Chapter: BAB 7 Nomor Tak dikenal Masih dalam posisi berjongkok dengan tangan bergetar, Liora perlahan membalikkan layar ponselnya, menyembunyikan pesan ancaman pertama itu dari Rina. Ia memilih memendamnya sendiri, membiarkan kegelisahan itu menetap di dalam hati tanpa membiarkannya mengambil alih kendali. Ia menarik napas panjang, lalu memandangi sisa kekacauan di setiap sudut ruangan yang harus mereka hadapi hari ini, sebelum akhirnya bangkit berdiri tegak. Sesaat kemudian, Liora kembali menatap asistennya dengan pandangan tenang. Rina yang berdiri tak jauh darinya masih menatap dengan ragu, matanya masih berkaca-kaca. "Bu Liora, jadi apa yang harus kita lakukan? Semua rancangan hancur begitu saja. Waktu kita tidak banyak jika harus mulai dari awal." Liora berjalan perlahan lalu duduk tegak di kursi kerjanya, menatap sisa-sisa kekacauan di hadapannya. Suaranya terdengar tenang, namun menyimpan ketegasan yang tak terbantahkan. "Kita tidak berhenti di sini, Rina. Menangis tidak akan mendesain ulang kain-k
Last Updated: 2026-08-06
Chapter: BAB 6 Rencana GelapLangkah kaki Liora meninggalkan gedung pusat perusahaan Hale terasa berat namun tak pernah goyah. Di dadanya kini tersimpan kesepakatan yang diambilnya dengan berani. Ia tahu perjalanan menuju panggung itu tak akan mudah. Ada banyak hal yang ingin menjatuhkannya sebelum ia sempat menunjukkan kemampuannya.Sesampainya di rumah ia tak langsung beristirahat. Pikirannya terus berputar menyusun rencana meski semua jalan pasokan tertutup rapat oleh satu kekuatan yang sama.Keesokan paginya Liora tiba di butik lebih awal dari biasanya. Rina sudah menunggu di sana dengan wajah penuh kekhawatiran.Rina berkata. "Bu Liora apakah ada kabar baik dari Tuan Damian?"Liora menggeleng pelan sambil meletakkan tas kerjanya."Tak ada bantuan yang datang Rina. Namun aku diberi kesempatan untuk berjuang dengan caraku sendiri tanpa campur tangan siapa pun."Rina berkata dengan nada cemas. "Tapi Bu semua pemasok menolak mengambil pesanan kita. Bagaimana kita bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu untuk pam
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: Bab 5 KesepakatanTekad yang tumbuh kuat di hati Liora semalam belum sempat tenang. Saat fajar menyingsing, satu per satu rintangan baru justru datang menghadang. Ia belum tahu, bahwa keputusan Damian kemarin hanyalah awal dari perang yang lebih besar. Pagi itu Liora bangun lebih awal. Cahaya matahari baru menyelinap lewat celah tirai. Udara masih sejuk. Ia duduk di tepi tempat tidur. Mengingat kembali tekadnya semalam. Tak ada rasa takut, hanya keteguhan. Di sebelahnya, Damian masih berbaring memunggunginya. Tak ada sapaan. Liora segera bersiap dan keluar kamar. Pak Bimo sudah menunggu di halaman. "Selamat pagi, Bu Liora," sapa Pak Bimo. "Selamat pagi, Pak Bimo. Tolong antar ke butik ya," jawab Liora. "Baik, silakan masuk." Sesampainya di butik, suasana tenang tak bertahan lama. Rina berlari mendekat dengan napas terengah. Wajahnya tampak pucat. "Bu Liora! Ada berita buruk sekali!" seru Rina. "Apa yang terjadi?" tanya Liora tenang. "Semua pemasok kain menolak mengirim pesanan kita, Bu!Bahk
Last Updated: 2026-08-02
Chapter: BAB 4 Harga DiriPanggilan itu memotong niat Damian yang belum sempat terucap. Ia menutup kembali laci kecil itu perlahan, menyembunyikan surat yang tadi sempat ia baca. Lalu berjalan membuka pintu kamar tanpa menoleh sedikit pun. Liora masih terpaku sejenak, bertanya-tanya apa yang sebenarnya tersembunyi di balik kertas itu, sebelum akhirnya menyusul langkahnya menuju ruang makan.Lorong kediaman itu terasa sejuk dan sunyi. Hanya suara langkah kaki mereka berdua yang bergema pelan di atas karpet tebal. Sesampainya di ambang pintu ruang makan yang luas itu, terlihat Papa Arlan dan Mama Elena sudah duduk menunggu di meja yang tertata sangat rapi. Berbagai hidangan hangat tersaji di sana, memancarkan aroma yang menggugah selera namun tak sepenuhnya mencairkan suasana yang masih kaku."Duduklah, Nak," sapa Mama Elena lembut."Kita makan malam bersama." Damian mendekati meja, menarikkan kursi untuk Liora dengan gerakan kaku, lalu duduk di sebelahnya.Papa Arlan memperhatikan mereka bergantian. Ia sadar ad
Last Updated: 2026-08-02
Chapter: BAB 3 Pilihan HatiMatahari baru mengintip dari balik gedung tinggi. Liora melangkah keluar dari kediaman keluarga Hale. Udara pagi yang sejuk menyapa wajahnya. Di dalam mobil, ia menatap jalanan yang mulai ramai perlahan. Pikirannya perlahan tenang kembali. Satu hal yang ia yakini hari ini harus tetap berdiri tegak, apa pun yang terjadi.Pintu butik terbuka. Aroma kain sutra baru langsung menyambutnya. Tempat ini adalah satu-satunya dunia yang benar-benar miliknya, hasil keringat bertahun-tahun.“Selamat pagi, Bu Liora!” sapa Rina sigap menghampiri.“Selamat pagi, Rina,” jawab Liora tenang sambil meletakkan tas kerjanya.“Bu, maaf saya sampaikan,” kata Rina tampak ragu.“Nyonya Aris sudah menunggu di ruang tamu hampir seperempat jam. Beliau tampak gelisah sekali.”Liora mengangguk pelan.“Terima kasih sudah memberitahu. Siapkan sketsa revisi kemarin, lengkap dengan semua pilihan kain dan hiasannya. Aku menemui beliau sekarang.”Pertemuan itu berlangsung cukup lama. Nyonya Aris sempat meminta perubahan
Last Updated: 2026-07-16
Chapter: BAB 2 SepakatKeheningan yang berat sempat melingkung sejenak. Damian masih terpaku, menatap lekat wajah di hadapannya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun seketika, sifat dingin dan tegasnya kembali menguasai, suaranya melayang tajam membelah suasana yang semakin mencekam.“Kau bukan dia. Di mana wanita yang seharusnya menjadi milikku hari ini?”Liora menelan ludah, melirik sekilas ke arah Papa dan Mama yang berdiri di sampingnya. Wajah mereka pucat, namun tangan Mama meremas bahu Liora lembut memberi kekuatan, sementara Papa menatapnya penuh harap sekaligus tak berdaya. Tidak ada jalan lain. Dengan napas ditarik dalam, ia mengangkat wajah menatap balik.“Dia… dia…” Ucapan Liora terhenti di udara, menggantung tanpa kelanjutan.Mama Liora tak kuasa menahan isak tangis pelan, memalingkan wajah sejenak, lalu kembali menatap Damian dengan penuh permohonan.Papa Julian segera melangkah maju berdiri di samping putrinya.“Damian… kami sadar ini tak sesuai rencana yang sudah kita bahas ber
Last Updated: 2026-07-16