MasukNaya tersentak mendengar ucapan Evan yang begitu dingin. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena cinta, melainkan rasa takut yang mencekam. Ia mencoba mundur beberapa langkah, berniat menjauh dari tatapan tajam pria itu. Namun, belum sempat kakinya bergeser jauh, tangan kekar Evan menyambar pinggangnya.
Dengan satu tarikan kuat, tubuh mungil Naya menabrak dada bidang Evan. Tubuh mereka bersentuhan. Naya bisa merasakan detak jantung Evan yang tenang, berbanding terbalik dengan miliknya yang seolah ingin melompat keluar.
"Kenapa? Kau ingin lari ?" bisik Evan.
Air mata mulai mengumpul di pelupuk mata Naya. Bibirnya bergetar, menahan isak tangis yang menyesak di dada. Ia merasa seperti domba yang baru saja diserahkan ke kandang singa.
Evan membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Ia menatap lekat ke arah mata Naya yang berkaca-kaca. Alih-alih merasa iba, Evan justru menyapukan ibu jarinya ke sudut mata Naya dengan kasar.
"Jangan menangis," desis Evan pelan namun tajam. "Bedak itu terlalu mahal dibandingkan air matamu. Jangan rusak riasan wajahmu sebelum tamu melihatmu."
Naya memejamkan mata, menghirup napas dalam-dalam. Ia mengepalkan tangannya di antara dada mereka, mencoba mencari kekuatan untuk tidak runtuh saat itu juga. Ia benci betapa lemah dirinya di depan pria ini.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu memecah ketegangan. Seorang petugas Wedding Organizer melongokkan kepalanya dari balik pintu dengan wajah cemas.
"Maaf, Tuan muda Evander, Nona Naya... acara sudah harus dimulai. Para tamu sudah menunggu di aula utama," ujar petugas itu.
Tanpa peringatan, Evan langsung melepaskan cengkeramannya di pinggang Naya. Gerakan yang tiba-tiba itu membuat Naya tersentak dan hampir kehilangan keseimbangan. Evan sama sekali tidak menoleh lagi. Ia merapikan jasnya sebentar di depan cermin, lalu melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar dan angkuh.
"Ayo, cepat!" bisik Vinie yang tiba-tiba muncul di ruangan itu setelah Evan pergi, langsung mendorong bahu keponakannya itu agar segera menyusul.
Aula hotel telah disulap menjadi ruang sakral yang luar biasa mewah. Ribuan bunga mawar putih menghiasi setiap sudut. Di bagian depan, sebuah papan digital besar yang sebelumnya menampilkan nama 'Selena & Evander' kini telah berubah.
Pernikahan Evander Nathaniel & Kanaya.
Nama itu terlihat asing bagi banyak tamu yang memegang undangan fisik. Bisik-bisik mulai menjalar di antara kursi-kursi tamu.
"Bukankah namanya Selena?"
"Siapa Kanaya?"
"Apa mereka ganti pengantin di menit terakhir?"
Naya tidak bisa mendengar semua itu dengan jelas, karena telinganya mendenging hebat. Di depan pintu besar aula, Edwin, paman Naya sekaligus ayah Selena, sudah menunggu. Pria itu tampak pucat dan tidak berani menatap mata Naya.
"Maafkan Paman, Alice. Ini demi keluarga kita," bisik Nino saat ia menyodorkan lengannya untuk digandeng.
Naya tidak menjawab. Ia hanya menyambut lengan pamannya dengan tangan yang dingin seperti mayat. Pintu aula terbuka perlahan. Musik pengiring pengantin yang megah mulai menggema. Semua mata tertuju pada Naya.
Naya melangkah di atas karpet merah, menyeret gaun putihnya yang berat. Di ujung sana, di depan pendeta, Evan sudah berdiri tegak. Pria itu tampak sangat mempesona, namun bagi Naya, dia terlihat seperti algojo yang menunggu di tiang gantungan.
Setiap langkah terasa seperti beban. Saat Naya melirik ke arah kursi keluarga, ia menangkap tatapan tajam dari Naya. Bibir bibinya itu bergerak tanpa suara, mengisyaratkan kata 'Tersenyum' dengan mata yang melotot mengancam. Naya terpaksa menarik sudut bibirnya, menciptakan senyum paling palsu yang pernah ia buat.
Sesampainya di sana, Nino menyerahkan tangan Alice kepada Evan. "Saya titipkan keponakan saya," ucapnya pelan.
Evan hanya mengangguk singkat tanpa ekspresi. Ia menggenggam tangan Alice erat, sangat erat hingga Naya meringis kecil.
Prosesi janji suci dimulai. Suara pendeta terdengar berat dan berwibawa. Evan mengucapkan janji suci dengan lancar tanpa terbata sedikitpun. Kini, tiba gilirannya, suara Naya hampir hilang.
"Saya Kanaya... menerima Evander Nathaniel sebagai suami saya..." Naya terbata-bata. Ia sempat berhenti sejenak, menoleh ke arah kerumunan, berharap ini semua hanya mimpi. Namun, tatapan maut dari Nura di barisan depan membuatnya kembali sadar. "...dalam suka maupun duka."
"Sah!" suara para saksi menggema.
"Saudara Evander, silakan buka cadar mempelai wanita dan cium pasangan anda sebagai tanda ikatan suci," ucap pendeta sambil tersenyum.
Naya merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia lupa soal bagian ini. Evan melangkah satu kaki lebih maju, memperkecil jarak. Tangannya yang besar bergerak perlahan mengangkat kain transparan yang menutupi wajah Naya. Begitu cadar itu tersingkap ke belakang, wajah cantik Naya yang terlihat ketakutan terpampang jelas di depan Evan.
"Tunggu, aku...."
Tanpa memberikan kesempatan bagi Alice untuk bersiap, Evan menangkup wajah Naya dengan kedua tangannya. Ia menunduk dan langsung menempelkan bibirnya tepat pada bibir Naya.
Mata Naya terbelalak sempurna. Tubuhnya kaku seperti patung. Ini adalah ciuman pertamanya, dan itu terjadi di depan ratusan orang dengan pria yang baru beberapa jam lalu mengancamnya. Ciuman itu tidak singkat. Evan menekannya dengan dalam, seolah ingin menunjukkan dominasinya di depan semua orang. Di tengah riuh tepuk tangan tamu undangan, Evan memejamkan mata.
'Ternyata bibirnya sangat lembut,' batin Evan.
Rasa manis yang tak terduga dari bibir Naya membuatnya kehilangan kendali sejenak. Evan sedikit melumat bibir bawah Naya, memberikan tekanan yang membuat Naya tersentak kecil dan nyaris mengeluarkan suara isakan.
Naya merasa dadanya sesak. Air mata benar-benar sudah berada di ujung mata, siap jatuh jika Evan tidak segera melepaskannya.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Evan menjauhkan wajahnya. Ia menatap bibir Naya yang kini sedikit memerah dan basah, lalu beralih ke mata Naya yang berkaca-kaca.
"Simpan airmatamu, Naya. Jangan biarkan jatuh di depan semua orang," bisik Evan dengan suara serak yang hanya bisa didengar oleh Naya.
Tepuk tangan meriah membahana di seluruh ruangan. Kelopak bunga mawar ditaburkan ke arah mereka saat mereka berjalan kembali menuruni altar. Kilatan lampu kamera dari fotografer berkali-kali menyilaukan mata.
Naya mencoba menunduk, namun Evan merangkul pinggangnya dengan posesif, memaksanya untuk tetap tegak.
"Pasang wajah ramah pada tamu," bisik Evan di sela-sela senyum palsunya ke arah kamera. "Beraktinglah seolah kau benar-benar mencintaiku, kalau kau tidak mau paman dan bibimu didepak dari sini sekarang juga."
Naya menelan salivanya. Ia memaksakan sebuah tawa kecil saat beberapa kerabat Evan menyalami mereka.
"Selamat ya, Evan! Tapi tunggu, ini bukan Selena, kan?" tanya seorang pria paruh baya, salah satu kolega bisnis keluarga Nathaniel.
Evan tertawa renyah, sebuah akting yang sangat sempurna hingga Naya merasa ngeri. "Bukan, Om. Ini Naya. Ada sedikit perubahan rencana di menit terakhir, tapi bagi saya, Naya adalah pilihan yang jauh lebih baik. Benar kan, Sayang?"
Evan menoleh pada Naya, menantikan jawaban. Alice hanya bisa mengangguk kaku. "I-iya, Om."
Selama sesi foto, bisik-bisik di barisan tamu tidak juga mereda. Beberapa sepupu Evan terlihat saling berbisik sambil menunjuk ke arah papan nama.
"Namanya beda sekali dengan yang di undangan. Katanya Selena kabur ya?"
"Kasihan ya pengantin wanitanya, wajahnya seperti ketakutan begitu."
Evan mendengar semuanya, tapi ia tidak peduli. Baginya, pernikahan ini hanyalah cara untuk menyelamatkan wajah ayahnya dan memastikan kerajaan bisnis Nathaniel tetap stabil. Siapa wanita di sampingnya tidaklah penting, awalnya begitu, sampai ia merasakan getaran ketakutan Naya yang justru memicu insting berburunya.
Sesi foto terakhir dilakukan bersama keluarga besar. Nura dan Nino berdiri di samping mereka dengan wajah lega yang dipaksakan. Setelah fotografer memberi tanda selesai, Evan menarik Naya sedikit menjauh dari kerumunan.
"Kau lelah?" tanya Evan dingin.
"Aku ingin istirahat. Tolong, biarkan aku ke kamar sebentar," pinta Alice dengan suara yang sudah hampir habis.
Evan melirik jam tangannya. "Acara resepsi masih dua jam lagi. Kau harus tetap di sini menemui kolega Ayahku."
"Tapi aku..."
Evan melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Di dalam, Rico berdiri mematung dengan wajah pucat di samping meja kerja besar milik Zavian. Udara di ruangan itu terasa sangat panas, seolah-olah amarah Zavian telah membakar oksigen di sana.Zavian berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela besar. Begitu mendengar langkah kaki Evan, ia berbalik dengan mata yang berkilat tajam."Ada apa, Pa?" tanya Evan pelan."Kau masih berani bertanya ada apa?" suara Zavian menggelegar. "Di saat perusahaan kita sedang di ujung tanduk karena wanita ular itu, kau malah sibuk bersenang-senang dengan sepupunya di ranjang? Kau pikir ini waktu yang tepat untuk bulan madu?!"Evan mengepalkan tangannya. "Aku tidak melakukannya, Pa. Itu hanya salah paham.""Salah paham?!" Zavian memukul meja dengan keras. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana keadaan kalian tadi! Dan kau, Rico!" Zavian menunjuk asisten Evan. "Jelaskan pada CEO bodoh ini apa yang kau lapo
Cengkeraman di leher Alice perlahan mengendur. Evan mengerang keras, kedua tangannya berpindah memegangi kepalanya sendiri yang seolah mau pecah. Alice terbatuk-batuk hebat, meraup oksigen sebanyak mungkin hingga dadanya naik turun dengan cepat. Rasa panas dan perih masih tertinggal di kulit lehernya yang memerah."Sial... kepalaku..." kutuk Evan dengan suara parau.Ia mencoba berdiri, namun keseimbangannya hilang. Tubuhnya yang besar terhuyung ke depan dan jatuh terbanting tepat di atas kasur, di sebelah Alice. Evan meringis, matanya terpejam rapat sambil terus melontarkan sumpah serapah."Wanita ular kau hancurkan semuanya, Selena ... brengsek!" racau Evan sebelum akhirnya suaranya mengecil dan napasnya menjadi teratur. Ia pingsan karena pengaruh alkohol yang terlalu berat.Alice terduduk di tepi ranjang sambil memegangi lehernya. Ia mengatur napas yang masih tersengal. Matanya menatap Evan yang kini tak sadarkan diri. Ada rasa trauma setelah hampir dicekik, namun rasa penasaran leb
Evan tak menjawab pertanyaan Naya, dia malah mencengkeram bahu Naya dengan kekuatan yang menyakitkan. Napasnya yang berbau alkohol terasa panas menyapu wajah Naya. Matanya yang merah menatap nanar pada isi kotak yang berserakan di lantai."Sudah kubilang jangan sentuh apapun!" bentak Evan. Suaranya menggelegar di kamar yang luas itu."Akh! Evan, sak-kit. Lepaskan.... " Naya meringis menahan sakit. "Ma-maaf, aku tidak sengaja menyenggolnya, Evan..." suara Naya mencicit, air matanya mulai jatuh.Evan tidak peduli. Ia mengapit kedua pipi Naya dengan satu tangan, menekannya kuat hingga bibir Naya mengerucut kesakitan. Ia mendorong tubuh Naya ke belakang hingga punggung gadis itu menabrak dinding dengan keras."Akh!" Naya meringis, rasa sakit menjalar dari tulang belikatnya."Kau tahu apa isi kotak itu? Hah?!" Evan mendekatkan wajahnya, tatapannya penuh kebencian. "Itu milik seseorang yang paling berharga dalam hidupku sepuluh tahun lalu. Seseorang yang bisa menghargai pemberianku! Dan kau
"Maksudmu?"Evan melangkah mendekat, mencengkeram bahu Naya dengan kuat hingga Naya memekik kecil. "Selena tidak kabur sendirian. Dia pergi dengan seseorang yang paling aku benci di dunia ini, dan mereka membawa rahasia besar perusahaan."Naya menelan salivanya. "Lalu apa hubungannya denganku? Kontraknya sudah kutanda tangani."Evan mendekatkan wajahnya ke telinga Naya, suaranya terdengar seperti bisikan iblis. "Hubungannya adalah... selama Selena belum ditemukan, kau tidak akan pernah diizinkan menginjakkan kaki di kampus itu."Naya terbelalak. "Tapi kau janji....""Lupakan janjiku," potong Evan telak. "Karena mulai hari ini, kau bukan lagi pengantin pengganti, melainkan tawanan yang harus membayar semua pengkhianatan Selena padaku."Evan melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh sedikit. "Dan satu lagi, jangan coba-kali menelepon siapa pun. Karena semua akses komunikasimu sudah aku putus total."Brak!Pintu dibanting keras dari luar
"Tapi aku...""Jangan membantah," potong Evan. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Naya lagi, membuat Naya otomatis menarik lehernya.Evan memberikan senyuman miring yang terlihat sangat berbahaya sebelum berbisik pelan. "Ingat janji kita tadi? Karena kau sudah resmi jadi istriku, ada satu hal lagi yang harus kau tahu..."Naya menatap Evan dengan bingung dan waswas. "Apa?"Evan menatap lurus ke mata Naya, seolah sedang mengunci mangsanya. "Malam ini, aku tidak akan membiarkanmu tidur di kamar yang berbeda, dan jangan sekali-kali mencoba mengunci pintu kamar mandi jika kau tidak ingin aku mendobraknya."Naya membeku. Kalimat itu lebih menyeramkan daripada ancaman yang dilontarkan bibinya tadi. "Ma-maksudmu kita ...."*****Acara pernikahan telah usai. Naya lagsung dibawa ke kediaman mansion milik Evan. Mobil berwarna hitam itu berhenti dengan halus di depan lobi sebuah mansion megah bergaya modern minimalis.Begitu pintu terbuka, udara dingin malam langsung menyergap Naya. Ia turun dari
Naya tersentak mendengar ucapan Evan yang begitu dingin. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena cinta, melainkan rasa takut yang mencekam. Ia mencoba mundur beberapa langkah, berniat menjauh dari tatapan tajam pria itu. Namun, belum sempat kakinya bergeser jauh, tangan kekar Evan menyambar pinggangnya.Dengan satu tarikan kuat, tubuh mungil Naya menabrak dada bidang Evan. Tubuh mereka bersentuhan. Naya bisa merasakan detak jantung Evan yang tenang, berbanding terbalik dengan miliknya yang seolah ingin melompat keluar."Kenapa? Kau ingin lari ?" bisik Evan.Air mata mulai mengumpul di pelupuk mata Naya. Bibirnya bergetar, menahan isak tangis yang menyesak di dada. Ia merasa seperti domba yang baru saja diserahkan ke kandang singa.Evan membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Ia menatap lekat ke arah mata Naya yang berkaca-kaca. Alih-alih merasa iba, Evan justru menyapukan ibu jarinya ke sudut mata Naya dengan kasar."Jangan menangis," d







