Partager

44. Matikah ia?

last update Date de publication: 2025-10-23 01:02:43

"Nghh!" Dirgasura mengeluh tertahan.

‘Bangsat’, makinya dalam hati. Pergelangan tangannya berdenyar-denyar. Rasanya ada puluhan batang jarum terikut dalam aliran darahnya.

Pemuda keparat ini ternyata tak bisa dianggap remeh, sumpahnya membatin. Mestinya, tangan pemuda itu remuk. Setidaknya mengalami patah tulang parah. Penyebabnya karena Dirgasura telah melepas tenaga dalam dari pernapasan perutnya. Tenaga dalam seperti itu bisa dimanfaatkan untuk mematahkan dua bila

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   248. Part 16

    "Ah kau jangan keterlaluan. Aku sudah besar begini kau suruh pipis dicelana?""Perduli apa? Tidak ada yang melihat ini!" Dengus Arum Senggini sinis.Nila Agung terdiam. Dia tidak ingin membuat saudara tuanya jadi tambah marah. Sementara suara tawa menggelegar tiba-tiba terhenti.Deru angin dingin yang membuat butiran pasir beterbangan lenyap. Kemudian ada suara orang berkata. Yang mengejutkan suara itu datang dari balik hamparan pasir tak jauh dari tempat mereka berdiri."Dua orang gadis cantik dan puteri raja pula. Kalian datang terlambat. Sayang lebah-lebahku terlanjur pergi jauh. Padahal seharusnya lebah lebah itu mengantuk dan menyengat kalian. Dengan begitu kalian akan menjadi pengantinku. Tapi tidak mengapa, aku datang menjemput membuang waktu menyempatkan diri menghampiri kalian. Bagiku kalian adalah sebuah karunia dewa serta hadiah yang tak ternilai harganya.""Sayangku, apakah kalian sudah siap pergi bersamaku? Ha ha ha.""Apa katak

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   247. Part 15

    "Iblis itu datang bersama lebah-lebah pembunuh. Dia memasuki rumah seluruh penduduk di pantai ini. Anak-anak gadis entah mengapa mendadak bertingkah aneh begitu disengat oleh kawanan lebah. Mereka pergi mengikuti iblis itu" terangnya dengan suara terbata."Lalu apa yang membuat dirimu dan yang Lainnya terkapar? Kulihat kau menderita keracunan hebat ki..." Puteri Arum Senggini bertanya pula."Yang yang menyerang kami kawanan lebah itu juga." jawab si orang tua dengan tubuh mulai bergetar.Kedua puteri ini saling pandang."Serangan mahluk yang sama, tapi mengapa akibatnya berbeda?" kata Arum Senggini"Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan ada kawanan lebah bisa membunuh begini banyak."ujar Nila Agung pula. Kemudian sang puteri kembali menatap orang tua itu. Dari keadaan luka dan beberapa dari sengatan yang parah.Gadis sadar jiwa orang tua itu tak bakal tertolong. Tidaklah heran Nila Agung buru-buru ajukan pertanyaan.”Ki kami akan b

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   246. Part 14

    “Penujum kuakui tahu banyak hal-hal yang belum terjadi. Tapi yang aku herankan mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tanda-tanda kehadiran pangeran durjana.""Eh, amit-amit. Biarpun tampan aku tak bakal sudi berteman dekat dengan orang yang pernah mati." sahut sang kakak dengan tubuh bergidik dan wajah membayangkan rasa takut sekali.Melihat ini sang adik tertawa tergelak-gelak. Tapi suara merdu sang dara mendadak lenyap, Kedua matanya membelalak lebar begitu melihat di kejauhan sana tepat di dusun nelayan itu para penduduk berlarian tak tentu arah dalam keadaan ketakutan dan menjerit-jerit seperti tak berkeputusan. Dari tempat mereka berada keduanya melihat orang-orang itu begitu sibuk menghalau sesuatu sambil mengibaskan benda apa saja yang berada di tangan mereka"Apa yang terjadi dengan mereka?!" kata puteri Arum Senggini sambil menghentikan lari kuda sekaligus menatap heran ke arah penduduk yang berlarian menyelamatkan diri. Puteri Nila A

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   245. Part 13

    "Astaga! Aku tak pernah menyangka berhadapan dengan orang sehebat dirimu Dewa Mabok. Aku yang berilmu rendah dan tak punya ke pandaian apa-apa ini mohon maaf. Terimalah hormatku." ujar Penujum Aneh Sambil rangkapkan dua tangan di depan dada dengan sikap segan cepat si kakek bungkukkan badan menghormat pada Dewa Mabok. Tapi begitu dia kembali tegak, turunkan kedua tangan dan menatap ke depan.Penujum Aneh dibuat takjub Dewa Mabok hilang raib berubah menjadi kepulan asap."Aneh, Apakah benar aku bertemu dan bercakap-cakap dengin orang tua sakti itu?" desis sikakek seolah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.Seakan mendengar apa yang dikatakan Penujum Aneh. Dikejauhan terdengar suara gelak tawa dan santernya aroma tuak. Lalu sayup sayup terdengar ucapan."Kau telah bertemu dan bercakap-cakap denganku. Jadi jelas kau tak bicara dengan setan yang menyerupai diriku. Namun terus terang kau baru bertemu dengan bayanganku saja, bukan ujudku yang asli. Ha h

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   244. Part 12

    Setelah peristiwa yang memalukan sekaligus menggemparkan itu. Ratu Tria Arutama meninggalkan istana. Sebagian orang berpendapat sang ratu mengasingkan diri dan menetap disebuah tempat rahasia tak jauh dari Malingping. Dia hidup hingga dua ratus tahun kemudian. Seorang pengikut yang sangat setia terus mendampingi dan melayani segala kebutuhan sang ratu sampai akhir hayatnya."Penujum Aneh. Apalagi yang kau renungkan. Jangan melamun nanti setan kuburan malah menyusupimu? Ha ha ha."Suara orang tua berperut besar yang keras membuat si kakek terkejut sekaligus tersadar dari tamunannya. Masih dengan wajah diliputi rasa heran dia menatap laki-laki itu. Kemudian dengan suara perlahan dia bertanya lagi."Aku melihat lebah-lebah, sebelum muncul perempuan-perempuan muda dalam keadaan hamil besar. Apakah yang kulihat di alam gaib itu punya arti tertentu?"Yang ditanya dongakkan kepala. Mata berputar menatap ke arah bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit. S

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   243. Part 11

    "Hua ha ha. Aku sudah tahu. Dan aku juga tahu yang kaulakukan di makam Loh Seta. Bukankah karena kau ingin tahu siapa yang telah membunuhnya?" ucap laki-laki itu sambil meneguk tuaknya.Penujum Aneh terdiam belum sempat dia membuka mulut orang di depannya lanjutkan ucapan."Aku sudah melihat dengan kekuatan yang aku miliki. Kau baru saja kembali dari alam gaib. Dan dari alam yang tak mudah dimasuki oleh manusia itu bukankah kau mendengar suara deburan ombak, kau melihat dua peti mati, kawanan lebah. Kau juga melihat gadis-gadis yang dimabuk cinta. Tidak hanya itu. Aku berpikir kemungkinan kau juga melihat banyaknya perempuan muda yang hamil mendadak serta ratusan bayi yang baru terlahir ke dunia?" terang laki-laki itu.Mendengar suara petir di siang bolong si Penujum Aneh tentu tak akan seterkejut mendengar ucapan orang di depannya."Bagaimana kau bisa mengetahui segalanya? Bagaimana kau bisa melihat apa yang aku lihat. Siapa kau yang sebenarnya? Hidup ta

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   70. Part 17 (Kembar Jelita)

    "Kau tahu, bocah ingusan yang bertarung dengan kau sebenarnya murid kesayangan si Truna!""Urusan Truna keparat itu adalah urusanmu! Lalu apa hubungannya denganku! Kau keparat sekali, Jonggrang!""Sabar, Tolol! Aku belum memberi tahu semuanya padamu!""Apa yang belum kau beri

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   70. Part 15 (Kembar Jelita)

    "Aku benar-benar meminta kesediaanmu memaafkanku, Mayang...," mulai Angon Luwak. Mata bergaris tegarnya terjatuh kebawah. Seperkasa bagaimanapun batinnya, dia tak kuasa untuk menatap langsung ke mata berkaca-kaca Mayangseruni. Menatap matanya, membuat Angon Luwak makin merasa bersalah."Ka

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   70. Part 12 (Kembar Jelita)

    Di dua kutub berseberangan, dua lawan berhadapan. Tampak diam. Pada dasarnya, mereka sedang berkutat. Badan mereka bergeletaran. Mata Angon Luwak terpejam. Sebaliknya, mata kelabu Iblis Dari Neraka membuka lebar. Tangan masing-masing terpagut ketat di ujung-ujung Cemeti Laut Selatan.Detik

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   70. Part 9 (Kembar Jelita)

    Melewati jurus-jurus keempat puluh, kelebatan gerak mereka sudah sulit diikuti mata awam. Yang tampak hanya dua larik bayangan yang bergerak kacau dan nyaris menyatu. Satu bayangan hitam yang lain bayangan putih keabu-abuan. Di antara dua kelebatan bayangan itu, terlihat pendar-pendar warna keema

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status