Share

44. Matikah ia?

last update Last Updated: 2025-10-23 01:02:43

"Nghh!" Dirgasura mengeluh tertahan.

‘Bangsat’, makinya dalam hati. Pergelangan tangannya berdenyar-denyar. Rasanya ada puluhan batang jarum terikut dalam aliran darahnya.

Pemuda keparat ini ternyata tak bisa dianggap remeh, sumpahnya membatin. Mestinya, tangan pemuda itu remuk. Setidaknya mengalami patah tulang parah. Penyebabnya karena Dirgasura telah melepas tenaga dalam dari pernapasan perutnya. Tenaga dalam seperti itu bisa dimanfaatkan untuk mematahkan dua bilah balok setebal dua jengkal.

Kenyataan yang terjadi malah bertolak-belakang! Itu membuat Dirgasura kian gusar. Kebengisannya makin meruyak. Dia harus berhasil merencah-rencah tubuh pemuda itu menjadi potongan-potongan kecil, agar dapat menyelamatkan mukanya di hadapan sekian puluh anak buahnya sendiri! Selang sekedipan dari tumbukan tangan keduanya, Dirgasura menyusulkan cengkeraman bengis tangan kirinya ke dada kiri lawan.

Sebagai tindakan awal merencah-rencah lawan, jantung Angon

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 22

    Itu sebabnya, pukulan Perempuan Pengumpul Bangkai di Wadaslintang tak berakibat parah terhadap diri Tresnasari. Kebetulan, pukulan itu adalah salah satu ilmu tenaga dalam yang dicurinya."Tresna, bawalah Mayangseruni menyingkir dari tempat ini!" seru Pendekar Sinting, mengimbangi ancaman sengit Nini Jonggrang.Tak perlu dua kali diperingati, Tresnasari segera memapah saudara kembarnya meninggalkan tempat tersebut. "Tak semudah itu kau menyingkir, Murid Jahanam!" teriak Nini Jonggrang kalap bukan main, Nini Jonggrang berjuang untuk melepaskan diri dari hujanan serangan Pendekar Sinting. Tubuhnya digenjot hendak menghadang Tresnasari dan Mayangseruni.Dengan ketat, Pendekar Sinting merapatkan serangan, mencoba membendung usaha lawan. Nini Jonggrang makin dibuat kalap.Sementara, malam kian terlelap. Hal yang paling ditakuti Dedengkot Sinting malam itu akhirnya terjadi juga. Apa lacur, orang tua sakti yang harus tiba sebelum tengah malam, tak kunjung-kunjung

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 21

    Mayangseruni terlempar. Tubuhnya berguling di tanah menurun. Saatnya bagi Pendekar Sinting untuk bertindak!Wrrr!Sekali sentak, tubuh Pendekar Sinting melayang cepat menyusul Mayangseruni. Nini Jonggrang tak bisa membiarkan begitu saja. Rasa sakit di pahanya telah sanggup dikuasai. Perhatiannya kini bisa dipusatkan kembali ke arah kancah kekacauan. Kekacauan memang telah berlangsung demikian cepat. Tak meleset perhitungan Tresnasari. Tindakan cepat tak terduga seperti rencananya, telah memporak-porandakan kemenangan sementara si Perempuan Pengumpul Bangkai dan Iblis Dari Neraka!Nini Jonggrang berteriak bagai auman singa betina tua."Khuuaaaa!"Wikh wiikh wikh wiikh!Dengan nekat dan amat menggidikkan bagi siapa pun yang menyaksikannya, Nini Jonggrang melepas lima kuku jari tangan kanannya dengan sengaja. Sentakan tenaga dalam yang disalurkan kelewat batas menyebabkan kelima jari hitam itu meluncur bagai taring-taring setan terbang!

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 20

    Dan tampaknya, Nini Jonggrang telah lebih dahulu mengetahui daripada Dongdongka bahwa Pertapa Sakti Gunung Sewu telah meninggalkan tempat pertapaanya itu. Karenanya, tua bangka ahli tenung itu berani mendatangi Goa Sewu.Mayangseruni masih dalam genggaman Ki Ageng Sulut. Dia masih dalam pengaruh totokan. Tubuhnya yang lemah lunglai dibopong oleh Ki Ageng Sulut hingga ke Goa Sewu. Sementara Tresnasari dibopong oleh Nini Jonggrang. Gadis yang mengalami luka dalam cukup parah akibat hantaman Nini Jonggrang masih tak sadarkan diri.Sebelum berangkat ke Goa Sewu, Nini Jonggrang sempat mengobati luka dalamnya. Angon Luwaktidak dapat berbuat banyak, kecuali menyaksikan saja Nini Jonggrang bersemadi mengatur peredaran hawa murni dalam tubuhnya. Jika macam-macam, tangan kejam Ki Ageng Sulut akan memagut lepas nyawa Mayangseruni.Sementara itu, Ki Kusumo pun tak punya pilihan lain kecuali menuruti perintah si Perempuan Pengumpul Bangkai untuk segera meninggalkan Wadaslintang. Namun, dia tak beg

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 19

    "Tak perlu kau bersujud lagi padaku, Truna!" cegah Pertapa Sakti Gunung Sewu, menahan Dongdongka yang hendak memulai sembah sujud 'setengah miring'nya."Kenapa, Eyang Guru? Kenapa? Aku memang bersalah semalam dan hari ini. Tapi, janganlah kau menghukum aku dengan tidak menganggap aku muridmu lagi. Jangan, ya Eyang Guru?" tanya Dongdongka, mendayu-dayu sambil berjalan membungkukbungkuk di belakang Pertapa Sakti Gunung Sewu."Bukan begitu. Sejak aku memutuskan untuk turun gunung, aku telah menyadari sesuatu. Manusia tak bisa menyembah manusia lain. Kendati gurumu, jangan jadikan aku seperti Dewa. Aku tetap manusia biasa...."Dongdongka manggut-manggut. Raungannya sudah aman. Matanya bahkan sudah kering. Atau, memang begitu caranya menangis" Tak pernah keluar airmata."Syukurlah kalau ternyata Eyang Guru tak menghukum aku. Syukur... syukur. Lalu, kenapa Eyang Guru memutuskan untuk turun gunung sekarang ini?"Pertapa Sakti Gunung Sewu terus melangkah.

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 18

    Terbayang-bayang kembali dalam otak tua yang nyaris tumpul milik Dongdongka, wajah Pertapa Sakti Gunung Sewu yang telah berpuluh tahun tak dijumpainya. Seorang yang dari waktu ke waktu tak pernah mengalami ketuaan pada wajahnya. Tampan dan bersih, dengan binar mata jenaka seorang bocah polos. Ada juga kesan kebodoh-bodohan pada garis-garis wajahnya. Rambutnya panjang. Hitam, terawat, dan tergerai. Mengenakan kain pengikat berwarna ungu, menutupi separuh kepala bagian atasnya. Mengenakan pakaian sederhana berwarna serupa dengan pengikat kepala. Kendati sederhana, namun licin sekaligus bersih. Pada kain ikat pinggang berwarna merah, terselip satu helai bulu rajawali sepanjang dua jengkal.Dan di luar pengetahuan Dedengkot Sinting sendiri, Pertapa Sakti Gunung Sewu seperti yang terngiang-ngiang di kepalanya telah bertemu pula dengan Ki Ageng Sulut dan Ki Kusumo di Wadaslintang. Padahal, ketika Pertapa Sakti Gunung Sewu mengunjungi Dongdongka, bertepatan waktunya dengan kehadiran

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 17

    "Karena aku dapat menjamin, kalau kau meneruskan, tenggorokan gadis ini akan segera terkoyak oleh jariku!"Kendati kemarahan sudah demikian meluap-luap hampir kehilangan kendali sama sekali, Angon Luwak cepat tersadar akan keselamatan nyawa Mayangseruni. Sekuat-kuatnya ditekan kembali kemarahan itu sehingga kerongkongannya terasa demikian sakit."Kakek terkutuk...," sumpahnya mendesis.Sesosok bayangan kemudian berkelebat sekitar sepuluh tombak dari tempat Ki Ageng Sulut, berkawal teriakan yang sudah cukup lama dikenal Pendekar Sinting."Jangan gegabah, Angon Luwak!"Sekali lagi mata Pendekar Sinting beralih. Ditemukannya Ki Kusumo sudah hadir pula di sana."Kakek Kusumo," sambut Pendekar Sinting, tak jelas Pendekar Sinting tak tahu, apakah dia harus merasa gembira dengan kedatangan salah seorang gurunya itu. Dia bahkan tak begitu yakin Ki Kusumo bisa membantunya kalau mengingat keadaan Mayangseruni kini. Satu hal yang pasti, keberadaan Ki K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status