Share

Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam
Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam
Author: Dama Mei

Bab 1 Lebih Berguna

Author: Dama Mei
last update publish date: 2026-01-22 12:23:24

Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.

Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.

“Selamat siang, Nona Aira,” sapa sopir yang menjemputnya dengan sopan. “Perjalanan kita kurang lebih tiga puluh menit.”

Aira mengangguk pelan, sambil meremas rok panjangnya agar tangannya berhenti gemetar.

Mobil bergerak perlahan meninggalkan halaman. Sepanjang lima menit pertama, hanya suara mesin yang terdengar. Aira menatap keluar jendela, melihat rumahnya menjauh, kemudian menghilang.

Dan mungkin terakhir kalinya dia melihat rumah itu.

“Saya dengar, Anda akan bertemu Sir V,” tukas si sopir.

Aira tersentak. “Y-ya…” suaranya hampir tak terdengar.

Hari ini ia memang diperintahkan oleh sang ayah untuk bertemu dengan pria yang dipanggil Sir V, pria paling tersohor di negara ini. Katanya, Sir V akan membantu perusahaan keluarga mereka agar tidak jatuh bangkrut, dengan syarat sebuah pernikahan.

Aira tak bisa menolak meski ingin. Percuma, suaranya tak akan pernah didengar.

“Maafkan saya, Nona, tapi izinkan saya memberi peringatan kecil.” Sopir itu tampak ragu sejenak. “Sir V itu… bukan lelaki biasa.”

Aira merasakan detak jantungnya meningkat.

“Katanya, dia pernah, melempar seorang direktur dari lantai enam gedung perusahaannya sendiri,” lanjut si sopir.

Aira langsung membeku. “A-apa, Pak? Me-melempar dari lantai enam?”

Sopir itu mengangguk berat, seakan tidak menyadari betapa pucat wajah Aira sekarang, ia melanjutkan, “Sir V pernah menghancurkan sebuah perusahaan rival dalam waktu 24 jam. Hanya sehari. Perusahaan itu berdiri selama 30 tahun lebih dan lenyap begitu saja.”

Aira merapat ke pintu mobil, seolah ingin melarikan diri. “Bagaimana… bagaimana bisa?” bisiknya gemetar.

“Bahkan pemerintah pun memilih tidak berurusan dengannya.”

Aira menggigit bibir hingga hampir berdarah. Tangannya gemetar luar biasa. Sebelumnya dia bisa tenang, namun kini Aira tahu kalau dia sengaja dikorbankan pada seorang monster.

Tak lama, Aira tiba di sebuah restoran mewah. Langkah kakinya terasa terlalu kecil untuk lantainya yang dilapisi marmer hitam mengilap. Seluruh area disulap menjadi sunyi, seakan restoran itu telah disewa hanya untuk pertemuan ini.

Seorang pelayan membukakan pintu ke ruangan paling belakang. “Silakan masuk, Nona.”

Aira menunduk sopan, jantungnya berdebar kencang. Setelah menelan ludah, ia masuk. Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi klik pelan yang terasa seperti mengunci takdirnya.

Ruangan privat itu diterangi cahaya kuning redup. Di sana, tepat di ujung meja panjang duduk seorang pria berjas hitam yang rapi, posturnya tegap, wajahnya dingin. Matanya yang tajam langsung menatap Aira begitu ia melangkah masuk.

Aira terpaku. Dia pasti Sir V. Begitu pikirnya.

“Apakah kamu Bianca Hartanto?” tanyanya dengan suara rendah.

Aira tersentak kecil. Apakah Bianca yang seharusnya menikah dengan Sir V?

“Bukan… saya… saya Aira.”

Ruangan menjadi sunyi beberapa detik. Pria itu memiringkan kepalanya, menatap Aira dari ujung rambut ke ujung kaki. Ekspresinya tidak berubah, tetap datar dan tajam.

“Bukan Bianca?” ulangnya pelan.

Aira mengangguk cepat. “Y-ya… saya Aira.”

Pria itu tidak segera membalas. Ia menutup buku kecil yang tadi dibacanya, kemudian menyandarkan tubuh ke kursi. Lalu ia mengambil iPad dari meja.

“Aku menerima daftar lengkap anggota keluarga Hartanto,” katanya datar sambil menggulir layar. “Ada nama Adrian Hartanto. Ada Marissa Wijaya. Ada Bianca Hartanto.”

Aira menegakkan tubuh, tidak paham arah pembicaraan ini.

“Tapi tidak ada nama Aira.” Pria itu menunjukkan layar iPad ke arah Aira. “Namamu tidak muncul dalam silsilah keluarga yang dikirim keluarga Hartanto pada Sir V.”

Aira gemetar. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia memang tidak pernah dianggap, tapi bahkan tidak tercatat?

“Bagaimana bisa?” gumam pria itu. Kali ini tidak hanya bingung, tapi curiga.

Aira menggeleng perlahan. “Saya… saya sendiri tidak tahu, Tuan,” jawabnya gugup. “Saya… anak pertama dari Adrian Hartanto. Ibu saya… Elenora Yasmin. Beliau meninggal saat saya masih bayi.” Aira menggigit bibirnya.

Pria itu menatap Aira lama tanpa berkata apa pun. Ia akhirnya menutup iPad dengan bunyi klik pelan.

“Baiklah,” katanya. “Tapi kamu harus tahu, Sir V sangat benci kebohongan.”

Aira akhirnya mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. Berarti pria ini bukan Sir V?

“Saya… apa yang harus saya lakukan, Tuan…?” tanya Aira dengan suara bergetar.

Pria itu menghela napas. “Saya hanya asisten. Keputusan ada pada beliau.” 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 95 Benih Keraguan

    Setelah malam yang penuh gairah sekaligus intimidasi di ruang kerja Adriel, Aira merasa seperti burung dalam sangkar emas yang setiap gerak-geriknya dipantau oleh mata-mata tak terlihat. Adriel sempat melarangnya ke kampus, namun setelah perdebatan panjang dan janji Aira untuk tidak menemui siapa pun, Adriel akhirnya luluh. Dengan satu syarat mutlak: pengawalan ketat.Kini, Aira berjalan menyusuri koridor kampus dengan perasaan tidak nyaman. Tiga pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam dan earpiece yang terpasang di telinga berjalan tepat dua langkah di belakangnya. Kehadiran mereka menarik perhatian setiap mahasiswa yang lewat. Bisik-bisik mulai terdengar, menciptakan dinding kecanggungan yang membuat Aira merasa terasing di tempat yang seharusnya menjadi dunianya.Saat sampai di depan pintu ruang kelas, Aira berhenti dan berbalik. Ia menatap ketiga pengawal itu dengan tatapan memohon."Tolong," bisik Aira. "Berhentilah membuntutiku sampai sedekat ini. Kalian membuat semua orang

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 94 Mimpi Buruk yang Nyata

    Di luar, hujan mulai turun membasahi kaca jendela besar, menciptakan rintik yang seolah mengisolasi mereka dari dunia luar.Aira masih terduduk lemas di atas sofa kulit besar berwarna cokelat gelap. Napasnya masih tersengal, dadanya naik turun seiring dengan gejolak emosi yang baru saja menghantamnya. Pengakuan Adriel tentang Guntur Ragendra terasa seperti mimpi buruk yang menjadi nyata.Adriel yang masih berlutut di depan Aira, tidak melepaskan tatapannya sedikit pun. "Kamu dengar aku, kan, Aira?" Suara Adriel merendah, parau dan berbahaya. "Jangan pernah berpikir untuk menemui pria tua itu. Jangan pernah berpikir untuk mencari tahu lebih jauh tentangnya."Aira menatap Adriel dengan mata berkaca-kaca. "Tapi dia kakekku. Aku... aku hanya ingin tahu kenapa ibuku harus menderita sendirian sampai akhir hayatnya."Mendengar kata-kata itu, cengkeraman Adriel pada tangan Aira mengerat. Pria itu berdiri, namun alih-alih menjauh, ia justru merangkak naik ke atas sofa, memerangkap tubuh mungi

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 93 Cadangan Suksesi

    Deru mesin SUV hitam itu terdengar kasar saat memasuki area halaman Mansion Varmadeo. Marcus menghentikan kendaraan tepat di depan pintu utama dengan gerakan yang sangat terburu-buru. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak tegang, matanya terus memindai setiap sudut halaman seolah-olah musuh bisa muncul dari balik semak-semak hias.Belum sempat Marcus membukakan pintu, pintu utama mansion sudah terbuka lebih dulu. Adriel melangkah keluar dengan langkah lebar yang menunjukkan kegelisahan yang luar biasa."Aira!" seru Adriel.Begitu Aira turun dari mobil, Adriel langsung menariknya ke dalam dekapan yang sangat erat. Pelukan itu begitu kuat, seolah-olah Adriel sedang berusaha menyatukan tubuh Aira ke dalam tubuhnya sendiri agar tidak ada celah bagi siapa pun untuk mengambilnya. Aira bisa merasakan detak jantung Adri

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 92 Garis Keturunan yang Tersisa

    Di kediaman pribadi Leonidas Varmadeo, sebuah gedung bergaya kolonial yang lebih menyerupai museum daripada rumah tinggal, suasana tampak lebih mencekam dari biasanya. Para pengawal berbaju hitam berdiri dengan posisi siaga di setiap sudut koridor, seolah-olah mereka sedang menunggu kedatangan badai.Leonidas Varmadeo duduk di kursi kerjanya yang besar. Ia baru saja menyesap kopi hitam tanpa gula ketika asisten pribadinya masuk dengan langkah tergesa."Tuan Besar, tamu yang Anda tunggu telah tiba," lapor sang asisten dengan suara yang sedikit bergetar.Leonidas meletakkan cangkirnya perlahan. Ia merapikan setelan jasnya yang mahal, lalu berdiri. "Bawa dia ke ruang perpustakaan pribadi. Jangan biarkan ada satu pun staf yang mendekat ke area itu."Di pintu masuk mansion, s

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 91 Tatapan Sang Elang Tua

    Guntur Ragendra menatap keluar jendela dengan tangan yang bertumpu pada tongkat kayu eboni berkepala perak. Di sampingnya, Prabu duduk dengan sikap tegak, sesekali melirik jam tangan pintarnya untuk memastikan jadwal yang telah mereka susun."Kita sudah sampai di area kampus, Tuan Besar," bisik Prabu. "Menurut laporan, Nona Aira baru saja menyelesaikan kelas pertamanya dan biasanya akan menghabiskan waktu di taman tengah sebelum kelas berikutnya dimulai."Mobil itu berhenti di bahu jalan yang teduh oleh deretan pohon angsana, tepat menghadap ke arah taman kampus yang luas. Kaca film mobil yang sangat gelap memastikan bahwa orang dari luar tidak akan bisa melihat siapa yang berada di dalam, sementara dari dalam, Guntur memiliki pandangan yang sangat jelas ke arah kerumunan mahasiswa."Yang mana?" tanya Guntur, suaranya parau.Prabu menunjuk ke arah sebuah bangku taman di bawah pohon besar. "Di sana, Tuan Besar. Gadis yang mengenakan kemeja putih dengan rok plisket berwarna biru langit.

  • Pengantin Polos untuk Penguasa Kejam   Bab 90 Gema yang Pulang

    Mesin helikopter yang menderu pelan akhirnya mati sepenuhnya saat mendarat di atas helipad pribadi gedung Varmadeo Tower. Sesaat kemudian, sebuah sedan hitam sudah menunggu untuk membawa pasangan itu kembali ke Menteng. Sepanjang perjalanan dari atap gedung menuju mansion, Adriel tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Aira. Kulit mereka yang sedikit lebih gelap karena terpapar matahari pulau tampak serasi saat bertautan.Begitu mobil memasuki gerbang besar Mansion Varmadeo, sosok Nora sudah berdiri di teras depan. Wajah wanita tua itu tampak jauh lebih cerah dari biasanya."Selamat datang kembali, Tuan, Nona Aira!" sapa Nora dengan bungkukan hormat yang diiringi senyum lebar.Aira turun dari mobil, menghirup aroma melati yang selalu tercium di halaman rumah ini. "Nora, aku merindukanmu," ucap Aira tulus, mendekat dan menyentuh lengan Nora.Nora menatap Aira dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia menyadari ada yang berbeda. Aira tampak lebih bersinar, lebih percaya diri, dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status