共有

BAB 2 Sepakat

作者: R. Nox
last update 公開日: 2026-07-16 18:40:04

Keheningan yang berat sempat melingkung sejenak. Damian masih terpaku, menatap lekat wajah di hadapannya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun seketika, sifat dingin dan tegasnya kembali menguasai, suaranya melayang tajam membelah suasana yang semakin mencekam.

“Kau bukan dia. Di mana wanita yang seharusnya menjadi milikku hari ini?”

Liora menelan ludah, melirik sekilas ke arah Papa dan Mama yang berdiri di sampingnya. Wajah mereka pucat, namun tangan Mama meremas bahu Liora lembut memberi kekuatan, sementara Papa menatapnya penuh harap sekaligus tak berdaya. Tidak ada jalan lain. Dengan napas ditarik dalam, ia mengangkat wajah menatap balik.

“Dia… dia…” Ucapan Liora terhenti di udara, menggantung tanpa kelanjutan.

Mama Liora tak kuasa menahan isak tangis pelan, memalingkan wajah sejenak, lalu kembali menatap Damian dengan penuh permohonan.

Papa Julian segera melangkah maju berdiri di samping putrinya.

“Damian… kami sadar ini tak sesuai rencana yang sudah kita bahas berbulan-bulan. Namun kakaknya pergi tanpa pemberitahuan, meninggalkan surat yang menyatakan tak sanggup melangkah lebih jauh. Liora tidak meminta posisi ini, tapi ia terpaksa maju demi menjaga kesepakatan dan menyelamatkan nama baik kedua keluarga.”

Damian tetap diam, menatap lekat-lekat wajah Liora. Tak ada amarah yang meledak, hanya ketenangan yang menyembunyikan rasa lega yang tak ia duga akan hadir.

Belum selesai Papa bicara, suara berat Tuan Hale terdengar menggelegar.

“Kalian anggap perjanjian ini main-main? Kita sudah sepakat pada nama dan kesepakatan tertulis! Sekarang kalian datang begitu saja membawa pengganti?”

Mama Damian ikut bersuara dengan nada kecewa.

"Kami menaruh kepercayaan penuh pada keluarga kalian. Bagaimana jika ini merusak nama baik keluarga Hale? Bagaimana jika semua orang menertawakan kita?”

Mama Liora maju selangkah, suaranya bergetar namun tenang.

“Kami mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang tak terduga ini. Namun Liora adalah anak yang bertanggung jawab, mandiri, dan kami yakin ia mampu menjalankan kewajibannya dengan baik.”

Papa Julian mengangguk mantap. “Kami siap menerima segala konsekuensi jika kalian ingin membatalkan. Namun jika kalian memberi kesempatan… kami jamin Liora akan menjaga nama baik keluarga kalian.”

Damian akhirnya melangkah maju menatap papanya.

“Perjanjian ini untuk menyatukan keluarga, bukan sekadar menyatukan nama,” ucapnya rendah namun tegas.

“Jika wanita itu bersedia… aku pun tidak keberatan melanjutkannya.”

Kata-kata itu seketika meredam kemarahan yang sempat memuncak. Tak ada perdebatan lagi. Petugas upacara segera kembali menata susunan tempat yang sempat terhenti.

Mama membantu merapikan kerudung dan gaun Liora, memberikan pelukan singkat penuh doa. Papa menepuk bahu putrinya memberi kekuatan terakhir. Liora mengangguk pelan, lalu kembali berdiri tegak di samping Damian. Upacara pun berjalan kembali...

Segalanya tampak sempurna di hadapan ratusan tamu, namun terasa kaku dan penuh kepura-puraan. Di balik senyum yang dipaksakan, tak ada kehangatan tulus. Begitu acara usai dan mereka berpamitan, Mama menatap Liora berkaca-kaca, sementara Papa hanya mengangguk singkat seolah berpesan jaga diri.

Sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Hale, tak sepatah kata pun terucap. Damian memandang lurus ke luar jendela, sementara Liora meremas tangannya erat, berjanji tak akan membiarkan pernikahan ini meruntuhkan butik yang ia bangun dari nol.

Sesampainya di rumah besar itu, Damian menuntunnya ke kamar utama. Begitu pintu tertutup, ia melepas dasi dan menatap Liora.

“Kau tidur di sisi kanan tempat tidur. Jangan berharap perlakuan istimewa. Kita hanya berpura-pura di depan orang lain.”

Liora menatapnya tenang namun tegas.

“Sama sekali tidak berharap. Aku di sini hanya menyelamatkan keluargaku. Aku tak akan mengganggumu, dan aku harap kau tak merendahkan harga diriku.”

Alis Damian sedikit terangkat. “Bagus kalau kita sepaham.”

Malam itu mereka berbaring terpisah jauh, seolah ada jarak tak kasat mata yang menjaga mereka tetap pada tempatnya masing-masing.

Keesokan paginya, saat Damian keluar dari kamar mandi, Liora sudah bersiap dengan pakaian kerjanya.

“Ke mana kau?”

“Ke butikku. Ada pesanan penting, dan timku sudah menunggu. Aku bukan sekadar hiasan yang diam di rumah.”

Damian mulai memakaikan kemejanya.

“Kau istriku sekarang. Seharusnya kau belajar aturan keluarga ini.”

“Perjanjian kita tak melarangku bekerja,” jawab Liora tak mundur.

“Aku bangun usahaku sendiri bertahun-tahun. Aku akan menjaga nama baikmu, tapi kau tak berhak melarangku berjuang untuk hidupku.”

Damian menatapnya lekat-lekat. Rasa ingin tahu mulai menyelinap di balik tatapan dinginnya.

“Baiklah. Tapi jangan lupa posisimu.”

“Tentu,” Liora tersenyum tipis.

“Saling menghargai batasan. Sepakat?”

Damian hanya mengangguk. Liora pun melangkah keluar dengan tegap. Saat berpapasan di tangga, bahu mereka tak sengaja bersentuhan. Liora memberi isyarat maaf sekilas dan terus melangkah.

Damian berhenti sejenak, menatap punggung wanita itu menjauh. Ia baru sadar, ia tak sedang berhadapan dengan boneka yang bisa diatur sesuka hati.

Hari-hari yang akan datang perlahan akan membuka rahasia besar di balik kepergian kakaknya, serta mengubah segalanya yang semula hanya perjanjian kosong itu.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 43 Sebuah Pesan

    Seseorang masuk...Langkah kaki terdengar pelan mendekat. Tidak terburu-buru. Damian langsung berdiri di depan Liora."Siapa di sana?" suaranya rendah namun tegas.Tidak ada jawaban. Langkah itu terus berjalan masuk. Liora menahan napas. Jantungnya berdebar kencang."Jangan mendekat!" seru Clarissa dari sudut ruangan.Lampu tiba-tiba menyala kembali. Semuanya menyipitkan mata karena silau. Di ambang pintu berdiri Rina. Napasnya sedikit terengah, rambutnya basah terkena air hujan."Rina?" Liora terkejut. "Kau yang tadi masuk?""Maaf Bu, aku tidak bermaksud mengagetkan," Rina tersenyum canggung. "Pintunya ternyata tidak tertutup rapat. Aku mengetuk tapi tidak ada yang menjawab, jadi aku masuk sebentar untuk memastikan semuanya aman.""Dan listrik tiba-tiba mati begitu saja tepat saat kau datang?" Damian menatapnya tajam. Dia tidak bergerak dari posisinya berdiri di depan Liora."Sepertinya ada gangguan listrik, Tuan. Di luar juga gelap sekali. Hujannya deras sekali malam ini." Rina m

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 42 FIONA

    Damian menatapnya dengan dahi berkerut. "Cucuku? Apa maksudmu?"Pria tua itu tersenyum tipis. "Kau akan mengerti nanti. Dan aku tidak datang sendirian." Dia menggeser tubuhnya ke samping. Dari belakangnya, Fiona melangkah keluar.Liora terkejut mundur selangkah. "Fiona? Kau? Kenapa kau ada di sini?"Fiona menatapnya tajam. Matanya penuh kebencian."Kira kau pikir kau sudah menang? Aku tidak akan pergi begitu saja dan membiarkanmu menikmati apa yang seharusnya menjadi milikku.""Apa maksudmu milikmu? Semua yang ada di sini bukan untuk diperebutkan," ucap Liora."Bukan diperebutkan? Kau berdiri di posisiku. Kau tidur di tempatku seharusnya. Kau ada di sampingnya saat seharusnya aku yang ada di sana!" Fiona menunjuk Damian dengan tangan gemetar. "Kau mengambil semuanya dariku. Dan kau berani bertanya kenapa aku ada di sini?""Aku tidak mengambil apa pun. Bahkan milikmu sekalipun. Damian memilih sendiri siapa yang ingin ada disisinya" jawab Liora tenang."Memilih? Kau pikir kalau kaka

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 41 Di Balik Pintu

    Damian melangkah ke depan, tangannya menggenggam gagang pintu. Bahunya tegak, tapi napasnya terlihat berat."Jangan mendekat, Liora. Tetap di belakangku.""Aku bukan anak kecil, Damian. Aku ingin melihat kakakku sendiri.""Lihat saja. Tapi biarkan aku yang berbicara duluan."Pintu terbuka perlahan. Di sana, berdiri wanita yang selama ini menghantui pikiran Liora. Clarissa. Senyumnya tipis, matanya tajam menatap Damian sebelum beralih ke Liora. Di sebelahnya, Arkan berdiri diam, wajahnya datar tanpa ekspresi."Selamat malam," ucap Clarissa tenang, melangkah masuk tanpa menunggu diundang. "Kalian berdua terlihat seolah baru saja membicarakanku.""Kenapa kau datang?" tanya Damian langsung, suaranya dingin dan tegas. "Dan kenapa bersamanya?""Pertanyaan yang bagus. Tapi sepertinya bukan aku yang harus menjelaskan dulu, bukan?" Clarissa meletakkan tas kecilnya di meja, lalu menatap Liora lekat-lekat. "Kau terlihat sehat, adikku. Senang melihatmu masih hidup di rumah yang penuh kebohong

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 40 Clarissa?

    Liora masih menatap layar ponsel itu, tangannya gemetar pelan."Kenapa dia tahu kapan kita sedang berbicara? Sejak kapan nomornya aktif lagi?"Damian menarik napas panjang, lalu berjalan mundur dan bersandar di meja."Aku tidak tahu. Tapi pesan ini bukan yang pertama kali dia kirim, kan?"Liora mendongak cepat."Kau sudah menerima pesan darinya juga?""Beberapa hari yang lalu. Dia hanya menyuruhku bersiap. Tidak lebih.""Dan kau diam saja? Kau tidak memberitahuku sedikit pun?""Aku tidak ingin kau cemas sebelum semuanya jelas. Aku kira itu sekadar ancaman kosong.""Ancaman kosong? Damian, dia bilang dia sedang pulang! Kakakku yang menghilang bertahun-tahun tiba-tiba mengirim pesan bahwa dia akan datang, dan kau menyebut itu ancaman kosong?""Tenanglah dulu, Liora. Berteriak tidak akan mengubah apa pun.""Aku tidak bisa tenang! Selama ini aku bertanya-tanya di mana dia, apakah dia baik-baik saja, kenapa dia pergi. Dan sekarang tiba-tiba dia bilang dia pulang dengan nada seolah dia buka

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 39 Satu Rahasia

    Damian terdiam cukup lama. Napasnya terlihat berat saat ia menghembuskannya perlahan."Siapa yang mengirim pesan itu, Liora?""Itu bukan hal yang penting sekarang. Yang penting adalah apa yang kau ketahui tentang kecelakaan itu. Jawab aku, Damian.""Kenapa tiba-tiba hal ini muncul sekarang? Itu kecelakaan biasa. Kau sudah sembuh, dan semuanya sudah berlalu.""Kau menyebutnya kecelakaan biasa, tapi aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum mobil itu menabrak. Dan kau... kau ada di sana hari itu, bukan?""Siapa yang memberitahumu hal ini?""Jangan tanya siapa yang bicara. Katakan padaku yang sebenarnya.""Aku tidak menyembunyikan hal yang berbahaya. Hari itu, aku kebetulan lewat. Aku melihat mobilmu berhenti di pinggir jalan. Aku berhenti untuk menawarkan bantuan. Sebelum aku sempat bertanya, mobil lain menabrak dari belakang. Aku yang menarikmu keluar sebelum mobil itu terbakar.""Kau yang menyelamatkanku... Selama ini kau tidak pernah mengatakannya?""Aku tidak ingin kau merasa berhuta

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 38 Di Ambang Pintu

    Liora menatap layar ponselnya lama sekali. Jantungnya berdebar kencang. Ketukan di pintu terdengar lagi."Nyonya? Nyonya ada di dalam?" suara Reynald terdengar lembut dari luar.Liora menarik napas panjang lalu membuka pintu perlahan. Reynald berdiri dengan senyum sopan namun tetap tegas."Selamat pagi, Nyonya Liora. Maaf mengganggu pagi-pagi sekali. Tuan Damian mengirimku untuk menjemput Ibu. Beliau menunggu di rumah dan memastikan Ibu aman dan nyaman saat perjalanan pulang."Liora menatapnya sebentar, ragu sejenak."Terima kasih, Reynald. Tapi aku belum siap pulang sekarang. Setidaknya belum saat ini."Reynald tidak terkejut sedikit pun. Wajahnya tetap tenang dan pengertian."Tuan sudah mengantisipasi hal ini. Beliau bilang nyonya boleh menunda selama yang Ibu butuhkan. Tidak ada yang akan memaksa anda. Hanya saja, beliau meminta satu hal.""Apa itu? Katakan padaku.""Beliau berkata, saat Nyonya Liora siap bertanya, beliau akan menjawab semuanya. Tanpa satu kebohongan pun. Tanpa men

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status