Compartir

103. Sebagian

Autor: TIZZZ
last update Fecha de publicación: 2026-04-02 14:03:25

Pagi datang dengan ketukan di pintu sebelum matahari sepenuhnya naik.

"Yang Mulia. Upacara pelantikan dalam dua jam."

Dillard membuka mata. Langsung. Seperti tidak pernah benar-benar tidur.

"Aku tahu," jawabnya. Suara serak.

Pelayan masuk membawa air hangat dan pakaian formal. Dua orang untuk Dillard. Tiga untuk ku.

Kami bersiap dalam diam yang nyaman. Tidak perlu banyak kata. Tanganku membantu mengancingkan rompi hitamnya yang berat.

Dia yang merapikan mahkota kecil di kepalaku.

"Kau siap?" t
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 120. Kau Berisik Sekali

    Ia menatapku sejenak, sebuah tatapan yang penuh pemujaan, sebelum ia membenamkan wajahnya di antara kedua pahaku yang terbuka.Bibirnya yang tebal lagi panas memakan daging kecil sensitif, menggigit dan mengulumnya."Dillard..." suaraku nyaris hilang, hanya berupa bisikan yang tertelan oleh keheningan ruangan.Dunia di luar pintu itu—politik, Cavendish, ancaman istana—terasa memudar. Yang tersisa hanyalah aroma maskulin yang lekat, suara gesekan kain yang jatuh ke lantai, dan detak jantung yang berdentum seragam.Pekikanku tajam ketika orgasme menyerang.Dillard tidak membiarkanku jatuh meski seluruh persendianku terasa meluruh. Cengkeramannya pada pangkal pahaku mengencang, menopang tubuhku yang gemetar hebat saat gelombang itu perlahan surut. Napasnya yang panas masih terasa di sana, meninggalkan jejak lembap yang membuat kulitku sensitif terhadap udara dingin di ruangan ini.Ia mengangkat wajahnya. Matanya yang biasanya tajam kini tampak sayu, dipenuhi oleh kepuasan yang gelap da

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 119. "Kau selalu tahu cara meruntuhkan pertahananku,"

    Peringatan: berisi adegan r18, mohon agar bijaksana menyesuaikan bahan bacaan dengan usia.Senyum itu muncul. Kecil dan sekilas, namun nyata. Itu adalah senyum yang jarang ia perlihatkan. Karena kelangkaannya, senyum itu selalu terasa seperti sebuah anugerah eksklusif yang tidak bisa didapatkan semua orang.Dillard membalikkan telapak tangannya, membalas genggamanku. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku perlahan. Itu bukan gerakan yang besar, hanya sebuah sentuhan halus yang menegaskan bahwa ia ada di sana dan ia mendengarkanku."Baiklah," ucapnya. Suaranya telah kembali normal. Tidak lagi rendah atau tegang. Itu adalah suara Dillard yang biasanya. "Kita pergi bersama.""Ya.""Tapi—" Ia mengangkat sebelah alisnya. "Pada audiensi berikutnya, jangan memotong pembicaraan mereka di tengah jalan.""Aku tidak memotongnya. Aku hanya menambahkan pertanyaan yang belum terpikirkan oleh siapa pun.""Itu adalah definisi memotong pembicaraan.""Itu adalah definisi efisiensi."Dillard menatapku

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 118. Keputusan yang Bukan Keputusan Mudah

    Tiga anggota dewan itu pergi dengan sikap orang-orang yang telah menuntaskan tugas mereka. Harwick memberikan anggukan formal. Brennan menyunggingkan senyum tipis yang terasa dingin. Sementara itu, Steele memberikan tatapan terakhir yang sulit diartikan, meski tidak menunjukkan permusuhan.Pintu tertutup rapat.Dillard masih bergeming di kursinya. Pandangannya terpaku pada satu titik kosong di dinding, seolah sedang mencari fokus di tengah pikiran yang berkelana jauh. Aku tidak berniat mengganggunya. Aku mengambil sebuah buku dari meja samping tanpa melihat judulnya, lalu membukanya di halaman tengah. Aku berpura-pura membaca.Lima belas menit berlalu dalam keheningan."Kau tidak sedang membaca," ucap Dillard memecah kesunyian."Dan kau tidak sedang berpikir," balasku sambil menutup buku. "Kau sedang merasa cemas.""Sama saja.""Tentu tidak sama." Aku meletakkan buku itu di pangkuan dan menatapnya lurus. "Berpikir akan memberimu jawaban. Rasa cemas hanya akan membuat kepalamu sa

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 117. Tiga Anggota Dewan dan Satu Istri yang Tidak Pendiam

    "Aku ikut."Sekarang dia berbalik. Satu alis naik."Ke audiensi dewan?""Kau bilang tidak ada keputusan besar yang dibuat sendiri lagi.""Ini bukan keputusan. Ini audiensi. Aku belum—""Apakah surat Theodore dan apakah kau akan jadi co-Regent adalah keputusan besar?"Jeda."Ya," akuinya."Maka aku ikut."Dia menatapku beberapa detik. Membaca ekspresiku dengan cara yang sudah biasa—mencari apakah ini serius atau tidak. Apakah ini bisa dinegosiasikan atau tidak.Tidak bisa.Angguk kecil. "Jangan potong pembicaraan mereka.""Aku akan sangat pendiam.""Kau tidak pernah sangat pendiam."Aku berdiri dari kursi dan mengikutinya keluar.*Mereka sudah berdiri waktu kami masuk.Tiga pria. Yang paling tua di kiri—rambut putih tebal, berdiri dengan cara orang yang sudah lama terbiasa mengisi ruangan. Di tengah, lebih pendek, kacamata tipis di ujung hidung, tangan dilipat di depan. Di kanan, paling muda dari ketiganya, berdiri paling tegak, mata yang langsung menatap tanpa basa-basi.Mereka me

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 116. Sarapan, Dewan, dan Satu Pengumuman Kecil

    "Sangat lucu.""Juliet.""Sangat." Aku duduk. "Sangat lucu, Dillard.""Kau selesai?" Dia mengambek."Hampir." Napas dalam. Satu tawa kecil yang masih keluar di akhir. "Selesai."Dia duduk juga, menyisir rambut ke belakang dengan jari dengan cara yang tidak pernah benar-benar berhasil merapikan apapun. Menatap jendela. Cahaya pagi di wajahnya—tidak ada bayangan, tidak ada batas meja kerja atau langit-langit rendah tenda atau lorong istana yang pengap.Hanya cahaya."Sarapan," katanya akhirnya."Ya.""Sekarang.""Ya, Dillard."*Ruang makan pagi itu berbeda dari biasanya.Bukan karena makanannya—roti, telur, selai apel, kopi untuk Dillard, teh untukku, sama seperti setiap pagi. Bukan karena pencahayaannya atau suhu udaranya atau apapun yang bisa dijelaskan dengan mudah.Hanya berbeda.Dillard duduk di ujung meja yang sama. Kemeja hitam yang sama. Rambut yang sudah disisir rapi lagi—versi pagi hari yang tidak seacak tadi di kamar. Di depannya ada cangkir kopi dan satu surat yang sudah

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 115. Hari Bermalas Malasan

    Aku tidak bergerak. Takut membangunkannya. Jadi aku berbaring di sana dan menatap. Bukan dengan cara yang canggung seperti dulu-dulu—dulu aku selalu buru-buru alihkan pandangan kalau dia hampir sadar, seolah ketahuan menatap adalah sesuatu yang memalukan. Sekarang tidak. Sekarang aku lihat saja. Garis hidungnya. Cara rambutnya sedikit jatuh ke dahi karena tidak tersisir rapi seperti biasa. Bekas luka tipis di pelipis kiri yang sudah ada jauh sebelum aku kenal dia—dari pertempuran mana, aku tidak tahu, dia tidak pernah cerita. Aku tidak tanya. Mungkin suatu hari. Sepuluh menit berlalu begitu saja tanpa terasa. Lalu matanya terbuka. Pelan—bukan seperti orang yang tersentak bangun, tapi seperti orang yang sudah hampir sadar sejak lama dan baru sekarang memutuskan untuk membuka mata. Sebab ia tak lagi memanggul beban. Ia bisa menunda nunda kesadaran. Abu-abu gelap menatap langsung ke arahku tanpa jeda bingung sama sekali. "Kau menatapku lagi," katanya. Suaranya masih ser

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   106. Kesaksian

    Namaku dipanggil keesokan paginya.Aku berdiri. Gaun biru tua sederhana. Tidak ada perhiasan berlebihan. Tidak ada mahkota Duchess. Hanya aku.Juliet. Bukan gelarnya.Aku berjalan ke kotak saksi dengan langkah yang kukira akan goyah. Tapi tidak. Kakiku stabil. Seperti tanah di bawahnya keras dan pa

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   105. “Itu strategi yang berbahaya.”

    Viktor tidak menjawab.Pengacaranya—pria bertubuh kurus dengan kacamata emas—membungkuk cepat. "Yang Mulia Hakim, terdakwa memahami semua tuduhan dan menyatakan tidak bersalah atas semuanya."Bisikan dari kerumunan.Hakim angkat tangan. Hening kembali."Baik. Jaksa, mulai."Jaksa kerajaan—wanita be

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   104. “Kau berubah…,”

    CW: terdapat adegan R18, mohon bijak membaca sesuai umur. Sebagian aku kembali karena aku tahu kalau Viktor menang—aku juga tidak aman. Dia sudah tidak butuh aku. Eugene juga sudah tidak berguna." Dia menarik napas. "Tapi sebagian lagi—sebagian yang lebih besar—aku kembali karena aku tidak tahan

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   102. "Buka matamu."

    CW: konten berisi adegan dewasa, R18+Malam setelah semuanya berakhir, aku tidak bisa tidur.Dillard sudah tertidur di sampingku. Napasnya teratur. Berat. Tubuhnya kelelahan dari malam yang panjang. Tapi wajahnya tidak damai. Alis sedikit berkerut. Rahang masih tegang bahkan dalam tidur.Aku menat

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status