Aku angguk. Alice bawa aku ke sudut ruangan, jauh dari keramaian dan musik yang mulai ramai lagi. Dia cantik—mata hijau terang, kulit putih bersih, bibir merah sempurna. Seperti boneka porselen yang mahal. "Saya cuma mau sapa," katanya dengan senyum hangat yang tidak sampai ke mata. "Pasti berat, ya, jadi Duchess mendadak. Apalagi dengan situasi... kakak kamu." Ah. Tentu saja. Celestine. "Sangat berat," jawabku jujur. Tidak ada gunanya bohong. "Kalau Duchess butuh teman, saya selalu ada. Wanita bangsawan harus saling dukung." Dia sentuh lenganku lembut, tapi ada sesuatu yang tidak nyaman dari sentuhan itu. "Apalagi dengan suami seperti Duke Dillard." Ada sesuatu dalam nada suaranya. Sesuatu yang tersembunyi. Aku tatap dia lebih tajam. "Maksudnya?" Alice tersenyum tipis. Mata hijaunya berkilat. "Tidak ada, Duchess. Cuma... jaga diri baik-baik. Kastil besar ini punya banyak rahasia. Dan tidak semua rahasia menyenangkan untuk diketahui. Ah, aku sebaiknya pergi." Dia pergi sebelum
Last Updated : 2026-02-05 Read more