Beranda / Fantasi / Pengantin Raja Malam / BAB 3 Gerbang yang Tak Pernah Terbuka

Share

BAB 3 Gerbang yang Tak Pernah Terbuka

Penulis: Ara Azzahra
last update Tanggal publikasi: 2026-07-01 13:24:00

Angin malam berubah semakin dingin. Selene masih terpaku di tempatnya, sementara dadanya naik turun dengan napas yang belum kembali teratur. Tenggorokannya masih terasa perih akibat cekikan beberapa menit lalu. Setiap kali ia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi, jantungnya kembali berdegup kencang. Seorang pria menggigit leher manusia. Mayat yang mengering dalam hitungan detik. Pria itu bermata merah seperti api, memiliki taring dan kata yang terus terngiang di kepalanya adalah Blood Moon.

"Aku pasti mengalami halusinasi..." ucapnya dalam hati mencoba menenangkan diri.

Namun bahkan pikirannya sendiri menolak mempercayai alasan itu. Halusinasi tidak meninggalkan bekas rasa sakit di leher. Halusinasi juga tidak membuat tanah dipenuhi bau darah yang begitu nyata hingga membuat perutnya mual. Ia menelan ludah, tangannya tanpa sadar meraba saku jaket, mencari ponselnya. Kosong, tidak ada benda apapun di sana. Ia baru ingat ponselnya terjatuh ketika pria bernama Eric itu mencekiknya.

"Aku..." gumamnya pelan.

"...boleh ambil tasku?"

Eric menoleh dan tatapan merah itu kini telah kembali menjadi hitam pekat. Andai Selene tidak melihatnya sendiri, ia mungkin akan mengira semua kejadian tadi hanyalah mimpi buruk.

Tanpa sepatah kata, Eric menganggukkan kepala. Selene berjalan pelan menuju tempat ranselnya terlempar. Setiap langkah terasa berat, ia tidak pernah membayangkan bahwa mengambil tas sendiri pun bisa terasa seperti berjalan di tengah ladang ranjau. Matanya sempat menangkap sosok lelaki yang telah menjadi mayat. Tubuh itu masih terbaring di tanah.  Seluruh tubuhnya pucat tak bergerak. Selene buru-buru memalingkan wajah. Perutnya kembali bergejolak. Ia pernah berada di ruang jenazah saat praktik kampus. Pernah membantu dosen forensik mengidentifikasi korban kecelakaan, namun mayat di hadapannya berbeda. Pria itu bukan meninggal karena kecelakaan.

Ia... dibunuh dengan cara yang mustahil dijelaskan ilmu kedokteran. Selene menggigit bibir bawah hingga nyaris berdarah.

"Jangan muntah...Jangan sekarang..."

Ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya lewat mulut. Setiap langkah ia ulang gerakan itu agar hatinya tenang. Teknik yang biasa diajarkan dosen psikologi saat seseorang mengalami kepanikan. Sedikit demi sedikit, jantungnya mulai melambat. Baru saja ia hendak meraih ranselnya, suara desir halus terdengar dari balik pepohonan.

Sret...

Eric mengangkat kepala. Ekspresinya yang sejak tadi datar berubah sedikit lebih tajam. Pria berambut perak yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka langsung mencabut pedangnya.

"Yang Mulia."

Suaranya rendah.

"Mereka menemukan kita."

Selene menoleh ke kanan dan kiri.

"Mereka?"

Tidak terdengar suara orang yang datang. Hanya suara angin yang mendesir, kabut dan kesunyian yang mendadak terasa menyesakkan, tapi tiba-tiba...

Tap.

Seseorang mendarat di atas dahan pohon. Disusul satu orang lagi kemudian yang terakhir. Dalam hitungan detik, tiga sosok berjubah hitam telah mengelilingi mereka dari atas. Selene spontan mundur. Jantungnya kembali berpacu.

"Mereka muncul dari mana?"

Tidak ada suara langkah. Tidak ada suara ranting patah Seolah mereka memang lahir dari kegelapan. Salah satu sosok bertopeng menundukkan kepala tipis kepada Eric.

"Salam hormat untuk Raja Malam."

Eric tidak membalas. Ia hanya menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi.

"Kami datang bukan untuk mencari masalah."

Suara sosok itu serak.

"Tapi kami hanya ingin membawa gadis itu."

Selene membeku.

"Aku?"

Refleks, ia melangkah mundur hingga tanpa sadar berdiri sedikit di belakang Eric. Begitu menyadari tindakannya, ia mengerutkan dahi sendiri.

"Kenapa aku malah berlindung di belakang orang yang tadi hampir membunuhku?"

Ironis memang, tapi... saat ini Eric adalah satu-satunya orang yang tampak mampu menghadapi makhluk-makhluk itu dan Selene pikir lebih baik berakhir ditangan Eric di bandingkan dengan ketiga makhluk itu.

Eric membuka mulut.

"Dia tidak ikut dengan kalian."

Hanya itu, jawaban yang sangat singkat. datar, tanpa emosi. Ketiga sosok berjubah itu langsung saling berpandangan.

"Yang Mulia..." salah satu dari mereka berkata hati-hati, "dia itu manusia."

"Aku tahu."

"Kalau begitu, biarkan kami menghapusnya."

Eric tetap diam beberapa detik, lalu menjawab singkat.

"Tidak."

Suara itu pelan. Tetapi cukup membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat. Selene menatap punggung pria itu. Entah kenapa, ia merasa pria ini tidak sedang membelanya melainkan sedang mempertahankan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum pahami.

Sosok bertopeng itu menggeleng.

"Maaf, Yang Mulia. Perintah kami berbeda."

Kalimat itu baru saja selesai dan tubuh ketiganya menghilang bersamaan. Mata Selene langsung membelalak melihat kejadian itu.

"Cepat sekali—"

Clang!

Suara benturan logam memekakkan telinga. Percikan api beterbangan di depan mereka. Eric entah sejak kapan sudah memegang pedang hitam panjang. Selene bahkan tidak melihat dari mana pedang itu berasal. Matanya berusaha mengikuti pergerakan mereka. Mustahil, mereka terlalu cepat. Yang terlihat hanya bayangan hitam yang saling bertabrakan di antara hujan dan kabut.

Trang!

Salah satu pohon pinus tumbang begitu saja. Selene terperanjat tanah di bawah kakinya ikut bergetar. Ia mundur beberapa langkah hingga tumitnya tersandung akar pohon.

"Akh!"

Tubuhnya oleng dan nyaris jatuh. Sebuah tangan mencengkeram lengannya tepat waktu. Itu adalah tangan pria berambut perak.

"Hati-hati."

Selene mengangguk cepat.

"Terima kasih."

Ia mencoba berdiri tegak lagi dengan tangan yang gemetar. Seluruh tubuhnya terasa dingin. Ia ingin lari, sungguh. Naluri bertahan hidupnya berteriak agar segera meninggalkan tempat ini, tapi  kalau dia ingin lari mau lari ke mana?

Makhluk-makhluk itu bisa berpindah puluhan meter hanya dalam sekejap. Kalau Eric saja sedang bertarung habis-habisan. Apa yang bisa dilakukan manusia biasa sepertinya?

Suara benturan kembali menggema.

BRAK!

Salah satu sosok bertopeng terpental menghantam batu besar hingga batu itu retak. Selene tanpa sadar menutup mulut.

"Itu... bukan kekuatan manusia..."

Ia merasakan kedua lututnya mulai lemas. Napasnya memburu, pandangannya sedikit berkunang.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya pria berambut perak.

Selene menggeleng pelan.

"Sebenarnya..."

Ia berusaha tersenyum, meski bibirnya gemetar.

"...tidak juga."

Kejujuran itu keluar begitu saja.

"Aku takut."

Kalimat itu begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh suara angin. Pria berambut perak menatapnya sekilas. Lalu, untuk pertama kalinya, raut wajahnya sedikit melunak.

"Berdirilah di belakangku."

Selene mengangguk. Ia benar-benar melakukannya. Bukan karena merasa aman, tetapi karena ia sadar malam ini, ia bukan lagi berada di dunia yang dikenalnya dan di dunia yang asing seperti ini kesombongan hanya akan mempercepat kematian.

---

Di kejauhan, Eric mengayunkan pedangnya sekali, hanya sekali. Gelombang energi hitam menyapu tanah, memaksa ketiga penyerang mundur beberapa meter. Kabut di sekitar mereka berputar hebat. Salah satu sosok bertopeng memegang dadanya.

"Mustahil...Kekuatan Raja Malam...Masih sebesar ini."

Eric menurunkan pedangnya perlahan, tatapannya dingin.

"Aku sudah memberi kesempatan untuk pergi."

Sosok itu tertawa pelan.

"Kalau kami pulang tanpa Blood Moon, yang mati bukan kami saja."

Mendengar nama itu lagi, Selene mengangkat kepala.

"Blood Moon...Apa sebenarnya itu?"

Ia hendak bertanya, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Karena malam itu ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Di balik pepohonan, di antara kabut. Puluhan... tidak. Mungkin ratusan pasang mata merah mulai menyala dalam gelap. Mereka, tidak sendirian.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Raja Malam   Bab 9 Alpha dan Luna

    Selene tidak mampu bergerak. Jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya berdenging.“A-apa...?”Suaranya hampir tidak terdengar. Ia menatap makhluk di hadapannya, lalu perlahan mengangkat wajah. Puluhan pasang mata menatapnya. Para vampire, bangsawan, penjaga, semuanya.Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Kastel Noctis, Selene berharap dirinya bisa bangun dari mimpi buruk.Sayangnya...Ini nyata.“Lucien.”Suara Eric terdengar rendah. Lucien langsung maju.“Yang Mulia.”“Bawa Selene ke belakangku.”Lucien mengangguk, namun sebelum ia sempat bergerak, suara lain terdengar dari sisi aula.“Jangan coba-coba.”Semua kepala menoleh.Kael berdiri di antara para werewolf. Ia berbeda dari yang lain. Tidak ada perubahan bentuk mengerikan pada tubuhnya. Ia masih tampak seperti seorang pria tampan, tinggi, dengan rambut hitam yang sedikit berantakan. Tatapan matanya berwarna emas terang, seperti binatang yang sedang mengamati mangsanya tetapi yang membuat Selene semakin takut bukan p

  • Pengantin Raja Malam   BAB 8 Bulan Darah

    Tidak ada seorang pun yang bergerak. Bahkan suara napas pun seolah menghilang dari aula. Selene berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat, menatap bulan di balik jendela besar. Bulan yang beberapa menit lalu berwarna putih keperakan kini berubah merah. Bukan merah samar.Merah pekat seperti darah.Cahaya merah itu menembus kaca dan jatuh tepat ke tubuh Selene. Lambang di lehernya menyala semakin terang.Deg.Selene tersentak.Rasa panas menjalar dari leher ke seluruh tubuhnya."Akh..."Tangannya mencengkeram sisi gaunnya.Eric langsung berdiri."Selene."Itu pertama kalinya suaranya terdengar berbeda. Bukan dengan nada dingin. Bukan juga ketenangan. Ada urgensi di sana.Selene mengangkat wajah."Aku..."Napasnya tersengal."Kenapa tubuhku panas?"Eric bergerak turun dari tempatnya, namun sebelum ia sempat mendekat, seorang bangsawan berdiri."Jangan sentuh dia!"Eric berhenti.Pria itu menunjuk Selene dengan wajah penuh ketakutan."Blood Moon telah bangkit!"Bisikan kembali terdeng

  • Pengantin Raja Malam   BAB 7 Dia Kembali

    Selene masih berdiri di depan cermin.Tubuhnya kaku.Tangannya mencengkeram ujung gaun tidur yang diberikan pelayan beberapa jam lalu. Suara perempuan itu masih bergema di kepalanya.Kau akhirnya kembali."Aku..."Selene menelan ludah."...tidak pernah ke sini sebelumnya."Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah pucat, mata sedikit sembap dan rambut berantakan. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Namun kalimat itu terlalu nyata untuk disebut mimpi.Selene mendekati cermin. Ia menyentuh permukaannya. Rasanya dingin, sangat dingin."Kalau aku benar-benar pernah datang ke sini..."Ia mengerutkan dahi."Kenapa aku tidak ingat?"Tidak ada jawaban.Lambang di lehernya tiba-tiba berdenyut.Deg.Selene tersentak dan langsung menarik tangannya."Astaga..."Ia menutup leher dengan telapak tangan."Apa sebenarnya kamu ini?"Untuk pertama kalinya, ia berbicara kepada tanda itu seolah tanda tersebut bisa menjawab.Tentu saja tidak.Selene mengembuskan napas."Oke."Ia berjalan menjauh dari cermin.

  • Pengantin Raja Malam   BAB 6 Jamuan Para Bangsawan

    Selene tidak pernah membayangkan bahwa sebuah kastel bisa terasa lebih menakutkan daripada hutan yang dipenuhi vampir, namun ternyata bisa. Bahkan jauh lebih menakutkan. Langkah kakinya terdengar pelan di sepanjang koridor panjang Kastel Noctis.Tok.Tok.Tok.Lantai marmer hitam memantulkan bayangan mereka. Dinding-dinding tinggi dihiasi lukisan para bangsawan yang tidak Selene kenal. Sebagian besar wajah dalam lukisan itu tampak terlalu sempurna untuk disebut manusia.Mata mereka...semuanya berwarna merah.Selene berusaha tidak menatap terlalu lama, tapi semakin ia mencoba mengabaikan lukisan-lukisan itu, semakin ia merasa seolah-olah mata mereka mengikuti langkahnya. Ia mempercepat langkahnya sedikit. Eric berjalan beberapa meter di depannya. Ia tidak banyak bicara sejak mereka memasuki kastel. Lucien berada di belakang Selene. Sementara Lorcan, kepala pelayan yang tadi menyambut mereka, berjalan di sisi lain dengan sikap tenang."Kamarku masih jauh?"Selene akhirnya bertanya.Lorc

  • Pengantin Raja Malam   BAB 5 Kastel Sang Raja Malam

    Kabut perlahan menghilang. Tidak ada lagi suara benturan pedang, tidak ada lagi teriakan. Hutan yang beberapa saat lalu dipenuhi pertempuran kini kembali sunyi, menyisakan batang-batang pohon yang tumbang dan tanah yang dipenuhi bekas tebasan.Selene masih berdiri mematung. Ujung jarinya menyentuh lambang bulan sabit di lehernya. Kulit itu terasa hangat, sangat nyata."Apa... ini benar-benar ada?"Tak ada yang menjawab.Para vampir yang tadi mengepung mereka telah menghilang satu per satu setelah mendapat isyarat dari wanita bergaun hitam. Sebelum pergi, wanita itu sempat menatap Selene cukup lama. Tatapan yang membuat bulu kuduknya meremang."Aku akan datang menjemputmu lagi."Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Selene menarik napas panjang."Aduh, kakiku..."Ia mencoba melangkah, namun lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung.Bruk.Ia terduduk di tanah yang basah bukan karena terluka. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyerah setelah menahan ketakutan sejak ta

  • Pengantin Raja Malam   BAB 4 Kemunculan Blood Moon

    Puluhan pasang mata merah menyala di balik kabut. Selene tidak lagi mampu menghitung jumlahnya. Mungkin ada lima puluh pasang mata atau lebih. Ia tidak bisa menghitungnya lagi karena semakin lama semakin banyak mereka berdatangan. Mereka berdiri diam di antara pepohonan, seolah sedang menunggu sebuah perintah. Hujan yang semula hanya berupa rintik kini benar-benar berhenti. Hutan berubah sunyi, begitu sunyi hingga Selene bisa mendengar detak jantungnya sendiri."Yang Mulia..."Pria berambut perak menundukkan kepala sedikit."Mereka semua mulai berdatangan."Eric tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan."Berapa banyak?""Lebih dari lima puluh."Selene spontan menoleh."Lima puluh?"Suaranya hampir tidak terdengar."Yang lima puluh itu... semuanya seperti kalian?"Pria berambut perak mengangguk pelan. Selene merasakan lututnya semakin lemas."Aku bahkan tidak sanggup menghadapi satu...Bagaimana mungkin ada lima puluh?"Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas seperti y

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status