로그인Dua bulan kemudian. Pagi itu, area panti asuhan yang baru berdiri megah di kawasan yang asri diselimuti oleh keceriaan yang membuncah. Bangunan dua lantai yang dahulunya hanya berupa struktur semen belum selesai, kini telah berdiri kokoh dengan fasilitas belajar, ruang tidur yang nyaman, dan halaman hijau yang luas. Hari ini, tempat itu dihiasi dekorasi bunga-bunga liar berwarna pastel, kain putih lembut, dan ornamen kayu yang hangat. Atas keinginan Lumi dan Aswin, perayaan pernikahan mereka tak digelar di hotel berbintang lima, melainkan di rumah baru bagi adik-adik panti asuhan tempat Aswin tumbuh. Anak-anak panti berlarian riang mengenakan pakaian terbaik mereka, menyambut para tamu undangan yang terdiri dari rekan kerja Castellvain Group, kerabat dekat, hingga jajaran staf kantor. Di ruang persiapan, Lumi berdiri mematung di depan cermin besar. Gaun pengantin putih berpotongan sederhana namun sangat elegan membalut tubuhnya dengan sempurna. Tanganny
Dua minggu setelah kepulangan Selina dari rumah sakit, kediaman utama Castellvain tak lagi mengenal istilah keheningan. Istana megah itu mendadak menjelma menjadi arena 'perang' manis bagi para orang tua dan kakek-nenek baru.Di dalam kamar bayi berdekorasi warna pastel yang hangat, Zander berdiri kaku di depan meja ganti dengan wajah yang tampak jauh lebih tegang dibandingkan saat ia memimpin rapat pemegang saham. Matanya menatap fokus pada pampers ukuran newborn di tangannya, sementara sang putra kecil—yang diberi nama Archibald Castellvain—mulai menendang-nendangkan kaki mungilnya sambil menangis kencang."Mas ... pelekatnya kebalik itu," tegur Selina dari atas sofa, terkekeh pelan sembari menyangga dadanya yang sedikit nyeri akibat ASI yang melimpah. Rambutnya dikuncir asal-asalan, lingkaran hitam tipis membayangi matanya akibat begadang dua minggu berturut-turut."Sstt, pelan-pelan, Sayang. Papa sedang konsentrasi," bisik Zander panik, peluh
Empat bulan kemudian, usia kehamilan Selina telah menginjak minggu ke-38. Perutnya yang membesar sempurna kini menjadi pusat dari seluruh kebahagiaan dan kehangatan di kediaman utama Castellvain. Malam itu, pukul dua dini hari, hujan deras mengguyur kota. Suara gemuruh petir sesekali menyambar, memperkeras keheningan di kamar utama. Zander yang sejak awal trimester ketiga berubah menjadi penderita insomnia ringan—karena terlalu siaga menjaga Selina—terbangun ketika merasakan gerakan gelisah dari sang istri di sampingnya. "Selin ...? Ada yang sakit, Sayang?" tanya Zander lembut, langsung memiringkan tubuhnya dan mengusap perut Selina. Selina tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meremas kemeja piyama Zander dengan sangat kuat, napasnya memburu dan terengah-engah. Ceceran keringat dingin membahasi pelipis dan dahi cantiknya. "Mas ... sakit ...." ringis Selina, suaranya bergetar menahan gelombang mulas yang mendadak menyerang dengan sanga
Dua minggu setelah proses transfer embrio yang kedua, kediaman utama Castellvain masih diselimuti keheningan pagi yang basah oleh embun. Jarum jam dinding baru menunjukkan pukul lima subuh. Di dalam kamar mandi utama yang luas, Selina berdiri kaku di depan wastafel marmer. Di telapak tangannya, tergeletak sebatang test pack yang baru saja ia gunakan. Kali ini, atas permintaan tegas dari Zander, mereka tidak langsung bergegas ke rumah sakit. Suaminya tak ingin melihat istrinya kembali didera kecemasan yang membunuh di ruang tunggu yang dingin. "Selin ...?" Suara bariton yang lembut itu terdengar di balik pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Zander melangkah masuk hanya dengan mengenakan celana piyama dan kaus polos hitam. Wajahnya yang biasa dingin tanpa ekspresi kini memancarkan ketegangan yang amat sangat. Rambut acak-acakannya menandakan bahwa pria itu sama sekali tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Zander mendek
Kekecewaan adalah tamu yang tak diundang, namun sering kali ia datang untuk menguji seberapa kokoh tiang penyangga yang telah dibangun. Bagi Selina, hasil negatif dari siklus pertama bayi tabung mereka sempat menorehkan luka kecil di hatinya. Rasa bersalah karena memiliki rahim yang lemah akibat keguguran masa lalu sesekali masih membayangi pikirannya di malam-malam yang sunyi. Namun, Zander tidak membiarkan bayang-bayang itu menetap terlalu lama. Sejak hari di mana dokter menyarankan masa jeda satu bulan, Zander mengambil keputusan besar yang mengejutkan seluruh jajaran direksi Castellvain Group. Sang CEO yang terkenal gila kerja itu mendelegasikan sebagian besar tugas hariannya kepada Aswin dan beberapa direktur tepercaya. Zander memilih untuk bekerja dari rumah, mengubah ruang kerjanya menjadi pusat komando di mana prioritas utamanya bukan lagi grafik saham, melainkan kesehatan fisik dan mental Selina. "Mas, kamu tidak perlu sampai membatalkan rapat penting dengan investor Londo
Halaman panti asuhan yang baru itu tampak ramai dan dihiasi dekorasi sederhana namun penuh kehangatan. Balon-balon berwarna pastel dan untaian lampu kecil menggantung di antara pilar-pilar bangunan yang sebagian dindingnya masih berupa semen halus belum tercat. Meskipun tempat ini belum sepenuhnya rampung setelah penggusuran panti asuhan lama, tawa riang anak-anak panti yang bermain bersama beberapa karyawan Castellvain Group membuat suasana terasa begitu hidup. Hari ini adalah acara pertunangan Aswin dan Lumi. Sebuah perayaan yang sengaja digelar secara bersahaja di tengah-tengah adik-adik panti asuhan tempat Aswin tumbuh dan mendedikasikan hidupnya. Sebagai tangan kanan Zander Castellvain sekaligus salah satu petinggi korporasi yang paling disegani, kehadiran Aswin tentu menarik perhatian. Beberapa kolega bisnis penting dan jajaran staf atas Castellvain sengaja datang, membawa karangan bunga dan menaruh rasa hormat yang besar pada pria yang dikenal
Selina turun dari mobil, diikuti Lumi di belakang. Mereka memasuki perkarangan yang nampak sangat bersih dengan berbagai jenis bunga aneka warna. Di sisi kanan halaman, ada sebuah spot khusus layaknya taman bermain mini dilengkapi berbagai fasilitas bermain.“Bukan main…, tempat ini bagus banget!”
"Mana bisa seperti itu?" Suara William meninggi, membuat semua orang menoleh padanya. Tatapan semua orang membuat William seegra sadar bahwa telah kelepasan. Sabrina bahkan menatapnya dengan raut wajah tak senang serta curiga. William mengumpat dalam hati, lalu cepat-cepat berdehem untuk mencairka
Lampu kristal bergemerlap di langit-langit aula megah. Lantai marmer putih berkilau, memantulkan langkah para tamu yang hadir dengan busana terbaik mereka. Begitu keluarga besar Castellvain memasuki ruangan, percakapan yang tadinya ramai seakan melambat. Semua mata serentak menoleh. Gaun selutut b
Jarum jam sudah melewati tengah malam. Cahaya lampu tidur memandikan kamar dengan temaram kekuningan. Selina duduk di tepi ranjang, jemarinya memainkan ujung piyama tanpa sadar.Sejak pulang dari kantor sore tadi, Selina tak mendapatkan kabar dari suaminya. Bahkan dia pulang dengan diantarkan sopir







