LOGINAdriel membopong tubuh Aira yang lemas, melangkah pelan menjauhi area pecahan kaca menuju tepi kasur king-size.Pria itu duduk di atas matras empuk, menarik Aira ke dalam pangkuannya, lalu melingkarkan kedua lengan kokohnya di sekeliling pinggang sang istri. Aira menyandarkan kepalanya yang terasa begitu pening di dada bidang Adriel, menghirup aroma maskulin suaminya yang teramat ia rindukan.Tangis Aira mulai mereda, berubah menjadi isakan-isakan kecil yang tergugu.Adriel dengan gerakan yang amat lembut mengusap air mata di pipi Aira. Jemarinya juga mengelus rahang istrinya."Masih sakit, Sayang?" tanya Adriel sangat pelan di dekat telinga Aira.Aira menggelengkan kepalanya pelan di dada Adriel. "Hatiku yang sakit.Aku kira kamu sudah tidak menginginkanku lagi."Adriel terpejam sejenak. Rasa bersalah menghantam ulu hatinya. Pria itu menunduk, mendaratkan kecupan hangat berulang kali di kening, pelipis, dan puncak kepala Aira."Maafkan aku... Maafkan aku, Aira..." tutur Adriel. "Aku p
Aira duduk terpaku di depan meja rias berbingkai ukiran emas. Jemarinya perlahan menggerakkan sisir kayu, merapikan helai demi helai rambut hitam panjangnya yang terurai. Matanya menatap lurus ke arah cermin besar di hadapannya.Melalui pantulan kaca cermin itu, pandangan Aira tertuju pada sosok Adriel yang duduk bersandar di atas kasur king-size.Pria itu menundukkan kepala, sibuk memindai dan menggeser layar iPad tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun ke arah Aira. Aira menghentikan gerakan. Ia menelan ludah, mengumpulkan keberanian untuk membuka percakapan."Adriel..." panggil Aira lirih.Adriel tidak mendongak. "Ada apa, Aira?" sahut Adriel dengan intonasi datar.Aira memutar tubuh perlahan, menatap suaminya dari kejauhan."Kakek... Kakek membujukku untuk pergi meninggalkan Jakarta untuk beberapa tahun. Beliau ingin aku dan EJ menetap di luar negeri demi keselamatan kami dari ancaman teror Dimitri."Aira menahan napas, menunggu reaksi atau setidaknya tatapan mata dari Adriel. Na
Di balik meja kerja kayu jati berukir raksasa, Guntur Ragendra duduk di atas kursi rodanya. Dimitri melangkah masuk ke tengah ruangan. Ia menatap lurus ke arah Kakek Guntur."Suatu kehormatan bisa berdiri di dalam ruang kerja megah tempat Anda mengendalikan takdir banyak orang, Tuan Besar Guntur Ragendra," sapa Dimitri dengan nada cemoohan yang jelas.Guntur menatap cucu laki-lakinya itu dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa bersalah."Dimitri..." panggil Guntur. "Kakek senang kamu mau masuk ke rumah ini, Nak... Tempat ini adalah rumahmu juga...""Rumah saya?" potong Dimitri cepat, menyunggingkan senyum getir. "Jangan membuat saya tertawa, Tuan Besar. Rumah saya adalah pemukiman dingin dan kumuh tempat saya dan ibu saya membusuk selama belasan tahun, sementara Anda menikmati kejayaan di sini."Guntur terhenyak. "Kakek sudah memohon maaf padamu, Nak. Kakek sungguh tidak tahu keberadaanmu dan Elena saat itu—""Dan Anda pikir maaf Anda bisa menghapus seluruh penderitaan ibu saya?!" poto
Dimitri berdiri tegap di atas lantai pelataran. Matanya menyapu arsitektur bangunan kolonial di hadapannya—sebuah rumah megah berarsitektur Jawa-Eropa yang selama belasan tahun hanya bisa ia lihat dalam bayangan cerita ibunya, Elena Volkov.Inilah tempatnya. Rumah tua Guntur Ragendra.Dimitri menyunggingkan senyum tipis. Pria itu membetulkan posisi kerah kemejanya, lalu melangkah tenang menaiki anak tangga marmer menuju pintu kayu jati raksasa.Namun, sebelum jari Dimitri menyentuh bel di samping ukiran pintu, pintu itu terbuka dari dalam.Sesosok wanita paruh baya berdiri memblokir ambang pintu.Wanita itu mengenakan kebaya Jawa klasik berwarna cokelat gelap yang teramat rapi. Rambut peraknya tersanggul ketat, membingkai wajah tirus berkerut yang sama sekali tidak ramah. Matanya tajam dan menatap Dimitri dari balik kacamata kecilnya dengan binar ketidaksukaan.Dialah Lastri—kepala pelayan senior keluarga Ragendra yang telah mengabdi lebih dari empat puluh tahun di mansion tersebut. W
Matahari siang memancarkan terik yang membakar aspal ibu kota, namun di dalam kamar Executive Suite lantai atas hotel bintang lima itu, aroma parfum mahal berpadu desau penyejuk udara.Di atas ranjang king-size bernuansa putih, Valerie Collins bersandar pasrah dalam dekapan Dimitri. Rambutnya berantakan di atas bantal, dan napas dosen cantik itu terengah-engah keras. Kulit mulusnya merona merah, sementara matanya terpejam dengan binar kepuasan."Dimitri..." desah Valerie, mengusap dada bidang pemuda yang berada di atasnya. "Kamu... kamu benar-benar pria yang mengerikan..."Dimitri tidak membalas desahan wanita itu. Jemari tangannya yang panjang meremas seprai sutra di bawah tubuhnya.Meskipun tengah menyalurkan hasrat di atas ranjang, pikiran Dimitri sama sekali tidak berada di sini.Skenario penghancuran nama Aira berjalan seratus persen sempurna. Penetapan status tersangka, cercaan media, hingga raut wajah Aira yang pucat pasi di samping Adriel sudah berhasil ia lihat. Kemenangan ha
"Aira... dengarkan Kakek secara bijak, Nak," tukas Guntur. "Adriel tidak mungkin ikut pergi meninggalkan Indonesia saat ini."Aira mendongakkan kepalanya, bingung. "Kenapa, Kek? Kenapa Adriel tidak bisa ikut bersamaku dan EJ? Bukankah kalau kita pergi, kita harus pergi bersama sebagai satu keluarga?"Guntur mengelus punggung tangan Aira."Adriel bukan sekadar suamimu, Aira. Dia adalah CEO Varmadeo Group," tegas Guntur. "Saat ini, posisinya memegang kendali penuh atas puluhan anak perusahaan, ribuan karyawan, dan pergerakan bursa saham yang sedang diguncang oleh aksi borong saham dari perusahaan gelap di belakang Dimitri.""Tapi Kakek, perusahaan itu punya banyak direksi! Ada tim hukum, ada Marcus!" seru Aira, matanya memerah menahan tangis. "Kenapa harus Adriel yang mengorbankan keberadaannya di sini?!""Karena Adriel adalah wajah utama dari klan Varmadeo saat ini, Aira!" jawab Guntur dengan tenang.Guntur menarik napas dalam-dalam."Jika Adriel tiba-tiba melepaskan jabatannya dan men
Uap hangat membubung tinggi di dalam kamar mandi mewah Presidential Suite tersebut. Bathtub marmer berukuran raksasa itu telah terisi penuh dengan air hangat yang beraroma essential oil mawar dan cendana. Di luar dinding kaca, lampu-lampu Jakarta masih berkedip.Aira duduk di pangkuan Adriel, pungg
Restoran privat itu berada di lantai paling atas, sengaja dipesan oleh Leonidas Varmadeo untuk bisa menghabiskan istirahat siang dengan makan siang bersama. Leonidas duduk di tengah, di sisi kanan ada Alexander. Sementara di sisi kiri, Catarina yang paling antusias dengan kebiasaan macam ini.“Kali
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris







