Share

BAB 43 Sebuah Pesan

Author: R. Nox
last update publish date: 2026-09-14 21:08:32

Seseorang masuk...

Langkah kaki terdengar pelan mendekat. Tidak terburu-buru. Damian langsung berdiri di depan Liora.

"Siapa di sana?" suaranya rendah namun tegas.

Tidak ada jawaban. Langkah itu terus berjalan masuk. Liora menahan napas. Jantungnya berdebar kencang.

"Jangan mendekat!" seru Clarissa dari sudut ruangan.

Lampu tiba-tiba menyala kembali. Semuanya menyipitkan mata karena silau. Di ambang pintu berdiri Rina. Napasnya sedikit terengah, rambutnya basah terkena air hujan.

"Rina?" Liora
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 43 Sebuah Pesan

    Seseorang masuk...Langkah kaki terdengar pelan mendekat. Tidak terburu-buru. Damian langsung berdiri di depan Liora."Siapa di sana?" suaranya rendah namun tegas.Tidak ada jawaban. Langkah itu terus berjalan masuk. Liora menahan napas. Jantungnya berdebar kencang."Jangan mendekat!" seru Clarissa dari sudut ruangan.Lampu tiba-tiba menyala kembali. Semuanya menyipitkan mata karena silau. Di ambang pintu berdiri Rina. Napasnya sedikit terengah, rambutnya basah terkena air hujan."Rina?" Liora terkejut. "Kau yang tadi masuk?""Maaf Bu, aku tidak bermaksud mengagetkan," Rina tersenyum canggung. "Pintunya ternyata tidak tertutup rapat. Aku mengetuk tapi tidak ada yang menjawab, jadi aku masuk sebentar untuk memastikan semuanya aman.""Dan listrik tiba-tiba mati begitu saja tepat saat kau datang?" Damian menatapnya tajam. Dia tidak bergerak dari posisinya berdiri di depan Liora."Sepertinya ada gangguan listrik, Tuan. Di luar juga gelap sekali. Hujannya deras sekali malam ini." Rina m

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 42 FIONA

    Damian menatapnya dengan dahi berkerut. "Cucuku? Apa maksudmu?"Pria tua itu tersenyum tipis. "Kau akan mengerti nanti. Dan aku tidak datang sendirian." Dia menggeser tubuhnya ke samping. Dari belakangnya, Fiona melangkah keluar.Liora terkejut mundur selangkah. "Fiona? Kau? Kenapa kau ada di sini?"Fiona menatapnya tajam. Matanya penuh kebencian."Kira kau pikir kau sudah menang? Aku tidak akan pergi begitu saja dan membiarkanmu menikmati apa yang seharusnya menjadi milikku.""Apa maksudmu milikmu? Semua yang ada di sini bukan untuk diperebutkan," ucap Liora."Bukan diperebutkan? Kau berdiri di posisiku. Kau tidur di tempatku seharusnya. Kau ada di sampingnya saat seharusnya aku yang ada di sana!" Fiona menunjuk Damian dengan tangan gemetar. "Kau mengambil semuanya dariku. Dan kau berani bertanya kenapa aku ada di sini?""Aku tidak mengambil apa pun. Bahkan milikmu sekalipun. Damian memilih sendiri siapa yang ingin ada disisinya" jawab Liora tenang."Memilih? Kau pikir kalau kaka

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 41 Di Balik Pintu

    Damian melangkah ke depan, tangannya menggenggam gagang pintu. Bahunya tegak, tapi napasnya terlihat berat."Jangan mendekat, Liora. Tetap di belakangku.""Aku bukan anak kecil, Damian. Aku ingin melihat kakakku sendiri.""Lihat saja. Tapi biarkan aku yang berbicara duluan."Pintu terbuka perlahan. Di sana, berdiri wanita yang selama ini menghantui pikiran Liora. Clarissa. Senyumnya tipis, matanya tajam menatap Damian sebelum beralih ke Liora. Di sebelahnya, Arkan berdiri diam, wajahnya datar tanpa ekspresi."Selamat malam," ucap Clarissa tenang, melangkah masuk tanpa menunggu diundang. "Kalian berdua terlihat seolah baru saja membicarakanku.""Kenapa kau datang?" tanya Damian langsung, suaranya dingin dan tegas. "Dan kenapa bersamanya?""Pertanyaan yang bagus. Tapi sepertinya bukan aku yang harus menjelaskan dulu, bukan?" Clarissa meletakkan tas kecilnya di meja, lalu menatap Liora lekat-lekat. "Kau terlihat sehat, adikku. Senang melihatmu masih hidup di rumah yang penuh kebohong

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 40 Clarissa?

    Liora masih menatap layar ponsel itu, tangannya gemetar pelan."Kenapa dia tahu kapan kita sedang berbicara? Sejak kapan nomornya aktif lagi?"Damian menarik napas panjang, lalu berjalan mundur dan bersandar di meja."Aku tidak tahu. Tapi pesan ini bukan yang pertama kali dia kirim, kan?"Liora mendongak cepat."Kau sudah menerima pesan darinya juga?""Beberapa hari yang lalu. Dia hanya menyuruhku bersiap. Tidak lebih.""Dan kau diam saja? Kau tidak memberitahuku sedikit pun?""Aku tidak ingin kau cemas sebelum semuanya jelas. Aku kira itu sekadar ancaman kosong.""Ancaman kosong? Damian, dia bilang dia sedang pulang! Kakakku yang menghilang bertahun-tahun tiba-tiba mengirim pesan bahwa dia akan datang, dan kau menyebut itu ancaman kosong?""Tenanglah dulu, Liora. Berteriak tidak akan mengubah apa pun.""Aku tidak bisa tenang! Selama ini aku bertanya-tanya di mana dia, apakah dia baik-baik saja, kenapa dia pergi. Dan sekarang tiba-tiba dia bilang dia pulang dengan nada seolah dia buka

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 39 Satu Rahasia

    Damian terdiam cukup lama. Napasnya terlihat berat saat ia menghembuskannya perlahan."Siapa yang mengirim pesan itu, Liora?""Itu bukan hal yang penting sekarang. Yang penting adalah apa yang kau ketahui tentang kecelakaan itu. Jawab aku, Damian.""Kenapa tiba-tiba hal ini muncul sekarang? Itu kecelakaan biasa. Kau sudah sembuh, dan semuanya sudah berlalu.""Kau menyebutnya kecelakaan biasa, tapi aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum mobil itu menabrak. Dan kau... kau ada di sana hari itu, bukan?""Siapa yang memberitahumu hal ini?""Jangan tanya siapa yang bicara. Katakan padaku yang sebenarnya.""Aku tidak menyembunyikan hal yang berbahaya. Hari itu, aku kebetulan lewat. Aku melihat mobilmu berhenti di pinggir jalan. Aku berhenti untuk menawarkan bantuan. Sebelum aku sempat bertanya, mobil lain menabrak dari belakang. Aku yang menarikmu keluar sebelum mobil itu terbakar.""Kau yang menyelamatkanku... Selama ini kau tidak pernah mengatakannya?""Aku tidak ingin kau merasa berhuta

  • Pengantin Pengganti Sang Pewaris    BAB 38 Di Ambang Pintu

    Liora menatap layar ponselnya lama sekali. Jantungnya berdebar kencang. Ketukan di pintu terdengar lagi."Nyonya? Nyonya ada di dalam?" suara Reynald terdengar lembut dari luar.Liora menarik napas panjang lalu membuka pintu perlahan. Reynald berdiri dengan senyum sopan namun tetap tegas."Selamat pagi, Nyonya Liora. Maaf mengganggu pagi-pagi sekali. Tuan Damian mengirimku untuk menjemput Ibu. Beliau menunggu di rumah dan memastikan Ibu aman dan nyaman saat perjalanan pulang."Liora menatapnya sebentar, ragu sejenak."Terima kasih, Reynald. Tapi aku belum siap pulang sekarang. Setidaknya belum saat ini."Reynald tidak terkejut sedikit pun. Wajahnya tetap tenang dan pengertian."Tuan sudah mengantisipasi hal ini. Beliau bilang nyonya boleh menunda selama yang Ibu butuhkan. Tidak ada yang akan memaksa anda. Hanya saja, beliau meminta satu hal.""Apa itu? Katakan padaku.""Beliau berkata, saat Nyonya Liora siap bertanya, beliau akan menjawab semuanya. Tanpa satu kebohongan pun. Tanpa men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status