Share

234. Part 2

last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-27 01:01:51

"Astaga! Pelita Kaki Nyawa meledak. Ini sebuah pertanda buruk. Segala mimpi buruk bagi setiap pemuda gagah dan para gadis perawan bakal menjadi kenyataan. Badai, ombak menggila dan angin yang mengamuk?! Keparat jahanam! Ternyata sumpah seribu tahun yang lalu itu nampaknya sekarang benar-benar hendak terwujud menjadi sebuah kenyataan. Tapi aku tidak peduli, aku harus mencegah sebelum kiamat benar-benar muncul di rimba persilatan!"

Sambil berucap demikian di dalam gelap dimana tak dapat

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   237. Part 5

    Kemudian dari balik cahaya muncul kabut putih tebal menebarkan bau aneh seperti aroma setanggi namun juga bercampur bau busuk. Bersamaan dengan itu dikejauhan terdengar pula suara lolongan anjing. Ki Lara mengusap wajah dan tengkuknya yang semakin dingin.Orang tua ini juga menahan nafas ketika melihat dari balik kepulan kabut dan cahaya putih muncul satu sosok bertubuh tinggi bertelanjang dada berambut panjang riap-riapan berwajah angker dipenuhi cairan putih.Tanpa bicara apa-apa.Sosok berpenampilan selayaknya mayat hidup ini melangkah sejauh tujuh tombak dari cahaya empat persegi tempat dimana dia munculkan diri. Ki Lara tercekat.Dia mengusap keningnya tiga kali. Gerakan mengusap kening yang dilakukan si kakek membuat nyala pelita keramat yang bertengger di atas kepalanya makin bertambah terang.Dengan bantuan cahaya pelita yang membesar kini Ki Lara secara leluasa dapat melihat laki-laki itu. Laki-laki itu sekujur tubuhnya putih pucat dengan

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   236. Part 4

    Si kakek renta berwajah macam tengkorak berkulit merah yang terrnyata memang bernana Ki Lara Saru Saru juru kunci makam para raja istana kuno di pulau Rakata diam tercekat. Dia yang semula siap melepaskan pukulan sakti ke arah cahaya yang disekelilingi ribuan lebah berterbangan. Dengan perlahan turunkan kedua tangannya. Dengan sorot mata seakan tidak percaya dia memandang ke arah cahaya menyilaukan dimana suara yang dia dengar berasal."Seperti yang kuduga! Ternyata benar pangeran mesum itu muncul sekaligus bangkit dari kematiannya. Aku mengenali suara itu. Tapi mengapa dia kembali dalam selubung cahaya? Mengapa tidak dalam peti mati Batu Kumala." pikir Ki Lara."Apa yang kau pikirkan Ki Lara? Kau sedang merasani diriku. Kau hendak mencari tahu, kau dunia ini bersama peti mati jahanam yang telah memendamku di dasar laut Krakatau?"Lagi-lagi terdengar suara bentakan keras dari balik cahaya putih berkilau. Ki Lara Saru Saru menyeringai. Dadanya yang kurus kering t

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   235. Part 3

    Disaat ketiga pelita memasuki hitungan ketiga mengelilingi pusaran air yang seolah mendidih itu. Dari kedalaman laut mendadak muncul cahaya putih terang. Cahaya yang muncul menyambar ganas ke arah pelita Keramat dari Alam Arwah.Byar!Wuus! Wuus!Mendapat serangan ganas dari cahaya yang mencuat dari kedalaman laut yang bergolak. Dua pelita tak sempat selamatkan diri. Keduanya hancur menjadi kepingan disertai ledakan dahsyat dan suara jerit aneh yang menyayat"Celaka! Dua pelita gaib sahabatku...!"Orang tua ini keluarkan seruan kaget.Tubuhnya tergetar hebat.Hancurnya pelita ternyata berpengaruh bagi jiwa orang tua ini. Tidak ingin pelita satunya lagi ikut hancur dihantam cahaya putih aneh. Orang tua ini segera hentakan tangan ke arah pelita yang membubung tinggi meninggalkan laut.Lalu menarik tangannya ke belakang.Satu kekuatan luar biasa besar yang bersumber dari tangan orang tua itu menyedot sang pelita yang melaya

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   234. Part 2

    "Astaga! Pelita Kaki Nyawa meledak. Ini sebuah pertanda buruk. Segala mimpi buruk bagi setiap pemuda gagah dan para gadis perawan bakal menjadi kenyataan. Badai, ombak menggila dan angin yang mengamuk?! Keparat jahanam! Ternyata sumpah seribu tahun yang lalu itu nampaknya sekarang benar-benar hendak terwujud menjadi sebuah kenyataan. Tapi aku tidak peduli, aku harus mencegah sebelum kiamat benar-benar muncul di rimba persilatan!"Sambil berucap demikian di dalam gelap dimana tak dapat terlihat apa-apa si orang tua rangkapkan kedua tangan yang terkembang di depan dada. Seiring dengan menyatunya dua telapak tangan di dadanya dia keluarkan ucapan."Tiga Pelita Keramat Penunjuk Terang Dalam Kegelapan. Aku memanggil kalian untuk membantuku!" Berkata begitu orang tua ini memutar tubuh, telapak tangan segera direntang, lalu diangkat tinggi kemudian sepuluh jemari tangan berlawanan arah bergerak melambai ke langit.Diatas ketinggian dalam kegelapan diwarnai suara mender

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   233. SUMPAH SERIBU TAHUN PANGERAN DURJANA

    MALAM Sabtu Kliwon Seribu tahun setelah runtuhnya istana Dewa Ruci. Pulau Rakata tempat dimana istana suci itu dulunya berdiri diselimuti kabut tebal. Keindahan pulau dengan latar belakang gunung Krakatau yang menakjubkan lenyap ditelan kegelapan.Angin menderu.Langit gelap tanpa bintang dan rembulan. Ombak bergulung-gulung menyapu pedataran di pantai sepanjang selat Sunda.Di tengah suasana laut yang seolah murka. Disebelah Selatan gunung Krakatau yang menjulang tinggi diatas permukaan laut.Dalam kegelapan tiba-tiba saja muncul kerlip cahaya. Seperti kunang-kunang cahaya bergerak cepat menuju ke sebuah pulau sepi tak berpenghuni.Nelayan setempat menyebut pulau itu dengan nama Pulau Karang Hantu. Tidak berselang lama cahaya merah redup yang ternyata berasal dari sebuah pelita itu bergerak melambat sesampainya di tepi pantai.Ternyata ada seorang kakek renta bertubuh kurus kering seperti Jerangkong yang menyeberangi lautan dengan menjunjun

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   232. Part 23

    Pendekar Sinting balikkan badan, dia menatap ke arah adipati Seta Kurana yang baru saja bangkit berdiri. Sang adipati menyeka mulutnya yang berlumur darah. Dia juga diam-diam mengerahkan hawa murni untuk menyembuhkan luka dalam di dada. Tapi akibat dua rusuk yang patah menusuk paru-paru upaya penyembuhan itu tidak banyak berguna."Adipati, kau masih punya kesempatan untuk bertobat. Serahkan cambuk itu." Kata Angon Luwak.Adipati menyeringai. "Aku lebih suka kau yang menyerahkan nyawa kepadaku! Hiaa....." Teriak adipati dengan suara lantang.Teriakan itu disusul dengan serangan ganas yang mengandalkan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Tapi berkat jurus Dewa Sinting Kegirangan. Semua serangan yang dilakukan adipati hanya mengenai tempat kosong.Sadar semua serangan ganas yang dilakukannya tak mengenai sasaran. Bahkan lawan dengan mudah dapat meloloskan diri. Geram bercampur penasaran Adipati segera merangsak maju.Cambuk yang terg

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   59. Part 15 (Cemeti Laut Selatan)

    "Katakan padaku di mana kau sembunyikan Cemeti Laut Selatan, Kusumo!" Tekan Ki Ageng Sulut"Aku tahu pada akhirnya kau akan menuntut benda itu!""Jangan banyak cincong! Katakan saja di mana benda itu!""Kau memang bodoh, Ki Ageng Sulut! Kenapa kau pikir aku akan memberikan Ce

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   56. Part 12 (Cemeti Laut Selatan)

    Penyakit mematokkan usianya. Tuhan berkehendak begitu. Tapi, Angon Luwak tak akan sudi menerima cara kematian yang dialami oleh Nyai Cemarawangi. Kalau saja tak ada manusia keji yang merenggut nyawanya, tentu perempuan welas asih itu masih bisa menikmati hari.Setidaknya dia masih bisa men

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   55. Part 11 (Cemeti Laut Selatan)

    "O, si 'Jangan Ribut Dewa' itu bernama Dirgasura ya....""Jadi ke mana gadis itu?""Gadis itu? Gadis yang pakai dua pedang itu, kan?""Iya...."Lama-lama, bisa terkena serangan darah tinggi juga Angon Luwak."Dia sudah kusuruh pergi," Tukas Dongdongka, enteng sa

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   53. Part 9 (Cemeti Laut Selatan)

    "Aneh," Bisiknya."Aku benar-benar masih hidup...."Dicobanya bangkit. Baru saja dia berusaha menggerakkan tubuh lebih jauh, mulutnya mengeluh. Tulang pangkal lengan di bahunya terasa demikian sakit. Pasti ada yang patah. Sambil mendekap bahu yang direjam nyeri, Tresnasari meneruska

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status