Beranda / Romansa / Pengantin Pengganti Yang Dibenci / 3. Kamar Yang Menjadi Penjara

Share

3. Kamar Yang Menjadi Penjara

Penulis: Fiyaseni
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-31 19:55:49

"Tapi aku..."

"Jangan membantah," potong Evan. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Naya lagi, membuat Naya otomatis menarik lehernya.

Evan memberikan senyuman miring yang terlihat sangat berbahaya sebelum berbisik pelan. "Ingat janji kita tadi? Karena kau sudah resmi jadi istriku, ada satu hal lagi yang harus kau tahu..."

Naya menatap Evan dengan bingung dan waswas. "Apa?"

Evan menatap lurus ke mata Naya, seolah sedang mengunci mangsanya. "Malam ini, aku tidak akan membiarkanmu tidur di kamar yang berbeda, dan jangan sekali-kali mencoba mengunci pintu kamar mandi jika kau tidak ingin aku mendobraknya."

Naya membeku. Kalimat itu lebih menyeramkan daripada ancaman yang dilontarkan bibinya tadi. "Ma-maksudmu kita ...."

*****

Acara pernikahan telah usai. Naya lagsung dibawa ke kediaman mansion milik Evan. Mobil berwarna hitam itu berhenti dengan halus di depan lobi sebuah mansion megah bergaya modern minimalis.

Begitu pintu terbuka, udara dingin malam langsung menyergap Naya. Ia turun dari mobil dengan susah payah, mengangkat rok gaun pengantinnya yang berat dan panjang. Evan turun dari sisi lain, tanpa berniat membantu atau sekadar menoleh pada istri barunya.

"Ikut aku," perintah Evan pendek.

Langkah kaki mereka bergema di atas lantai marmer yang mengkilap. Pelayan-pelayan di rumah itu menunduk hormat, namun Evan melewati mereka begitu saja seolah mereka adalah benda mati. Ia membawa Naya ke lantai dua, menuju sebuah pintu kayu besar yang mengarah ke kamar utamanya.

Begitu pintu tertutup. Naya merasakan sesak di dadanya. Kamar itu sangat luas, didominasi warna abu-abu gelap dan hitam. Pencahayaannya redup, memberikan kesan misterius sekaligus menekan.

Evan langsung melepas jas tuksedonya dan melemparkannya ke sembarang arah. Ia kemudian membuka kancing kemeja putihnya satu per satu dengan gerakan lambat yang penuh percaya diri.

Naya berdiri kaku di dekat pintu, matanya tak sengaja menangkap pemandangan itu. Saat kemeja itu terbuka sepenuhnya dan jatuh ke lantai, terlihat jelas tubuh atletis Evan yang luar biasa. Otot-otot dadanya yang bidang berpadu dengan perut sixpack yang sangat kencang dan berbentuk sempurna. Guratan-guratan otot itu terlihat jelas di bawah lampu redup kamar.

Naya langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding, pipinya terasa panas. "Bisa... bisa kau pakai bajumu lagi?"

Evan terkekeh sinis. Ia berjalan mendekati Naya dengan langkah pelan. Suara gesekan kakinya di lantai terdengar seperti ancaman. "Kenapa? Kau tidak terbiasa dengan pemandangan tubuh indahku?" Naya hanya terdiam masih memalingkan wajahnya dari Evan.

Tiba-tiba, Evan mengapit kedua pipi Naya dengan satu tangan, memaksa gadis itu menatapnya. "Dengar, Gadis Kecil," ucap Evan dengan suara rendah yang menggetarkan. "Jangan pernah sentuh apapun di kamarku. Barang-barang di sini jauh lebih berharga daripada hidupmu. Kalau kau berani menyentuh atau merusak satu hal kecil saja, maka nyawamu akan menghilang dari dunia ini. Mengerti?"

Naya mengangguk cepat meski pipinya terasa sakit karena cengkeraman tangan Evan. "Aku mengerti."

Evan melepaskan wajah Naya dengan sentakan kasar. Ia mengambil sebuah selimut tipis dari lemari dan melemparkannya ke arah sofa panjang di pojok ruangan.

"Kau tidur di sofa. Aku di kasur," ucap Evan ketus. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan masuk ke dalam kamar mandi mewah yang ada di dalam kamar tersebut.

Suara air dari pancuran terdengar dari balik pintu kamar mandi. Naya menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. Ia berjalan menuju meja rias besar yang dipenuhi cermin. Di sana, ia terdiam menatap pantulan dirinya.

Ia mengenakan gaun pengantin off-shoulder dengan taburan kristal yang berkilauan. Kalung berlian melingkar di lehernya, dan riasan wajahnya membuat matanya terlihat lebih lebar dan bibirnya tampak ranum.

"Aku cantik sekali," gumam Naya pelan, jemarinya menyentuh permukaan cermin.

Ia memutar tubuhnya perlahan, melihat gaun itu membentuk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Setiap wanita mungkin bermimpi memakai gaun ini, tapi bagi Naya, ini adalah mimpi buruk.

"Tapi aku sedih," bisiknya lagi, air mata mulai menetes membasahi pipinya yang bersemu merah. "Ini bukan kehidupanku. Harusnya malam ini aku sedang mengepak barang untuk pindah ke asrama kampus. Bukan terjebak di kamar pria asing yang membenciku."

Dengan tangan gemetar, Naya mulai melepaskan perhiasan mahalnya satu per satu. Ia kesulitan membuka kaitan gaun di bagian belakang punggungnya. Setelah berjuang hampir lima belas menit, gaun itu akhirnya luruh ke lantai.

Naya segera mengganti pakaiannya dengan lingerie sutra berwarna krem sebatas lutut yang tadi sudah disiapkan pelayan di atas sofa. Ia meringkuk di atas sofa sempit itu, menyelimuti tubuhnya dengan kain tipis pemberian Evan. Suara hujan mulai terdengar di luar, menambah dingin suasana hatinya hingga ia tertidur karena kelelahan.

*****

Sinar matahari pagi menembus celah gorden, namun bukan itu yang membangunkan Naya. Sebuah map dokumen tebal menghantam wajah Naya membuatnya tersentak bangun dari tidurnya. Naya mengusap kedua matanya yang masih terasa berat, lalu bangkit duduk dengan posisi linglung.

Di depannya, Evan sudah berdiri rapi. Ia mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku, jam tangan mewahnya berkilat terkena cahaya. Rambutnya tertata rapi, dan aroma parfuun maskulin tercium dari tubuhnya.

"Bangun. Baca itu," perintah Evan dingin.

Naya mengambil kertas yang berserakan di depannya. Ia membaca judul besar di bagian atas: PERJANJIAN KONTRAK PERNIKAHAN.

"Apa ini?" tanya Naya dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Kontrak kita. Pernikahan ini hanya akan berlangsung selama tiga bulan," Evan menjawab dengan santai.

Naya membaca poin-poin di dalamnya. Matanya membelalak. "Tiga bulan?"

Evan menatap Naya dengan pandangan merendahkan. "Iya, hanya tiga bulan. Kau pikir aku benar-benar ingin menikahimu? Aku hanya butuh seseorang untuk menahan malu di depan para tamu dan kolega bisnis karena Selena menghilang. Setelah suasana tenang dan aku berhasil melacak keberadaan Selena, aku akan menceraikanmu."

 Naya terdiam, dadanya terasa nyeri mendengar nama itu disebut dengan begitu penuh penekanan.

"Dengar baik-baik, Alice," Evan melangkah maju, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Naya yang masih duduk di sofa. "Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu. Hatiku hanya milik Selena. Kau di sini cuma alat untuk menyelamatkan harga diri keluargaku. Setelah tiga bulan, kau bisa pergi ke kampusmu itu dan aku akan memberimu uang untuk biaya kuliahmu sampai lulus."

Naya menggenggam kertas itu hingga agak lecek. "Aku tidak butuh uangmu. Aku mendapatkan beasiswa dari kampus."

"Bagus, kalau kau tak butuh uangku. Sekarang tanda tangani, atau aku akan memastikan beasiswamu dibatalkan hari ini juga.

Naya menatap pulpen yang disodorkan Evan. Ini adalah jalan keluar yang ia butuhkan untuk tetap bisa kuliah, meski ia harus menjual harga dirinya selama tiga bulan. Ia mengambil pulpen itu dan menorehkan tanda tangannya di atas materai.

"Selesai," ucap Naya pendek, menyerahkan kembali map itu.

Evan mengambil map tersebut dengan senyum sinis yang puas. Ia baru saja berbalik untuk pergi, ketika ponselnya di atas meja nakas bergetar hebat. Evan mengangkat telepon itu.

Tiba-tiba saja, wajah Evan yang tadinya tenang berubah tegang. Rahangnya mengeras, dan matanya berkilat marah. 

"Apa maksudmu? Cari dia sampai ketemu!" bentak Evan pada orang di telepon.

Alice memperhatikan dengan bingung. "Kau kenapa?"

Evan menutup teleponnya dengan kasar. Ia menoleh ke arah Alice, tatapannya jauh lebih tajam dan dingin dari sebelumnya, seolah ia ingin menghancurkan Alice saat itu juga.

"Sepertinya rencana kita berubah," desis Evan.

"Maksudmu?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   7. Luka dibalik Cermin

    Evan melangkah masuk ke ruang kerja ayahnya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Di dalam, Rico berdiri mematung dengan wajah pucat di samping meja kerja besar milik Zavian. Udara di ruangan itu terasa sangat panas, seolah-olah amarah Zavian telah membakar oksigen di sana.Zavian berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela besar. Begitu mendengar langkah kaki Evan, ia berbalik dengan mata yang berkilat tajam."Ada apa, Pa?" tanya Evan pelan."Kau masih berani bertanya ada apa?" suara Zavian menggelegar. "Di saat perusahaan kita sedang di ujung tanduk karena wanita ular itu, kau malah sibuk bersenang-senang dengan sepupunya di ranjang? Kau pikir ini waktu yang tepat untuk bulan madu?!"Evan mengepalkan tangannya. "Aku tidak melakukannya, Pa. Itu hanya salah paham.""Salah paham?!" Zavian memukul meja dengan keras. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana keadaan kalian tadi! Dan kau, Rico!" Zavian menunjuk asisten Evan. "Jelaskan pada CEO bodoh ini apa yang kau lapo

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   Bab 6: Sisi Gelap di Balik Handuk Putih

    Cengkeraman di leher Alice perlahan mengendur. Evan mengerang keras, kedua tangannya berpindah memegangi kepalanya sendiri yang seolah mau pecah. Alice terbatuk-batuk hebat, meraup oksigen sebanyak mungkin hingga dadanya naik turun dengan cepat. Rasa panas dan perih masih tertinggal di kulit lehernya yang memerah."Sial... kepalaku..." kutuk Evan dengan suara parau.Ia mencoba berdiri, namun keseimbangannya hilang. Tubuhnya yang besar terhuyung ke depan dan jatuh terbanting tepat di atas kasur, di sebelah Alice. Evan meringis, matanya terpejam rapat sambil terus melontarkan sumpah serapah."Wanita ular kau hancurkan semuanya, Selena ... brengsek!" racau Evan sebelum akhirnya suaranya mengecil dan napasnya menjadi teratur. Ia pingsan karena pengaruh alkohol yang terlalu berat.Alice terduduk di tepi ranjang sambil memegangi lehernya. Ia mengatur napas yang masih tersengal. Matanya menatap Evan yang kini tak sadarkan diri. Ada rasa trauma setelah hampir dicekik, namun rasa penasaran leb

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   5. Antara Kenangan dan Amarah

    Evan tak menjawab pertanyaan Naya, dia malah mencengkeram bahu Naya dengan kekuatan yang menyakitkan. Napasnya yang berbau alkohol terasa panas menyapu wajah Naya. Matanya yang merah menatap nanar pada isi kotak yang berserakan di lantai."Sudah kubilang jangan sentuh apapun!" bentak Evan. Suaranya menggelegar di kamar yang luas itu."Akh! Evan, sak-kit. Lepaskan.... " Naya meringis menahan sakit. "Ma-maaf, aku tidak sengaja menyenggolnya, Evan..." suara Naya mencicit, air matanya mulai jatuh.Evan tidak peduli. Ia mengapit kedua pipi Naya dengan satu tangan, menekannya kuat hingga bibir Naya mengerucut kesakitan. Ia mendorong tubuh Naya ke belakang hingga punggung gadis itu menabrak dinding dengan keras."Akh!" Naya meringis, rasa sakit menjalar dari tulang belikatnya."Kau tahu apa isi kotak itu? Hah?!" Evan mendekatkan wajahnya, tatapannya penuh kebencian. "Itu milik seseorang yang paling berharga dalam hidupku sepuluh tahun lalu. Seseorang yang bisa menghargai pemberianku! Dan kau

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   4. Rahasia dibalik Kotak Kayu

    "Maksudmu?"Evan melangkah mendekat, mencengkeram bahu Naya dengan kuat hingga Naya memekik kecil. "Selena tidak kabur sendirian. Dia pergi dengan seseorang yang paling aku benci di dunia ini, dan mereka membawa rahasia besar perusahaan."Naya menelan salivanya. "Lalu apa hubungannya denganku? Kontraknya sudah kutanda tangani."Evan mendekatkan wajahnya ke telinga Naya, suaranya terdengar seperti bisikan iblis. "Hubungannya adalah... selama Selena belum ditemukan, kau tidak akan pernah diizinkan menginjakkan kaki di kampus itu."Naya terbelalak. "Tapi kau janji....""Lupakan janjiku," potong Evan telak. "Karena mulai hari ini, kau bukan lagi pengantin pengganti, melainkan tawanan yang harus membayar semua pengkhianatan Selena padaku."Evan melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh sedikit. "Dan satu lagi, jangan coba-kali menelepon siapa pun. Karena semua akses komunikasimu sudah aku putus total."Brak!Pintu dibanting keras dari luar

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   3. Kamar Yang Menjadi Penjara

    "Tapi aku...""Jangan membantah," potong Evan. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Naya lagi, membuat Naya otomatis menarik lehernya.Evan memberikan senyuman miring yang terlihat sangat berbahaya sebelum berbisik pelan. "Ingat janji kita tadi? Karena kau sudah resmi jadi istriku, ada satu hal lagi yang harus kau tahu..."Naya menatap Evan dengan bingung dan waswas. "Apa?"Evan menatap lurus ke mata Naya, seolah sedang mengunci mangsanya. "Malam ini, aku tidak akan membiarkanmu tidur di kamar yang berbeda, dan jangan sekali-kali mencoba mengunci pintu kamar mandi jika kau tidak ingin aku mendobraknya."Naya membeku. Kalimat itu lebih menyeramkan daripada ancaman yang dilontarkan bibinya tadi. "Ma-maksudmu kita ...."*****Acara pernikahan telah usai. Naya lagsung dibawa ke kediaman mansion milik Evan. Mobil berwarna hitam itu berhenti dengan halus di depan lobi sebuah mansion megah bergaya modern minimalis.Begitu pintu terbuka, udara dingin malam langsung menyergap Naya. Ia turun dari

  • Pengantin Pengganti Yang Dibenci   2. Sandiwara di Atas Pelaminan

    Naya tersentak mendengar ucapan Evan yang begitu dingin. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan karena cinta, melainkan rasa takut yang mencekam. Ia mencoba mundur beberapa langkah, berniat menjauh dari tatapan tajam pria itu. Namun, belum sempat kakinya bergeser jauh, tangan kekar Evan menyambar pinggangnya.Dengan satu tarikan kuat, tubuh mungil Naya menabrak dada bidang Evan. Tubuh mereka bersentuhan. Naya bisa merasakan detak jantung Evan yang tenang, berbanding terbalik dengan miliknya yang seolah ingin melompat keluar."Kenapa? Kau ingin lari ?" bisik Evan.Air mata mulai mengumpul di pelupuk mata Naya. Bibirnya bergetar, menahan isak tangis yang menyesak di dada. Ia merasa seperti domba yang baru saja diserahkan ke kandang singa.Evan membungkuk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Ia menatap lekat ke arah mata Naya yang berkaca-kaca. Alih-alih merasa iba, Evan justru menyapukan ibu jarinya ke sudut mata Naya dengan kasar."Jangan menangis," d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status