Mag-log inDimitri masih terduduk kaku. Cengkeraman jemarinya pada cangkir mengetat hingga buku-buku jarinya memutih. Foto ibunya, Elena Volkov, masih tergeletak di atas meja.Dimitri memejamkan matanya sejenak. Pria itu menghembuskan napas panjang secara perlahan, mencoba tenang."Kebohongan yang sangat luar biasa, Aira..." cela Dimitri. "Ternyata rasa takut akan dipenjara lima belas tahun membuat imajinasimu berkembang sangat liar."Dimitri terkekeh kencang."Baskara Ragendra? Elena Volkov? Sepupu?" ejek Dimitri, menggelengkan kepalanya heran. "Kamu membawa nama-nama itu hanya untuk membuat skenario palsu agar aku merasa bersalah? Sangat picik, Aira. Sangat picik."Aira tidak terpengaruh. Wajahnya tetap tenang, tanpa ada sedikit pun raut kemarahan. Ia terus menatap Dimitri seolah tak berkedip."Kamu bisa tertawa dan mengelak sesukamu, Dimitri," ucap Aira. "Tapi kamu tidak bisa menghapus kenyataan bahwa darah yang mengalir di dalam tubuhmu adalah darah yang sama dengan darah klan Ragendra."Dim
Sehari Sebelum PertemuanTok... Tok... Tok...Aira mendongakkan kepalanya pelan. "Masuk..."Cklek.Serafina melangkah masuk ke dalam kamar, memegang sebuah tablet."Bagaimana, Sera?" tanya Aira langsung. "Apakah kamu berhasil menemukan sesuatu?"Serafina mendekat, berlutut satu kaki di samping meja kecil tempat Aira bersandar."Kami berhasil menembus enkripsi catatan sipil di Eropa Timur, Nyonya Aira," tutur Serafina. "Penyelidikan independen ini kami lakukan sepenuhnya di luar sistem pelacak perusahaan Varmadeo Group, persis seperti perintah Nyonya."Aira menahan napas, dadanya berdebar kencang. "Katakan padaku... siapa sebenarnya Dimitri itu?"Serafina mengusap layar tabletnya, menampilkan salinan dokumen fisik berbahasa asing beserta lembaran foto tua yang telah dipindai secara digital."Identitas aslinya yang terdaftar di lembaga sipil Eropa adalah Dimitri Volkov," beber Serafina. "Dia sengaja menggunakan nama belakang dari keluarga ibu kandungnya."Aira berkerut. "Lalu?""Dimitri
Dimitri menghembuskan napas panjang secara perlahan. Pria itu bersandar ke kursi, lalu memaksa tersenyum licik."Bagus sekali, Bu Aira..." timpal Dimitri. "Ternyata Sir V bertindak sangat cepat. Menggunakan seluruh jaringannya untuk melacak masa lalu saya sampai ke Eropa Timur... luar biasa."Dimitri terkekeh, dengan pandangan meremehkan ke arah Aira."Ibu tidak perlu berakting seolah-olah Ibu yang menemukan semua ini," cibir Dimitri. "Ibu hanyalah wanita polos. Tanpa Adriel Varmadeo di belakang Ibu... Ibu tidak lebih dari seorang tersangka pencucian uang yang panik."Aira tetap bersikap tenang. Ia justru memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke arah Dimitri yang sedang berusaha keras menutupi kepanikannya."Adriel tidak tahu apa-apa tentang foto ini," tutur Aira.Deg!"Apa maksudmu?" potong Dimitri cepat. "Jangan membual! Siapa lagi yang punya kapasitas seperti ini kalau bukan tim Adriel Varmadeo?!""Adriel sedang bertarung mempertahankan pergerakan saham di kantor pusat," jawab
Dimitri duduk bersandar di kursi kayu ukir di meja sudut yang paling tersembunyi. Di atas meja kaca di hadapannya, sebuah espresso hitam masih menguapkan asap tipis.Dimitri menyunggingkan senyum ketika mendengar suara ketukan high heels yang teratur dari arah pintu depan kafe.Aira melangkah masuk. Ia menarik kursi ek tepat di seberang meja Dimitri, lalu mendudukinya dengan posisi punggung yang tegap.Dimitri menyandarkan punggung ke belakang, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari menatap Aira licik."Suatu pemandangan yang teramat menakjubkan, Bu Aira..." sapa Dimitri. "Ibu benar-benar membuktikan kata-kata Ibu. Menembus blokade keamanan dan melanggar aturan Tahanan Rumah demi menemui anak magang biasa seperti saya di kafe tua ini..."Aira tidak membalas. Ia hanya menatap lurus wajah Dimitri dengan tatapan yang amat dingin.Dimitri mengernyitkan dahinya. Perubahan drastis pada pembawaan wanita di hadapannya membuat matanya menyipit. Aira yang ada di depannya hari ini bukan
Suara deru halus dari penyejuk udara yang terpasang di langit-langit kamar Executive Suite di lantai tertinggi hotel mewah itu terdengar mengalun konstan.Dimitri melangkah keluar dari dalam kamar mandi dengan gerakan yang amat santai dan tenang. Ia melangkah pelan mendekati cermin raksasa dekat meja konsol, menatap pantulan dirinya sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke arah ranjang king-size di tengah ruangan.Di atas kasur itu, Valerie Collins masih terkapar lemas. Sudah tiga hari berturut-turut mereka terus bersama di dalam kamar hotel eksklusif ini. Dimitri menyunggingkan senyum tipis. Bagi Dimitri, Valerie tak lebih dari sekadar bidak catur yang sangat berguna. Dalam waktu singkat, ia berhasil memaksa wanita itu melucuti seluruh pakaiannya, hingga membocorkan seluruh kata sandi tanpa sadar."Kamu benar-benar sangat mudah dikendalikan, Bu Dosen..." bisik Dimitri sangat pelan, mengamati sosok Valerie yang tak berkutik di atas ranjang.Dimitri memutar tubuh, menghampiri meja kon
Aira masih terduduk lemas di lantai dekat tepi ranjang king-size. Wanita itu memeluk kedua lututnya sendiri. Matanya tampak begitu bengkak akibat menangis tanpa henti sepanjang malam.Di atas meja nakas, nampan berisi bubur dan susu hangat yang dikirimkan oleh Siti beberapa waktu lalu masih utuh. Selera makan Aira hilang oleh rasa takut akan ancaman penjara, kejamnya cacian netizen di internet, serta rasa bersalah yang teramat besar pada Adriel.Tok... Tok... Tok...Aira tidak bergerak. Ia hanya menyembunyikan wajahnya lebih dalam, tidak memiliki tenaga untuk menyapa siapa pun yang berdiri di luar.Cklek.Nora melangkah masuk ke dalam kamar. Di dalam dekapannya, si kecil EJ yang kini sudah menginjak usia sepuluh bulan tampak begitu menggemaskan. Bayi perempuan itu beraroma wangi minyak telon yang segar setelah mandi pagi."Nyonya Aira..." panggil Nora lembut.Aira seketika mendongakkan kepalanya."Ba... ba... Da!" celoteh si kecil EJ riang. Jemari mungilnya menepuk-nepuk bahu Nora saa
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta
Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pr
Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.“Bagaiman
Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.“Sela







