Share

BAB 4 Harga Diri

Author: R. Nox
last update publish date: 2026-08-02 16:33:01

Panggilan itu memotong niat Damian yang belum sempat terucap. Ia menutup kembali laci kecil itu perlahan, menyembunyikan surat yang tadi sempat ia baca. Lalu berjalan membuka pintu kamar tanpa menoleh sedikit pun. Liora masih terpaku sejenak, bertanya-tanya apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kertas itu, sebelum akhirnya menyusul langkahnya menuju ruang makan.

Lorong kediaman itu terasa sejuk dan sunyi. Hanya suara langkah kaki mereka berdua yang bergema pelan di atas karpet tebal. Sesampainya di ambang pintu ruang makan yang luas itu, terlihat Papa Arlan dan Mama Elena sudah duduk menunggu di meja yang tertata sangat rapi. Berbagai hidangan hangat tersaji di sana, memancarkan aroma yang menggugah selera namun tak sepenuhnya mencairkan suasana yang masih kaku.

"Duduklah, Nak," sapa Mama Elena lembut.

"Kita makan malam bersama." Damian mendekati meja, menarikkan kursi untuk Liora dengan gerakan kaku, lalu duduk di sebelahnya.

Papa Arlan memperhatikan mereka bergantian. Ia sadar ada jarak lebar di antara pasangan itu, namun memilih tak menyinggungnya saat ini. Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara pelayan menuangkan air.

"Bagaimana perasaanmu belakangan ini, Liora? Apakah kamu tidak kesulitan beradaptasi?" tanya Mama Elena memecah keheningan.

"Semuanya baik, Ma," jawab Liora pelan sambil menyentuh pinggiran gelas.

"Kamu tidak merasa terasing?" sambung Papa Arlan menatapnya serius.

"Tidak, Pa. Saya hanya butuh waktu sedikit saja," ucap Liora sambil tersenyum tipis.

Papa Arlan lalu mengalihkan pandangannya pada putranya. Tatapannya kini berubah lebih tegas.

"Damian, Papa harap kau tidak menyusahkan istrimu. Ingat, dia bukan barang yang bisa kau atur sesuka hati. Dia punya harga diri yang harus kau hargai."

"Aku hanya menjaga keselamatan dan nama baiknya. Itu tanggung jawabku," jawab Damian singkat. "Tanggung jawab bukan berarti mengekang, Nak," potong Mama Elena pelan namun tegas.

"Jika kau terus menekannya, justru dia akan semakin menjauh." Damian hanya mengangguk pelan tanpa menjawab lagi. Sisa makan malam dihabiskan dalam keheningan panjang.

Setelah selesai makan, Liora segera berdiri. "Terima kasih makanannya, Ma, Pa. Kami izin istirahat duluan."

"Istirahatlah yang cukup," balas Mama Elena.

Sesampainya di kamar, mereka menempati sisi tempat tidur yang berjauhan. Tak ada ucapan selamat malam. Damian segera berbaring memunggunginya. Tak lama, napasnya teratur menandakan ia sudah terlelap.

Liora justru terjaga berjam-jam. Ia duduk di tepi jendela, menatap bulan yang tertutup awan. Pikirannya berputar pada butik dan pernikahan yang terasa kosong. Ia berjanji dalam hati tak akan pernah menyerah.

Keesokan paginya, Liora sudah bangun lebih awal. Ia berjalan keluar menuju halaman depan. Pak Bimo sudah menunggu dengan mobil bersih berkilau.

"Selamat pagi, Nyonya Liora. Saya siap mengantar ke mana saja," sapa Pak Bimo membukakan pintu. "Selamat pagi, Pak Bimo. Tolong antar ke butik ya," jawab Liora hendak masuk.

"Tunggu sebentar." Suara berat Damian terdengar dari beranda. Liora berhenti.

"Ada apa lagi, Damian?" Damian berjalan mendekat dengan wajah datar. Matanya menatap tajam ke arah Pak Bimo.

"Pastikan dia berangkat dan pulang tepat waktu. Jangan bawa ke jalan sepi. Laporkan padaku jika ada hal aneh."

"Baik, Tuan Damian. Saya akan mematuhi semua perintah Anda," jawab Pak Bimo patuh. Liora menatap Damian tak percaya.

"Kau menyuruhnya mengawasi setiap gerak-gerikku?"

"Aku memastikan kau aman dan tak melakukan hal ceroboh."

"Aku sudah mandiri bertahun-tahun, Damian! Aku tahu cara menjaga diriku sendiri!"

"Kau sekarang istriku. Aturanku tetap berlaku."

"Itu bukan aturan, itu pengekangan!" Liora menggeleng pelan kecewa.

"Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan lari ke mana-mana."

Ia pun masuk ke dalam mobil. Pak Bimo segera melajukan kendaraan.

Sesampainya di butik, Rina menyambutnya dengan wajah pucat.

"Bu Liora, ada berita buruk sekali."

"Apa yang terjadi?" tanya Liora meletakkan tas.

"Perusahaan Viona membatalkan seluruh pesanan kain sutra dan renda untuk pesanan walikota. Mereka bilang tidak bisa mengirim lagi."

"Alasannya apa? Bukankah kita sudah tandatangani perjanjian?"

"Mereka hanya bilang ada perintah baru dari pemegang saham utama yang baru mengambil alih."

Liora mencoba menelepon berkali-kali, namun panggilannya ditolak. Ia hubungi lima pemasok lain, semuanya menolak bekerja sama dengan alasan tak masuk akal. Sore itu Liora pulang lebih awal. Ia mengetuk pintu ruang kerja Damian pelan tiga kali.

"Masuk," suara Damian terdengar tenang. Liora melangkah masuk dengan langkah tegap.

"Apa kau yang menyuruh Viona membatalkan pesanan dan memblokir aksesku ke pemasok lain?" Damian meletakkan pulpennya perlahan.

"Keluarga Hale baru saja membeli mayoritas saham grup Viona pagi ini. Sebagai pemimpin, aku berhak mengatur prioritas pasokan."

"Prioritasmu adalah menghancurkan usahaku sendiri?" tanya Liora sedikit meninggikan suara.

"Kau bilang kau menghormati pilihanku!"

"Aku hanya menunjukkan kenyataan. Usahamu tidak akan kuat melawan dunia luar sendirian. Bergabunglah dengan tim desain Hale, semua masalah selesai seketika."

"Itu pemaksaan, bukan solusi!" Liora menatapnya tajam, mata berkaca-kaca namun tak gentar.

"Kau pikir dengan memutus jalanku, aku akan menyerah begitu saja? Aku akan cari jalan lain meski sesulit apa pun!" Liora berbalik dan keluar tanpa menunggu balasan.

Damian hanya diam menatap pintu yang tertutup. Tangannya mengepal pelan, ragu apakah tindakannya benar.

Malam itu suasana kembali dingin. Namun tekad Liora makin menguat. Ia berjanji akan membuktikan dirinya mampu berdiri tegak dengan kakinya sendiri.

Di sudut ruangan gelap yang lain, sosok tak dikenal melipat kertas berisi daftar nama itu perlahan. Ia menyimpannya ke dalam saku, lalu berjalan mendekat ke arah pintu...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 44 Terungkap

    Suasana seketika hening. Liora menahan napas. Matanya meneliti setiap sudut ruangan yang gelap."Siapa?" suaranya bergetar pelan.Damian mengangkat telunjuk ke bibirnya."Diam. Jangan bersuara terlalu keras. Dia mendengar kita."Clarissa menatap pintu belakang."Reynald sendirian di ruang bawah bersama Rina."Damian meraih tongkat kayu di sudut ruangan."Tetap di sini. Jangan kemana-mana.""Jangan pergi sendirian," cegah Liora."Kalau dia benar-benar di sini, salah satu dari kita harus bergerak duluan. Tunggu aku." Damian melangkah pelan menuju lorong.Belum lama berlalu, teriakan Damian terdengar."Keluar sekarang! Aku tahu kau di sana!"Liora dan Clarissa berlari menyusul. Di sudut ruangan dekat jendela berdiri sosok bertopeng, memegang pisau kecil."Siapa kau?" tanya Damian dingin, berdiri di depan mereka.Pria itu tertawa pelan."Kau tidak perlu tahu namaku. Aku cuma menjalankan tugas. Tinggalkan semua ini. Berhenti mencari tahu. Pergi sejauh mungkin dan jangan pernah kembali.""

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 43 Sebuah Pesan

    Seseorang masuk...Langkah kaki terdengar pelan mendekat. Tidak terburu-buru. Damian langsung berdiri di depan Liora."Siapa di sana?" suaranya rendah namun tegas.Tidak ada jawaban. Langkah itu terus berjalan masuk. Liora menahan napas. Jantungnya berdebar kencang."Jangan mendekat!" seru Clarissa dari sudut ruangan.Lampu tiba-tiba menyala kembali. Semuanya menyipitkan mata karena silau. Di ambang pintu berdiri Rina. Napasnya sedikit terengah, rambutnya basah terkena air hujan."Rina?" Liora terkejut. "Kau yang tadi masuk?""Maaf Bu, aku tidak bermaksud mengagetkan," Rina tersenyum canggung. "Pintunya ternyata tidak tertutup rapat. Aku mengetuk tapi tidak ada yang menjawab, jadi aku masuk sebentar untuk memastikan semuanya aman.""Dan listrik tiba-tiba mati begitu saja tepat saat kau datang?" Damian menatapnya tajam. Dia tidak bergerak dari posisinya berdiri di depan Liora."Sepertinya ada gangguan listrik, Tuan. Di luar juga gelap sekali. Hujannya deras sekali malam ini." Rina m

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 42 FIONA

    Damian menatapnya dengan dahi berkerut. "Cucuku? Apa maksudmu?"Pria tua itu tersenyum tipis. "Kau akan mengerti nanti. Dan aku tidak datang sendirian." Dia menggeser tubuhnya ke samping. Dari belakangnya, Fiona melangkah keluar.Liora terkejut mundur selangkah. "Fiona? Kau? Kenapa kau ada di sini?"Fiona menatapnya tajam. Matanya penuh kebencian."Kira kau pikir kau sudah menang? Aku tidak akan pergi begitu saja dan membiarkanmu menikmati apa yang seharusnya menjadi milikku.""Apa maksudmu milikmu? Semua yang ada di sini bukan untuk diperebutkan," ucap Liora."Bukan diperebutkan? Kau berdiri di posisiku. Kau tidur di tempatku seharusnya. Kau ada di sampingnya saat seharusnya aku yang ada di sana!" Fiona menunjuk Damian dengan tangan gemetar. "Kau mengambil semuanya dariku. Dan kau berani bertanya kenapa aku ada di sini?""Aku tidak mengambil apa pun. Bahkan milikmu sekalipun. Damian memilih sendiri siapa yang ingin ada disisinya" jawab Liora tenang."Memilih? Kau pikir kalau kaka

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 41 Di Balik Pintu

    Damian melangkah ke depan, tangannya menggenggam gagang pintu. Bahunya tegak, tapi napasnya terlihat berat."Jangan mendekat, Liora. Tetap di belakangku.""Aku bukan anak kecil, Damian. Aku ingin melihat kakakku sendiri.""Lihat saja. Tapi biarkan aku yang berbicara duluan."Pintu terbuka perlahan. Di sana, berdiri wanita yang selama ini menghantui pikiran Liora. Clarissa. Senyumnya tipis, matanya tajam menatap Damian sebelum beralih ke Liora. Di sebelahnya, Arkan berdiri diam, wajahnya datar tanpa ekspresi."Selamat malam," ucap Clarissa tenang, melangkah masuk tanpa menunggu diundang. "Kalian berdua terlihat seolah baru saja membicarakanku.""Kenapa kau datang?" tanya Damian langsung, suaranya dingin dan tegas. "Dan kenapa bersamanya?""Pertanyaan yang bagus. Tapi sepertinya bukan aku yang harus menjelaskan dulu, bukan?" Clarissa meletakkan tas kecilnya di meja, lalu menatap Liora lekat-lekat. "Kau terlihat sehat, adikku. Senang melihatmu masih hidup di rumah yang penuh kebohong

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 40 Clarissa?

    Liora masih menatap layar ponsel itu, tangannya gemetar pelan."Kenapa dia tahu kapan kita sedang berbicara? Sejak kapan nomornya aktif lagi?"Damian menarik napas panjang, lalu berjalan mundur dan bersandar di meja."Aku tidak tahu. Tapi pesan ini bukan yang pertama kali dia kirim, kan?"Liora mendongak cepat."Kau sudah menerima pesan darinya juga?""Beberapa hari yang lalu. Dia hanya menyuruhku bersiap. Tidak lebih.""Dan kau diam saja? Kau tidak memberitahuku sedikit pun?""Aku tidak ingin kau cemas sebelum semuanya jelas. Aku kira itu sekadar ancaman kosong.""Ancaman kosong? Damian, dia bilang dia sedang pulang! Kakakku yang menghilang bertahun-tahun tiba-tiba mengirim pesan bahwa dia akan datang, dan kau menyebut itu ancaman kosong?""Tenanglah dulu, Liora. Berteriak tidak akan mengubah apa pun.""Aku tidak bisa tenang! Selama ini aku bertanya-tanya di mana dia, apakah dia baik-baik saja, kenapa dia pergi. Dan sekarang tiba-tiba dia bilang dia pulang dengan nada seolah dia buka

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 39 Satu Rahasia

    Damian terdiam cukup lama. Napasnya terlihat berat saat ia menghembuskannya perlahan."Siapa yang mengirim pesan itu, Liora?""Itu bukan hal yang penting sekarang. Yang penting adalah apa yang kau ketahui tentang kecelakaan itu. Jawab aku, Damian.""Kenapa tiba-tiba hal ini muncul sekarang? Itu kecelakaan biasa. Kau sudah sembuh, dan semuanya sudah berlalu.""Kau menyebutnya kecelakaan biasa, tapi aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum mobil itu menabrak. Dan kau... kau ada di sana hari itu, bukan?""Siapa yang memberitahumu hal ini?""Jangan tanya siapa yang bicara. Katakan padaku yang sebenarnya.""Aku tidak menyembunyikan hal yang berbahaya. Hari itu, aku kebetulan lewat. Aku melihat mobilmu berhenti di pinggir jalan. Aku berhenti untuk menawarkan bantuan. Sebelum aku sempat bertanya, mobil lain menabrak dari belakang. Aku yang menarikmu keluar sebelum mobil itu terbakar.""Kau yang menyelamatkanku... Selama ini kau tidak pernah mengatakannya?""Aku tidak ingin kau merasa berhuta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status