INICIAR SESIÓNTANJUNG KARANGBOLONG.
Senja saat itu. Angin bertiup seperti hari-hari biasa, menjarahi pantai. Matahari membanggakan warna kuning lembayung nya. Juga seperti hari-hari biasa. Daun nyiur di mana-mana bergerak-gerak beranggukan bagai terkantukkantuk. Alam ramah. Semuanya nampak sumringah. Tidak untuk dua lelaki tua yang baru saja menyulut satu perkelahian besar.
"Heaaa!!!" Teriakan salah seorang di antaranya menggugurkan kedamaian, mencerabut keramahan alam dari mahligainya.
<"Kalau mengenal nama kedua puteri itu? Siapa kau?" bertanya sang Penujum dengan suara lirih"Saya bernama Pendekar Sinting, kek. Saya sebelumnya pernah bertemu dengan kedua gadis itu.” Menerangkan Pendekar Sinting. Tak lupa dia juga menceritakan apa yang dialami oleh kedua gadis tersebut sampai akhirnya mereka berpisah, Nila Agung dan Arum Senggini kembali ke istana. Sedangkan Pendekar Sinting sesuai dengan pesan Ki Lara Saru Saru sebelum menghembuskan nafas terakhir segera pergi menemui Dewa Mabok. Setelah mendengar semua penjelasan Pendekar Sinting. Walau terlihat begitu menderita akibat didera rasa sakit disekujur tubuhnya, Penujum Aneh terlihat lega."Aku... aku bersyukur bisa bertemu denganmu, Aku rasa kau adalah orang yang tepat untuk membantu kerajaan keluar dari segala kesulitan yang terjadi.” Kata Penujum Aneh dengan suara makin tersendat."Jangan pikirkan soal itu. Katakan saja apa yang kau alami. Siapa yang telah menyerangmu?" Desak Pendek
Mata si kakek yang kerap berkedip namun kini kehilangan cahaya kehidupan itu menerawang."Apakah mungkin dalam waktu hanya dalam hitungan hari setelah jejakan kaki di tanah Pasundan Pangeran Durjana telah membangun sebuah istana?" Batin Penujum dalam hati.Orang tua ini terdiam, otaknya yang semakin lemah mencoba berpikir, tapi belum lagi dia dapat mengambil kesimpulan dari semua yang dipikirkannya tiba-tiba dia kaget mendengar suara pekik datang dari sebelah atas pucuk pepohonan tinggi."Oalah... begini repotnya kalau tidak punya sayap. Bisa melayang diudara sayang tangan tidak dapat dikepakkan. Waduuh... celaka, rasanya aku mau jatuh...”Belum lagi suara pekik di atas pohon lenyap. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh berkerosakan seperti ada benda berat jatuh dari langit.Krosak! Bluk!Dua tombak dari tempat dimana sang Penujum tergeletak mendekam, satu sosok tubuh terjatuh. Begitu terhempas di tanah sosok yang ternyata Pendekar Sintin
"Maumu apa?" Tanya Aki Kolot dengan wajah cemberut.Si nenek terdiam, berpikir sejenak namun sepasang matanya jelalatan menatap kesegenap penjuru sudut.”Aku sependapat denganmu, Ki. Baiknya kita pergi secara diam-diam. Tapi lihatlah di pepohonan itu.” Ujar Nini Burangrang berbisik dengan pelan.Tanpa bicara Aki kolot ikut menatap ke arah dia melirik ke arah pepohonan yang dimaksud. Diam-diam orang tua ini dibuat terkejut begitu mengetahui diatas cabang pepohonan dan daun-daun menghijau mendekam mahluk-mahluk bersayap berwarna hitam berkepala merah gelap,"Lebah Kepala Hati Berbunga? Astaga! Jadi Pangeran Durjana diam-diam mengirimkan Lebah Kepala Hati Berbunga untuk mengawasi kita.” Desis Aki Kolot Raga seakan tidak percaya."Dasar tua bangka pikun. Yang kau lihat saat itu bukan Lebah Kepala Hati Berbunga. Lebah-lebah yang diutus Pangeran Durjana untuk mengikuti kita adalah lebah pembunuh. Lebah itu sepuluh kali lebih mematikan dibanding
"Andai ada cara untuk menyampaikan kabar ini pada gusti prabu... ?"Belum lagi sempat si kakek menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki bergedebukan seperti suara dua orang yang yang berlari namun tiba-tiba berhenti. Penujum Aneh terkejut. Belum hilang rasa kaget dihatinya terdengar suara orang mendamprat yang disusul dengan omelan."Nasib kita memang selalu apes. Bagusnya Pangeran keparat itu tidak mengajak bicara sampai pagi. Kalau tidak mataku mungkin sudah lamur karena tidak boleh berkedip,"Lalu ada suara lain menyahuti."Berani berkedip berarti mampus, tubuh hancur lebur.”"Apa kau lupa istriku,ruangan pertemuan itu bernama Ruang Pertemuan Kedipan Nyawa. Ada mata setan yang selalu mengawasi. Aku sendiri merasa lebih beruntung, walau mata ini perih karena dipantang berkedip. Namun aku tidak takut celaka.”"Kau tidak takut celaka, suamiku? Aneh, ada yang tidak wajar.” sahut satu suara.Dan
Seiring dengan itu...Wuus!Seketika itu pula Pendekar Sinting merasakan ada satu kekuatan dahsyat berupa hembusan angin luar biasa kencang menyambar tubuhnya. Pendekar Sinting merasakan seperti ada yang membawanya terbang.Takut, kaget juga penasaran.Pemuda itu menggerakan kedua kakinya yang terlindung kasut tipis berwarna hitam kelabu. Dia tercekat begitu sadar kedua kakinya tidak lagi menyentuh tanah dihalaman pondok."Oei, orang tua itu membuatku seperti terbang sungguhan. Tapi, aduh biyung udaranya terasa dingin sekali. Membuat aku ingin pipis.”Pendekar Sinting lalu meraba wajah, dada dan perutnya. Semuanya terasa dingin. Penasaran dia ulurkan tangan meraba di bagian bawah perut. Lalu dengan perasaan lega sambil senyum-senyum dia berucap.”Ternyata tidak. Tidak semua anggota tubuhku jadi dingin seperti es. Satu yang dibawah tak disangka-sangka masih hangat. He he he... !Sepeninggalnya Pendekar Sinting, Dewa Mabok ya
"Bukan itu maksudku orang gila.” Sahut Dewa Mabok kesal."Aku tak bisa memberi tahu namanya karena aku memang belum bertemu muka apalagi mengenal namanya tolol! Ha ha ha!""Kakek gila. Bertemu belum, mengenal namanyapun tidak. Bagaimana kau bisa tahu gadis itu bakal membantuku.”"Kau harus percaya dengan ucapan tua bangka ini. Jelek-jelek begini aku selalu mendapat bisikan dan bocoran dari para dewa.”"Kurasa setan yang membisikimu. Dan bocoran yang kau maksudkan kalau bukan telinga atau kepalamu yang bocor bisa saja mulutmu yang bocor, Ha. ha ha... ! ""Orang gila, kau sangat keterlaluan. Tapi aku suka dengan sikapmu. Dan kau harus percaya padaku.” ujar Dewa Mabok dengan mimik bersungguh-sungguh."Kau memang akan mendapat dukungan dari gadis itu. Kalian bisa menjadi pasangan serasi. Percayalah padaku.” Kata Dewa Mabok tanpa berkedip.Pendekar Sinting manggut-manggut. Bibir menyeringai pertanda dia masih belum percaya dengan kesungguhan Dewa Mabok."Jangan pernah bicara soal pasangan,
Ketika hari berganti, kalangan persilatan tanah Jawa malah lebih mengenalnya dengan julukan Tabib Tangan Dewa. Ketika Majapahit dilanda perang saudara sepeninggalan Prabu Rajasanegara, Ki Kusumo mengasingkan diri di sebuah pulau karang yang terpencil di sekitar Laut Selatan.Dia benci pada setiap p
Bunyi gemeritik bara api yang dimainkan Tresnasari terdengar, ditingkahi derik ramai jangkrik di kejauhan. Nyai Cemarasari merebahkan tubuhnya yang demikian penat dan lunglai di atas rumput. Dengan caping, diganjalnya kepalanya. Tampaknya dia mulai mengantuk. Keadaan tubuhnya memang tak memungkinka
Hari makin tua.Sinar merah tembaganya meredup dan terengah-engah. Matahari terkapar disudut barat bumi. Di batas Kadipaten Ketawang, dua perempuan berjalan perlahan menuju arah matahari tenggelam. Mereka adalah Nyai Cemarawangi dan anaknya, Tresnasari."Kita membutuhkan kuda untuk sampai di Jogobo
TEMPAT keributan kembali tenang. Beberapa orang yang menjadi penonton kejadian memulai kembali kegiatan masing-masing. Sementara si perempuan berpakaian silat warna ungu mendekati anak gadisnya."Kapan kau mempelajari gerakan secepat itu, Anakku?" Tanyanya, ingin tahu bagaimana anaknya bisa bergera







