Masuk
Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.
Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.
“Selamat siang, Nona Aira,” sapa sopir yang menjemputnya dengan sopan. “Perjalanan kita kurang lebih tiga puluh menit.”
Aira mengangguk pelan, sambil meremas rok panjangnya agar tangannya berhenti gemetar.
Mobil bergerak perlahan meninggalkan halaman. Sepanjang lima menit pertama, hanya suara mesin yang terdengar. Aira menatap keluar jendela, melihat rumahnya menjauh, kemudian menghilang.
Dan mungkin terakhir kalinya dia melihat rumah itu.
“Saya dengar, Anda akan bertemu Sir V,” tukas si sopir.
Aira tersentak. “Y-ya…” suaranya hampir tak terdengar.
Hari ini ia memang diperintahkan oleh sang ayah untuk bertemu dengan pria yang dipanggil Sir V, pria paling tersohor di negara ini. Katanya, Sir V akan membantu perusahaan keluarga mereka agar tidak jatuh bangkrut, dengan syarat sebuah pernikahan.
Aira tak bisa menolak meski ingin. Percuma, suaranya tak akan pernah didengar.
“Maafkan saya, Nona, tapi izinkan saya memberi peringatan kecil.” Sopir itu tampak ragu sejenak. “Sir V itu… bukan lelaki biasa.”
Aira merasakan detak jantungnya meningkat.
“Katanya, dia pernah, melempar seorang direktur dari lantai enam gedung perusahaannya sendiri,” lanjut si sopir.
Aira langsung membeku. “A-apa, Pak? Me-melempar dari lantai enam?”
Sopir itu mengangguk berat, seakan tidak menyadari betapa pucat wajah Aira sekarang, ia melanjutkan, “Sir V pernah menghancurkan sebuah perusahaan rival dalam waktu 24 jam. Hanya sehari. Perusahaan itu berdiri selama 30 tahun lebih dan lenyap begitu saja.”
Aira merapat ke pintu mobil, seolah ingin melarikan diri. “Bagaimana… bagaimana bisa?” bisiknya gemetar.
“Bahkan pemerintah pun memilih tidak berurusan dengannya.”
Aira menggigit bibir hingga hampir berdarah. Tangannya gemetar luar biasa. Sebelumnya dia bisa tenang, namun kini Aira tahu kalau dia sengaja dikorbankan pada seorang monster.
Tak lama, Aira tiba di sebuah restoran mewah. Langkah kakinya terasa terlalu kecil untuk lantainya yang dilapisi marmer hitam mengilap. Seluruh area disulap menjadi sunyi, seakan restoran itu telah disewa hanya untuk pertemuan ini.
Seorang pelayan membukakan pintu ke ruangan paling belakang. “Silakan masuk, Nona.”
Aira menunduk sopan, jantungnya berdebar kencang. Setelah menelan ludah, ia masuk. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik pelan yang terasa seperti mengunci takdirnya.
Ruangan privat itu diterangi cahaya kuning redup. Di sana, tepat di ujung meja panjang duduk seorang pria berjas hitam yang rapi, posturnya tegap, wajahnya dingin. Matanya yang tajam langsung menatap Aira begitu ia melangkah masuk.
Aira terpaku. Dia pasti Sir V. Begitu pikirnya.
“Apakah kamu Bianca Hartanto?” tanyanya dengan suara rendah.
Aira tersentak kecil. Apakah Bianca yang seharusnya menikah dengan Sir V?
“Bukan… saya… saya Aira.”
Ruangan menjadi sunyi beberapa detik. Pria itu memiringkan kepalanya, menatap Aira dari ujung rambut ke ujung kaki. Ekspresinya tidak berubah, tetap datar dan tajam.
“Bukan Bianca?” ulangnya pelan.
Aira mengangguk cepat. “Y-ya… saya Aira.”
Pria itu tidak segera membalas. Ia menutup buku kecil yang tadi dibacanya, kemudian menyandarkan tubuh ke kursi. Lalu ia mengambil iPad dari meja.
“Aku menerima daftar lengkap anggota keluarga Hartanto,” katanya datar sambil menggulir layar. “Ada nama Adrian Hartanto. Ada Marissa Wijaya. Ada Bianca Hartanto.”
Aira menegakkan tubuh, tidak paham arah pembicaraan ini.
“Tapi tidak ada nama Aira.” Pria itu menunjukkan layar iPad ke arah Aira. “Namamu tidak muncul dalam silsilah keluarga yang dikirim keluarga Hartanto pada Sir V.”
Aira gemetar. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia memang tidak pernah dianggap, tapi bahkan tidak tercatat?
“Bagaimana bisa?” gumam pria itu. Kali ini tidak hanya bingung, tapi curiga.
Aira menggeleng perlahan. “Saya… saya sendiri tidak tahu, Tuan,” jawabnya gugup. “Saya… anak pertama dari Adrian Hartanto. Ibu saya… Elenora Yasmin. Beliau meninggal saat saya masih bayi.” Aira menggigit bibirnya.
Pria itu menatap Aira lama tanpa berkata apa pun. Ia akhirnya menutup iPad dengan bunyi klik pelan.
“Baiklah,” katanya. “Tapi kamu harus tahu, Sir V sangat benci kebohongan.”
Aira akhirnya mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. Berarti pria ini bukan Sir V?
“Saya… apa yang harus saya lakukan, Tuan…?” tanya Aira dengan suara bergetar.
Pria itu menghela napas. “Saya hanya asisten. Keputusan ada pada beliau.”
Di balik kaca pembatas anti-peluru, Dimitri menunduk, membiarkan air mata membasahi wajahnya yang tirus dan kasar. Kedua bahunya berguncang teramat hebat. Rantai borgol di pergelangan tangannya bergemerincing nyaring setiap kali ia menarik napas."Mama," isak Dimitri. "Maafkan aku. Maafkan aku."Wanita berwajah kaukasia itu, Helena, menempelkan kedua telapak tangannya yang keriput di atas permukaan kaca."Tidak, tidak ada yang perlu dimaafkan," tangis Helena. Ia menatap wajah putranya dengan kepedihan. "Mama yang salah. Mama yang seharusnya meminta maaf padamu, Dimitri. Mama tidak bisa melindungimu. Mama membiarkanmu menanggung dendam yang bukan milikmu."Dimitri menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia mendongak, menatap ibunya dengan mata merah."Aku meninggalkan Mama," racau Dimitri di sela isak tangisnya. "Aku mengabaikan panggilan telepon Mama. Aku nekad datang ke Jakarta demi mengejar pengakuan dari seorang kakek yang bahkan tidak pernah tahu aku hidup. Aku sangat bodoh. Aku mengor
Bibir Dimitri yang kering bergetar pelan, sebelum akhirnya sebuah tawa penuh kepahitan meledak. Rantai borgol di pergelangan tangannya bergemerincing sewaktu bahunya berguncang."Halo?" kekeh Dimitri dengan suara serak yang memuakkan, menatap Aira dengan kebencian. "Hanya itu? Setelah semua yang kamu dan suami iblismu itu lakukan padaku, kamu datang hanya untuk berbasa-basi?"Aira tidak terpancing. Ia duduk tenang. "Aku datang untuk melihat keadaanmu, Dimitri. Dan untuk menyelesaikan satu urusan terakhir yang masih mengikat kita berdua.""Menyelesaikan urusan?" potong Dimitri cepat. Matanya berkilat beringas. "Apalagi yang mau kamu selesaikan, Aira?! Apalagi yang mau kamu ambil dariku?! Rumah Menteng sudah jatuh ke tangan pesuruh itu! Seluruh harta Guntur sudah masuk ke kantongmu! Rekeningku dibekukan! Aku sudah membusuk di tempat jahanam ini! Apalagi yang kamu inginkan?!""Aku tidak pernah berniat mengambil apa pun yang bukan hakku. Semua yang terjadi padamu saat ini adalah hasil dar
Pagi yang cerah di awal bulan Desember terasa begitu hangat, setelah tiga bulan berlalu sejak badai besar mereda."EJ! Sayang, pelan-pelan larinya! Nanti kamu menabrak meja, Nak!" seru Aira, setengah berlari menyusuri lorong berlantai marmer.Si kecil EJ kini sudah genap berusia satu tahun. Ia tampak berlari lincah dengan kaki-kaki mungilnya. Balita cantik yang mengenakan gaun katun bermotif bunga matahari itu tertawa kegirangan, menoleh ke belakang untuk melihat ibunya yang kewalahan mengejar."Nona EJ! Ya ampun!" seru Nora yang ikut berlari kecil dari arah berlawanan, mencoba mencegat laju si balita.EJ memekik girang. Ia tiba-tiba berbelok tajam ke arah pintu kamar utama yang terbuka separuh, mencoba menghindari hadangan Nora.Namun, sebelum tubuh mungil itu berhasil menerobos masuk, Adriel sudah lebih dulu menangkapnya dari ambang pintu. Adriel mengangkat tubuh putrinya tinggi-tinggi ke udara, membuat EJ kembali tertawa yang nyaring."Mau lari ke mana jagoan kecil Papa, hm?" goda
Aira berdiri diam bersandar pada kusen pintu kaca balkon yang terbuka separuh. Ia membiarkan angin pagi membelai helai-helai rambut hitam panjangnya yang tergerai. Ia menatap jauh ke hamparan langit. Pagi ini, langit ibu kota tampak begitu cerah dan bersih, seolah badai yang sempat mengguncang telah disapu bersih tanpa menyisakan awan sedikit pun.Aira menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan.Klek.Suara putaran kenop pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan lamunan Aira. Ia memutar tubuhnya perlahan.Adriel melangkah keluar dari balik pintu kaca buram tersebut. Ia baru saja selesai mandi. Langkah kaki Adriel melambat saat matanya menangkap siluet sang istri.Aira berdiri di ambang balkon, bermandikan pendaran cahaya keemasan pagi yang membuat gaun satin gadingnya seolah bercahaya. Wajah cantik istrinya itu tampak begitu damai.Adriel mendekat tanpa bersuara.Aira tidak beranjak dari tempatnya. Ia hanya memiringkan kepala, menyunggingkan senyuman manis sewaktu melihat su
"Apa maksudmu jadwalku dibatalkan?!" jerit Dimitri. "Minggir! Singkirkan barikade itu sekarang juga!"Marcus tidak bergeser. Pria bertubuh raksasa itu hanya melipat kedua tangannya di belakang punggung, membiarkan air hujan menetes membasahi kemejanya."Berapa Adriel membayarmu, hah?!" gertak Dimitri. "Katakan padaku! Berapa nilai kesetiaanmu pada pria sombong itu?! Sepuluh miliar?! Dua puluh miliar?! Buka jalannya sekarang juga, dan aku akan mentransfer lima puluh miliar ke rekening pribadimu! Kau bisa pensiun dan hidup seperti raja!"Marcus perlahan memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyuman tipis yang mencemooh."Anda benar-benar tidak memahami cara kerja dunia ini, Tuan Dimitri," ucap Marcus. "Kesetiaan tidak memiliki harga. Dan terlebih lagi, dengan apa Anda akan membayar saya? Apakah dengan rekening cangkang Anda yang satu jam lalu telah dibekukan?"Dimitri tersentak. "K-Kau...""Simpan marah Anda, Tuan," potong Marcus tenang, melangkah mundur.Dari balik barikade tersebut,
Adriel duduk di balik meja kerjanya. Matanya fokus menatap layar ponsel.Di layar tersebut, tampak wajah Notaris Hendrawan dan Prabu yang masih berada di dalam ruang kerja kediaman Menteng."Laporan diterima, Prabu," timpal Adriel. "Apakah tikus kecil itu menyerangmu saat diusir?""Dimitri sempat mengamuk, Tuan Adriel," lapor Prabu. "Namun tim keamanan telah menyeretnya keluar."Adriel menyunggingkan sebuah senyuman tipis."Kerja yang sangat luar biasa, Prabu, Bapak Hendrawan," puji Adriel. "Ini adalah kehormatan bagi saya untuk menjaga rumah almarhum Tuan Besar, Tuan Adriel," sahut Prabu. "Saya hanya berharap Nyonya Aira bisa menemukan kedamaian setelah semua badai ini berlalu.""Akan saya pastikan istri saya mendapatkan kedamaian itu, Prabu," sahut Adriel. "Marcus akan mengirimkan satu kompi tambahan dari pasukan Varmadeo untuk berjaga di sana malam ini.""Siap, Tuan Adriel. Terima kasih banyak."Layar monitor mati setelah panggilan diakhiri.Adriel menarik napas perlahan, merapika
Uap hangat membubung tinggi di dalam kamar mandi mewah Presidential Suite tersebut. Bathtub marmer berukuran raksasa itu telah terisi penuh dengan air hangat yang beraroma essential oil mawar dan cendana. Di luar dinding kaca, lampu-lampu Jakarta masih berkedip.Aira duduk di pangkuan Adriel, pungg
Restoran privat itu berada di lantai paling atas, sengaja dipesan oleh Leonidas Varmadeo untuk bisa menghabiskan istirahat siang dengan makan siang bersama. Leonidas duduk di tengah, di sisi kanan ada Alexander. Sementara di sisi kiri, Catarina yang paling antusias dengan kebiasaan macam ini.“Kali
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris







