Share

Bab 3 Keluarga Varmadeo

Author: Dama Mei
last update publish date: 2026-01-22 12:24:40

Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.

Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenang

penghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.

Seorang pria flamboyan berusia sekitar tiga puluh, dengan pakaian serba hitam dan aksesori penuh kilau, langsung menghampirinya.

“Oh. My. God. INI dia calon nyonya Sir V!” serunya.

Aira tersentak, wajahnya memerah. “S-saya… bukan apa—”

Pria itu menepuk tangannya lembut. “Sayang, mulai hari ini kamu adalah pusat perhatian dunia. Jadi jangan minta maaf. Duduk. Kita akan membuatmu menjadi versi terbaik dirimu.”

Aira duduk perlahan di kursi rias. Sekitar enam orang langsung mengitarinya. Ada yang menata rambut, ada yang memeriksa kulit, ada yang mempersiapkan gaun luar biasa indah yang digantung di sisi ruangan.

Setelah satu jam riasan, rambutnya disusun dengan aksen kristal kecil. Gaun indah itu dipakaikan kepadanya dengan hati-hati oleh tiga orang.

Ketika semuanya selesai, si perias utama mencondongkan kepala dan memutar kursi Aira perlahan ke arah cermin raksasa di depan mereka.

Aira menahan napas. Dia melihat seorang wanita muda yang cantik, berkilau.

Itu bukan Aira yang ia kenal. Aira menutup mulut, air matanya hampir jatuh.

….

Aula pernikahan itu berdiri megah, dipenuhi lampu kristal raksasa yang memantulkan cahaya keemasan di seluruh ruangan. Musik klasik mengalun lembut, karpet merah terbentang panjang dari pintu masuk hingga panggung tengah.

Dan di ujung karpet itu, Aira berdiri seorang diri.

Ia menelan ludah, menunduk sedikit, lalu berjalan perlahan ke depan.

Semua tamu menatapnya. Ratusan mata. Para bangsawan, para pebisnis, keluarga terpandang,

para pemimpin institusi. Mereka melihat Aira, sebagian kagum, sebagian bingung, sebagian bahkan mengejek.

Bisikan-bisikan mulai terdengar.

“Dia… ini calon istri Sir V? Masih muda sekali.”

“Polos sekali.”

“Aneh, kenapa dia berjalan sendirian? Mana pengantin prianya?”

Aira mencoba mengatur napas. Ia menoleh sekilas ke sisi kiri aula. Ia melihat Adrian, Marissa, dan Bianca berdiri kaku. Tidak ada kebanggaan di wajah mereka. Yang ada hanyalah mata tajam penuh penilaian dan rasa tidak suka.

Aira menunduk dan mempercepat langkahnya.

Ia sampai di atas panggung, berdiri sendirian di altar yang sudah dihias bunga putih mahal. Namun pengantin pria tidak ada.

Waktu berjalan. Tiga puluh… hingga satu jam penuh. Dan tidak ada tanda-tanda Adriel Varmadeo akan masuk.

Gemuruh bisikan menggema di seluruh aula.

“Apa dia ditinggal sendirian?”

“Payah sekali keluarga Hartanto.”

“Mungkin Sir V tidak benar-benar mau menikah.”

“Kasihan gadis itu… ditinggal berdiri seperti pajangan.”

Beberapa wanita terkikik menutup mulut. Tamu pria menggeleng-geleng. Para keluarga bangsawan saling menatap, seperti menilai apakah acara ini sebuah penghinaan secara sengaja atau masalah internal.

Aira menggigit bibir, menahan rasa panas di mata. Ia berdiri tegap, meski jantungnya terasa retak di dalam.

Para tamu semakin gaduh. Beberapa bahkan berspekulasi keras.

Lalu tiba-tiba, Marcus naik ke panggung. Ia memberi isyarat agar musik dihentikan dan para tamu langsung diam.

“Hadirin sekalian,” Suaranya tegas dan bergema. “Dengan ini kami menyatakan bahwa acara telah selesai.”

Seluruh aula meledak dalam kegaduhan kecil.

“Apa? Sudah?”

“Bagaimana mungkin tidak ada pengantin pria?”

“Ini penghinaan atau apa?”

Marcus mengangkat tangan, menenangkan kerumunan. “Keluarga Varmadeo hanya ingin memperkenalkan Nona Aira Elenora Hartanto sebagai istri sah Tuan Varmadeo,” ungkapnya. “Upacara legal telah dilakukan terlebih dahulu secara privat.”

Marcus menunduk sedikit ke arah Aira, lalu memberi isyarat agar ia mundur. Dengan jantung yang terasa tidak stabil, Aira melangkah turun panggung. Ia mendengar tawa kecil, cibiran, dan bisikan kejam sepanjang jalan keluar aula.

Pesta pernikahan yang seharusnya sakral berubah menjadi pertunjukan aneh tanpa pengantin pria.

Para tamu mulai bubar dalam gelombang kehebohan, berbicara dengan nada tinggi dan penuh spekulasi. Namun, ketika keluarga Hartanto berbalik untuk pergi, dua pria security bersetelan hitam tiba-tiba menghalangi jalan mereka.

“Maaf, Tuan dan Nyonya Hartanto,” kata salah satu security. “Kalian diminta untuk tetap tinggal. Mohon ikuti kami.”

Dengan bingung, gelisah, dan sedikit takut, mereka mengikuti security ke salah satu koridor samping yang lebih sepi.

Mereka tiba di sebuah ruangan yang cukup besar. Marcus sudah menunggu di depan pintu dan meminta mereka masuk.

Di tengah ruangan tiga orang duduk dengan aura luar biasa kuat.

Leonidas Varmadeo, pria berusia sekitar enam puluh, ayah Sir V. Alexander Varmadeo, pria berusia empat puluhan, tampan, dingin, dan dialah kakak pertama Sir V. Catarina Varmadeo, kakak kedua, kecantikannya memukau, namun dinginnya membuat Marissa langsung merasa hina.

Keluarga Varmadeo ini begitu rupawan, begitu berkelas, begitu menakutkan, sampai keluarga Hartanto hanya bisa terpaku. Tak jauh dari mereka, di sisi lain ruangan, Aira duduk dengan wajah menunduk.

Adrian, Marissa, dan Bianca menatapnya dengan ekspresi terkejut. Tidak percaya gadis yang selama ini mereka anggap pembantu rupanya diberi tempat di ruangan seagung ini.

Marcus berdiri di depan mereka. “Keluarga Varmadeo menunggu untuk memberikan pernyataan setelah acara hari ini,” katanya.

Bianca mengedarkan pandangannya ke keluarga besar itu. Dan hampir gemetar melihat betapa menakutkan sekaligus rupawannya seluruh generasi Varmadeo.

Kalau keluarganya saja begini… bagaimana wajah Sir V aslinya? Ia menelan ludah.

“Te… terima kasih sudah mengundang kami…” Adrian mencoba menyapa.

Leonidas tidak menjawab, sementara Alexander hanya mengangguk kecil.

Hingga pintu di belakang Adrian terbuka. Marcus menoleh dan sedikit merendahkan kepala. Aira refleks menegakkan tubuh, jantungnya berdebar kencang.

Bianca menoleh ke belakang dan ternganga.

Seorang pria memasuki ruangan. Ia tinggi, tegap, berjas hitam yang membingkai tubuh atletisnya. Wajahnya nyaris terlalu rupawan untuk dipercaya. Dan tatapannya tertuju langsung pada Aira.

Bianca menutup mulutnya, hampir terpekik.

‘Itu… itu Sir V? Pria setampan ini… suami Aira?!’

Pria itu berdiri tegap di tengah ruangan.

“Perkenalkan,” ujarnya tanpa ekspresi. “Saya Adriel Varmadeo. Suami Aira Hartanto.”

Keluarga Hartanto tercengang. Tidak ada satu pun yang mengira bahwa pria yang gagal mereka temui di altar itu ternyata adalah pria paling tampan, paling berkuasa, dan paling menakutkan yang pernah mereka lihat dalam hidup mereka.

Dan Aira, si gadis polos yang selalu dilecehkan, dicaci, dan dianggap pembantu, sekarang duduk sebagai istri sah Adriel Varmadeo.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 95 Benih Keraguan

    Setelah malam yang penuh gairah sekaligus intimidasi di ruang kerja Adriel, Aira merasa seperti burung dalam sangkar emas yang setiap gerak-geriknya dipantau oleh mata-mata tak terlihat. Adriel sempat melarangnya ke kampus, namun setelah perdebatan panjang dan janji Aira untuk tidak menemui siapa pun, Adriel akhirnya luluh. Dengan satu syarat mutlak: pengawalan ketat.Kini, Aira berjalan menyusuri koridor kampus dengan perasaan tidak nyaman. Tiga pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam dan earpiece yang terpasang di telinga berjalan tepat dua langkah di belakangnya. Kehadiran mereka menarik perhatian setiap mahasiswa yang lewat. Bisik-bisik mulai terdengar, menciptakan dinding kecanggungan yang membuat Aira merasa terasing di tempat yang seharusnya menjadi dunianya.Saat sampai di depan pintu ruang kelas, Aira berhenti dan berbalik. Ia menatap ketiga pengawal itu dengan tatapan memohon."Tolong," bisik Aira. "Berhentilah membuntutiku sampai sedekat ini. Kalian membuat semua orang

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 94 Mimpi Buruk yang Nyata

    Di luar, hujan mulai turun membasahi kaca jendela besar, menciptakan rintik yang seolah mengisolasi mereka dari dunia luar.Aira masih terduduk lemas di atas sofa kulit besar berwarna cokelat gelap. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun seiring dengan gejolak emosi yang baru saja menghantamnya. Pengakuan Adriel tentang Guntur Ragendra terasa seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.Adriel yang masih berlutut di depan Aira, tidak melepaskan tatapannya sedikit pun. "Kamu dengar aku, kan, Aira?" Suara Adriel merendah, parau dan berbahaya. "Jangan pernah berpikir untuk menemui pria tua itu. Jangan pernah berpikir untuk mencari tahu lebih jauh tentangnya."Aira menatap Adriel dengan mata berkaca-kaca. "Tapi dia kakekku. Aku... aku hanya ingin tahu kenapa ibuku harus menderita sendirian sampai akhir hayatnya."Mendengar kata-kata itu, cengkeraman Adriel pada tangan Aira mengerat. Pria itu berdiri, namun alih-alih menjauh, ia justru merangkak naik ke atas sofa, memerangkap tubuh mungi

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 93 Cadangan Suksesi

    Deru mesin SUV hitam itu terdengar kasar saat memasuki area halaman Mansion Varmadeo. Marcus menghentikan kendaraan tepat di depan pintu utama dengan gerakan yang sangat terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak tegang, matanya terus memindai setiap sudut halaman seolah-olah musuh bisa muncul dari balik semak-semak hias.Belum sempat Marcus membukakan pintu, pintu utama mansion sudah terbuka lebih dulu. Adriel melangkah keluar dengan langkah lebar yang menunjukkan kegelisahan yang luar biasa."Aira!" seru Adriel.Begitu Aira turun dari mobil, Adriel langsung menariknya ke dalam dekapan yang sangat erat. Pelukan itu begitu kuat, seolah-olah Adriel sedang berusaha menyatukan tubuh Aira ke dalam tubuhnya sendiri agar tidak ada celah bagi siapa pun untuk mengambilnya. Aira bisa merasakan detak jantung Adri

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 92 Garis Keturunan yang Tersisa

    Di kediaman pribadi Leonidas Varmadeo, sebuah gedung bergaya kolonial yang lebih menyerupai museum daripada rumah tinggal, suasana tampak lebih mencekam dari biasanya. Para pengawal berbaju hitam berdiri dengan posisi siaga di setiap sudut koridor, seolah-olah mereka sedang menunggu kedatangan badai.Leonidas Varmadeo duduk di kursi kerjanya yang besar. Ia baru saja menyesap kopi hitam tanpa gula ketika asisten pribadinya masuk dengan langkah tergesa."Tuan Besar, tamu yang Anda tunggu telah tiba," lapor sang asisten dengan suara yang sedikit bergetar.Leonidas meletakkan cangkirnya perlahan. Ia merapikan setelan jasnya yang mahal, lalu berdiri. "Bawa dia ke ruang perpustakaan pribadi. Jangan biarkan ada satu pun staf yang mendekat ke area itu."Di pintu masuk mansion, s

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 91 Tatapan Sang Elang Tua

    Guntur Ragendra menatap keluar jendela dengan tangan yang bertumpu pada tongkat kayu eboni berkepala perak. Di sampingnya, Prabu duduk dengan sikap tegak, sesekali melirik jam tangan pintarnya untuk memastikan jadwal yang telah mereka susun."Kita sudah sampai di area kampus, Tuan Besar," bisik Prabu. "Menurut laporan, Nona Aira baru saja menyelesaikan kelas pertamanya dan biasanya akan menghabiskan waktu di taman tengah sebelum kelas berikutnya dimulai."Mobil itu berhenti di bahu jalan yang teduh oleh deretan pohon angsana, tepat menghadap ke arah taman kampus yang luas. Kaca film mobil yang sangat gelap memastikan bahwa orang dari luar tidak akan bisa melihat siapa yang berada di dalam, sementara dari dalam, Guntur memiliki pandangan yang sangat jelas ke arah kerumunan mahasiswa."Yang mana?" tanya Guntur, suaranya parau.Prabu menunjuk ke arah sebuah bangku taman di bawah pohon besar. "Di sana, Tuan Besar. Gadis yang mengenakan kemeja putih dengan rok plisket berwarna biru langit.

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 90 Gema yang Pulang

    Mesin helikopter yang menderu pelan akhirnya mati sepenuhnya saat mendarat di atas helipad pribadi gedung Varmadeo Tower. Sesaat kemudian, sebuah sedan hitam sudah menunggu untuk membawa pasangan itu kembali ke Menteng. Sepanjang perjalanan dari atap gedung menuju mansion, Adriel tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Aira. Kulit mereka yang sedikit lebih gelap karena terpapar matahari pulau tampak serasi saat bertautan.Begitu mobil memasuki gerbang besar Mansion Varmadeo, sosok Nora sudah berdiri di teras depan. Wajah wanita tua itu tampak jauh lebih cerah dari biasanya."Selamat datang kembali, Tuan, Nona Aira!" sapa Nora dengan bungkukan hormat yang diiringi senyum lebar.Aira turun dari mobil, menghirup aroma melati yang selalu tercium di halaman rumah ini. "Nora, aku merindukanmu," ucap Aira tulus, mendekat dan menyentuh lengan Nora.Nora menatap Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia menyadari ada yang berbeda. Aira tampak lebih bersinar, lebih percaya diri, dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status