pedang berangka aneh yang terbuat dari emas"Kau mencari Dewa Mabok?""Apakah kau mengenalnya orang tua?" Angon Luwak balik bertanya."Mungkin saja aku mengenalnya. Memangnya kau punya kepentingan apa ingin m
"Hus, tahu apa kau. Diam sajalah, bukankah sejak tadi aku memintamu diam?" Kata Pendekar Sinting sambil bersungut-sungut."Terserah paduka. Hamba cuma memberi saran, diterima syukur tidak diterima keterlaluan.""Dasar Pedang Laut Selatan. Kau dan diriku tak jauh berbeda." Gerutu Pendekar Sinting."Persamaan watak itulah yang membuat kita dapat berdampingan. Kita pasangan yang serasi.""Serasi gundulmu!" Sambut Pendekar Sinting."Ah paduka lupa. Hamba dan Pedang Laut Selatan sama sekali tidak gundul. Yang gundul biasanya ada disebelah bawah.He he he."Walau merasa geli Angon Luwak tetap unjukkan wajah cemberut. Kemudian tanpa bicara apa-apa lagi pemuda ini menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Dua tangan saling menggosok, mulut berkemak kemik. Tangan didekatkan ke mulut, bibir dimonyongkan ke depan lalu mulut Pendekar Sinting meniup.Puuh!Asap mengepul berwarna putih kelabu.Kedua tangan itu kini berubah bentuknya men
"Orang satu ini gilanya lebih parah dibandingkan diriku. Orang gila harus kulayani secara gila pula!"Berkata begitu Pendekar Sinting segera meliukkan tubuhnya. Tangan kanan diacungkannya ke atas seakan telunjuk tangan kiri menunjuk-nunjuk ke bawah.Lalu...Wuuues!Serta merta Pendekar Sinting hilang raib tak meninggalkan bekas. Sementara di tempatnya berdiri tadi, tanah dan pasir bermuncratan di udara. Daun-daun dikobari api, pepohonan dipenuhi lubang tertembus cairan tuak yang di semburkan orang."Orang gila kesasar itu bisa menghilang? Rupanya dia bisa berubah seperti kentut. Lumayan hebat tapi dia belum kenal aku ya. Ha ha ha...!" kata orang yang semburkan tuak disertai gelak tawa.Pendekar Sinting yang baru saja selamatkan diri dari semburan tuak keras dan menyala setelah bergesekan dengan udara, kini nampak duduk nangkring di atas cabang pohon. Sambil mengusap dadanya yang berdebar kencang, bersungut sungut pemuda itu menatap ke bawah.
Hari makin tua.Sinar merah tembaganya meredup dan terengah-engah. Matahari terkapar disudut barat bumi. Di batas Kadipaten Ketawang, dua perempuan berjalan perlahan menuju arah matahari tenggelam. Mereka adalah Nyai Cemarawangi dan anaknya, Tresnasari."Kita membutuhkan kuda untuk sampai di Jogobo
TEMPAT keributan kembali tenang. Beberapa orang yang menjadi penonton kejadian memulai kembali kegiatan masing-masing. Sementara si perempuan berpakaian silat warna ungu mendekati anak gadisnya."Kapan kau mempelajari gerakan secepat itu, Anakku?" Tanyanya, ingin tahu bagaimana anaknya bisa bergera
"Biar tahu rasa kau!"Terdengar bentakan dari si penyerang gelap. Siapa lagi kalau bukan Angon Luwak? Menyaksikan cara menyerang si bocah yang begitu konyol, mendadak saja terurailah tawa kecil Tresnasari."Hi-hi-hi!"Ditertawakan begitu, Angon Luwak jadi tersinggung. Sudah ditolong kok malah mener
Dia sebenarnya tidak ngeri pada pelototan mata bocah ayu itu. Sebaliknya, Angon Luwak malah jadi senang bukan alang kepalang. Hanya saja dia tak tahu, kenapa merasa berdebar-debar.Biasalah, cinta monyet! Saking gugupnya, tak sengaja dia menginjak jempol kaki Pale Tua pemilik warung.Untung lelaki







