Início / Romansa / Pengantin Pesanan / 01 - Resmi Jadi Duda

Compartilhar

01 - Resmi Jadi Duda

Autor: Serafina
last update Data de publicação: 2021-11-12 08:47:50

Pengantin Pesanan

01 – Resmi Jadi Duda

“Selamat Dan, sudah resmi jadi duda.”

Evan, pengacara perceraian yang mewakilinya, menyerahkan amplop cokelat pada Danesh, dia menyeringai dengan senyum penuh arti pada teman sekampusnya dulu.

Danesh menerimanya dengan ekspresi campur aduk. Di dalam amplop itu ada selembar Kutipan Akta Perceraian; bukti bahwa dia sudah resmi mengakhiri hubungannya dengan Andini, mantan istrinya.

“Thanks, man.” Tanpa memeriksa isinya, Danesh memasukkan amplop itu ke dalam tas kerjanya. Dia yakin bahwa Evan melakukan tugasnya dengan baik, dia dibayar mahal untuk itu.

“So, what’s next?” tanya Evan sambil menyandar ke kursi di café salah satu Mall tempat mereka janjian untuk bertemu. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil memerhatikan Danesh.

“Kerja.” balas Danesh sekenanya, dia menyesap kopi hitamnya – gelas kedua hari ini.

Evan tertawa, “Enggak ada pesta perceraian gitu?” godanya, “gue udah siap-siap ngambil cuti dua hari untuk ngerayain pergantian status lo jadi duda.”

“Hahaha…” Danesh tertawa tanpa humor, “kerjaan gue banyak banget. Enggak bisa minggu ini.”

Evan menghela napasnya, “Tapi kalau untuk futsal masih ada waktu, ‘kan?”

Selalu ada waktu. Danesh selalu menyempatkan melakukan hobinya setiap minggu “Pasti, dong. Kaya biasa di tempat biasa, ‘kan?”

“Ho-oh. Si Rafi baru aja ngasih kabar kalau dia udah booking tempatnya.”

“O’ya, apa kabarnya tuh anak?”

“Oh, lagi meroket tuh bajingan satu. Proyeknya banyak.”

Danesh tersenyum mendengar nada iri yang berusaha ditutupi oleh Evan namun terbaca olehnya “Ya baguslah kalau usahanya lancar…”

Evan tertawa, dia hendak melanjutkan ketika seseorang menghampiri meja mereka.

“Bos.”

Lelaki yang dikenalnya sebagai asisten Danesh sekaligus paralegalnya, menyodorkan ponsel ke arah Danesh, “Telepon penting, Bos.”

Danesh menerima ponsel dari Ucok dan beranjak dari duduknya “Sorry gue harus terima ini.”

“Sure, Bro. Gue juga harus balik kantor. Sampai ketemu lagi!” Evan tau kapan harus pergi, dia membereskan barang-barangnya dan pamit.

Danesh hanya melambai pada Evan kemudian menyapa orang yang meneleponnya, “Halo.”

“DAN!” 

Pucuk dicinta ulam tiba. Baru saja namanya jadi topik pembicaraan ternyata Rafi meneleponnya.

“Hey, what’s up, man?” sapa Danesh santainya, dia masih menyeruput kopinya.

“GAWAT! Lo harus ke sini sekarang juga!”

“Kenapa?” tanya Danesh, mendadak saja dia duduk tegak begitu mendengar temannya berteriak. Dia melayangkan pandang awas pada Ucok, paralegalnya yang terlihat serius.

“Pokoknya lo ke sini aja, gue jelasinnya nanti…”

Alis Danesh yang tebal berkerut, “Gue masih ad—”

“Ke sini sekarang, Dan. URGENT!”

Danesh mendengus, “OK, this is better be good or—”

“Percaya deh, lo harus segera ke sini!”

*

Daneshwara terkenal sebagai pengacara bajingan.

Kebanyakan kasusnya adalah membela koruptor. Lingkaran pertemanannya high-class; terdiri dari orang-orang berpengaruh, terkenal atau penuh skandal.

Makanya tidak heran kalau kemana-mana Danesh dijaga oleh bodyguard dan seorang asisten yang merangkap paralegalnya, supirnya, kacungnya, kaki-tangannya.

Mereka bertiga bagaikan lem super; tak bisa lepas dan susah untuk dipisahkan.

“Antar ke alamat ini.” Danesh menyerahkan ponsel pada Ucok yang juga bertugas jadi sopirnya.

Ucok membaca sekilas koordinat yang dikirimkan Rafi padanya dan mengangguk, “Siap, Bos.”

Bromo, bodyguard-nya yang seorang mantan tentara bergegas membukakan pintu sebuah van yang telah dimodifikasi. Van berlapis baja itu anti peluru dengan segala keperluan kantor yang bisa mengakomodir kebutuhan seorang Pengacara Litigasi yang hobinya bermigrasi dari satu kota ke kota yang lainnya, tergantung dimana koruptor atau pejabat kena OTT.

Tak heran mantan istrinya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Danesh terlalu sibuk mondar-mandir mengurusi hidup orang lain hingga lupa mengurus hidupnya sendiri.

Lelaki blasteran Indonesia-Australia itu duduk di bagian belakang van yang sudah disulap menjadi seperti kantor dengan meja kerja, lemari, dapur kecil, sofa dan toilet yang seringkali ngadat. Dia membuka tabletnya dan kembali memeriksa berkas kasus yang sedang ditanganinya.

Van meluncur mulus mengarungi jalanan kota Jakarta yang tidak bersahabat.

Ucok, yang kemampuan menyetirnya level dewa, bisa dengan mudah mencari jalan tercepat menuju tujuan. Sepertinya GPS sudah tertanam di otaknya hingga dia bisa memperkirakan waktu perjalanan dan kecepatan van agar tidak ditilang polisi.

Kurang dari satu jam, mereka sudah sampai tujuan.

Danesh turun dari van sambil membetulkan letak kacamatanya. Matanya menyipit ketika sinar matahari yang condong ke Barat terasa terik. Refleks, dia menudungkan tangannya di atas alis. Mereka berada di sebuah perumahan di dekat Teluk Jakarta, tempat rumah-rumah mewah yang mempunyai yacht yang terparkir di garasi yang menghadap teluk.

“Bos, sebelah sini.” Ucok keluar dari van dan membawa Danesh menuju sebuah rumah paling besar yang ada di sana.

Danesh mendengus, dia menyelipkan kedua tangannya di saku celana dan berjalan santai diikuti oleh Bromo, yang menjulang tinggi besar bagai gunung di belakangnya.

Rumah yang mereka datangi dilengkapi oleh sistem keamanan yang canggih. Ucok diperiksa oleh beberapa petugas keamanan yang menyita Taser Gun yang selalu dia bawa kemana saja. Namun Ucok ngotot, dia menarik kembali Taser Gun-nya dan menyelipkannya kembali di saku celananya.

Jangan macam-macam dengan Ucok, walau badannya kecil namun lincah dan punya kemampuan bela diri yang mumpuni.

“Cok.” Panggil Danesh ketika hampir saja terjadi adu mulut antara asistennya dan petugas keamanan.

Hanya dengan sekali lirikan mata, Ucok paham maksud Danesh, dia akhirnya melemparkan Taser Gun kesayangannya ke sebuah keranjang.

“Tuh! Puas?!” serunya sebal.

Bromo yang belajar dari pengalaman Ucok mengosongkan kantongnya. Isinya beragam; sebuah Taser Gun, Pisau Swiss, sepucuk Glock Meyer 22 dan sekotak peluru.

Dia tidak pernah keluar rumah tanpa membawa perlengkapan perangnya, seolah kapan saja bisa terjadi perang sipil di tengah kota.

Sementara itu, di kantong Danesh hanya ada dompet, dua ponsel, sebungkus rokok, korek api dan semprotan merica yang sudah kadaluwarsa, dia lupa membuangnya.

Salah satu petugas mengumpulkan semuanya dan menyilakan rombongan itu masuk ke sebuah ruangan.

Mereka berjalan di lorong melewati beberapa pintu sampai akhirnya keluar melalui pintu Perancis yang membawa mereka ke halaman.

“SURPRISE…!”

Duaaarrr! Preeettt…! Preeettt…! Dhuaarrrr…!

Danesh yang baru saja menginjakkan kaki di atas rumput yang dipangkas rapi, sontak melonjak kaget ketika disambut oleh teriakan, tiupan terompet mainan dan konfeti berwarna-warni.

“CONGRATS, MAN. AKHIRNYA RESMI JADI DUDA…!”

Tawa Danesh akhirnya lepas ketika melihat Rafi, Evan dan teman-temannya datang menghampiri dengan senyuman lebar di wajah mereka.

“Damn! Gue pikir ada apaan!”

*

Author’s Note: Halo! Ketemu lagi dengan saya.

Kali ini datang membawa Pengacara Duda Ganteng! Siap-siap bucin, hahaha…!

Terima kasih atas dukungan kalian pada Suami Warisan, pada Akang Narendra, Rengganis (dan Mahesa!)

Mari kita lanjutkan petualangan ini bersama dengan Danesh dan Katya!! Woohoo…!

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (1)
goodnovel comment avatar
Herni Widjaya
Tercium aroma kebucinan mamas danesh...ouchhh duda dudaaaaaa...setelah bucin sm akang fosil, skrg otw bucin sm duda. duhhhhh...mamak author emang paling jago urusan begini. terkapar mamak inihhh......
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Pengantin Pesanan   23 - Tamu di Pagar

    Pengantin Pesanan23 – Tamu di PagarDanesh terbangun sebelum alarm, dengan firasat buruk yang menekan dadanya seperti telapak tangan raksasa.Jam di ponselnya menunjukkan pukul 05.48. Dia nyaris tidak tidur, hanya tertidur-terbangun dalam potongan pendek yang dipenuhi gaun anggur di ambang pintu dan satu jari yang menyentuh bibirnya. Dia menyibakkan selimut, mengusap wajah, dan turun ke dapur untuk mengambil air, dengan satu-satunya niat membasuh pikiran yang masih berputar.Di meja makan ada selembar kertas.Tulisan Latin yang miring dan hati-hati, hasil menyalin dari layar. Terima kasih. Maaf.Danesh membacanya sekali, dan seluruh darah di tubuhnya turun ke kaki.Dia tidak ingat bagaimana dia sampai di pintu depan. Dia hanya ingat kaki telanjangnya menghantam lantai marmer, pintu terbanting terbuka, dan udara pagi yang dingin menampar wajahnya. Dari ujung halaman, di balik pagar dan lampu taman yang masih menyala, dia melihat sosok kecil berkardigan abu-abu berdiri di depan gerbang

  • Pengantin Pesanan   21 - Hasil Tes

    Pengantin Pesanan21 – Hasil TesDokter Riza datang pukul sembilan pagi dengan blus linen krem dan tas kulit yang sudah lusuh. Tidak ada jas putih, dan itu adalah hal pertama yang Danesh perhatikan dan hal pertama yang membuatnya sedikit lega.“Jas putih itu menakutkan,” katanya ketika menyadari arah tatapan Danesh, sambil menjabat tangannya dengan genggaman yang hangat dan singkat. “Terutama bagi orang yang pernah diperiksa tanpa persetujuannya.”Usianya sekitar empat puluh lima, rambut ikalnya pendek dengan uban yang tidak disembunyikan, suaranya rendah dan tenang seperti seseorang yang sudah terlalu sering menghadapi badai untuk panik di depan angin. Svetlana, yang sudah datang lebih awal dengan sekantong roti, menyapanya dengan anggukan sesama anggota satu barisan. Mereka rupanya sudah bertahun-tahun saling kenal lewat lembaga bantuan yang sama.“Dokter jiwa, Bos?” bisik Ucok di sisi Danesh dengan wajah serius. “Saya harus ngaku dosa dulu?”“Cok.” Danesh melirik Ucok dengan tatapa

  • Pengantin Pesanan   20 - Penerjemah

    Pengantin Pesanan20 – PenerjemahVan itu berhenti di depan gerbang dengan decitan ban yang membuat burung-burung di pohon kamboja beterbangan, dan Danesh sudah melompat turun sebelum Bromo sempat mematikan mesin.Taman belakang rumahnya sunyi dengan cara yang salah. Selang air masih mengalir di atas petak bunga yang mulai tergenang, gerobak dorong terguling di dekat pagar, dan dua topi caping tergeletak di rumput seperti dilemparkan terburu-buru. Pintu kecil di sisi tembok, yang seharusnya selalu dikunci dari dalam, terbuka setengah dan berayun pelan tertiup angin.“Bersih,” lapor Bromo setelah menyisir seluruh sudut taman dalam waktu yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya. Dia menunjuk sebuah termos di atas bangku batu. “Hangat.”Ucok menyentuhnya, mengendus, dan mengangguk dengan serius. “Teh, Bos. Pakai gula. Baru pergi, paling lama lima menit.” Dia mengangkat wajah dari termos yang baru saja dia hidu aromanya dan menatap pagar kosong dengan kekecewaan seorang pejuang yang ke

  • Pengantin Pesanan   19 - Daftar Gelap

    Pengantin Pesanan19 – Daftar GelapVan itu melaju membelah siang Jakarta yang terik, dan Danesh duduk di kursi tengah menatap telapak tangannya yang kosong, seakan kertas lecek tadi masih menempel di sana dan hanya perlu dilihat dengan cara yang tepat.“Jadi gitu,” katanya akhirnya. “Rafi kasih gue kertas. Isinya nama jalan di Kelapa Gading sama satu kata: Angel. Terus sipir ngambil kertasnya.”“Sipir yang senyumnya kayak sales asuransi, Bos?” tanya Ucok dari kursi depan sambil membuka laptop di pangkuannya.“Iya.”“Berarti kita punya masalah, Bos.”“Dua,” kata Bromo dari balik kemudi, tanpa menoleh.“Dua?”“Senyumnya. Sama kertasnya.”Ucok mengangguk-angguk, takjub pada kebijaksanaan rekan sekerjanya. Danesh memejamkan mata dan memijit pangkal hidungnya. Dia sempat membaca nama jalan itu sebelum kertasnya direnggut, sebuah jalan panjang di Kelapa Gading yang dipenuhi ratusan ruko dan rumah, dan menyebutkannya dengan suara yang terdengar lelah bahkan di telinganya sendiri.“Panjang b

  • Pengantin Pesanan   18 - Kunjungan Lapas

    Pengantin Pesanan18 – Kunjungan LapasBau pembersih lantai bercampur asap kretek dan keringat, itulah aroma yang menyambut Danesh setiap kali pintu besi lapas itu terbuka, dan entah kenapa hari ini baunya terasa lebih menusuk daripada biasanya.Di meja registrasi, Ucok berdiri dengan sekotak martabak telur di tangan dan senyum penuh persahabatan yang terlalu lebar untuk ukuran seorang tamu. “Buat Bapak-bapak yang jaga,” katanya pada sipir bertubuh gempal di balik kaca. “Uang rokok, Pak. Eh, maksud saya, silaturahmi.”“Cok.” Danesh menarik kerah belakang jaket asistennya. “Klien gue ditangkap KPK gara-gara yang namanya silaturahmi.”“Tapi ini martabak, Bos. Bukan amplop.”“Dingin,” kata Bromo dari belakang mereka, dan tidak jelas apakah dia menilai martabaknya atau suasana hati Danesh. Mereka berdua ditinggal di ruang tunggu sementara Danesh digiring melewati koridor panjang bercat hijau kusam, melewati tiga pintu besi yang masing-masing menutup di belakangnya dengan bunyi dentang yan

  • Pengantin Pesanan   17 - Paspor

    Pengantin Pesanan17 – PasporDanesh terbangun dengan leher yang terasa seperti dipatahkan, lalu dikembalikan ke tempatnya oleh tukang yang sedang buru-buru.Beberapa detik dia tidak tahu kenapa dia tidur di lantai, kemudian kejadian semalam memenuhi kepalanya satu per satu: jeritan, tangan yang terulur, tawa yang tidak dia sangka masih bisa dia dengar dari perempuan itu. Cahaya pagi menyusup lewat celah tirai. Di atas ranjang, Katya masih tidur dengan lutut ditarik ke dada, seperti anak kecil yang akhirnya diizinkan beristirahat, dan sebelah tangannya menggantung di tepi kasur, tepat di tempat jari-jari mereka tadi bertaut.Danesh menunduk, mencari map cokelat di pangkuannya, dan terdiam.Map itu tidak ada di pangkuannya. Map itu tergeletak di karpet di sampingnya, tertutup rapat, dengan semua lembar di dalamnya tersusun begitu rapi hingga ujung-ujungnya sejajar. Dia yakin dia tidak melakukannya. Dia membuka bagian atas map itu dan salinan paspor yang semalam dia lingkari dengan spid

  • Pengantin Pesanan   03 - Pengantin Pesanan

    PENGANTIN PESANAN03 – Pengantin Pesanan“Dunia ini enggak seluas daun kelor, Dan. Lo harus buka diri lo untuk kesempatan yang datang. Eksplor, man.” Rafi memulai presentasinya.Danesh berusaha mendengarkan Rafi, namun perhatiannya teralihkan o

  • Pengantin Pesanan   02 - Tawaran Sekali Seumur Hidup

    Pengantin Pesanan02 – Tawaran Sekali Seumur HidupPesta berlangsung meriah.Lingkaran koneksi Danesh yang kecil, namun terdiri dari para crazy rich dan orang yang punya jabatan mentereng itu berkumpul untuk merayakan status terbaru dari Pengacara

  • Pengantin Pesanan   0 - Prolog

    Pengantin Pesanan0 – PrologPerempuan bertubuh ramping dengan pinggang kecil itu mengerjapkan mata hijaunya; begitu jernih bagaikan air danau yang tenang namun menyimpan misteri.Hidungnya tinggi berpadu dengan bibir seksi yang mengundang untuk dikecup, l

  • Pengantin Pesanan   05 - Monster Sesungguhnya

    PENGANTIN PESANAN05 – Monster SesungguhnyaAkhirnya Katya terpilih juga.Perempuan itu tercengang tak percaya ketika diberitahu bahwa ada seseorang yang tertarik padanya.“Sayangnya bukan dari Amerika atau Inggris seperti yang kita harapkan.

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status