LOGINCemas, sudah pasti aku rasakan. Sejak pelayan itu mengatakan bahwa Ferdo sering membawa wanita lain ke rumah lamanya, dadaku terasa sesak dan jantungku berdebar dengan tidak karuan. Aku mencoba menarik napas panjang, namun udara yang masuk ke paru-paruku terasa berat dan dingin. Tanganku yang sejak tadi mengelus perutku kini menjadi dingin dan gemetar. Tidak mungkin... Hanya itu yang aku pikirkan. Tidak mungkin Ferdo sejahat itu. Tidak mungkin semua kebaikan yang ia tunjukkan kepadaku selama ini, terutama semalam, adalah sebuah kebohongan. Tidak mungkin pelukan hangatnya, suapan demi suapan daging panggang yang ia berikan kepadaku dengan penuh kesabaran, dan janji yang ia ucapkan dengan suara yang begitu lembut itu adalah palsu. Aku menatap ke arah pelayan itu, mencari kebenaran dari setiap ekspresi wajah yang ia berikan, dan kenapa ia seakan memperlihatkan suatu kebenaran yang kini sulit aku terima? Wajah pelayan itu tidak menunjukkan kebohongan. Matanya yang sudah tua dan keri
"Berarti, kamu sangat mengenalnya?" tanyaku lagi. Entah mengapa aku merasa seakan harus mengorek sebuah informasi yang sebenarnya mungkin terasa tabu, aku hanya ingin tahu, seperti apa hidup Ferdo sebelumnya. Pelayan itu mengatakan sudah lama bekerja untuk Ferdo, dan ia menyarankan agar aku tidak terlalu percaya pada Ferdo karena lelaki itu dulu sering membawa wanita ke rumah lamanya. "Saya sudah bekerja untuk Tuan Ferdo sejak Tuan masih tinggal di rumah lama, Nona. Bukan di rumah besar yang sekarang ini. Sudah hampir dua belas tahun saya mengabdi di keluarga ini," kata pelayan itu dengan suara yang berbisik, seolah takut ada yang mendengarnya dari luar. Aku terdiam, menunggu ia melanjutkan perkataannya. "Nona Alicia, Nona adalah wanita yang baik. Saya melihat Nona tulus menyayangi Tuan Ferdo dan tulus menjaga kandungan Nona. Oleh karena itu, saya sebagai orang yang sudah tua, ingin menyarankan sesuatu kepada Nona. Jangan terlalu percaya pada Tuan Ferdo, Nona." Jantungku se
Untuk kesekian kalinya, wanita itu menguasai akal sehatku. Aku merasa takut terjadi hal buruk padanya, itu sebabnya kakiku bergerak cepat dan bahkan setengah berlari ke arah kamarnya. Persetan dengan berkas ya g menumpuk! Persetan dengan banyaknya urusan yang akan datang dan mungkin akan menyulitkan ku dengan beberapa hal. Aku memperlihatkan sebuah sisi yang bahkan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Selama ini, semua orang mengenalku sebagai Ferdo yang dingin, tegas, dan tidak pernah menunjukkan perasaan. Di depan keluarga besarku, aku adalah pewaris yang harus terlihat kuat dan tidak boleh goyah. Di depan lawan bisnisku, aku adalah musuh yang kejam dan tidak memiliki belas kasihan. Bahkan di depan Max, asisten kepercayaanku sendiri, aku tidak pernah menunjukkan sisi lemahku. Tetapi malam ini, di dalam kamar paviliun belakang yang temaram ini, semua topeng itu terlepas dengan sendirinya. Aku memeluk Alicia dengan erat. Aku mengelus rambutnya dengan lembut, sesuatu yang tid
POV 1 - Ferdo.Aku duduk di kursi kerjaku dengan kepala yang tertunduk lesu. Ruangan kerjaku yang luas dan mewah ini terasa begitu sesak bagiku malam ini. Lampu di atas meja masih menyala terang, menerangi tumpukan berkas-berkas laporan yang belum sempat aku baca satu pun.Aku pusing menghadapi segala hal.Kalimat itu terus berputar di dalam kepalaku. Aku benar-benar pusing. Pusing menghadapi segala serangan yang datang bertubi-tubi tanpa henti. Dari pagi hingga malam, aku tidak pernah berhenti menerima telepon dan pesan yang berisi tekanan.Segala serangan dan tekanan dari keluarga maupun dari lawan datang secara bersamaan. Dari pihak keluarga, pamanku terus mendesakku untuk segera menikah dengan putri dari rekan bisnis keluarga demi memperkuat aliansi perusahaan. Ibuku terus menangis di telepon dan memintaku untuk pulang ke rumah besar, meninggalkan semua urusanku di kota ini. Sementara dari pihak lawan, perusahaan kompetitor terus melakukan serangan dengan cara menurunkan harga pas
Sore harinya... Ferdo membawaku pulang ke rumah lain, dan akunmenyadari jarak rumah yang akan kami tempati lebih dekat dari rumah sakit besar di kota itu. Aku menatap Ferdo lama, ia menoleh ke arahku lalu bertanya... "Kenapa kamu memandangku begitu? Ada yang salah denganku?" tanyanya pelan, tapi suaranya terdengar datar. Aku menggeleng pelan, tapi kembali menatap rumah itu. "Kenapa di sini?" tanyaku tanpa mengatakan hal yang jelas. "Alasannya mungkin kamu tahu tanpa aku mengatakannya. Lebih dekat dari rumah sakit, dan pusat perbelanjaan. Kalau ada sesuatu akan lebih cepat ditangani, dan kalau ada sesuatu yang ingin kamu makan dan kamu beli kamu akan mudah membelinya dan tidak menunggu waktu yang lama. Alicia, mungkin nantinya aku akan meminta bantuan padamu." ujar Ferdo. Lelaki itu mulai bicara dengan sangat serius. "Ada apa? Katakan saja." "Tidak sekarang, nanti aku akan katakan padamu, ini soal keluargamu yang gila itu, tapi aku masih ada banyak pekerjaan jadi kamu istir
Ferdo melumat bibirku tanpa ampun, ia tampak menghisapnya dan membuatku merasa terlena. Tangannya menarik di bawah sana dan membuatku mengalami pelepasan yang membuatku basah! "Ummppphh! Ferdo." satu panggilan itu menghentikan aksinya ia memegang pipiku dengan kedua tangannya, menarik wajahku ke arahnya lalu mengecup keningku perlahan. "Alicia, aku benci mengatakan ini, tapi aku merasa aku nyaman ketika kamu ada di sini bersamaku. Aku mohon, tetap di sini, bersamaku dan tunggu aku menyelesaikan semua kekacauan yang ada." Ferdo bicara dengan lembut, setiap katanya seakan menggetarkan hatiku yang semula sangat kacau dan sedikit tidak mempercayainya. Aku menatapnya lama sekali, dan aku mengangguk kecil. "Apa kamu mencintaiku?" tanyaku pelan. Entah bagaimana ceritanya aku menemukan keberanian sebesar itu untuk bertanya tentang perasaannya padaku. Ferdo tidak menjawab, Ferdo hanya diam sembari menatap wajahku. "Alicia, aku masih belum tahu soal itu. Yang jelas sekarang –







