مشاركة

BAB 3 Pilihan Hati

مؤلف: R. Nox
last update تاريخ النشر: 2026-07-16 19:22:40

Matahari baru mengintip dari balik gedung tinggi. Liora melangkah keluar dari kediaman keluarga Hale. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahnya. Di dalam mobil, ia menatap jalanan yang mulai ramai perlahan. Pikirannya perlahan tenang kembali. Satu hal yang ia yakini hari ini harus tetap berdiri tegak, apa pun yang terjadi.

Pintu butik terbuka. Aroma kain sutra baru langsung menyambutnya. Tempat ini adalah satu-satunya dunia yang benar-benar miliknya, hasil keringat bertahun-tahun.

“Selamat pagi, Bu Liora!” sapa Rina sigap menghampiri.

“Selamat pagi, Rina,” jawab Liora tenang sambil meletakkan tas kerjanya.

“Bu, maaf saya sampaikan,” kata Rina tampak ragu.

“Nyonya Aris sudah menunggu di ruang tamu hampir seperempat jam. Beliau tampak gelisah sekali.”

Liora mengangguk pelan.

“Terima kasih sudah memberitahu. Siapkan sketsa revisi kemarin, lengkap dengan semua pilihan kain dan hiasannya. Aku menemui beliau sekarang.”

Pertemuan itu berlangsung cukup lama. Nyonya Aris sempat meminta perubahan yang sulit diselesaikan dalam waktu singkat. Namun Liora tidak langsung menolak. Ia duduk tenang di samping kliennya itu, menunjuk satu per satu bagian desain, menjelaskan dengan sabar mana yang lebih tepat untuk acara putrinya.

“Bagaimana jika kita gunakan renda yang lebih ringan di bagian bawah, Bu?” tawar Liora lembut. “Gerakan putri Ibu akan terlihat jauh lebih anggun.”

Nyonya Aris terdiam sejenak. Keraguannya perlahan hilang, berganti keyakinan. Wajahnya mulai tersenyum lega.

“Kau benar-benar berbeda dari penjahit lain,” puji Nyonya Aris sambil menepuk pelan tangan Liora.

“Kau mengerti apa yang aku rasakan. Terima kasih banyak ya, Liora.”

“Sama-sama, Bu. Semoga sesuai harapan,” jawab Liora tulus.

Setelah klien itu pulang, Rina kembali menghampiri dengan pandangan kagum.

“Anda sungguh hebat, Bu. Meski sekarang sudah menjadi Nyonya Damian Hale, anda tak berubah sedikit pun. Tetap rendah hati dan teliti.”

Liora tersenyum tipis menatap jendela kaca yang memantulkan bayangannya.

“Menjadi istri Damian adalah kewajiban yang harus kujalani demi menyelamatkan keluargaku, Rina. Tapi tempat ini adalah bukti usahaku sendiri. Aku tak akan membiarkan siapa pun merampasnya.”

Sore mulai menjelang. Cahaya matahari berubah warna menjadi keemasan. Liora baru selesai memberi arahan pada penjahit senior. Dari balik kaca depan, ia melihat mobil hitam besar berhenti tepat di depan gerbang butik. Pintu terbuka perlahan.

Damian turun. Ia berdiri diam sejenak menatap bangunan itu, wajahnya sulit sekali dibaca.

Liora tahu, pria ini sebenarnya sudah tahu banyak hal tentang kakaknya, namun memilih untuk diam. Ia memastikan semua berkas kerja aman, berpesan agar pintu dikunci rapi, baru kemudian melangkah keluar menghampirinya.

“Kau yang menjemputku?” tanyanya datar.

“Masuk,” jawab Damian singkat sambil membukakan pintu mobil.

Liora belum bergerak.

“Terima kasih sudah datang. Tapi mulai besok, tolong siapkan kendaraan khusus untukku. Jadwalku tidak menentu. Aku tak ingin kau harus terus mengubah rencanamu.”

Damian menatapnya lekat-lekat, cukup lama seolah ingin membaca isi hati wanita itu.

“Kau istriku. Sudah kewajibanku memastikan kau pulang selamat,” ujarnya tegas.

“Dan sudah hakku untuk tidak menjadi bebanmu,” balas Liora tenang namun tak terbantahkan.

“Kita sepakat tak saling mengatur berlebihan. Dengan kendaraan sendiri, kita berdua bisa lebih tenang.”

Damian menghela napas pelan. Akhirnya ia mengangguk pelan.

"Baik. Besok pagi semuanya akan siap. Masuklah, hari mulai gelap.”

Sepanjang perjalanan hening menyelimuti, namun kini keheningan itu tak lagi terasa menyesakkan. Hingga Damian kembali bersuara dengan nada rendah.

“Tinggalkan pekerjaan itu. Masuklah ke perusahaanku. Di sana posisimu jelas dan terjamin.”

Liora menoleh sedikit menatap wajah sampingnya.

“Aku ingin dihargai karena karyaku, Damian. Bukan karena nama yang kini melekat padaku. Aku membangun butik itu dari nol dengan tanganku sendiri.”

Damian diam kembali. Kata-kata itu seolah menamparnya sadar. Wanita ini jauh lebih kuat dan berprinsip dari yang ia duga selama ini.

Mobil akhirnya masuk ke halaman rumah besar keluarga Hale. Mereka memang tinggal di sini sementara waktu, karena kediaman pribadi masih dalam tahap penyelesaian. Mama Elena sudah menunggu di ambang pintu dengan senyum hangatnya.

“Kalian sudah pulang,” sapanya lembut.

Liora menunduk canggung. “Iya, Ma. Kami sudah pulang.”

“Ma, kami ke kamar dulu,” potong Damian dengan nada dingin yang tak berubah.

Mama Elena tertawa kecil. “Baiklah, istirahatlah. Nanti kita makan malam bersama. Papa juga berjanji pulang lebih cepat hari ini.”

“Iya, Ma,” jawab Liora pelan.

Mereka naik ke kamar utama. Suasana luas itu kembali hening. Damian melepas dasi, lalu berbaring memunggungi Liora. Namun Liora belum berani memejam mata sepenuhnya. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sikap pria itu.

Terdengar bunyi pelan. Laci kecil di sisi tempat tidur Damian terbuka. Perlahan Dia meraih selembar kertas yang terlipat rapi. Saat ia melirik isinya sekilas, tubuhnya seketika menegang kaku. Perlahan ia berbalik. Tatapannya kini bukan lagi dingin, melainkan penuh kekhawatiran mendalam yang belum pernah Liora lihat sebelumnya.

Ia hendak berbicara. Mulutnya terbuka. Namun sebelum satu kata pun sempat keluar...

Terdengar langkah kaki yang halus, teratur mendekat di depan pintu. Disusul ketukan pelan namun sopan yang membuat jantung keduanya seakan berhenti berdetak sejenak.

Suara pelayan rumah terdengar lembut namun tegas dari balik pintu:

“Tuan Damian, Nyonya Liora... Mohon segera turun ke ruang makan. Tuan Arlan ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 44 Terungkap

    Suasana seketika hening. Liora menahan napas. Matanya meneliti setiap sudut ruangan yang gelap."Siapa?" suaranya bergetar pelan.Damian mengangkat telunjuk ke bibirnya."Diam. Jangan bersuara terlalu keras. Dia mendengar kita."Clarissa menatap pintu belakang."Reynald sendirian di ruang bawah bersama Rina."Damian meraih tongkat kayu di sudut ruangan."Tetap di sini. Jangan kemana-mana.""Jangan pergi sendirian," cegah Liora."Kalau dia benar-benar di sini, salah satu dari kita harus bergerak duluan. Tunggu aku." Damian melangkah pelan menuju lorong.Belum lama berlalu, teriakan Damian terdengar."Keluar sekarang! Aku tahu kau di sana!"Liora dan Clarissa berlari menyusul. Di sudut ruangan dekat jendela berdiri sosok bertopeng, memegang pisau kecil."Siapa kau?" tanya Damian dingin, berdiri di depan mereka.Pria itu tertawa pelan."Kau tidak perlu tahu namaku. Aku cuma menjalankan tugas. Tinggalkan semua ini. Berhenti mencari tahu. Pergi sejauh mungkin dan jangan pernah kembali.""

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 43 Sebuah Pesan

    Seseorang masuk...Langkah kaki terdengar pelan mendekat. Tidak terburu-buru. Damian langsung berdiri di depan Liora."Siapa di sana?" suaranya rendah namun tegas.Tidak ada jawaban. Langkah itu terus berjalan masuk. Liora menahan napas. Jantungnya berdebar kencang."Jangan mendekat!" seru Clarissa dari sudut ruangan.Lampu tiba-tiba menyala kembali. Semuanya menyipitkan mata karena silau. Di ambang pintu berdiri Rina. Napasnya sedikit terengah, rambutnya basah terkena air hujan."Rina?" Liora terkejut. "Kau yang tadi masuk?""Maaf Bu, aku tidak bermaksud mengagetkan," Rina tersenyum canggung. "Pintunya ternyata tidak tertutup rapat. Aku mengetuk tapi tidak ada yang menjawab, jadi aku masuk sebentar untuk memastikan semuanya aman.""Dan listrik tiba-tiba mati begitu saja tepat saat kau datang?" Damian menatapnya tajam. Dia tidak bergerak dari posisinya berdiri di depan Liora."Sepertinya ada gangguan listrik, Tuan. Di luar juga gelap sekali. Hujannya deras sekali malam ini." Rina m

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 42 FIONA

    Damian menatapnya dengan dahi berkerut. "Cucuku? Apa maksudmu?"Pria tua itu tersenyum tipis. "Kau akan mengerti nanti. Dan aku tidak datang sendirian." Dia menggeser tubuhnya ke samping. Dari belakangnya, Fiona melangkah keluar.Liora terkejut mundur selangkah. "Fiona? Kau? Kenapa kau ada di sini?"Fiona menatapnya tajam. Matanya penuh kebencian."Kira kau pikir kau sudah menang? Aku tidak akan pergi begitu saja dan membiarkanmu menikmati apa yang seharusnya menjadi milikku.""Apa maksudmu milikmu? Semua yang ada di sini bukan untuk diperebutkan," ucap Liora."Bukan diperebutkan? Kau berdiri di posisiku. Kau tidur di tempatku seharusnya. Kau ada di sampingnya saat seharusnya aku yang ada di sana!" Fiona menunjuk Damian dengan tangan gemetar. "Kau mengambil semuanya dariku. Dan kau berani bertanya kenapa aku ada di sini?""Aku tidak mengambil apa pun. Bahkan milikmu sekalipun. Damian memilih sendiri siapa yang ingin ada disisinya" jawab Liora tenang."Memilih? Kau pikir kalau kaka

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 41 Di Balik Pintu

    Damian melangkah ke depan, tangannya menggenggam gagang pintu. Bahunya tegak, tapi napasnya terlihat berat."Jangan mendekat, Liora. Tetap di belakangku.""Aku bukan anak kecil, Damian. Aku ingin melihat kakakku sendiri.""Lihat saja. Tapi biarkan aku yang berbicara duluan."Pintu terbuka perlahan. Di sana, berdiri wanita yang selama ini menghantui pikiran Liora. Clarissa. Senyumnya tipis, matanya tajam menatap Damian sebelum beralih ke Liora. Di sebelahnya, Arkan berdiri diam, wajahnya datar tanpa ekspresi."Selamat malam," ucap Clarissa tenang, melangkah masuk tanpa menunggu diundang. "Kalian berdua terlihat seolah baru saja membicarakanku.""Kenapa kau datang?" tanya Damian langsung, suaranya dingin dan tegas. "Dan kenapa bersamanya?""Pertanyaan yang bagus. Tapi sepertinya bukan aku yang harus menjelaskan dulu, bukan?" Clarissa meletakkan tas kecilnya di meja, lalu menatap Liora lekat-lekat. "Kau terlihat sehat, adikku. Senang melihatmu masih hidup di rumah yang penuh kebohong

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 40 Clarissa?

    Liora masih menatap layar ponsel itu, tangannya gemetar pelan."Kenapa dia tahu kapan kita sedang berbicara? Sejak kapan nomornya aktif lagi?"Damian menarik napas panjang, lalu berjalan mundur dan bersandar di meja."Aku tidak tahu. Tapi pesan ini bukan yang pertama kali dia kirim, kan?"Liora mendongak cepat."Kau sudah menerima pesan darinya juga?""Beberapa hari yang lalu. Dia hanya menyuruhku bersiap. Tidak lebih.""Dan kau diam saja? Kau tidak memberitahuku sedikit pun?""Aku tidak ingin kau cemas sebelum semuanya jelas. Aku kira itu sekadar ancaman kosong.""Ancaman kosong? Damian, dia bilang dia sedang pulang! Kakakku yang menghilang bertahun-tahun tiba-tiba mengirim pesan bahwa dia akan datang, dan kau menyebut itu ancaman kosong?""Tenanglah dulu, Liora. Berteriak tidak akan mengubah apa pun.""Aku tidak bisa tenang! Selama ini aku bertanya-tanya di mana dia, apakah dia baik-baik saja, kenapa dia pergi. Dan sekarang tiba-tiba dia bilang dia pulang dengan nada seolah dia buka

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 39 Satu Rahasia

    Damian terdiam cukup lama. Napasnya terlihat berat saat ia menghembuskannya perlahan."Siapa yang mengirim pesan itu, Liora?""Itu bukan hal yang penting sekarang. Yang penting adalah apa yang kau ketahui tentang kecelakaan itu. Jawab aku, Damian.""Kenapa tiba-tiba hal ini muncul sekarang? Itu kecelakaan biasa. Kau sudah sembuh, dan semuanya sudah berlalu.""Kau menyebutnya kecelakaan biasa, tapi aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum mobil itu menabrak. Dan kau... kau ada di sana hari itu, bukan?""Siapa yang memberitahumu hal ini?""Jangan tanya siapa yang bicara. Katakan padaku yang sebenarnya.""Aku tidak menyembunyikan hal yang berbahaya. Hari itu, aku kebetulan lewat. Aku melihat mobilmu berhenti di pinggir jalan. Aku berhenti untuk menawarkan bantuan. Sebelum aku sempat bertanya, mobil lain menabrak dari belakang. Aku yang menarikmu keluar sebelum mobil itu terbakar.""Kau yang menyelamatkanku... Selama ini kau tidak pernah mengatakannya?""Aku tidak ingin kau merasa berhuta

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status