Share

32. Latihan yang berat

last update Tanggal publikasi: 2025-10-17 01:03:16

Sehari terlewati.

Tiba waktunya bagi Angon Luwak untuk menjalankan tugas berat yang dibebankan padanya. Selama Ki Kusumo merawat dan mengobati Nyai Cemarawangi, maka bocah berhati baja itu yang akan berenang pulang-balik dari pantai Tanjung Karangbolong ke Pulau Hantu untuk mengambii segala keperluan Ki Kusumo. Ombak besar memburu ke pantai. Susul-menyusul ketepian, sampai akhirnya surut kelelahan di batas pasir yang tak bisa lagi didaki. Angon Luwak berdiri, menatapi riuh gelombang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   177. Part 13

    Samudra Langit manggut-manggut mengiyakan."Tapi.... tua bangka sepertiku mana bisa menari."Dia menggaruk kepala sementara Sang Rajawali memperlihatkan sikap tidak suka mendengar ucapan Bocah Ontang Anting.Tak ingin mahluk besar itu menjadi murka. Dengan gerakan kaku terkesan seadanya mulailah Bocah Ontang Anting menari.Samudra Langit tampak berjingkrak-Jingkrak kegirangan melihat gerakan tarian si kakek yang terkesan ngawur dan asal-asalan ini. Bocah Ontang Anting diam-diam tidak dapat menahan geli di hati. Rasa geli ditahan agar tidak meledak menjadi tawa membuat perutnya mulas.Tanpa ampun setiap kali dia menggerakkan tubuh dari bagian bawah perut terdengar suara pret bertalu-talu.Bocah Ontang Anting terhuyung seperti orang mabuk. Dia mabuk dari bau kentutnya sendiri. Merasa kelelahan orang tua ini jatuhkan diri terduduk di lantai dingin dengan nafas megap-megap."Sudah! Aku tak sanggup meneruskan menari. Aku lelah dan cuma itu

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   176. Part 12

    "Kau masih tidak suka dengan kemurahan yang kuberikan?" Tanya Hyang Kelam.Suaranya serak memecah keheningan. Melihat sang guru telah bersikap biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka Untari segera melangkah maju dan berdiri tegak sejarak tiga tombak di depan Hyang Kelam.Mahluk alam roh bercelana selutut dan berpakaian selempang dari lempengan kulit pohon tersenyum. Dia menatap ke arah kotak dan berkata."Raja dari semua pedang telah berada di tanganku. Mendapatkan pedang ini membuatku merasa Jadi sepuluh tahun lebih muda. Kelak aku akan memberikan pedang ini padamu Untari!""Aku sudah punya kipas. Aku selalu menyukai senjata berupa kipas. Pedang Pusaka Istana Es sedikitpun aku tidak ingin memilikinya. Lagi pula pedang itu bukan milik guru, tapi senjata pusaka Istana Pulau Es."Mendengar ucapan Untari, wajah Hyang Kelam yang tertunduk terangkat ke atas. Dipandanginya gadis di depannya dengan perasaan heran."Kau tidak menyukai senjata curian. Sungguh diantara kita

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   175. Part 11

    Gadis ini bergegas melewati gurunya masuk ke dalam ruangan mendahului. Karena pernah beberapa kali diajak ke tempat ini tentu saja Untari tahu di bagian mana pelita terletak. Tak urung tengkuknya merinding saat gadis ini ingat dengan nama bangunan tua dan apa saja yang pernah terjadi di tempat itu."Rumah Kawin Tiga Hari Pemecah Perawan Satu Malam," Batin Untari.Nama itu membuat tengkuknya jadi merinding.Tapi segera menghalau segala pikiran buruk yang sempat hinggap di dalam kepalanya. Maka diraihnya pelita yang tergeletak di atas meja batu bundar. Belum lagi sempat gadis ini menyalakan pelita.Tiba-tiba dia mendengar suara benda diletakkan. Untari tertegun, jantungnya berdetak keras."Guru engkaukah itu!" Tanya gadis ini dengan suara bergetar.Tak ada jawaban.Namun dia mendengar suara dengus nafas mengengah. Untari berjingkrak mundur. Sementara sepasang mata jelalatan memperhatikan segenap penjuru ruangan yang gelap. Belum lagi hilang ras

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   174. Part 10

    Di pedataran selatan yang hanya dipisahkan oleh gundukan bukit kecil Momok Laknat tiba-tiba menyela. "Paduka.. Sebagai pewaris tahta mungkin kelak paduka perlu kiranya mengangkat diriku menjadi seorang maha patih di Istana Es""Nenek yang berada di seberang. Soal tahta dan Istana saya belum memikirkannya. Tapi bila kau berhasrat menjadi patih. Rasanya kau pantas memangku jabatan sebagai patih. Dan mengingat aku hanya seorang Pendekar Sinting kemungkinan kau layak menjadi patihnya orang gila".Ucapan Pendekar Sinting ini tentunya mengundang gelak tawa bagi yang lain-lainnya. Sambil bersungut-sungut si nenek berujar. "Menjadi patih orang gila Juga tidak mengapa paduka. Aku rasa Pendekar Sinting patut berpasangan dengan patih gila. Hik hik hik.""Aku menghargai usul itu. Tapi mengapa kau dan sahabatmu puteri Pemalu tidak mau datang kemari bergabung bersama kami," Tanya Pendekar Sinting.Puteri Permalu melangkah maju. Dengan malu-malu dan tutupi wajahnya dia

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   173. Part 9

    Mereka menyerang lawan dengan jurus-jurus serta pukulan mematikan. Tetapi walau mahluk-mahluk menyerupai kera ini mempunyai kelebihan dapat menggandakan diri. Namun Angin Pesut ternyata mengetahui kelemahan mereka.Dengan segala kelebihan yang dimiliki si kakek mengambil bumbung emas dari dalam mulutnya. Tabung itu berisi sejenis kutu ganas dan biasa menyerang bagian telinga tembus sampai ke otak.Di dalam otak lawan sang kutu membuat berbagai kekacauan dan kerusakan. Tanpa ampun di saat kawanan perajurit alam gaib semakin mengganas hingga membuat empat lawannya jedi sangat kewalahan.Di saat seperti itu sang kutu yang oleh Angin Pesut diberi nama Kutu Gila menyelinap masuk ke dalam telinga para mahluk. Mula-mula mahluk-mahluk berujud kera berwarna coklat dan hitam merasakan telinga masing masing terasa gatal luar biasa di bagian liang dalam. Setelah itu rasa gatal menjalar kesekujur tubuh hingga membuat mereka terpaksa menggaruk.Dalam keadaan yang demik

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   172. Part 8

    Ketika tangan ditarik ke belakang lalu dihantamkan ke depan. Dua tangan yang dikepal segera dibuka. Dari tangan kiri yang terbuka melesat cahaya hitam disertai hawa panas luar biasa. Cahaya panas memecah menjadi sembilan bagian. Bergerak meliuk-liuk seperti sembilan ekor ular ganas berkepala lancip. Sedangkan dari tangan kanan berkiblat cahaya biru redup melesat sedemikian rupa tidak ubahnya seperti kilat yang menyambar sebelum munculnya petir di tengah hujan.Sekejab saja kilatan cahaya menghantam Maha Sesat di sembilan titik mematikan pada bagian tubuhnya. Maha Sesat yang semula bersikap acuh terkesan memandang sebelah mata serangan lawan jadi terkesima begitu merasakan sekujur tubuhnya seperti disedot dan diremas oleh satu kekuatan maha dahsyat yang tak dapat dilihatnya.Dalam kejut selagi sekujur tubuh menggeletar hebat, laki laki ini segera miringkan tubuh sekaliigus menyambut serangan Pendekar Sinting dengan pukulan sakti Muslihat Di Balik Kegelapan.Ketik

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   104. Part 13

    Mula-mula si nenek mengeruk sisa-sisa tanah yang menimbun sebagian tubuh penghuni makam. Aneh walau mata si nenek hanya berupa dua buah rongga hitam mengerikan. Orang tua ini bersikap seolah melihat.Terbukti ia dapat memastikan dimana kepala dan yang mana bagian kaki dari kubur yang telah

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   103. Part 12

    Belum sempat si Angon Luwak menjawab, Bahala Raka Langitan sudah berteriak. "Bocah Angon Luwak. Benar seperti yang dikatakan kakek kerdil itu. Bila kau tak membunuhku kali ini. Kelak aku akan membunuhmu!"Ancaman itu membuat ciut hati si kakek kerdil namun tidak demikian halnya dengan Ango

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   102. Part 11

    Permukaan tanah yang dilapisi es, meleleh mencair. Cairan itu dengan cepat mendidih menghantam segenap sudut penjuru hingga membuat Bocah Ontang Anting kalang kabut selamatkan diri dari amukan api dan luapan air panas bergolak.Melihat kenyataan ini. Angon Luwak terpaksa menggunakan jurus-

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   101. Part 10

    "Aku.... apakah temanmu itu tak memberi tahu siapakah aku ini?" Tanya sosok yang tingginya tiga kali lipat dari tinggi Angon Luwak.Pemuda yang ditanya melengos namun kemudian tertawa tergelak gelak. Dengan sikap konyol seenaknya sendiri Angon Luwak menjawab."Dia sudah memberi tahu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status