Share

Bab 2 Pilihan Sederhana

Author: Dama Mei
last update publish date: 2026-01-22 12:24:04

Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.

Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.

Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.

“Bagaimana pertemuannya?” tanya Adrian.

Aira menarik napas pelan sebelum menjawab. “Mereka kira aku adalah Bianca,” jawabnya lirih.

“Apa?” Adrian tidak paham. Dia dan Marissa saling pandang.

Kini Aira mencoba mengangkat wajah dan menatap ayahnya. “Karena… namaku nggak ada di daftar anggota keluarga Hartanto. Yang mereka tahu, anak Papa cuman Bianca,” terang Aira hati-hati.

Bianca langsung berdiri dan melotot ke arah ayahnya. “Maksudnya apa, Pa? Jadi pria jelek kejam itu maunya sama aku? Aku nggak mau!” jeritnya.

Adrian menggigit bibir, sementara Marissa memejamkan mata demi menahan emosi. Ia tiba-tiba berjalan cepat ke arah Aira dan mencengkeram kedua bahu gadis itu.

“Dengar baik-baik, Aira,” geramnya. “Ini kesempatan terakhir kamu jadi orang berguna untuk keluarga Hartanto. Kalau sampai kamu buat malu, apalagi kalau sampai Sir V membatalkan pernikahan, habis kamu!”

….

Sementara itu, di sebuah mansion megah, dua pria tampak berbicara dengan serius.

“Jadi, apa perintah Anda selanjutnya?”

Pria itu, Sir V, menyandarkan tubuh ke kursi kulit, jari-jarinya mengetuk meja pelan. “Siapa dia

sebenarnya?”

Marcus, asistennya, membuka iPad lagi, menampilkan data yang sudah ia kumpulkan sebelumnya.

“Saya sudah menggali informasi tentangnya, Tuan.” Ia menggeser layar, memperlihatkan foto usang seorang wanita cantik. “Nama ibunya Elenora Yasmin.”

Sir V membuka mata sedikit lebih lebar.

“Elenora Yasmin, anak haram dari keluarga Ragendra, salah satu garis bangsawan tua dari wilayah Barat,” jelas Marcus. “Ditolak oleh keluarganya sendiri karena skandal kelahiran ilegal.”

Sir V menyilangkan tangan di dada. “Dan menikah dengan Adrian Hartanto…?”

“Bukan menikah karena cinta. Lebih seperti transaksi keluarga.” Marcus menatap layar. “Namun setelah kelahiran Aira, Elenora meninggal. Dari situ, Aira seolah dihapus.”

Sir V memutar cincin di jarinya, pikirannya bekerja cepat.

“Adrian Hartanto sengaja menyembunyikan putri pertamanya dari publik,” kata Marcus lagi. “Dan entah mengapa memaksanya datang dalam perjodohan dengan Anda. Apakah Anda ingin melanjutkan rencana awal dengan Bianca?” tanya Marcus hati-hati. “Atau menghentikan semuanya?

Sir V tidak langsung menanggapi, tangannya mengetuk meja sekali. Ekspresi dinginnya penuh perhitungan.

Akhirnya, ia bersuara, “Menarik.”

***

Keesokan harinya.

Di lantai tertinggi, ruangan Adrian Hartanto penuh dengan tumpukan berkas laporan merosotnya saham, surat kredit yang ditolak, dan email investor yang menarik diri satu per satu.

Adrian duduk dengan wajah kusam, kedua tangannya memijit pelipis ketika suara ketukan terdengar.

Adrian menegakkan tubuhnya cepat ketika pintu terbuka. Marcus berdiri di depan meja Adrian.

“Selamat pagi, Tuan Adrian,” sapanya datar.

Adrian mencoba tersenyum kecil. “Ah… Tuan Marcus. Silakan duduk.”

“Saya tidak akan lama,” jawab Marcus tanpa bergeser sedikit pun. “Saya datang membawa pesan langsung dari Sir V.”

Adrian menelan ludah.

Marcus membuka tablet hitamnya. “Sir V ingin menegaskan bahwa Anda telah membohongi dan menipu pihak beliau.”

Adrian langsung berdiri, panik. “Saya—saya tidak bermaksud! Saya hanya—situasinya mendesak. Dan Aira… dia—”

“Aira tidak ada dalam daftar keluarga Anda,” potong Marcus dingin. “Anda sengaja menyembunyikan identitasnya, dan memberikan calon yang tidak valid. Itu melanggar isi perjanjian awal.”

Adrian menghela napas berat. “Tuan Marcus, Bianca… belum siap menikah—”

“Ini bukan soal siapa yang ingin Anda lindungi.” Marcus menatap Adrian dingin. “Ini tentang fakta bahwa Anda telah melakukan kecurangan dalam kontrak bisnis dengan salah satu pria paling berbahaya di negeri ini.”

Adrian memucat seketika. Marcus kembali membuka tablet.

“Kedua,” lanjut Marcus, “Sir V bersedia tetap membantu perusahaan Anda.”

Adrian menghela napas lega. “Saya sangat berterima kasih—”

“Tetapi,” sambar Marcus, “bukan lagi dalam nilai penuh. Tuan Adriel hanya akan memberikan

70% dari kesepakatan awal.”

Adrian terpaku, wajahnya langsung diliputi kepanikan. “Tu—Tuan Marcus… itu tidak cukup! Dengan 70%, kami hanya bertahan beberapa bulan saja. Kami membutuhkan seluruh dana—”

“Sir V TIDAK peduli,” potong Marcus lagi, kali ini lebih tajam. “Beliau memberi Anda 70% karena Anda sudah melakukan kecurangan. Itu angka terbaik yang akan Anda dapatkan sebelum semuanya dihentikan total.”

Adrian meremas sisi meja. “A-apa tidak bisa didiskusikan lagi?”

Marcus mengangkat alis. “Tidak bisa.”

Adrian menyandarkan kepala pada tangannya. “Saya… saya akan bangkrut.”

Marcus menutup tablet. “Pilihannya sederhana, Tuan Adrian.” Ia melangkah lebih dekat. “Ambil 70% itu dan selamatkan perusahaan Anda… atau hilang sepenuhnya dalam waktu beberapa minggu.”

Adrian menatap Marcus dengan mata merah. “Baik… baiklah. Saya setuju.”

Marcus mengangguk kecil, seolah sudah memperkirakan jawaban itu.

“Tidak perlu pesta besar,” balas Marcus dingin. “Yang dibutuhkan hanya kehadiran mempelai dan tanda tangan hukum. Perjamuan adalah urusan Sir V.”

Adrian menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Dan calon mempelai perempuan… tetap Aira Elenora Hartanto.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 95 Benih Keraguan

    Setelah malam yang penuh gairah sekaligus intimidasi di ruang kerja Adriel, Aira merasa seperti burung dalam sangkar emas yang setiap gerak-geriknya dipantau oleh mata-mata tak terlihat. Adriel sempat melarangnya ke kampus, namun setelah perdebatan panjang dan janji Aira untuk tidak menemui siapa pun, Adriel akhirnya luluh. Dengan satu syarat mutlak: pengawalan ketat.Kini, Aira berjalan menyusuri koridor kampus dengan perasaan tidak nyaman. Tiga pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam dan earpiece yang terpasang di telinga berjalan tepat dua langkah di belakangnya. Kehadiran mereka menarik perhatian setiap mahasiswa yang lewat. Bisik-bisik mulai terdengar, menciptakan dinding kecanggungan yang membuat Aira merasa terasing di tempat yang seharusnya menjadi dunianya.Saat sampai di depan pintu ruang kelas, Aira berhenti dan berbalik. Ia menatap ketiga pengawal itu dengan tatapan memohon."Tolong," bisik Aira. "Berhentilah membuntutiku sampai sedekat ini. Kalian membuat semua orang

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 94 Mimpi Buruk yang Nyata

    Di luar, hujan mulai turun membasahi kaca jendela besar, menciptakan rintik yang seolah mengisolasi mereka dari dunia luar.Aira masih terduduk lemas di atas sofa kulit besar berwarna cokelat gelap. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun seiring dengan gejolak emosi yang baru saja menghantamnya. Pengakuan Adriel tentang Guntur Ragendra terasa seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.Adriel yang masih berlutut di depan Aira, tidak melepaskan tatapannya sedikit pun. "Kamu dengar aku, kan, Aira?" Suara Adriel merendah, parau dan berbahaya. "Jangan pernah berpikir untuk menemui pria tua itu. Jangan pernah berpikir untuk mencari tahu lebih jauh tentangnya."Aira menatap Adriel dengan mata berkaca-kaca. "Tapi dia kakekku. Aku... aku hanya ingin tahu kenapa ibuku harus menderita sendirian sampai akhir hayatnya."Mendengar kata-kata itu, cengkeraman Adriel pada tangan Aira mengerat. Pria itu berdiri, namun alih-alih menjauh, ia justru merangkak naik ke atas sofa, memerangkap tubuh mungi

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 93 Cadangan Suksesi

    Deru mesin SUV hitam itu terdengar kasar saat memasuki area halaman Mansion Varmadeo. Marcus menghentikan kendaraan tepat di depan pintu utama dengan gerakan yang sangat terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak tegang, matanya terus memindai setiap sudut halaman seolah-olah musuh bisa muncul dari balik semak-semak hias.Belum sempat Marcus membukakan pintu, pintu utama mansion sudah terbuka lebih dulu. Adriel melangkah keluar dengan langkah lebar yang menunjukkan kegelisahan yang luar biasa."Aira!" seru Adriel.Begitu Aira turun dari mobil, Adriel langsung menariknya ke dalam dekapan yang sangat erat. Pelukan itu begitu kuat, seolah-olah Adriel sedang berusaha menyatukan tubuh Aira ke dalam tubuhnya sendiri agar tidak ada celah bagi siapa pun untuk mengambilnya. Aira bisa merasakan detak jantung Adri

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 92 Garis Keturunan yang Tersisa

    Di kediaman pribadi Leonidas Varmadeo, sebuah gedung bergaya kolonial yang lebih menyerupai museum daripada rumah tinggal, suasana tampak lebih mencekam dari biasanya. Para pengawal berbaju hitam berdiri dengan posisi siaga di setiap sudut koridor, seolah-olah mereka sedang menunggu kedatangan badai.Leonidas Varmadeo duduk di kursi kerjanya yang besar. Ia baru saja menyesap kopi hitam tanpa gula ketika asisten pribadinya masuk dengan langkah tergesa."Tuan Besar, tamu yang Anda tunggu telah tiba," lapor sang asisten dengan suara yang sedikit bergetar.Leonidas meletakkan cangkirnya perlahan. Ia merapikan setelan jasnya yang mahal, lalu berdiri. "Bawa dia ke ruang perpustakaan pribadi. Jangan biarkan ada satu pun staf yang mendekat ke area itu."Di pintu masuk mansion, s

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 91 Tatapan Sang Elang Tua

    Guntur Ragendra menatap keluar jendela dengan tangan yang bertumpu pada tongkat kayu eboni berkepala perak. Di sampingnya, Prabu duduk dengan sikap tegak, sesekali melirik jam tangan pintarnya untuk memastikan jadwal yang telah mereka susun."Kita sudah sampai di area kampus, Tuan Besar," bisik Prabu. "Menurut laporan, Nona Aira baru saja menyelesaikan kelas pertamanya dan biasanya akan menghabiskan waktu di taman tengah sebelum kelas berikutnya dimulai."Mobil itu berhenti di bahu jalan yang teduh oleh deretan pohon angsana, tepat menghadap ke arah taman kampus yang luas. Kaca film mobil yang sangat gelap memastikan bahwa orang dari luar tidak akan bisa melihat siapa yang berada di dalam, sementara dari dalam, Guntur memiliki pandangan yang sangat jelas ke arah kerumunan mahasiswa."Yang mana?" tanya Guntur, suaranya parau.Prabu menunjuk ke arah sebuah bangku taman di bawah pohon besar. "Di sana, Tuan Besar. Gadis yang mengenakan kemeja putih dengan rok plisket berwarna biru langit.

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 90 Gema yang Pulang

    Mesin helikopter yang menderu pelan akhirnya mati sepenuhnya saat mendarat di atas helipad pribadi gedung Varmadeo Tower. Sesaat kemudian, sebuah sedan hitam sudah menunggu untuk membawa pasangan itu kembali ke Menteng. Sepanjang perjalanan dari atap gedung menuju mansion, Adriel tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Aira. Kulit mereka yang sedikit lebih gelap karena terpapar matahari pulau tampak serasi saat bertautan.Begitu mobil memasuki gerbang besar Mansion Varmadeo, sosok Nora sudah berdiri di teras depan. Wajah wanita tua itu tampak jauh lebih cerah dari biasanya."Selamat datang kembali, Tuan, Nona Aira!" sapa Nora dengan bungkukan hormat yang diiringi senyum lebar.Aira turun dari mobil, menghirup aroma melati yang selalu tercium di halaman rumah ini. "Nora, aku merindukanmu," ucap Aira tulus, mendekat dan menyentuh lengan Nora.Nora menatap Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia menyadari ada yang berbeda. Aira tampak lebih bersinar, lebih percaya diri, dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status