LOGINDengan berjalan kaki menempuh jarak teramat jauh, Mayangseruni terus berjalan. Gontai. Berulang-ulang terlihat kesan keraguan dalam langkahnya. Dia masih ragu pada keselamatan saudara kembarnya. Seragu akan keselamatan Angon Luwak. Manakala teringat permintaan Angon Luwak untuk segera ke Tanjung Karangbolong, Mayangseruni menjadi bersemangat. Langkahnya dipercepat. Tak bisa dia terus ragu untuk melanjutkan perjalanan atau kembali ke Wadaslintang. Keraguan seperti itu, toh tak akan menyelesaik
"Lihat nenek aneh ini. Sekujur tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu seperti bulu Harimau. Pantas kuda kita jadi gelisah." Ujar salah seorang perajurit."Kuda kita menyangka dia harimau sungguhan, tidak tahunya cuma Harimau Setan!" Timpal perajurit lainnya. Terdengar suara tawa berderai.Sementara itu senopati tetap memperhatikan nenek di atas batu dengan tatapan curiga. "Melihat ciri-cirinya, aku yakin dialah orang yang biasa disebut Harimau Setan." Batin laki-laki itu.Dia pun lalu melompat turun dari atas kuda. Sambil menyeringai senopati itu berujar."Yang dicari susah ditemukan yang tidak diharap justru muncul sendiri. Ha... ha... ha."Melihat senopati tertawa terbahak-bahak, Harimau Setan keluarkan suara berdengus sekaligus ajukan pertanyaan."Apakah ada yang lucu senopati? Apa maksud ucapanmu?""Nenek renta tubuh berbulu seperti harimau. Bukankah kau orangnya yang bernama Marasati berjuluk Harimau Setan?""Kalau benar memangnya a
Berkat kegigihannya kehilangan tangan kiri bagi si nenek tidak menjadi halangan. Puluhan tahun dia melatih lengan baju kirinya menjadi senjata yang lebih ganas dan lebih berbahaya dari sebilah pedang. Kini si nenek menatap jauh ke arah kejauhan. Sayup-sayup dia mendengar suara kuda dipacu cepat menuju ke arahnya.Dia merasa heran, dan juga curiga."Ada serombongan orang berkuda datang kemari. Matahari baru saja terbit. Siapa mereka?" Pikir Harimau Setan.Sekilas orang tua ini menoleh. Dia menatap ke arah sebatang pohon menjulang tinggi. Penasaran ingin mengetahui siapa gerangan adanya para penunggang kuda tersebut. Tanpa membuang waktu Harimau Setan segera berkelebat ke arah pohon, lalu jejakkan kaki dan bersembunyi di balik kerimbunan cabang dan dedaunan.Dari atas ketinggian pohon orang tua Itu memusatkan perhatian ke arah suara iring-iringan rombongan berkuda.Kening si nenek berkerut tajam ketika melihat belasan laki-laki bersenjata berbagai je
"Perlu kiranya kau ketahui, untuk mencapai sesuatu dalam hidupku. cara dan selalu banyak jalan. Untuk mendapatkan yang besar, raih dulu yang kecil. Jalan hidup memang sangat kelam, penuh darah dan kekejian. Aku tak menyesal jika manusia sisa penghuni Lembah Bangkai itu kini datang menuntut balas. Yang aku sesalkan mengapa di antara mereka ada yang selamat.""Apapun yang telah gusti lakukan bersama para sahabat yang lain, saya selalu berada di pihak gusti""Aku sangat senang mendengarnya. Bersikap setialah padaku sampai akhir hayat. Dengan begitu kau bisa hidup enak tanpa menemui banyak kesulitan. Ada pun tentang senjata Cambuk Sakti Naga intan, aku tak akan pernah menyerahkan senjata itu pada Harimau Setan. Senjata itu sekarang sudah menjadi milikku.""Bagaimana Jika Harimau Setan dan pengikutnya yang liar itu datang kemari?" Tanya senopati.Suasananya tenang namun menyimpan rasa kekhawatiran. Adipati menyeringai."Kau takut?" Tanya adipati sambil
"Pendekar Sinting? Baru kali ini aku mendengar nama aneh dan julukan seperti itu.""Tapi sepertinya dia berada di pihak kita, kalau pun nantinya dia menyeberang membantu pihak musuh. Aku tidak akan segan-segan menyingkirkannya.""Lalu bagaimana dengan Penyair Sinting Gusti. Saya yakin dia tau segala hal tentang masa lalu gusti."Adipati Seta Kurana tidak menanggapi. Sepasang matanya menatap senopati dengan pandangan menyelidik."Bagaimana kau bisa berkata begitu.""Saya mendengar sendiri dia mengatakan tahu tentang masa lalu dan semua orang yang membantu gusti. Dia juga ada menyebut-nyebut tentang pembantaian yang gusti lakukan bersama para sahabat gusti di Lembah Bangkai sebelum menjadi adipati," Terang senopati Gagak Panangkaran.Ucapan sanopatinya itu membuat adipati Seta Kurana terkejut. "Penyair Sinting. Sering sekali kudengar namanya, namun dia manusia aneh yang sebenarnya jarang menampakkan diri di dunia ramai. Dia bisa muncul di mana
Setelah itu dia terdiam lagi, namun tak lama segera melanjutkan. "Waktu terus bergulir, aku sendiri tak punya banyak waktu. Masih banyak tugas yang harus kuselesaikan. Aku harus...!"Belum lagi si gadis sempat menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba Pendekar Sinting memotong."Sebelum pergi kuharap kau mendengarku dulu. Ketahuilah aku telah memutuskan akan segera berangkat ke Blora. Aku harap adipati bisa kuajak bicara tentang senjata yang pernah diambilnya dari Lembah Bangkai. Bila dia bersedia mengembalikan Cambuk Sakti Naga intan kepada pemiliknya yang sah, menurutmu apakah kemungkinan pertumpahan darah yang lebih besar dapat dihindari?"Mendengar pertanyaan Pendekar Sinting, Penyair Sinting tersenyum. Dia sendiri tidak begitu yakin apakah pertumpahan darah dapat dihentikan begitu cambuk si pemilik Harimau Setan dikembalikan pada si nenek. Senopati kemungkinan besar pasti bakal mempertahankan senjata rampasan tersebut.Apapun yang terjadi, sejak awal Penyai
Sementara itu setelah tidak berhasil mencegah kepergian Mangir Ayu. Pemuda itu cuma bisa berdiri tertegun. Dia lupa di belakangnya tepat di depan pondok yang dia tinggalkan Penyair Sinting masih berada di tempatnya.Tidak lama setelah sempat diam memperhatikan akhirnya gadis ini membuka mulut. Serangkaian kata-kata syair meluncur dari bibirnya."Laut biru langit biru. Jambangan hati terlepas ditelaga. Bulan menangis binatang merintih. Nyawa bertabur bercecer darah. Aku mencari dalam bingung di tengah dinding-dinding buntu .Engkau muncul membawa pedang seperti pangeran langit. Malam berlalu bertabur sunyi dalam tanya. Amarah dan dendam menutup tirai terang. Harapan muncul bersama sang penegak yang tak tersangkut dendam dan tertaut piutang. Dengan dua tangan kuletakkan di depan perutmu. Aku meminta kau segera datang ke Blora .Berbuatlah sebagai sang bijaksana. Bertutur dengan kearifan. Pintalah Cambuk Sakti Naga intan dari sang penguasa. Agar darah tak lagi tertumpah dan
"sepertinya aku pernah melhatmu. Tapi aku lupa di mana..!""Paduka, kalau dia mengenalmu mengapa dia memukulku dengan cara pengecut seperti Itu!" Tukas Bocah Ontang Anting kesal.Kakek ini segera berdiri sambil mengusapi perutnya yang berdenyut sakit Angon Luwak tersenyum."T
Begitu tangan kiri disentakkan jaring cahaya yang memancar dari jari Kupu Kupu Putih mengerut. Dengan demikian tentu saja bagian ujungnya yang lebar dan melibat tubuh si nenek ikut terbetot.Tanpa ampun Momok Laknat terseret mendekati lawan. Puteri Pemalu yang sempat menyaksikan apa yang d
Hawa dingin dan hawa panas menderu silih berganti. Rasanya Sulit bagi Puteri Pemalu dapat meloloskan diri dari serangan. Tapi si gadis bersikap tenang. Dia malah tertawa mengikik. Sambil tertawa dia membuat satu gerakan aneh, tubuh berputar sambil melompat tinggi.Wuus! Crak! Bum! Bum!
Si Gadis yang bersama si kakek yang tak lain adalah Dewi Harum alias Puteri Pedang Harum terkejut tak menyangka Kupu Kupu Putih mau membeberkan kesalahan gurunya. Sambil berdecak kagum dan menatap Kupu Kupu Putih yang berjarak sejauh lima belas tombak di depannya.Dewi Harum berucap dengan







