MasukPukul satu siang, matahari Jakarta memancar terik menembus rimbunan pohon mahoni tua yang menaungi pelataran kediaman megah berarsitektur kolonial klasik milik klan Ragendra di kawasan Menteng. Ciiit!Suara cicitan ban mobil sedan hitam pecah di atas hamparan kerikil pelataran.Dimitri melangkah keluar dari kabin belakang. Di belakang Dimitri, dua orang pengacara dengan koper-koper kulit hitam membuntutinya dengan sigap.Dimitri merapikan kerah jas, menaiki anak tangga teras utama. Pria muda itu mendorong dua bilah pintu kayu jati raksasa di teras depan tanpa membunyikan bel.Dimitri menyunggingkan seringai sinis di sudut bibirnya. Ia melangkah mantap menuju ke arah ruang kerja utama—tempat di mana Guntur Ragendra biasa mengendalikan segalanya.Di dalam ruangan berdinding kayu ek yang dipenuhi rak-rak buku tua, tidak ada lagi sosok Guntur Ragendra di atas kursi rodanya.Namun di balik meja kerja milik almarhum Guntur, berdiri dua orang pria.Prabu berdiri kaku. Di samping Prabu, berd
Pukul delapan pagi, koridor utama Rumah Tahanan Pusat Polda Metro Jaya terasa begitu menegangkan. Derap langkah kaki yang teratur menggaung menembus keheningan koridor. Adriel Varmadeo melangkah di barisan depan. Di samping kirinya, Marcus berjalan siaga, sementara dua orang penasihat hukum Varmadeo Group membuntutinya dari belakang. Seorang sipir penjara melangkah terburu-buru membukakan pintu besi tebal menuju ruang kunjungan. "Silakan, Sir V," tukas sipir itu, menundukkan kepalanya sambil menarik bilah pintu. Adriel melangkah masuk ke ruangan berukuran lima kali empat meter tersebut. Di tengah ruangan berlantai semen itu, terdapat sebuah meja kayu yang memisahkan dua buah kursi besi. Di atas kursi besi seberang duduk Valerie Collins. Ia yang biasanya tampil begitu memesona dan angkuh, kini tampak hancur. Valerie mengenakan seragam tahanan berwarna oranye longgar yang tampak kusut. Wajah cantiknya pucat pasi, matanya sembap dan bengkak akibat air mata yang tak henti-h
Adriel melangkah keluar terlebih dahulu. Pria itu mengulurkan tangan ke dalam kabin mobil, menuntun Aira yang melangkah turun dengan tubuh lemas.Dua bilah pintu kayu jati raksasa lobi utama terbuka dari dalam.Nora melangkah terburu-buru menghampiri mereka dengan wajah yang dipenuhi cemas."Nyonya Aira, Tuan Adrie," sapa Nora, membungkukkan tubuhnya sedikit. "Saya dan seluruh staf mansion ikut berduka cita yang mendalam atas berpulangnya Tuan Besar Guntur."Aira menatap Nora, menyunggingkan senyum tipis. "Terima kasih banyak, Nora..."Adriel melirik Nora. "Bagaimana kondisi EJ selama kami di pemakaman, Nora?""Nona kecil sangat tenang, Tuan," jawab Nora. "Setelah minum susu tadi siang, Nona EJ langsung terlelap. Sama sekali tidak rewel."Adriel mengangguk, menepuk pelan bahu Nora. "Antar Aira ke kamar EJ. Biarkan Aira memeluk anaknya sejenak.""Baik, Tuan Adriel," sahut Nora patuh, mengekor di belakang langkah Adriel yang menuntun Aira menaiki anak tangga marmer menuju lantai dua.Ai
Sinar matahari pagi di kawasan tempat pemakaman umum elit Jakarta Selatan bersinar temaram, tertutup oleh hamparan awan kelabu yang menggantung rendah. Di atas lahan pemakaman keluarga Ragendra yang berumput hijau rapi, sebuah liang kubur baru telah digali.Prosesi pemakaman Guntur Ragendra berlangsung dalam suasana yang teramat khidmat, dan diliputi gelombang duka yang begitu pekat.Gundukan tanah merah yang masih basah ditutupi oleh hamparan kelopak bunga mawar merah dan melati putih. Di bagian atas gundukan tersebut, berdiri sebuah batu nisan marmer hitam berukir tinta emas bertuliskan nama lengkap sang penguasa tertinggi klan: Guntur Ragendra.Puluhan tokoh penting ibu kota—mulai dari pejabat tinggi kementerian, hingga jajaran taipan bisnis papan atas—berjejer di luar pekarangan makam dengan pakaian serba hitam. Mereka menundukkan kepala, memberikan penghormatan terakhir.Di barisan paling depan di tepi liang kubur, Aira Varmadeo berdiri mematung.Wanita muda itu mengenakan terusa
Di samping tempat tidur medis, Aira duduk dengn tangan kanannya meremas erat telapak tangan kiri Guntur yang terasa dingin. Wajah Aira pucat pasi, sementara matanya yang memerah tak henti-hentinya meneteskan air mata.Di atas brankar, Guntur terbaring tak berdaya. Sebuah masker transparan pengalir oksigen mengungkung separuh wajahnya yang dipenuhi garis keriput pucat. Selang infus dan kabel sensor detak jantung menempel di balik setelan, memperlihatkan grafik naik-turun yang amat sangat lemah pada layar indikator.Aira mendekatkan bibirnya di dekat telinga Guntur."Kakek," bisik Aira. "...ini Aira, Kakek. Aku sudah ada di samping Kakek sekarang..."Tidak ada jawaban. Hanya desis tipis mesin oksigen yang membalas.Aira meremas jemari sang kakek kian erat, mengusap telapak tangan dingin itu ke pipinya yang basah."Kakek harus bangun," ucap Aira. "Aku sudah kembali, Kakek. Aku membawa si kecil EJ. Si kecil EJ menanti Kakek di rumah. Kakek harus menimang cicit Kakek lagi."Air mata Aira m
"Kenapa harus aku yang menghancurkanmu?" timpal Adriel. "Aku sudah berhasil menyembunyikan anak dan istriku tanpa ketahuan. Tidak ada yang dirugikan."Adriel menyipitkan mata, menatap lurus mata Dimitri."Valerie Collins," lanjut Adriel pelan, menyeringai. "...kamu terlalu meremehkannya."Dahi Dimitri berkerut. Pria muda itu menghentikan cemoohannya, menatap Adriel dengan keheranan."Valerie?" ulang Dimitri. "Apa hubungannya wanita bodoh yang terobsesi padamu itu dengan masalah ini? Valerie hanyalah wanita murahan yang sudah berada di bawah kendaliku!"Dimitri mendekati Adriel. "Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan menggunakan nama wanita itu! Valerie yang menawarkan diri untuk membantuku, aku tidak pernah memaksanya!"Adriel Varmadeo tidak langsung membalas. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan santai."Jika kamu merasa posisimu begitu aman, jangan salahkan aku jika orang yang kamu anggap bodoh, justru menjadi orang pertama yang menghancurkanmu."Adriel
Uap hangat membubung tinggi di dalam kamar mandi mewah Presidential Suite tersebut. Bathtub marmer berukuran raksasa itu telah terisi penuh dengan air hangat yang beraroma essential oil mawar dan cendana. Di luar dinding kaca, lampu-lampu Jakarta masih berkedip.Aira duduk di pangkuan Adriel, pungg
Restoran privat itu berada di lantai paling atas, sengaja dipesan oleh Leonidas Varmadeo untuk bisa menghabiskan istirahat siang dengan makan siang bersama. Leonidas duduk di tengah, di sisi kanan ada Alexander. Sementara di sisi kiri, Catarina yang paling antusias dengan kebiasaan macam ini.“Kali
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris







