Mag-log inPria sepuh itu meremas dada kirinya. Wajah keriputnya mendadak berubah pucat pasi, diiringi suara desisan napas yang putus-putus."Khh... khh..." Guntur tersengal, hampir kehilangan kesadaran akibat lonjakan tekanan darah.Melihat kondisi majikannya yang mendadak kritis, Prabu yang sejak tadi berdiri mematung seketika menerjang maju dengan kecepatan luar biasa. Tanpa ragu, tangan Prabu mencengkeram kuat kerah kemeja Dimitri. Dengan satu dorongan bertenaga besar, Prabu menghempaskan Dimitri hingga punggung pria muda itu menabrak pilar dengan dentuman keras."Argh!" Dimitri meringis pelan, matanya membelalak kaget."Jaga mulutmu dan tahu diri, Dimitri!" bentak Prabu. Tangan Prabu kian mengetat di kerah kemeja Dimitri.Valerie yang berdiri di samping mereka menjerit kecil, mundur beberapa langkah. "Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan dia!"Dimitri berusaha mempertahankan senyum culas di bibirnya, meski napasnya sedikit tersendat akibat cengkeraman kuat di lehernya. Dimitri melirik tajam ke
Guntur Ragendra masih duduk di atas kursi rodanya di dekat jendela besar yang menghadap ke pelataran depan. Pria sepuh itu belum tertidur. Jemari tangannya mengelus kepala perak tongkat kayunya, sementara matanya menatap kosong ke arah kegelapan malam. Beban pikiran terkait ancaman yayasan, skandal Aira, serta kehadiran Dimitri yang penuh misteri berkumpul menjadi satu di dalam benaknya.Suara derit pintu depan yang terbuka memecah keheningan. Prabu melangkah masuk terlebih dahulu, disusul oleh derap sepatu hak tinggi yang nyaring.Guntur memutar kursi rodanya secara perlahan. Manik mata tuanya menyipit tajam sewaktu melihat sosok wanita yang dibawa masuk oleh Prabu."K-Kamu..." bisik Guntur.Wanita itu menghentikan langkahnya tepat di hadapan kursi roda Guntur."Selamat malam, Tuan Besar Guntur Ragendra," sapa wanita itu."Valerie Collins..." desis Guntur. "Untuk apa mantan tunangan Adriel Varmadeo datang ke rumahku tengah malam begini?!"Valerie terkekeh pelan. "Luar biasa. Daya ing
Langkah kaki Lastri terdengar begitu pelan saat memandu Dimitri menaiki anak tangga menuju lantai dua sayap timur mansion Ragendra.Lastri berhenti tepat di depan sebuah pintu berbahan kayu mahoni yang terukir indah. Dengan jemari tangan yang agak tremor, wanita tua itu mengeluarkan kunci berlapis kuningan, memutarnya dua kali.Lastri mendorong pintu tersebut perlahan, lalu berdiri menyamping sembari menundukkan kepalanya."I-Ini kamar utama sayap timur, Tuan Muda Dimitri..." tukas Lastri. "Seluruh ruangan sudah dibersihkan, dan sistem pendingin udara serta kamar mandi dalam sudah dipastikan berfungsi."Dimitri melangkah masuk. Sepasang mata keabuan milik pria muda itu menyapu sekeliling interior kamar beratap tinggi tersebut. Kamar bekas peninggalan almarhum ayahnya, Baskara Ragendra, memang luar biasa megah.Dimitri melangkah mendekati meja kerja kayu jati di sudut ruangan, meraba permukaannya yang mengilap. Seulas senyuman puas terukir tipis di bibirnya."Lumayan..." bisik Dimitri
Mobil berhenti tepat di depan tangga marmer teras utama. Prabu turun terlebih dahulu, memutari bodi mobil, lalu membukakan pintu belakang.Dimitri melangkah keluar. Sepasang matanya yang tajam menyapu setiap sudut pelataran mansion tua tersebut. "Mari, Tuan Muda Dimitri," ajak Prabu sopan sembari merentangkan tangannya mengarah ke pintu utama yang sudah terbuka lebar.Dimitri tidak menjawab. Pria itu menyunggingkan senyuman tipis yang sinis, melangkah santai menaiki anak tangga marmer.Di dalam ruang tamu utama beratap tinggi dengan lampu gantung kristal, Guntur Ragendra sudah duduk menanti di atas kursi rodanya. Seulas senyum terukir di bibir keriputnya sewaktu menyaksikan cucu laki-lakinya melangkah masuk.Di sisi kiri kursi roda Guntur, sosok Lastri berdiri kaku.Dimitri menghentikan langkahnya tepat tiga meter di hadapan Guntur, menyilangkan kedua tangan."Selamat datang di rumahmu, Dimitri," sapa Guntur. "Kakek sangat senang akhirnya kamu mau tinggal di rumah ini."Dimitri terke
Adriel memijat pelipisnya pelan. Pria yang biasanya mampu membuat para pebisnis papan atas gemetar hanya dengan satu tatapan mata itu kini menatap Serafina dengan raut wajah yang sulit diartikan.Adriel memutar pandangannya secara perlahan ke arah Marcus."Kamu asistenku sekaligus kepala pengamanan Varmadeo Group," ucap Adriel. "Jawab aku dengan jujur... apakah kamu pernah ke Ngawi?"Marcus berdehem kaku. Wajahnya kembali dibuat sedatar mungkin, namun sorot matanya yang kosong."Belum pernah, Tuan Adriel," sahut Marcus jujur dan lempeng. "Dalam pemetaan rute pengawalan kita selama sepuluh tahun terakhir, nama Kabupaten Ngawi bahkan tidak pernah masuk ke dalam peta navigasi."Adriel bersandar kembali ke kursi kulitnya, mendesah berat. "Lihat, Serafina. Marcus saja tidak pernah ke sana. Bagaimana bisa kamu mengirim istri dan anakku ke tempat yang bahkan tidak ada di dalam peta operasional tim utama kita?"Serafina tidak berkedip. Wanita itu melangkah maju, meletakkan dokumen merah di at
BAB 373Langkah kaki Marcus berderap konstan di atas marmer teras utama mansion Varmadeo. Pria berjas gelap itu membetulkan letak jam tangan mewahnya sebelum melangkah mendekati pintu utama. Namun, pergerakannya terhenti sewaktu melihat sosok wanita jangkung sedang berdiri mematung di samping pilar besar.Serafina berdiri sangat tegak dengan kedua tangan terlipat rapi di belakang punggung. Wajah cantiknya begitu datar, dingin, dan nyaris tanpa ekspresi bagaikan patung porselen.Marcus menghentikan langkahnya tepat di samping Serafina."Kamu datang lima menit terlalu awal," ujar Marcus datar, tanpa menoleh. "Setahuku, jadwal rapat dengan Tuan Adriel baru dimulai pukul empat sore."Serafina tidak menggerakkan kepalanya sedikit pun. Pandangan matanya tetap lurus menatap taman depan."Aku datang tujuh menit lebih awal, Marcus," sahut Serafina. "Empat menit lima puluh detik lebih cepat daripada kedatanganmu. Dalam efisiensi kerja, aku unggul tiga ratus persen darimu sore ini."Marcus menai
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta
Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pr
Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.“Bagaiman
Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.“Sela







