Mag-log in"Apa-apaan?" ulang Guntur dengan mata menyipit tajam. "Itu adalah laporan audit rahasia yang saya simpan selama lima tahun terakhir, Pak Hadi."Guntur menatap Pak Hadi tanpa kedip."Tahun 2021, kamu menyalahgunakan dana hibah pembangunan rumah sakit binaan yayasan di Surabaya sebesar dua belas miliar untuk menutup kerugian judi kasino milikmu di Singapura. Perlu saya sebutkan nama rekening penampungnya di Cayman Islands, Hadi?"Pak Hadi seketika terhenyak, peluh dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.Guntur mengalihkan pandangannya ke arah Pak Badri."Dan kamu, Badri. Dokumen di depanmu itu adalah bukti kepemilikan saham gelapmu di perusahaan cangkang yang menyuplai alat medis ke yayasan kita dengan harga tiga kali lipat lebih mahal. Kamu mengantongi komisi delapan miliar setiap tahun dari proyek tersebut. Apakah kamu mau saya menyerahkan bukti transaksi ini ke KPK pagi ini juga?"Pak Badri menelan ludah. Tangannya bergetar hebat hingga doku
Langkah kursi roda yang didorong oleh Prabu bergulir melintasi lantai marmer mengkilap di koridor utama lantai paling atas Kantor Pusat Yayasan Ragendra. Dua orang pengawal yang menyertai langkah Guntur berhenti di ambang pintu.Guntur Ragendra duduk tegap di atas kursi rodanya, dengan tongkat kayu berkepala perak di dalam genggaman tangan kanannya. Raut wajah tuanya tampak tenang.Brak!Prabu mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar tanpa mengetuknya terlebih dahulu.Sebuah meja jati oval raksasa dikelilingi oleh tujuh orang pria paruh baya dan lanjut usia yang mengenakan setelan jas mewah. Di meja masing-masing, tertumpuk lembaran kertas cetakan surel rahasia yang dikirimkan oleh Valerie beberapa jam yang lalu.Pak Kusuma satu-satunya yang berdiri di ujung meja. Wajahnya merah padam, memegang lembaran kertas di tangannya."Akhirnya Anda datang juga, Tuan Besar Guntur!" seru Pak Kusuma dengan suara nyaring. "Kami pikir Anda sengaja bersembunyi karena tidak sanggup memberikan pen
Di tengah ruang keluarga apartemen Dimitri yang temaram, Valerie Collins bersandar pasrah dalam posisi terlentang. Rambutnya berantakan di atas bantal sofa, sementara napasnya terengah pelan.Dimitri duduk bersandar di ujung sofa persis di dekat kepala Valerie. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan dada bidangnya yang kokoh.Tangan Dimitri yang panjang bergerak perlahan, menyusuri helai demi helai rambut Valerie yang terurai di atas pahanya.Valerie bergerak gelisah, mendongakkan kepalanya untuk menatap garis rahang Dimitri dari bawah."Kamu benar-benar sangat tidak punya rasa kasihan, Dimitri..." desah Valerie. "Kamu menguras seluruh tenagaku dari semalam... sampai subuh begini..."Dimitri tidak langsung berpaling. Pria itu hanya menyunggingkan senyuman tipis yang teramat memikat di sudut bibirnya. Ibu jarinya turun mengelus pipi Valerie yang terasa hangat."Bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya Dimitri. "Kamu sendiri yang memohon agar saya menghangatkanmu. Saya hanya memenuhi
Di ujung meja makan jati panjang yang terukir indah, Guntur Ragendra sedang duduk tenang di atas kursi rodanya. Pria sepuh yang menjadi penguasa tertinggi klan Ragendra itu mengenakan kemeja batik sutra berwarna gelap.Di dekat pintu ruang makan, sosok Lastri berdiri tegap dengan posisi kedua tangan terlipat kaku di depan tubuh. Kepala pelayan senior bersanggul rapi itu hadir memenuhi panggilan sang tuan besar.Guntur meletakkan cangkir, mengusap bibir dengan serbet kain, lalu mendongakkan kepala menatap wanita tua yang telah mengabdi puluhan tahun di kediamannya tersebut."Lastri," panggil Guntur.Lastri membungkukkan tubuhnya sedikit. "Iya, Tuan Besar Guntur. Ada instruksi yang mungkin Anda kehendaki?"Guntur berdehem. "Hari ini, suruh seluruh pelayan untuk segera membersihkan kamar tidur utama di sayap timur."Mendengar instruksi tersebut, Lastri seketika membeku. Kedua matanya membelalak lebar.Kamar tidur utama di sayap timur rumah tua itu bukanlah kamar biasa. Itu adalah kamar a
Aira menyandarkan kepalanya di dada bidang Adriel, melingkarkan kedua tangannya secara erat mengelilingi leher suaminya. Napasnya yang perlahan mulai teratur menghirup aroma khas maskulin yang melekat pada tubuh Adriel. Aroma yang selalu menjadi tempat paling menenangkan bagi jiwanya."Adriel..." bisik Aira lirih di dekat leher Adriel."Iya, Sayang?" sahut Adriel lembut. Pria itu menghentikan langkahnya sejenak tepat di ambang pintu kamar utama yang terbuka, menundukkan wajah untuk menatap mata istrinya."Jangan pernah lepaskan aku..." cicit Aira.Adriel menyunggingkan senyum tipis, mengecup kening Aira sebelum melangkah masuk dan menutup pintu kamar. "Tidak akan pernah, Aira. Tidak akan pernah ada satu orang pun yang kubiarkan membawamu pergi dari sisiku."Adriel berjalan mendekati ranjang di tengah ruangan. Dengan kelembutan, ia menurunkan tubuh istrinya di atas hamparan seprai sutra yang empuk. Setelah melepaskan kedua tangan Aira dari lehernya, Adriel hendak memutar tubuh untuk me
BAB 362Keheningan malam di lantai dua mansion terasa kian sunyi saat jarum jam dinding menunjuk ke angka dua dini hari. Adriel Varmadeo perlahan membuka mata. Pria itu menghembuskan napas panjang, mengulurkan telapak tangan besarnya ke sisi kasur untuk merengkuh tubuh istrinya.Namun, jemari Adriel hanya menyentuh lembaran seprai sutra yang sudah dingin dan kosong.Dahi Adriel seketika berkerut kencang. Rasa kantuknya mendadak sirna, berganti dengan rasa cemas. Adriel duduk, menyapu pandangan ke sekeliling kamar yang sepi. Aira tidak ada di sana.Dengan gerakan cepat, Adriel bangkit berdiri. Pria itu melangkah tanpa alas kaki keluar menembus pintu kamar utama menuju koridor lantai dua yang sunyi.Di ujung lorong yang remang, sayup-sayup terlihat garis cahaya kuning menerobos keluar dari celah pintu kamar bayi yang sedikit terbuka.Adriel menghentikan langkah. Pria itu berjalan mendekat, lalu mendorong pelan pintu kamar tersebut.Di dalam ruangan beraroma bayi yang menenangkan itu, ta
Aira masih duduk di kursi yang disediakan untuknya. Ia masih bisa merasakan tatapan tamu-tamu yang menertawakannya di aula tadi.“Aira, duduklah di sisi Adriel,” tukas Leonidas. Suaranya yang berat membuat Aira sedikit tersentak.Aira terbelalak kecil. Adriel menoleh sebentar, ekspresinya datar. Ta
Pagi itu Aira dibawa Marcus ke sebuah suite megah di hotel bintang lima. Di sana, tim perias terbaik negeri ini sudah menunggu.Aira terpaku. Ia mengenali mereka. Mereka adalah perias selebritas, desainer pemenangpenghargaan, dan hairstylist yang biasa muncul di acara penghargaan besar.Seorang pr
Setelah pertemuan singkat tapi menegangkan dengan asisten Sir V, Aira pulang.Berhadapan dengan asistennya saja sudah begitu menakutkan, apalagi Sir V langsung.Aira membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melihat Adrian duduk dengan wajah penuh tekanan. Marissa dan Bianca juga ada di sana.“Bagaiman
Di depan rumah, sebuah mobil hitam panjang dengan kaca gelap sudah menunggu. Marissa dan Bianca, ibu tiri dan saudari tiri Aira, memperhatikannya dari teras, seolah ini hiburan terbaik mereka dalam setahun terakhir.Sementara Aira menelan ludah, lalu membuka pintu mobil dengan tangan gemetar.“Sela







