INICIAR SESIÓNAngin malam berubah semakin dingin. Selene masih terpaku di tempatnya, sementara dadanya naik turun dengan napas yang belum kembali teratur. Tenggorokannya masih terasa perih akibat cekikan beberapa menit lalu. Setiap kali ia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi, jantungnya kembali berdegup kencang. Seorang pria menggigit leher manusia. Mayat yang mengering dalam hitungan detik. Pria itu bermata merah seperti api, memiliki taring dan kata yang terus terngiang di kepalanya adalah Blood Moon.
"Aku pasti mengalami halusinasi..." ucapnya dalam hati mencoba menenangkan diri.
Namun bahkan pikirannya sendiri menolak mempercayai alasan itu. Halusinasi tidak meninggalkan bekas rasa sakit di leher. Halusinasi juga tidak membuat tanah dipenuhi bau darah yang begitu nyata hingga membuat perutnya mual. Ia menelan ludah, tangannya tanpa sadar meraba saku jaket, mencari ponselnya. Kosong, tidak ada benda apapun di sana. Ia baru ingat ponselnya terjatuh ketika pria bernama Eric itu mencekiknya.
"Aku..." gumamnya pelan.
"...boleh ambil tasku?"
Eric menoleh dan tatapan merah itu kini telah kembali menjadi hitam pekat. Andai Selene tidak melihatnya sendiri, ia mungkin akan mengira semua kejadian tadi hanyalah mimpi buruk.
Tanpa sepatah kata, Eric menganggukkan kepala. Selene berjalan pelan menuju tempat ranselnya terlempar. Setiap langkah terasa berat, ia tidak pernah membayangkan bahwa mengambil tas sendiri pun bisa terasa seperti berjalan di tengah ladang ranjau. Matanya sempat menangkap sosok lelaki yang telah menjadi mayat. Tubuh itu masih terbaring di tanah. Seluruh tubuhnya pucat tak bergerak. Selene buru-buru memalingkan wajah. Perutnya kembali bergejolak. Ia pernah berada di ruang jenazah saat praktik kampus. Pernah membantu dosen forensik mengidentifikasi korban kecelakaan, namun mayat di hadapannya berbeda. Pria itu bukan meninggal karena kecelakaan.
Ia... dibunuh dengan cara yang mustahil dijelaskan ilmu kedokteran. Selene menggigit bibir bawah hingga nyaris berdarah.
"Jangan muntah...Jangan sekarang..."
Ia menarik napas panjang dan mengeluarkannya lewat mulut. Setiap langkah ia ulang gerakan itu agar hatinya tenang. Teknik yang biasa diajarkan dosen psikologi saat seseorang mengalami kepanikan. Sedikit demi sedikit, jantungnya mulai melambat. Baru saja ia hendak meraih ranselnya, suara desir halus terdengar dari balik pepohonan.
Sret...
Eric mengangkat kepala. Ekspresinya yang sejak tadi datar berubah sedikit lebih tajam. Pria berambut perak yang sedari tadi berdiri tak jauh dari mereka langsung mencabut pedangnya.
"Yang Mulia."
Suaranya rendah.
"Mereka menemukan kita."
Selene menoleh ke kanan dan kiri.
"Mereka?"
Tidak terdengar suara orang yang datang. Hanya suara angin yang mendesir, kabut dan kesunyian yang mendadak terasa menyesakkan, tapi tiba-tiba...
Tap.
Seseorang mendarat di atas dahan pohon. Disusul satu orang lagi kemudian yang terakhir. Dalam hitungan detik, tiga sosok berjubah hitam telah mengelilingi mereka dari atas. Selene spontan mundur. Jantungnya kembali berpacu.
"Mereka muncul dari mana?"
Tidak ada suara langkah. Tidak ada suara ranting patah Seolah mereka memang lahir dari kegelapan. Salah satu sosok bertopeng menundukkan kepala tipis kepada Eric.
"Salam hormat untuk Raja Malam."
Eric tidak membalas. Ia hanya menatap mereka dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kami datang bukan untuk mencari masalah."
Suara sosok itu serak.
"Tapi kami hanya ingin membawa gadis itu."
Selene membeku.
"Aku?"
Refleks, ia melangkah mundur hingga tanpa sadar berdiri sedikit di belakang Eric. Begitu menyadari tindakannya, ia mengerutkan dahi sendiri.
"Kenapa aku malah berlindung di belakang orang yang tadi hampir membunuhku?"
Ironis memang, tapi... saat ini Eric adalah satu-satunya orang yang tampak mampu menghadapi makhluk-makhluk itu dan Selene pikir lebih baik berakhir ditangan Eric di bandingkan dengan ketiga makhluk itu.
Eric membuka mulut.
"Dia tidak ikut dengan kalian."
Hanya itu, jawaban yang sangat singkat. datar, tanpa emosi. Ketiga sosok berjubah itu langsung saling berpandangan.
"Yang Mulia..." salah satu dari mereka berkata hati-hati, "dia itu manusia."
"Aku tahu."
"Kalau begitu, biarkan kami menghapusnya."
Eric tetap diam beberapa detik, lalu menjawab singkat.
"Tidak."
Suara itu pelan. Tetapi cukup membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat. Selene menatap punggung pria itu. Entah kenapa, ia merasa pria ini tidak sedang membelanya melainkan sedang mempertahankan sesuatu yang bahkan ia sendiri belum pahami.
Sosok bertopeng itu menggeleng.
"Maaf, Yang Mulia. Perintah kami berbeda."
Kalimat itu baru saja selesai dan tubuh ketiganya menghilang bersamaan. Mata Selene langsung membelalak melihat kejadian itu.
"Cepat sekali—"
Clang!
Suara benturan logam memekakkan telinga. Percikan api beterbangan di depan mereka. Eric entah sejak kapan sudah memegang pedang hitam panjang. Selene bahkan tidak melihat dari mana pedang itu berasal. Matanya berusaha mengikuti pergerakan mereka. Mustahil, mereka terlalu cepat. Yang terlihat hanya bayangan hitam yang saling bertabrakan di antara hujan dan kabut.
Trang!
Salah satu pohon pinus tumbang begitu saja. Selene terperanjat tanah di bawah kakinya ikut bergetar. Ia mundur beberapa langkah hingga tumitnya tersandung akar pohon.
"Akh!"
Tubuhnya oleng dan nyaris jatuh. Sebuah tangan mencengkeram lengannya tepat waktu. Itu adalah tangan pria berambut perak.
"Hati-hati."
Selene mengangguk cepat.
"Terima kasih."
Ia mencoba berdiri tegak lagi dengan tangan yang gemetar. Seluruh tubuhnya terasa dingin. Ia ingin lari, sungguh. Naluri bertahan hidupnya berteriak agar segera meninggalkan tempat ini, tapi kalau dia ingin lari mau lari ke mana?
Makhluk-makhluk itu bisa berpindah puluhan meter hanya dalam sekejap. Kalau Eric saja sedang bertarung habis-habisan. Apa yang bisa dilakukan manusia biasa sepertinya?
Suara benturan kembali menggema.
BRAK!
Salah satu sosok bertopeng terpental menghantam batu besar hingga batu itu retak. Selene tanpa sadar menutup mulut.
"Itu... bukan kekuatan manusia..."
Ia merasakan kedua lututnya mulai lemas. Napasnya memburu, pandangannya sedikit berkunang.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya pria berambut perak.
Selene menggeleng pelan.
"Sebenarnya..."
Ia berusaha tersenyum, meski bibirnya gemetar.
"...tidak juga."
Kejujuran itu keluar begitu saja.
"Aku takut."
Kalimat itu begitu lirih hingga hampir tenggelam oleh suara angin. Pria berambut perak menatapnya sekilas. Lalu, untuk pertama kalinya, raut wajahnya sedikit melunak.
"Berdirilah di belakangku."
Selene mengangguk. Ia benar-benar melakukannya. Bukan karena merasa aman, tetapi karena ia sadar malam ini, ia bukan lagi berada di dunia yang dikenalnya dan di dunia yang asing seperti ini kesombongan hanya akan mempercepat kematian.
---
Di kejauhan, Eric mengayunkan pedangnya sekali, hanya sekali. Gelombang energi hitam menyapu tanah, memaksa ketiga penyerang mundur beberapa meter. Kabut di sekitar mereka berputar hebat. Salah satu sosok bertopeng memegang dadanya.
"Mustahil...Kekuatan Raja Malam...Masih sebesar ini."
Eric menurunkan pedangnya perlahan, tatapannya dingin.
"Aku sudah memberi kesempatan untuk pergi."
Sosok itu tertawa pelan.
"Kalau kami pulang tanpa Blood Moon, yang mati bukan kami saja."
Mendengar nama itu lagi, Selene mengangkat kepala.
"Blood Moon...Apa sebenarnya itu?"
Ia hendak bertanya, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Karena malam itu ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Di balik pepohonan, di antara kabut. Puluhan... tidak. Mungkin ratusan pasang mata merah mulai menyala dalam gelap. Mereka, tidak sendirian.
Kabut perlahan menghilang. Tidak ada lagi suara benturan pedang, tidak ada lagi teriakan. Hutan yang beberapa saat lalu dipenuhi pertempuran kini kembali sunyi, menyisakan batang-batang pohon yang tumbang dan tanah yang dipenuhi bekas tebasan.Selene masih berdiri mematung. Ujung jarinya menyentuh lambang bulan sabit di lehernya. Kulit itu terasa hangat, sangat nyata."Apa... ini benar-benar ada?"Tak ada yang menjawab.Para vampir yang tadi mengepung mereka telah menghilang satu per satu setelah mendapat isyarat dari wanita bergaun hitam. Sebelum pergi, wanita itu sempat menatap Selene cukup lama. Tatapan yang membuat bulu kuduknya meremang."Aku akan datang menjemputmu lagi."Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Selene menarik napas panjang."Aduh, kakiku..."Ia mencoba melangkah, namun lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung.Bruk.Ia terduduk di tanah yang basah bukan karena terluka. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyerah setelah menahan ketakutan sejak ta
Puluhan pasang mata merah menyala di balik kabut. Selene tidak lagi mampu menghitung jumlahnya. Mungkin ada lima puluh pasang mata atau lebih. Ia tidak bisa menghitungnya lagi karena semakin lama semakin banyak mereka berdatangan. Mereka berdiri diam di antara pepohonan, seolah sedang menunggu sebuah perintah. Hujan yang semula hanya berupa rintik kini benar-benar berhenti. Hutan berubah sunyi, begitu sunyi hingga Selene bisa mendengar detak jantungnya sendiri."Yang Mulia..."Pria berambut perak menundukkan kepala sedikit."Mereka semua mulai berdatangan."Eric tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan."Berapa banyak?""Lebih dari lima puluh."Selene spontan menoleh."Lima puluh?"Suaranya hampir tidak terdengar."Yang lima puluh itu... semuanya seperti kalian?"Pria berambut perak mengangguk pelan. Selene merasakan lututnya semakin lemas."Aku bahkan tidak sanggup menghadapi satu...Bagaimana mungkin ada lima puluh?"Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas seperti y
Angin malam berubah semakin dingin. Selene masih terpaku di tempatnya, sementara dadanya naik turun dengan napas yang belum kembali teratur. Tenggorokannya masih terasa perih akibat cekikan beberapa menit lalu. Setiap kali ia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi, jantungnya kembali berdegup kencang. Seorang pria menggigit leher manusia. Mayat yang mengering dalam hitungan detik. Pria itu bermata merah seperti api, memiliki taring dan kata yang terus terngiang di kepalanya adalah Blood Moon."Aku pasti mengalami halusinasi..." ucapnya dalam hati mencoba menenangkan diri.Namun bahkan pikirannya sendiri menolak mempercayai alasan itu. Halusinasi tidak meninggalkan bekas rasa sakit di leher. Halusinasi juga tidak membuat tanah dipenuhi bau darah yang begitu nyata hingga membuat perutnya mual. Ia menelan ludah, tangannya tanpa sadar meraba saku jaket, mencari ponselnya. Kosong, tidak ada benda apapun di sana. Ia baru ingat ponselnya terjatuh ketika pria bernama Eric itu mencekikny
Hujan masih turun. Butiran air membasahi wajah Selene yang memucat. Napasnya memburu, dadanya naik turun berusaha merebut udara yang hampir habis karena cengkeraman di lehernya.Tiba-tiba tekanan itu mengendur. Selene terbatuk keras begitu kedua kakinya kembali menyentuh tanah."Kh... khuk...!"Tangannya refleks memegang leher yang terasa perih. Pria itu mundur satu langkah. Tatapan merahnya tak lagi dipenuhi niat membunuh. Sebaliknya, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Pria itu terlihat kebingungan atau lebih tepatnya ketidakpercayaan."Aneh..."Suara rendah itu terdengar seperti gumaman untuk dirinya sendiri. Selene mengangkat kepala perlahan. Pria itu masih berdiri di depannya. Wajahnya nyaris sempurna. Kulit pucat tanpa cela. Rambut hitam yang basah oleh hujan jatuh menutupi sebagian dahinya dan yang paling mencolok tetaplah kedua matanya yang berwarna merah pekat seperti darah segar."Apa... kau..." suara Selene bergetar. "Kau vampir?" lanjutnya.Pria itu tidak langsung menjaw
Malam itu, hujan turun tanpa belas kasihan. Butiran air menghantam aspal dengan suara berirama, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti jalanan kota Ravenhill. Lampu-lampu jalan tampak redup di balik tirai hujan, sementara angin dingin bertiup membawa aroma tanah basah yang menusuk hidung.Selene Ardelia menarik ranselnya lebih erat ke dada."Kenapa juga aku harus lembur di perpustakaan sampai malam begini..." gumamnya pelan.Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 23.47. Layar itu berkedip lemah sebelum akhirnya mati."Ayolah, jangan sekarang..."Ia menekan tombol daya beberapa kali. Tetap tidak menyala."Habis baterai."Selene mengembuskan napas panjang. Sempurna. Taksi daring tak bisa dipesan. Bus terakhir sudah lewat hampir satu jam lalu. Pilihannya hanya satu yaitu berjalan kaki. Untung apartemen kontrakannya tidak terlalu jauh dari kampus. Jika melewati jalan utama, ia membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit, tapi ada jalan pintas. Jalan kecil yang membelah Hutan Blackwood







