Beranda / Romansa / Pengantin Pengganti Yang Dibenci / 2. Sandiwara di Atas Pelaminan

Share

2. Sandiwara di Atas Pelaminan

Penulis: Fiyaseni
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-31 19:49:32

Naya tersentak mendengar ucapan Evan yang begitu dingin. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena cinta, melainkan rasa takut yang mencekam. Ia mencoba mundur beberapa langkah, berniat menjauh dari tatapan tajam pria itu. Namun, belum sempat kakinya bergeser jauh, tangan kekar Evan menyambar pinggangnya.

Dengan satu tarikan kuat, tubuh mungil Naya menabrak dada bidang Evan. Tubuh mereka bersentuhan. Naya bisa merasakan detak jantung Evan yang tenang, berbanding terbalik dengan miliknya yang seolah ingin melompat keluar.

"Kenapa? Kau ingin lari ?" bisik Evan.

Air mata mulai mengumpul di pelupuk mata Naya. Bibirnya bergetar, menahan isak tangis yang menyesak di dada. Ia merasa seperti domba yang baru saja diserahkan ke kandang singa.

Evan membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Ia menatap lekat ke arah mata Naya yang berkaca-kaca. Alih-alih merasa iba, Evan justru menyapukan ibu jarinya ke sudut mata Naya dengan kasar.

"Jangan menangis," desis Evan pelan namun tajam. "Bedak itu terlalu mahal dibandingkan air matamu. Jangan rusak riasan wajahmu sebelum tamu melihatmu."

Naya memejamkan mata, menghirup napas dalam-dalam. Ia mengepalkan tangannya di antara dada mereka, mencoba mencari kekuatan untuk tidak runtuh saat itu juga. Ia benci betapa lemah dirinya di depan pria ini.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu memecah ketegangan. Seorang petugas Wedding Organizer melongokkan kepalanya dari balik pintu dengan wajah cemas.

"Maaf, Tuan muda Evander, Nona Naya... acara sudah harus dimulai. Para tamu sudah menunggu di aula utama," ujar petugas itu.

Tanpa peringatan, Evan langsung melepaskan cengkeramannya di pinggang Naya. Gerakan yang tiba-tiba itu membuat Naya tersentak dan hampir kehilangan keseimbangan. Evan sama sekali tidak menoleh lagi. Ia merapikan jasnya sebentar di depan cermin, lalu melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar dan angkuh.

"Ayo, cepat!" bisik Vinie yang tiba-tiba muncul di ruangan itu setelah Evan pergi, langsung mendorong bahu keponakannya itu agar segera menyusul.

Aula hotel telah disulap menjadi ruang sakral yang luar biasa mewah. Ribuan bunga mawar putih menghiasi setiap sudut. Di bagian depan, sebuah papan digital besar yang sebelumnya menampilkan nama 'Selena & Evander' kini telah berubah.

Pernikahan Evander Nathaniel & Kanaya.

Nama itu terlihat asing bagi banyak tamu yang memegang undangan fisik. Bisik-bisik mulai menjalar di antara kursi-kursi tamu.

"Bukankah namanya Selena?"

"Siapa Kanaya?"

"Apa mereka ganti pengantin di menit terakhir?"

Naya tidak bisa mendengar semua itu dengan jelas, karena telinganya mendenging hebat. Di depan pintu besar aula, Edwin, paman Naya sekaligus ayah Selena, sudah menunggu. Pria itu tampak pucat dan tidak berani menatap mata Naya.

"Maafkan Paman, Alice. Ini demi keluarga kita," bisik Nino saat ia menyodorkan lengannya untuk digandeng.

Naya tidak menjawab. Ia hanya menyambut lengan pamannya dengan tangan yang dingin seperti mayat. Pintu aula terbuka perlahan. Musik pengiring pengantin yang megah mulai menggema. Semua mata tertuju pada Naya.

Naya melangkah di atas karpet merah, menyeret gaun putihnya yang berat. Di ujung sana, di depan pendeta, Evan sudah berdiri tegak. Pria itu tampak sangat mempesona, namun bagi Naya, dia terlihat seperti algojo yang menunggu di tiang gantungan.

Setiap langkah terasa seperti beban. Saat Naya melirik ke arah kursi keluarga, ia menangkap tatapan tajam dari Naya. Bibir bibinya itu bergerak tanpa suara, mengisyaratkan kata 'Tersenyum' dengan mata yang melotot mengancam. Naya terpaksa menarik sudut bibirnya, menciptakan senyum paling palsu yang pernah ia buat.

Sesampainya di sana, Nino menyerahkan tangan Alice kepada Evan. "Saya titipkan keponakan saya," ucapnya pelan.

Evan hanya mengangguk singkat tanpa ekspresi. Ia menggenggam tangan Alice erat, sangat erat hingga Naya meringis kecil.

Prosesi janji suci dimulai. Suara pendeta terdengar berat dan berwibawa. Evan mengucapkan janji suci dengan lancar tanpa terbata sedikitpun. Kini, tiba gilirannya, suara Naya hampir hilang.

"Saya Kanaya... menerima Evander Nathaniel sebagai suami saya..." Naya terbata-bata. Ia sempat berhenti sejenak, menoleh ke arah kerumunan, berharap ini semua hanya mimpi. Namun, tatapan maut dari Nura di barisan depan membuatnya kembali sadar. "...dalam suka maupun duka."

"Sah!" suara para saksi menggema.

"Saudara Evander, silakan buka cadar mempelai wanita dan cium pasangan anda sebagai tanda ikatan suci," ucap pendeta sambil tersenyum.

Naya merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia lupa soal bagian ini. Evan melangkah satu kaki lebih maju, memperkecil jarak. Tangannya yang besar bergerak perlahan mengangkat kain transparan yang menutupi wajah Naya. Begitu cadar itu tersingkap ke belakang, wajah cantik Naya yang terlihat ketakutan terpampang jelas di depan Evan.

"Tunggu, aku...."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Alice untuk bersiap, Evan menangkup wajah Naya dengan kedua tangannya. Ia menunduk dan langsung menempelkan bibirnya tepat pada bibir Naya.

Mata Naya terbelalak sempurna. Tubuhnya kaku seperti patung. Ini adalah ciuman pertamanya, dan itu terjadi di depan ratusan orang dengan pria yang baru beberapa jam lalu mengancamnya. Ciuman itu tidak singkat. Evan menekannya dengan dalam, seolah ingin menunjukkan dominasinya di depan semua orang. Di tengah riuh tepuk tangan tamu undangan, Evan memejamkan mata.

'Ternyata bibirnya sangat lembut,' batin Evan. 

Rasa manis yang tak terduga dari bibir Naya membuatnya kehilangan kendali sejenak. Evan sedikit melumat bibir bawah Naya, memberikan tekanan yang membuat Naya tersentak kecil dan nyaris mengeluarkan suara isakan.

Naya merasa dadanya sesak. Air mata benar-benar sudah berada di ujung mata, siap jatuh jika Evan tidak segera melepaskannya.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Evan menjauhkan wajahnya. Ia menatap bibir Naya yang kini sedikit memerah dan basah, lalu beralih ke mata Naya yang berkaca-kaca.

"Simpan airmatamu, Naya. Jangan biarkan jatuh di depan semua orang," bisik Evan dengan suara serak yang hanya bisa didengar oleh Naya.

Tepuk tangan meriah membahana di seluruh ruangan. Kelopak bunga mawar ditaburkan ke arah mereka saat mereka berjalan kembali menuruni altar. Kilatan lampu kamera dari fotografer berkali-kali menyilaukan mata.

Naya mencoba menunduk, namun Evan merangkul pinggangnya dengan posesif, memaksanya untuk tetap tegak.

"Pasang wajah ramah pada tamu," bisik Evan di sela-sela senyum palsunya ke arah kamera. "Beraktinglah seolah kau benar-benar mencintaiku, kalau kau tidak mau paman dan bibimu didepak dari sini sekarang juga."

Naya menelan salivanya. Ia memaksakan sebuah tawa kecil saat beberapa kerabat Evan menyalami mereka.

"Selamat ya, Evan! Tapi tunggu, ini bukan Selena, kan?" tanya seorang pria paruh baya, salah satu kolega bisnis keluarga Nathaniel.

Evan tertawa renyah, sebuah akting yang sangat sempurna hingga Naya merasa ngeri. "Bukan, Om. Ini Naya. Ada sedikit perubahan rencana di menit terakhir, tapi bagi saya, Naya adalah pilihan yang jauh lebih baik. Benar kan, Sayang?"

Evan menoleh pada Naya, menantikan jawaban. Alice hanya bisa mengangguk kaku. "I-iya, Om."

Selama sesi foto, bisik-bisik di barisan tamu tidak juga mereda. Beberapa sepupu Evan terlihat saling berbisik sambil menunjuk ke arah papan nama.

"Namanya beda sekali dengan yang di undangan. Katanya Selena kabur ya?"

"Kasihan ya pengantin wanitanya, wajahnya seperti ketakutan begitu."

Evan mendengar semuanya, tapi ia tidak peduli. Baginya, pernikahan ini hanyalah cara untuk menyelamatkan wajah ayahnya dan memastikan kerajaan bisnis Nathaniel tetap stabil. Siapa wanita di sampingnya tidaklah penting, awalnya begitu, sampai ia merasakan getaran ketakutan Naya yang justru memicu insting berburunya.

Sesi foto terakhir dilakukan bersama keluarga besar. Nura dan Nino berdiri di samping mereka dengan wajah lega yang dipaksakan. Setelah fotografer memberi tanda selesai, Evan menarik Naya sedikit menjauh dari kerumunan.

"Kau lelah?" tanya Evan dingin.

"Aku ingin istirahat. Tolong, biarkan aku ke kamar sebentar," pinta Alice dengan suara yang sudah hampir habis.

Evan melirik jam tangannya. "Acara resepsi masih dua jam lagi. Kau harus tetap di sini menemui kolega Ayahku."

"Tapi aku..."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   103. Saksi yang Terlupakan

    Zavian duduk di kursi kayu di samping ranjang ibunya. Cahaya lampu kamar yang kuning redup membuat bayangan wajahnya terlihat lebih tajam dan lelah. Lavina masih menatapnya dengan pandangan menuntut, tangan tuanya tidak melepaskan cengkeraman pada lengan jas Zavian."Katakan, Zavian. Katakan yang sebenarnya sebelum jantungku berhenti berdetak karena sesak," desak Lavina dengan suara bergetar.Zavian menghela napas panjang, sebuah suara berat yang seolah membuang beban sepuluh tahun dari dadanya. Ia memajukan tubuhnya, berbisik sangat dekat dengan telinga ibunya."Memang benar, Ma. Banjir bandang itu memang terjadi secara alami. Lumpur itu nyata. Tapi Elino dan Shella... mereka seharusnya bisa keluar dari vila itu sebelum air mencapai atap," ujar Zavian lirih.Mata Lavina membelalak. "Jadi benar... pintu itu?""Pintu kamar utama mereka dikunci dari luar, Ma. Aku menemukannya saat aku menerjang masuk ke reruntuhan yang setengah terendam itu. Elino ti

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   102. Rahasia dibalik Lumpur Masalalu

    Ruang tengah kediaman Nathaniel yang biasanya tenang mendadak pecah oleh suara pecahan keramik. Lily membeku melihat Lavina yang terkulai lemas di kursi rodanya. Wajah wanita tua itu memutih, napasnya yang tadi tersengal kini seolah menghilang."Nyonya! Nyonya Lavina! Bangun, Nyonya!" Lily berteriak sambil mengguncang bahu Lavina.Tidak ada respons. Mata Lavina terpejam rapat. Lily segera menekan tombol darurat di dinding yang terhubung ke pos penjagaan dalam."Tolong! Nyonya Besar pingsan! Cepat ke sini!" teriak Lily ke arah interkom.Dalam hitungan detik, dua pelayan pria dan seorang perawat pribadi berlari masuk. Mereka dengan cekatan mengangkat tubuh ringkih Lavina dari kursi roda dan membawanya menuju kamar utama di lantai bawah agar lebih cepat ditangani.Lily berdiri di tengah ruangan dengan tangan gemetar. Ia melirik layar televisi yang masih menyiarkan wajah Selena. Dengan cepat, ia menyambar gagang telepon kabel dan menekan nomor pribadi

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   101. Berita Lain

    Dengan enggan, Alice merebahkan tubuhnya. Evan membantu membuka jubah mandi Alice dengan sangat perlahan. Begitu kain itu tersingkap, Evan memejamkan mata sejenak, menahan sesak di dadanya. Ada memar kebiruan di pangkal paha Alice, bekas cengkeraman tangannya yang terlalu kuat. Bagian intim Alice juga tampak kemerahan dan sedikit bengkak."Ya Tuhan. Apa yang sudah kulakukan padamu," bisik Evan."Kau melampiaskan dendammu pada orang yang salah," sahut Alice lirih.Evan mulai mengompres bagian yang memar dengan air hangat menggunakan handuk kecil. Gerakannya sangat lembut, seolah ia sedang menyentuh porselen yang paling rapuh di dunia."Ngh... pelan-pelan," rintih Alice saat handuk itu menyentuh kulitnya."Iya, maaf. Ini akan membantu mengurangi bengkaknya," ujar Evan. Ia mengoleskan salep pereda nyeri dengan ujung jarinya, sangat perlahan.Suasana kamar menjadi sunyi, hanya terdengar suara napas mereka berdua. Evan melakukan tugasnya dengan p

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   100. Evan Melindungi Alice

    Di tempat kerjanya, Rico bergerak seperti bayangan. Ia tiba di Rumah Sakit Medika, tempat yang disebut-sebut Selena sebagai tempat pemeriksaan kehamilannya. Rico mengenakan setelan jas hitamnya yang rapi, memberikan kesan intimidasi yang halus saat ia melangkah masuk ke ruangan Direktur Rumah Sakit."Saya dari firma hukum Nathaniel," kata Rico sambil meletakkan kartu namanya di atas meja. "Kami ingin melakukan verifikasi atas rekam medis pasien bernama Selena Pramudya yang diperiksa pagi ini oleh Dr. Hermawan."Direktur rumah sakit itu tampak pucat. "Maaf, Tuan Rico, rekam medis adalah rahasia pasien. Kami tidak bisa memberikannya tanpa izin."Rico tersenyum dingin. Ia mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan foto Dr. Hermawan yang sedang menerima amplop tebal dari seorang pria suruhan Edwin di sebuah kafe sejam yang lalu."Atau kami bisa membawa polisi ke sini untuk menyelidiki kasus penyuapan dan pemalsuan dokumen publik?" ancam Rico. "Pilihannya ada

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   99. S*ks yang menyakitkan

    Evan berdiri di balkon vila dengan napas yang masih menderu pelan. Tangannya mencengkeram ponsel begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Di layar, pesan dari Rico tentang klaim kehamilan Selena masih terpampang jelas."Rico, dengar baik-baik," suara Evan rendah namun penuh penekanan. "Selidiki rumah sakit itu sekarang juga. Cari dokter yang menangani Selena, periksa rekam medisnya, dan cari tahu siapa yang membayarnya untuk mengeluarkan surat itu.""Baik, Tuan Muda. Tapi, apakah Anda akan pulang hari ini? Pesawat bisa siap dalam satu jam," jawab Rico dari seberang telepon."Tidak," potong Evan cepat. Matanya menatap tajam ke arah laut lepas yang mulai diterangi cahaya fajar. "Aku tidak akan membiarkan wanita itu merusak liburanku bersama Alice. Lakukan tugasmu, kirimkan bukti itu padaku secepatnya. Jangan ganggu aku sampai kau punya bukti otentik bahwa itu bohong."Evan mematikan ponsel dan melemparnya ke kursi pantai. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   97. Gairah di Samudra

    Zavian meremas gagang telepon di ruang kerjanya hingga buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam dokumen digital yang dikirimkan Rico melalui tablet di atas mejanya. Nama yang tertera di kolom wali cadangan itu tertulis dengan jelas: Selena Pramudya."Bagaimana bisa nama Selena ada di sana, Rico?!" bentak Zavian melalui sambungan telepon."Sepertinya Edwin sudah memalsukan tanda tangan Elino bertahun-tahun yang lalu, Tuan," suara Rico terdengar tegang. "Dia memindahkan hak perwalian cadangan kepada anaknya sendiri, Selena, sebagai rencana darurat jika keluarga inti mereka kehilangan akses langsung. Jika terjadi sesuatu pada Alice saat persalinan, Selena yang akan memegang kendali penuh atas dana abadi itu."Zavian mendengus kasar, ia melemparkan tabletnya ke atas meja sofa. "Edwin benar-benar ular. Dia sudah menyiapkan lubang sejak lama. Pantas saja dia tampak pasrah saat aku pulangkan, ternyata dia masih memegang kartu ini.""Apa kita perlu memanggil E

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status