Share

32. Latihan yang berat

last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-17 01:03:16

Sehari terlewati.

Tiba waktunya bagi Angon Luwak untuk menjalankan tugas berat yang dibebankan padanya. Selama Ki Kusumo merawat dan mengobati Nyai Cemarawangi, maka bocah berhati baja itu yang akan berenang pulang-balik dari pantai Tanjung Karangbolong ke Pulau Hantu untuk mengambii segala keperluan Ki Kusumo. Ombak besar memburu ke pantai. Susul-menyusul ketepian, sampai akhirnya surut kelelahan di batas pasir yang tak bisa lagi didaki. Angon Luwak berdiri, menatapi riuh gelombang.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   178. Part 14

    "Pemuda itu bernama Angon Luwak. Tapi nama sebenarnya adalah Saka Buana, dia lebih dikenal dengan sebutan Pendekar Sinting, tapi gelar sebenarnya adalah Dewa dari Istana Es." Terang si kakek."Hm, apakah dia murid kakek aneh bernama Dedengkot Sinting?" Tanya suara itu."Betul. Dia juga murid Tabib Tangan Dewa dari Pulau Hantu." Bocah Ontang Anting menambahkan.Sunyi sejenak."Ternyata apa yang kau katakan tentang ciri-ciri pemuda itu sesuai dengan garis suratan nasib. Pemuda itu nampaknya memang berjodoh dengan Pedang Pusaka Istana Es..."Bocah Ontang Anting sambil senyum senyum cepat memotong."Ya, aku setuju. Orang gila pantasnya memang berpasangan dengan orang sinting.""Jangan suka menyela bila orang belum selesai bicara. Apa kau ingin aku menyumpal mulutmu hingga membuatmu tak mampu bicara seumur hidup atau kau ingin aku membuatmu sakit perut selama satu purnama?" Tanya suara tak berujud itu membuat Bocah Ontang Anting melengak k

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   177. Part 13

    Samudra Langit manggut-manggut mengiyakan."Tapi.... tua bangka sepertiku mana bisa menari."Dia menggaruk kepala sementara Sang Rajawali memperlihatkan sikap tidak suka mendengar ucapan Bocah Ontang Anting.Tak ingin mahluk besar itu menjadi murka. Dengan gerakan kaku terkesan seadanya mulailah Bocah Ontang Anting menari.Samudra Langit tampak berjingkrak-Jingkrak kegirangan melihat gerakan tarian si kakek yang terkesan ngawur dan asal-asalan ini. Bocah Ontang Anting diam-diam tidak dapat menahan geli di hati. Rasa geli ditahan agar tidak meledak menjadi tawa membuat perutnya mulas.Tanpa ampun setiap kali dia menggerakkan tubuh dari bagian bawah perut terdengar suara pret bertalu-talu.Bocah Ontang Anting terhuyung seperti orang mabuk. Dia mabuk dari bau kentutnya sendiri. Merasa kelelahan orang tua ini jatuhkan diri terduduk di lantai dingin dengan nafas megap-megap."Sudah! Aku tak sanggup meneruskan menari. Aku lelah dan cuma itu

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   176. Part 12

    "Kau masih tidak suka dengan kemurahan yang kuberikan?" Tanya Hyang Kelam.Suaranya serak memecah keheningan. Melihat sang guru telah bersikap biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka Untari segera melangkah maju dan berdiri tegak sejarak tiga tombak di depan Hyang Kelam.Mahluk alam roh bercelana selutut dan berpakaian selempang dari lempengan kulit pohon tersenyum. Dia menatap ke arah kotak dan berkata."Raja dari semua pedang telah berada di tanganku. Mendapatkan pedang ini membuatku merasa Jadi sepuluh tahun lebih muda. Kelak aku akan memberikan pedang ini padamu Untari!""Aku sudah punya kipas. Aku selalu menyukai senjata berupa kipas. Pedang Pusaka Istana Es sedikitpun aku tidak ingin memilikinya. Lagi pula pedang itu bukan milik guru, tapi senjata pusaka Istana Pulau Es."Mendengar ucapan Untari, wajah Hyang Kelam yang tertunduk terangkat ke atas. Dipandanginya gadis di depannya dengan perasaan heran."Kau tidak menyukai senjata curian. Sungguh diantara kita

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   175. Part 11

    Gadis ini bergegas melewati gurunya masuk ke dalam ruangan mendahului. Karena pernah beberapa kali diajak ke tempat ini tentu saja Untari tahu di bagian mana pelita terletak. Tak urung tengkuknya merinding saat gadis ini ingat dengan nama bangunan tua dan apa saja yang pernah terjadi di tempat itu."Rumah Kawin Tiga Hari Pemecah Perawan Satu Malam," Batin Untari.Nama itu membuat tengkuknya jadi merinding.Tapi segera menghalau segala pikiran buruk yang sempat hinggap di dalam kepalanya. Maka diraihnya pelita yang tergeletak di atas meja batu bundar. Belum lagi sempat gadis ini menyalakan pelita.Tiba-tiba dia mendengar suara benda diletakkan. Untari tertegun, jantungnya berdetak keras."Guru engkaukah itu!" Tanya gadis ini dengan suara bergetar.Tak ada jawaban.Namun dia mendengar suara dengus nafas mengengah. Untari berjingkrak mundur. Sementara sepasang mata jelalatan memperhatikan segenap penjuru ruangan yang gelap. Belum lagi hilang ras

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   174. Part 10

    Di pedataran selatan yang hanya dipisahkan oleh gundukan bukit kecil Momok Laknat tiba-tiba menyela. "Paduka.. Sebagai pewaris tahta mungkin kelak paduka perlu kiranya mengangkat diriku menjadi seorang maha patih di Istana Es""Nenek yang berada di seberang. Soal tahta dan Istana saya belum memikirkannya. Tapi bila kau berhasrat menjadi patih. Rasanya kau pantas memangku jabatan sebagai patih. Dan mengingat aku hanya seorang Pendekar Sinting kemungkinan kau layak menjadi patihnya orang gila".Ucapan Pendekar Sinting ini tentunya mengundang gelak tawa bagi yang lain-lainnya. Sambil bersungut-sungut si nenek berujar. "Menjadi patih orang gila Juga tidak mengapa paduka. Aku rasa Pendekar Sinting patut berpasangan dengan patih gila. Hik hik hik.""Aku menghargai usul itu. Tapi mengapa kau dan sahabatmu puteri Pemalu tidak mau datang kemari bergabung bersama kami," Tanya Pendekar Sinting.Puteri Permalu melangkah maju. Dengan malu-malu dan tutupi wajahnya dia

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   173. Part 9

    Mereka menyerang lawan dengan jurus-jurus serta pukulan mematikan. Tetapi walau mahluk-mahluk menyerupai kera ini mempunyai kelebihan dapat menggandakan diri. Namun Angin Pesut ternyata mengetahui kelemahan mereka.Dengan segala kelebihan yang dimiliki si kakek mengambil bumbung emas dari dalam mulutnya. Tabung itu berisi sejenis kutu ganas dan biasa menyerang bagian telinga tembus sampai ke otak.Di dalam otak lawan sang kutu membuat berbagai kekacauan dan kerusakan. Tanpa ampun di saat kawanan perajurit alam gaib semakin mengganas hingga membuat empat lawannya jedi sangat kewalahan.Di saat seperti itu sang kutu yang oleh Angin Pesut diberi nama Kutu Gila menyelinap masuk ke dalam telinga para mahluk. Mula-mula mahluk-mahluk berujud kera berwarna coklat dan hitam merasakan telinga masing masing terasa gatal luar biasa di bagian liang dalam. Setelah itu rasa gatal menjalar kesekujur tubuh hingga membuat mereka terpaksa menggaruk.Dalam keadaan yang demik

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   131. Part 14

    "Waduuh, mulas perutku" Teriaknya sambil tekab perutnya yang besar bundar. Rasa mulas diikuti dengan rasa sakit.Tak terduga sama sekali.Bes! Buut! Buut!Angin Pesut keluarkan suara kentut bertalu-talu. Dara cantik ini memaki panjang pendek dan buru-buru melompat ke belakang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   130. Part 13

    "Bodohnya aku. Angin Pesut bukan sejenis kutu busuk, kutu keledai atau sebangsa kecoak kecil yang bisa menyembunyikan diri di setiap celah. Dia manusia yang memiliki tubuh luar biasa besar. Bobotnya saja delapan ratus kati. Mustahil dia bisa menyembunyikan tubuh sebesar itu dengan menyelinap di s

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   129. Part 12

    Cess!!Gembok besar yang tak mudah leleh walau terbakar terus menerus selama bertahun-tahun Itu kini mencair seperti gumpalan es terkena panas ketiika tersengat cahaya putih berkilau yang membersit dari ujung jari sang dara.Sesaat setelah lelehan gembok luruh ditanah batu. Dengan m

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   128. Part 11

    Walau sempat ciut melihat penampilan Hyang Kelam yang menakutkan namun Puteri Pemalu yang tak tahu nenek yang dia dampingi mati atau sekarat segera berkata."Mahluk busuk pengecut. Aku tidak takut padamu. Sekarang kau terimalah manisan api dariku!"Berkata begitu Puteri Pemalu membu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status