MasukDi ambang pintu unit apartemen, Dimitri berdiri tegap. Wajah tampannya telah kembali tanpa ekspresi sedikit pun, seolah amukan yang dilontarkannya tadi tidak pernah terjadi.Di seberang ruangan, Valerie berdiri mematung di samping sofa kulit. Ia menatap Dimitri dengan cemas.Dimitri memutar tubuh, menatap Valerie."Aku harus pergi sebentar," ucap Dimitri.Valerie menelan ludah, melangkah mendekati meja tengah. "K-Kamu mau ke mana? Kenapa tidak menungguku sampai besok pagi?""Aku harus menemui dan berkoordinasi langsung dengan tim hukumku di luar—" Tiba-tiba Dimitri diam, menyunggingkan senyum dingin. "Kita harus merancang dokumen proteksi tambahan sebelum pihak Polda melayangkan surat pemanggilan resmi besok."Valerie menatap mata Dimitri, mencoba mencari kejujuran di balik binar dingin pria itu. Valerie menganggukkan kepalanya. "Baik, serahkan semuanya padaku. Jangan biarkan orang-orang tua dari yayasan itu merusak posisi kita."Dimitri menyunggingkan ssenyum. Pria itu melangkah maj
Valerie Collins berbaring menyamping di atas kasur. Kepala Valerie bersandar di atas lengan Dimitri, sementara salah satu tangannya melingkar di pinggang pria itu.Valerie mengelus pelan dada Dimitri yang sudah terbuka. Ia mendongakkan kepalanya sedikit, menatap garis rahang dan paras tampan blasteran milik pemuda di sampingnya."Dimitri," panggil Valerie.Dimitri tidak langsung berpaling. Tangannya mengusap helai-helai rambut Valerie secara teratur, namun tatapan matanya terasa teramat dingin."Hm?" sahut Dimitri.Valerie menyunggingkan senyum tipis, merapatkan wajahnya ke leher Dimitri untuk menghirup wangi cologne maskulin yang melekat di kulit pria itu."Kamu sungguh tidak sedang berbohong padaku, kan, Sayang?" bisik Valerie pelan. "Kamu janji kita akan menikmati seluruh hasil pengalihan aset itu bersama setelah situasi mereda?""Apakah setelah semua perlindungan yang kuberikan padamu, kamu masih meragukan kata-kataku?" balas Dimitri tanpa menoleh. "Aku sudah menyusun seluruh lang
Valerie berlari kecil mendekati Dimitri yang sedang berdiri bersedekap dada. Ekspresinya tampak mengeras. "Apa-apaan maksudmu? Kenapa kamu mengubah kode akses pintu apartemenmu tiba-tiba?" "Aku terpaksa melakukannya," sahut Valerie. "Kamu tahu betul bagaimana gencarnya tim Varmadeo Group mengintai pergerakan kita belakangan ini. Aku hanya ingin memastikan apartemenku tetap aman." "Benarkah?" Dimitri mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap lurus mata Valerie. "Atau kamu sengaja agar aku tidak bisa masuk, hm?" Jantung Valerie seketika berdegup kencang. Ia teringat email anonim yang diterimanya tadi pagi. Dokumen yang membocorkan bahwa Dimitri berniat melimpahkan seluruh tuduhan skandal lima puluh miliar rupiah kepadanya sebagai tersangka tunggal.Namun, Valerie dengan cepat menepis keraguan di hatinya. Ia melangkah lebih dekat, mengulurkan kedua tangan untuk mengusap pelan kemeja Dimitri."Kenapa kamu harus berpikir sejauh itu, Sayang?" bisik Valerie lembut. "Aku ini mil
Di dalam kabin belakang ambulans yang melaju kencang, Guntur Ragendra terbaring lemah di atas brankar. Sebuah masker oksigen mengungkung wajahnya yang pucat pasi bagaikan kertas. Beberapa kabel indikator detak jantung menempel di balik kemeja, menghubungkan tubuh itu ke layar monitor portabel yang memancarkan grafik detak nadi.Dua orang dokter spesialis jantung bersama satu perawat berjuang melakukan stabilisasi darurat di sepanjang jalan.Prabu duduk berlutut di kabin ambulans yang sempit, menggenggam tangan kiri Guntur yang terasa dingin. "Tuan Besar... bertahanlah, Tuan..." gumam Prabu. "Jangan tinggalkan kami dalam situasi seperti ini. Saya mohon, Tuan Besar."Dokter spesialis di sampingnya menatap layar monitor dengan raut tegang. "Tekanan darahnya terus merosot di bawah angka delapan puluh! Kita harus mengamankan sirkulasi darah ke otak sebelum tiba di rumah sakit!""Baik, Dokter!" sahut perawat cepat, menyuntikkan cairan obat ke dalam selang infus Guntur.Ciiit!Ban mobil amb
Di ruang makan utama yang beratap tinggi, Guntur Ragendra sedang duduk di atas kursi roda mewah dengan semangkuk bubur ayam hangat yang tersaji.Lastri berdiri bersedekap beberapa langkah di samping meja makan, bersiap melayani.Prabu melangkah masuk, dan Guntur menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Melirik Prabu dari sudut matanya.Prabu mendekat, membungkuk. "Tuan Besar Guntur. Ada hal yang gawat yang harus saya laporkan sekarang juga."Guntur meletakkan sendok ke atas mangkuk, menarik serbet dan mengusap bibirnya perlahan, lalu menatap Lastri."Lastri," panggil Guntur."Iya, Tuan Besar?" sahut Lastri seraya membungkuk hormat."Tinggalkan ruangan ini," perintah Guntur tenang, mengibaskan tangannya pelan. Lastri menelan ludahnya. "Baik, Tuan Besar."Dengan langkah cepat, Lastri mundur lalu menutup pintu ruang makan tersebut."Katakan, Prabu. Ada apa?"Prabu menarik napas dalam-dalam, mencoba mengontrol suaranya."Ini... ini mengenai situasi terbaru di Yayasan Ragendra, Tuan Besar!
Di teras belakang, Aira duduk sendirian. Tangannya meremas cangkir kosong di pangkuannya, sambil menatap jauh ke arah hamparan kebun hijau. Namun pandangannya tampak kosong.Pikiran Aira masih tertahan pada peristiwa kemarin sore di hotel, ketika Selena secara mengejutkan menolak ajakannya untuk tinggal bersama.“Aku ini wanita bermasalah yang punya masa lalu kelam bersama suamimu,”Kata-kata Selena terus menggaung di benak Aira. Aira menghembuskan napas panjang. Ia memahami betul bahwa penolakan Selena karena janji masa lalu yang dibuat Selena di hadapan Leonidas Varmadeo. Selena berjanji untuk tidak lagi mengusik rumah tangga Adriel dan Aira.Nora melangkah keluar dari arah pintu dapur sambil membawa nampan kecil."Nyonya Aira," sapa Nora begitu lembut. "Minum teh hangatnya dulu, Nyonya. Dari tadi subuh setelah menyusui EJ, Nyonya cuma duduk melamun di sini."Aira tersentak pelan. Ia memutar kepala, menyunggingkan senyuman tipis."Terima kasih ya, Nora," ucap Aira pelan, meraih cang
Uap hangat membubung tinggi di dalam kamar mandi mewah Presidential Suite tersebut. Bathtub marmer berukuran raksasa itu telah terisi penuh dengan air hangat yang beraroma essential oil mawar dan cendana. Di luar dinding kaca, lampu-lampu Jakarta masih berkedip.Aira duduk di pangkuan Adriel, pungg
Restoran privat itu berada di lantai paling atas, sengaja dipesan oleh Leonidas Varmadeo untuk bisa menghabiskan istirahat siang dengan makan siang bersama. Leonidas duduk di tengah, di sisi kanan ada Alexander. Sementara di sisi kiri, Catarina yang paling antusias dengan kebiasaan macam ini.“Kali
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat jendela-jendela besar mansion Varmadeo. Para staf sudah mulai bekerja sejak subuh. Namun ketika Nora hendak turun ke dapur, ia terperanjat melihat Aira ada di sana. Ia sedang mengiris bawang, lalu bergerak gesit memeriksa panci sup. Aira juga membuka ove
Aira mengangkat gaunnya sedikit ketika turun dari mobil. Sementara Adriel langsung berjalan tanpa melihat ke belakang.Aira mengikutinya dari jauh, takut mengganggu jarak yang entah mengapa terasa seperti batas tak tertulis. Begitu ia melangkah masuk ke foyer mansion, para staf rumah sudah berbaris







