LOGINSetelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.
Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.
Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.
“Bagaimana pertemuannya?” tanya Adrian.
Aira menarik napas pelan sebelum menjawab. “Mereka kira aku adalah Bianca,” jawabnya lirih.
“Apa?” Adrian tidak paham. Dia dan Marissa saling pandang.
Kini Aira mencoba mengangkat wajah dan menatap ayahnya. “Karena… namaku nggak ada di daftar anggota keluarga Hartanto. Yang mereka tahu, anak Papa cuman Bianca,” terang Aira hati-hati.
Bianca langsung berdiri dan melotot ke arah ayahnya. “Maksudnya apa, Pa? Jadi pria jelek kejam itu maunya sama aku? Aku nggak mau!” jeritnya.
Adrian menggigit bibir, sementara Marissa memejamkan mata demi menahan emosi. Ia tiba-tiba berjalan cepat ke arah Aira dan mencengkeram kedua bahu gadis itu.
“Dengar baik-baik, Aira,” geramnya. “Ini kesempatan terakhir kamu jadi orang berguna untuk keluarga Hartanto. Kalau sampai kamu buat malu, apalagi kalau sampai Sir V membatalkan pernikahan, habis kamu!”
….
Sementara itu, di sebuah mansion megah, dua pria tampak berbicara dengan serius.
“Jadi, apa perintah Anda selanjutnya?”
Pria itu, Sir V, menyandarkan tubuh ke kursi kulit, jari-jarinya mengetuk meja pelan. “Siapa dia
sebenarnya?”
Marcus, asistennya, membuka iPad lagi, menampilkan data yang sudah ia kumpulkan sebelumnya.
“Saya sudah menggali informasi tentangnya, Tuan.” Ia menggeser layar, memperlihatkan foto usang seorang wanita cantik. “Nama ibunya Elenora Yasmin.”
Sir V membuka mata sedikit lebih lebar.
“Elenora Yasmin, anak haram dari keluarga Ragendra, salah satu garis bangsawan tua dari wilayah Barat,” jelas Marcus. “Ditolak oleh keluarganya sendiri karena skandal kelahiran ilegal.”
Sir V menyilangkan tangan di dada. “Dan menikah dengan Adrian Hartanto…?”
“Bukan menikah karena cinta. Lebih seperti transaksi keluarga.” Marcus menatap layar. “Namun setelah kelahiran Aira, Elenora meninggal. Dari situ, Aira seolah dihapus.”
Sir V memutar cincin di jarinya, pikirannya bekerja cepat.
“Adrian Hartanto sengaja menyembunyikan putri pertamanya dari publik,” kata Marcus lagi. “Dan entah mengapa memaksanya datang dalam perjodohan dengan Anda. Apakah Anda ingin melanjutkan rencana awal dengan Bianca?” tanya Marcus hati-hati. “Atau menghentikan semuanya?
Sir V tidak langsung menanggapi, tangannya mengetuk meja sekali. Ekspresi dinginnya penuh perhitungan.
Akhirnya, ia bersuara, “Menarik.”
***
Keesokan harinya.
Di lantai tertinggi, ruangan Adrian Hartanto penuh dengan tumpukan berkas laporan merosotnya saham, surat kredit yang ditolak, dan email investor yang menarik diri satu per satu.
Adrian duduk dengan wajah kusam, kedua tangannya memijit pelipis ketika suara ketukan terdengar.
Adrian menegakkan tubuhnya cepat ketika pintu terbuka. Marcus berdiri di depan meja Adrian.
“Selamat pagi, Tuan Adrian,” sapanya datar.
Adrian mencoba tersenyum kecil. “Ah… Tuan Marcus. Silakan duduk.”
“Saya tidak akan lama,” jawab Marcus tanpa bergeser sedikit pun. “Saya datang membawa pesan langsung dari Sir V.”
Adrian menelan ludah.
Marcus membuka tablet hitamnya. “Sir V ingin menegaskan bahwa Anda telah membohongi dan menipu pihak beliau.”
Adrian langsung berdiri, panik. “Saya—saya tidak bermaksud! Saya hanya—situasinya mendesak. Dan Aira… dia—”
“Aira tidak ada dalam daftar keluarga Anda,” potong Marcus dingin. “Anda sengaja menyembunyikan identitasnya, dan memberikan calon yang tidak valid. Itu melanggar isi perjanjian awal.”
Adrian menghela napas berat. “Tuan Marcus, Bianca… belum siap menikah—”
“Ini bukan soal siapa yang ingin Anda lindungi.” Marcus menatap Adrian dingin. “Ini tentang fakta bahwa Anda telah melakukan kecurangan dalam kontrak bisnis dengan salah satu pria paling berbahaya di negeri ini.”
Adrian memucat seketika. Marcus kembali membuka tablet.
“Kedua,” lanjut Marcus, “Sir V bersedia tetap membantu perusahaan Anda.”
Adrian menghela napas lega. “Saya sangat berterima kasih—”
“Tetapi,” sambar Marcus, “bukan lagi dalam nilai penuh. Tuan Adriel hanya akan memberikan
70% dari kesepakatan awal.”
Adrian terpaku, wajahnya langsung diliputi kepanikan. “Tu—Tuan Marcus… itu tidak cukup! Dengan 70%, kami hanya bertahan beberapa bulan saja. Kami membutuhkan seluruh dana—”
“Sir V TIDAK peduli,” potong Marcus lagi, kali ini lebih tajam. “Beliau memberi Anda 70% karena Anda sudah melakukan kecurangan. Itu angka terbaik yang akan Anda dapatkan sebelum semuanya dihentikan total.”
Adrian meremas sisi meja. “A-apa tidak bisa didiskusikan lagi?”
Marcus mengangkat alis. “Tidak bisa.”
Adrian menyandarkan kepala pada tangannya. “Saya… saya akan bangkrut.”
Marcus menutup tablet. “Pilihannya sederhana, Tuan Adrian.” Ia melangkah lebih dekat. “Ambil 70% itu dan selamatkan perusahaan Anda… atau hilang sepenuhnya dalam waktu beberapa minggu.”
Adrian menatap Marcus dengan mata merah. “Baik… baiklah. Saya setuju.”
Marcus mengangguk kecil, seolah sudah memperkirakan jawaban itu.
“Tidak perlu pesta besar,” balas Marcus dingin. “Yang dibutuhkan hanya kehadiran mempelai dan tanda tangan hukum. Perjamuan adalah urusan Sir V.”
Adrian menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Dan calon mempelai perempuan… tetap Aira Elenora Hartanto.”
Gerbang besi raksasa itu terbuka dengan suara berat. Mobil hitam melaju pelan memasuki kawasan mansion yang begitu luas hingga Aira sulit melihat batasnya. Lampu-lampu taman memanjang sepanjang jalan setapak, menerangi pepohonan tinggi dan patung-patung marmer yang tampak seperti penjaga diam di tengah gelap.Saat mobil berhenti di depan pintu utama mansion, Aira terdiam.Marcus membukakan pintu untuknya, dan Aira mengangkat gaunnya sedikit dan turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang. Tanpa memeriksa apakah Aira bisa mengikuti langkah panjangnya.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris rapi.“Ini Nyonya Aira Varmadeo, istri sah Tuan Adriel,” ucap Marcus, berdiri di belakang Aira.Serentak seluruh staf membungkuk. “Selamat datang, Nyonya,” ucap mereka hampir bersamaan.Aira tersentak panik. “Oh—i… iya… te… te
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris rapi.“Ini Nyonya Aira Varmadeo, istri sah Tuan Adriel,” ucap Marcus, berdiri di belakang Aira.Serentak seluruh staf membungkuk. “Selamat datang, Nyonya,” ucap mereka hampir bersamaan.Aira tersentak panik. “Oh—i-iya, te-terima kasih…” Ia spontan membungkuk balik.Staf-staf itu tersenyum kecil melihat kecanggungan Aira. Tidak mengejek, justru tampak terharu.Aira menunduk lebih dalam lagi, wajahnya memanas. Namun dari barisan staf, seorang wanita paruh baya melangkah maju. Cara berdirinya menunjukkan bahwa dialah yang mengatur seluruh rumah besar ini.“Selamat datang, Nyonya,” katanya sambil membungkuk. “Nama saya Nora Santos, kepala staf rumah ini.”Aira menatapnya bingung. “Saya… Aira,”
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Tapi matanya mengikuti gerakan Aira ketika gadis itu berdiri perlahan dan berjalan ke kursi di sebelahnya.Aira duduk perlahan. Ia tidak berani menatap siapa pun, bahkan Adriel di sebelahnya.Leonidas mengangguk tipis, puas. “Setidaknya malam ini, saya bisa mengenal dengan jelas keluarga dari menantu saya.” Dia mengedarkan pandangan pada satu-persatu keluarga Hartanto.Adrian tersentak halus, buru-buru tersenyum kaku. “Tentu. Kami merasa terhormat bisa makanbersama keluarga besar Varmadeo.”“Adriel memang tidak ingin wajahnya dikenali publik.” timpal Alexander. Ia meneguk anggurnya. “Bisnis-bisnis yang kami jalankan tidak ramah di depan kamera.”Adrian mengangguk gelagapan, dan Marissa menaha
Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pria flamboyan berusia sekitar tiga puluh, dengan pakaian serba hitam dan aksesori penuh kilau, langsung menghampirinya.“Oh. My. God. INI dia calon nyonya Sir V!” serunya.Aira tersentak, wajahnya memerah. “S-saya… bukan apa—”Pria itu menepuk tangannya lembut. “Sayang, mulai hari ini kamu adalah pusat perhatian dunia. Jadi jangan minta maaf. Duduk. Kita akan membuatmu menjadi versi terbaik dirimu.”Aira duduk perlahan di kursi rias. Sekitar enam orang langsung mengitarinya. Ada yang menata rambut, ada yang memeriksa kulit, ada yang mempersiapkan gaun luar biasa indah yang digantung di sisi ruangan.Setelah satu jam riasan, rambutnya disusun dengan aksen kristal kecil. Gaun indah itu dipakaik
Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.“Bagaimana pertemuannya?” tanya Adrian.Aira menarik napas pelan sebelum menjawab. “Mereka kira aku adalah Bianca,” jawabnya lirih.“Apa?” Adrian tidak paham. Dia dan Marissa saling pandang.Kini Aira mencoba mengangkat wajah dan menatap ayahnya. “Karena… namaku nggak ada di daftar anggota keluarga Hartanto. Yang mereka tahu, anak Papa cuman Bianca,” terang Aira hati-hati.Bianca langsung berdiri dan melotot ke arah ayahnya. “Maksudnya apa, Pa? Jadi pria jelek kejam itu maunya sama aku? Aku nggak mau!” jeritnya.Adrian menggigit bibir, sementara Marissa memejamkan mata demi menahan emosi. Ia tiba-tiba berjalan cepat ke arah Aira dan mencengkeram kedua bahu gadis itu.“Dengar baik-baik, Aira,” geramny
Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.“Selamat siang, Nona Aira,” sapa sopir yang menjemputnya dengan sopan. “Perjalanan kita kurang lebih tiga puluh menit.”Aira mengangguk pelan, sambil meremas rok panjangnya agar tangannya berhenti gemetar.Mobil bergerak perlahan meninggalkan halaman. Sepanjang lima menit pertama, hanya suara mesin yang terdengar. Aira menatap keluar jendela, melihat rumahnya menjauh, kemudian menghilang.Dan mungkin terakhir kalinya dia melihat rumah itu.“Saya dengar, Anda akan bertemu Sir V,” tukas si sopir.Aira tersentak. “Y-ya…” suaranya hampir tak terdengar.Hari ini ia memang diperintahkan oleh sang ayah untuk bertemu dengan pria yang dipanggil Sir V, pria paling tersohor di negara ini. Katanya, Sir V aka







