LOGINPintu kaca terdorong pelan. Pak Kusuma melangkah masuk dengan terburu-buru. Valerie melepas kacamata hitamnya, menyandarkan punggung ke kursi dengan tatapan meremehkan."Selamat pagi, Pak Kusuma yang terhormat," sapa Valerie. "Bagaimana hasilnya? Apakah si tua Guntur Ragendra sudah jantungan menghadapi amarah seluruh dewan pembina?"Pak Kusuma tidak menjawab. Pria itu menarik kursi di hadapan Valerie dengan kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Tangannya yang agak gemetar meraih gelas air putih yang ada di meja dan meminumnya hingga kandas.Valerie menaikkan satu alisnya. "Ada apa dengan Anda, Pak Kusuma? Kenapa wajah Anda terlihat seperti baru saja melihat hantu?"Pak Kusuma menatap Valerie dengan pandangan mata yang dipenuhi kemarahan yang tertahan. "Permainan kita gagal," ucap Pak Kusuma."Apa?!" senyum di bibir Valerie seketika sirna. "Gagal bagaimana maksud Anda?! Bukankah dokumen itu sudah ada di tangan Anda?! Bukankah Anda dan para tetua sudah mengepung Guntur?!"Pak Kusuma
"Jawa Timur?!"Suara Guntur Ragendra melengking tinggi. Wajah tua yang tadinya memancarkan kehangatan itu seketika berubah merah padam.Brak!Guntur menghentakkan ujung tongkat kayunya dengan tenaga yang tak terduga. "Apa-apaan kamu ini, Aira?!" seru Guntur. "Kamu mau membawa cicit Kakek ke daerah terpencil di Jawa Timur?! Apa kamu sudah gila, Nak?! Di mana akal sehatmu?!"Prabu yang mendengar suara hentakan keras dan teriakan melengking sang tuan besar seketika berlari kencang karena mengira ada ancaman bahaya.Dengan napas terengah-engah dan mata menyapu sekeliling gazebo, Prabu langsung berdiri pasang badan di depan kursi roda Guntur."Tuan Besar! Ada apa?! Apakah ada bahaya?!" seru Prabu panik.Guntur mengibaskan tangannya kasar, napasnya naik-turun. "Mundur! Ini urusan Kakek dan cucunya!"Prabu tertegun. Ia melirik Aira yang duduk tenang di hadapan Guntur. "M-Mohon maaf, Tuan Besar. Saya pikir terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan Anda.""Tenang saja, Pak Prabu," tukas Aira
Mobil sedan hitam milik Guntur Ragendra perlahan memasuki gerbang besi tinggi mansion Adriel Varmadeo.Pintu penumpang belakang terbuka. Prabu dengan sigap turun terlebih dahulu, memutari mobil, lalu membuka pintu dan menyiapkan kursi roda untuk sang tuan besar. Guntur Ragendra perlahan memindahkan tubuh ke atas kursi roda, dan menggenggam kuat kepala perak tongkat kayunya.Di ambang pintu utama mansion, sosok Aira sudah berdiri menunggu. Wajahnya yang kemarin sempat pucat kini tampak jauh lebih segar."Kakek," sapa Aira lembut. Wanita muda itu mendekat, menyambut kedatangan sang kakek dengan senyuman tulus. Ia merendahkan tubuh untuk menyalami dan mencium punggung tangan Guntur penuh rasa hormat.Guntur mengulas senyum paling hangat yang dimilikinya. Jemarinya yang agak gemetar terulur mengelus lembut puncak kepala cucu kesayangannya. "Aira... Maafkan Kakek, ya. Kakek datang terlambat dari jam yang Kakek janjikan kemarin."Aira mengangguk pelan. "Tidak apa-apa, Kakek. Aira tahu Kakek
"Apa-apaan?" ulang Guntur dengan mata menyipit tajam. "Itu adalah laporan audit rahasia yang saya simpan selama lima tahun terakhir, Pak Hadi."Guntur menatap Pak Hadi tanpa kedip."Tahun 2021, kamu menyalahgunakan dana hibah pembangunan rumah sakit binaan yayasan di Surabaya sebesar dua belas miliar untuk menutup kerugian judi kasino milikmu di Singapura. Perlu saya sebutkan nama rekening penampungnya di Cayman Islands, Hadi?"Pak Hadi seketika terhenyak, peluh dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.Guntur mengalihkan pandangannya ke arah Pak Badri."Dan kamu, Badri. Dokumen di depanmu itu adalah bukti kepemilikan saham gelapmu di perusahaan cangkang yang menyuplai alat medis ke yayasan kita dengan harga tiga kali lipat lebih mahal. Kamu mengantongi komisi delapan miliar setiap tahun dari proyek tersebut. Apakah kamu mau saya menyerahkan bukti transaksi ini ke KPK pagi ini juga?"Pak Badri menelan ludah. Tangannya bergetar hebat hingga doku
Langkah kursi roda yang didorong oleh Prabu bergulir melintasi lantai marmer mengkilap di koridor utama lantai paling atas Kantor Pusat Yayasan Ragendra. Dua orang pengawal yang menyertai langkah Guntur berhenti di ambang pintu.Guntur Ragendra duduk tegap di atas kursi rodanya, dengan tongkat kayu berkepala perak di dalam genggaman tangan kanannya. Raut wajah tuanya tampak tenang.Brak!Prabu mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar tanpa mengetuknya terlebih dahulu.Sebuah meja jati oval raksasa dikelilingi oleh tujuh orang pria paruh baya dan lanjut usia yang mengenakan setelan jas mewah. Di meja masing-masing, tertumpuk lembaran kertas cetakan surel rahasia yang dikirimkan oleh Valerie beberapa jam yang lalu.Pak Kusuma satu-satunya yang berdiri di ujung meja. Wajahnya merah padam, memegang lembaran kertas di tangannya."Akhirnya Anda datang juga, Tuan Besar Guntur!" seru Pak Kusuma dengan suara nyaring. "Kami pikir Anda sengaja bersembunyi karena tidak sanggup memberikan pen
Di tengah ruang keluarga apartemen Dimitri yang temaram, Valerie Collins bersandar pasrah dalam posisi terlentang. Rambutnya berantakan di atas bantal sofa, sementara napasnya terengah pelan.Dimitri duduk bersandar di ujung sofa persis di dekat kepala Valerie. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan dada bidangnya yang kokoh.Tangan Dimitri yang panjang bergerak perlahan, menyusuri helai demi helai rambut Valerie yang terurai di atas pahanya.Valerie bergerak gelisah, mendongakkan kepalanya untuk menatap garis rahang Dimitri dari bawah."Kamu benar-benar sangat tidak punya rasa kasihan, Dimitri..." desah Valerie. "Kamu menguras seluruh tenagaku dari semalam... sampai subuh begini..."Dimitri tidak langsung berpaling. Pria itu hanya menyunggingkan senyuman tipis yang teramat memikat di sudut bibirnya. Ibu jarinya turun mengelus pipi Valerie yang terasa hangat."Bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya Dimitri. "Kamu sendiri yang memohon agar saya menghangatkanmu. Saya hanya memenuhi
Uap hangat membubung tinggi di dalam kamar mandi mewah Presidential Suite tersebut. Bathtub marmer berukuran raksasa itu telah terisi penuh dengan air hangat yang beraroma essential oil mawar dan cendana. Di luar dinding kaca, lampu-lampu Jakarta masih berkedip.Aira duduk di pangkuan Adriel, pungg
Restoran privat itu berada di lantai paling atas, sengaja dipesan oleh Leonidas Varmadeo untuk bisa menghabiskan istirahat siang dengan makan siang bersama. Leonidas duduk di tengah, di sisi kanan ada Alexander. Sementara di sisi kiri, Catarina yang paling antusias dengan kebiasaan macam ini.“Kali
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris







