MasukKetika hari berganti, kalangan persilatan tanah Jawa malah lebih mengenalnya dengan julukan Tabib Tangan Dewa. Ketika Majapahit dilanda perang saudara sepeninggalan Prabu Rajasanegara, Ki Kusumo mengasingkan diri di sebuah pulau karang yang terpencil di sekitar Laut Selatan.
Dia benci pada setiap pertumpahan darah yang menggerogoti Majapahit. Jarang Ki Kusumo kembali ke dunia persilatan kecuali setiap lima tahun sekali. Banyak kalangan istana yang sakit dan membutuhkan pertolongannya tak bisa berbuat apa-apa kecuali menanti sampai dia turun kembali ke dunia persilatan. Bahkan ada yang akhirnya menemui ajal sebelum berhasil menanti sampai sang Tabib Tangan Dewa kembali.
Pulau karang tempatnya mengasingkan diri disebut orang Pulau Hantu karena bentuknya yang menyeramkan dan menyerupai sosok pocong jika diperhatikan malam hari. Jika malam hari pula, beberapa nelayan yang kebetulan melewati pulau itu sering mendengar suara-suara seperti orang menangis tersedu-sedu. Lalu timbulah kepercayaan orang bahwa pulau itu adalah pulau yang dihuni oleh Hantu. Lalu julukan Ki Kusumo pun bertambah. Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu.
Lelaki tua itu sebenarnya sudah berumur demikian lanjut. Usianya lebih dari seratus tahun. Karena beberapa obat-obatan yang diminumnya, dia tampak seperti orang tua berusia tak lebih dari tujuh puluhan.
Dua tahun lalu, dia turun ke dunia persilatan kembali. Itu lebih awal setahun dari kebiasaannya turun lima tahun sekali. Sekali ini dia mempunyai niat khusus. Hendak dicarinya seorang murid yang bisa diturunkan ilmu ketabiban dan kanuragan miliknya.
Untuk itu, Ki Kusumo sengaja menyamar sebagai seorang pedagang kecil. Sebelum-sebelumnya dia sempat juga menyamar menjadi seorang gembel, atau penarik pedati, dan samaran lain yang tak pernah disangka-sangka orang.
Kebetulan, ketika sedang menyamar di pusat Kadipaten Ketawang, orang tua sakti itu bertemu dengan si bocah gelandangan, Angon Luwak.
Dengan mata tua yang terlatihnya Ki Kusumo bisa menilai bagaimana bagusnya bentuk tulang Angon Luwak, biarpun tubuhnya sendiri kurus. Timbul simpati pertamanya pada Angon Luwak. Itu saja belum lagi cukup.
Ki Kusumo tak hanya ingin mencari murid yang bisa menurunkan kesaktian semata. Murid itu harus juga memiliki sifat-sifat seorang ksatria sejati. Pucuk dicinta ulam tiba, Angon Luwak ternyata memiliki pula sifat-sifat itu.
Dalam tingkahnya yang terkadang acuh, terpendam sifat keras kemauannya. Dalam tingkahnya yang terkadang kebodoh-bodohan, justru tersimpan kecerdasan. Dalam tingkah yang terkadang sok, malah terpendam sifat rendah hatinya. Dan semua itu hanya dapat dilihat oleh mata yang berpengamatan jeli seperti Ki Kusumo.
Lalu, sejak Angon Luwak pamit padanya, Ki Kusumo alias Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu pun terus berusaha memantau Angon Luwak. Sampai dengan pertemuan kedua mereka di hutan perbatasan Ketawang-Jogoboyo malam itu.
-o0o-
LIMA PERAMPOKAN besar-besaran siap terjadi di perbatasan Kadipaten Ketawang dengan Jogoboyo, wilayah yang telah direbut pihak Demak dari Majapahit dalam babad sengit beberapa purnama lalu.
Saat itu, malam telah menjelang. Bulan sabit diselimuti awan tambun di angkasa. Sinarnya tak kuasa untuk menerangi permukaan bumi. Ditengah-tengah kegelapan, satu pasukan berkuda yang terdiri dari kurang-lebih dua puluh lima orang beriringan menyusuri jalan menuju bentangan hutan bakau sebelah barat Jogoboyo. Kuda-kuda mereka berjalan tak lambat, juga tak cepat. Tangan masing-masing penunggang memegang obor. Penunggang terdepan memegang tombak panjang. Di ujungnya diikatkan panji segitiga sama kaki sepanjang empat jengkal berwarna merah dengan gambar seekor kelelawar penghisap darah. Mereka adalah Panji Prajurit Siluman atau Laskar Lawa Merah.
Sepasukan perampok, di bawah pimpinannya yang bertubuh raksasa Sejak kekacauan meletus di mana-mana akibat peta kekuatan Kerajaan Majapahit tercabik-cabik, keadaan jadi tak lagi terkendali. Dan hilangnya tongkat komando kerajaan yang pernah mencita-citakan penyatuan Nusantara di bawah sumpah Mahapatih Gajah Mada itu, menyebabkan kekuatan demi kekuatan pasukan mereka terpecah berkeping.
Sebagian di antara orang-orang berpengaruh Majapahit membangun gerakan mulia seperti mendirikan pondok-pondok persilatan. Ada juga yang menjadi pertapa suci, atau sesepuh masyarakat suatu daerah yang berwibawa dan disegani. Karena haus kekuasaan, ada juga di antara mereka tak dapat menguasai diri untuk membentuk kekuatan sendiri-sendiri. Mereka mengambil jalan yang dianggap dapat dengan cepat mewujudkan keinginan mereka meraih kekuasaan.
Salah seorang di antara mereka adalah Dirgasura. Dia membentuk gerombolan perampok. Terdiri dari para bajingan-bajingan yang dulunya selalu merongrong kerajaan. Dirgasura dan antek-anteknya kemudian menjadi satu gerombolan yang paling ditakuti di sepanjang pesisir Jawa Tengah. Mereka menyebut diri sebagai Panji Prajurit Siluman.
Kawanan perampok yang selalu membawa panji-panji berwarna merah bergambar kelelawar penghisap darah. Penduduk kerap pula menjuluki mereka sebagai Laskar Lawa Merah. Dirgasura memiliki tubuh yang lebih besar dan tinggi dari kebanyakan ukuran tubuh orang biasa. Tingginya mencapai dua meter. Bentuk badannya kekar berotot. Dadanya bidang mengembung, ditumbuhi bulu lebat. Lehernya besar, mengimbangi kekarnya bagian tubuh yang lain. Karena begitu berototnya, punuk lelaki itu lebar menonjol seperti seekor kerbau liar.
Wajahnya sendiri sebenarnya tak tergolong menyeramkan, bahkan boleh dibilang biasa-biasa saja. Namun, matanya selalu membersitkan ketelengasan. Dagu perseginya dihiasi brewok kasar. Dan dia selalu berpakaian perang yang di bagian dadanya terbuat dari lempengan logam, untuk menunjukkan kekuasaannya seperti yang dilakukan para manggala.
Kini, Laskar Lawa Merah atau Panji Prajurit Siluman memasuki wilayah perbatasan antara Ketawang dan Jogoboyo. Mereka punya rencana khusus untuk membumihanguskan desa-desa di sekitar dan menguras harta serta wanita muda di sana. Rencana tersebut sudah dipersiapkan Dirgasura sejak lama sebelumnya.
Wilayah sasaran jarahan sendiri kini berada di bawah kekuasaan pasukan Demak. Mereka membentuk basis kekuatan di sana karena daerah pesisir tersebut dianggap strategis sebagai pintu gerbang masuknya armada laut ke daratan. Dengan begitu, tentu saja pasukan yang ditempatkan pihak Demak di sana terbilang berkekuatan besar. Jika Dirgasura mencoba menyerang melalui sisi utara, maka dia harus berhadapan langsung dengan kekuatan pasukan Demak yang ditempatkan di sana. Tentu saja mereka akan dihancurleburkan.
Untuk menghindari hal itu, Dirgasura memakai siasat gerilya. Dia tak menyerang melalui perbatasan yang dijaga ketat, melainkan melalui pintu masuk yang dianggap memiliki pertahanan terlemah. Pintu masuk yang dimaksud adalah wilayah rawa bakau. Menurut perhitungan Dirgasura sebagai seorang pimpinan perampok yang berpengalaman, tentu pasukan Demak tak akan mengira serbuan dari wilayah rawa. Pertama karena wilayah itu amat berbahaya untuk dimasuki.
Hanya tersenyum. Tapi senyuman gadis membuat laki-laki tinggi berpakaian kuning agaknya merasa diabaikan kalau tak dapat dikata cemburu. Dengan suara menggeram, tanpa menoleh laki-laki itu berkata ditujukan pada Angon Luwak."Kedai ini hanya diperuntukan bagi orang yang berilmu tinggi, orang gagah cantik seperti gadis bermantel hitam itu. Sedangkan golongan tikus comberan, monyet butut dan kunyuk sinting sebaiknya jangan pernah lagi kesini. Dan sebelum kesabaranku habis, sebaiknya yang merasa dirinya sebagai monyet sinting angkat kaki dari sini.” Kata laki-laki itu dengan suara serak angker.Mendengar ucapan lakl-laki itu para tamu kedai mulai gelisah. Salah Satu diantaranya adalah laki-laki bertubuh kurus kering macam jerangkong hidup berpakaian hitam.Si kurus bergelar Elang Mate Juling ini memang tak mengenal siapa adanya pemuda berambut kemerahan itu. Tapi ia mengenal siapa adanya orang yang bicara itu dengan empat anak buahnya. Walau tak memiliki nama
Ketika menginjakkan kakinya di depan pintu kedai pemuda lugu berwajah tampan namun suka bertingkah seperti layaknya orang sinting ini julurkan kepala melongok ke dalam. Kedai itu dipenuhi oleh para pengunjung yang sedang menikmati hidangan dan minuman berbau aneh tapi harum.Wajah pemuda ini berubah jadi cerah sumringah. Ia tersenyum, perutnya berasa keroncongan setelah hidungnya mengendus aroma makanan lezat. Rasa lapar membuat pemuda ini segera mengambil tempat duduk berada di sudut kedai.Sekilas dia memperhatikan para tamu dikedai itu. Kebanyakan tamu dalam kedai terdiri dari laki-laki berpakaian dan berpenampilan pengembara dari dunia persilatan. Tampang mereka ada yang angker namun ada pula yang memuakkan untuk dilihat. Tapi tidak semua pengunjung kedai makan itu semuanya laki-laki.Di sudut kedai pada bagian ujung sebelah kanan duduk seorang gadis berpakaian serba hijau bermantel bulu warna hitam berparas cantik. Rambutnya yang panjang digelung ke atas. D
SEBELUM MENUNAIKAN TUGAS yang diberikan oleh Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul. Angon Luwak terlebih dulu pulang untuk menemui kedua gurunya, guna meminta restu. Dan saat Angon Luwak menceritakan perihal pertemuannya dengan Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul dan tugas yang diterimanya. Ki Kusumo alias Tabib Tangan Dewa Dari Pulau Hantu cukup terkejut mendengar cerita dari Angon Luwak. Tapi Dedengkot Sinting tampak biasa-biasa saja mendengar hal itu.“Jadi kau adalah pewaris sah Istana Es dan putra prabu Sangga Langit, Angon Luwak” ucap Ki Kusumo dengan nada terkejut.“Itulah yang dikatakan oleh Kanjeng Ratu, guru. Karena itulah aku menerima tugas ini untuk mengetahui kebenarannya” tegas Angon Luwak.“Tugas yang kau emban ini sangat berat Angon Luwak. Wilayah timur sangat berbeda dengan disini. Kau harus berhati-hati. Ada banyak hal diluar nalar yang terjadi disana. Juga ada satu tokoh yang sangat ditakuti disana, namanya Sang Maha Sesat”
“Aku yang memberikan Cemeti Laut Selatan kepada gurumu, Ki Kusumo atau yang lebih dikenal sebagai Tabib Tangan Dewa Dari Pulau Hantu. Ki Kusumo juga merupakan abdi istana laut kidul sekaligus juga muridku”Angon Luwak tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.“Jika Cemeti Laut Selatan berjodoh denganmu, itu artinya Pedang Laut Selatan pun akan berjodoh denganmu”“Apa maksudnya itu, Kanjeng Ratu?”“Di dalam tubuhmu ada Tenaga inti Segoro (Samudra)”“Tenaga inti Segoro (Samudra), Kanjeng Ratu?”“Ya Tenaga inti Segoro (Samudra), itu adalah sebuah tenaga dahsyat yang bersumber dari dasar laut dalam”“Tapi bagaimana hamba bisa memilikinya Kanjeng Ratu? Kedua guru hamba tidak pernah mengajarkan atau memberikannya” jawab Angon Luwak polos.“Itulah yang tidak ku mengerti Angon Luwak. Sejak berhadapan denganmu, aku dap
“Aku memiliki dua buah pusaka yang menjadi pilar kekuasaan Istana Laut Kidul. Yang pertama adalah sebuah pusaka pedang yang tiada bandinganya di dunia persilatan. Pedang ini bisa menjadi malapetaka bagi dunia persilatan bila berada di tangan manusia sesat ataupun pendekar berwatak jahat. Pedang Laut Selatan ku titipkan pada prabu Sangga Langit, penguasa Istana Es... Hingga peristiwa berdarah itu terjadi...” Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul menghentikan sejenak ceritanya untuk melihat reaksi Angon Luwak.Benar saja, berhentinya cerita Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul membuat Angon Luwak penasaran akan ceritanya.“Peristiwa apakah itu Kanjeng Ratu?”“Dua puluh satu tahun yang lalu, Seluruh penghuni Istana Es terbunuh dalam 1 malam”Wajah Angon Luwak berubah mendengar hal itu, hingga tanpa sadar, ia mengulangi ucapan Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul dengan terbata-bata.“Te..Ter.. terbunuh dalam 1 malam?”Kan
Malam itu, diantara debur ombak ganasnya Pantai Selatan. Di keremangan sinar bulan yang bersinar, tampak sesosok tubuh yang tengah duduk menghadap ke arah laut pantai selatan. Melihat posisinya, sosok yang ternyata adalah seorang pemuda berambut kemerahan itu tengah melakukan semadi. Melihat sosoknya, pemuda itu tak lain adalah Angon Luwak. Seorang tokoh muda persilatan tanah Jawa yang julukannya mulai sering berseliwer keras di telinga warga persilatan lain. Pendekar Sinting. Murid dua tokoh kenamaan tanah Jawa sekaligus; Dedengkot Sinting dan Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu!Apa yang dilakukan Angon Luwak hingga melakukan semadi di karang pantai selatan. Apakah ia sudah gila? Ataukah ia ingin membuktikan mitos tentang keberadaan Kanjeng Ratu Kidul yang selama ini didengarnya. Tidak! Itu salah. Angon Luwak berada di pantai selatan bukan karena kesengajaannya, karena memang kebetulan saja dia melewati tempat itu.Dari pertemuan terakhir lawan bertarungnya, Nini Jong







