Home / Fantasi / Pengantin Raja Malam / BAB 5 Kastel Sang Raja Malam

Share

BAB 5 Kastel Sang Raja Malam

Author: Ara Azzahra
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-01 16:57:02

 

Kabut perlahan menghilang. Tidak ada lagi suara benturan pedang, tidak ada lagi teriakan. Hutan yang beberapa saat lalu dipenuhi pertempuran kini kembali sunyi, menyisakan batang-batang pohon yang tumbang dan tanah yang dipenuhi bekas tebasan.

Selene masih berdiri mematung. Ujung jarinya menyentuh lambang bulan sabit di lehernya. Kulit itu terasa hangat, sangat nyata.

"Apa... ini benar-benar ada?"

Tak ada yang menjawab.

Para vampir yang tadi mengepung mereka telah menghilang satu per satu setelah mendapat isyarat dari wanita bergaun hitam. Sebelum pergi, wanita itu sempat menatap Selene cukup lama. Tatapan yang membuat bulu kuduknya meremang.

"Aku akan datang menjemputmu lagi."

Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Selene menarik napas panjang.

"Aduh, kakiku..."

Ia mencoba melangkah, namun lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung.

Bruk.

Ia terduduk di tanah yang basah bukan karena terluka. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyerah setelah menahan ketakutan sejak tadi. Tangannya gemetar tanpa bisa dikendalikan. Napasnya memburu.

"Hei..."

Ia memegang dadanya sendiri.

"Tenang...Tarik napas...Satu...Dua...Tiga..."

Teknik yang biasa berhasil malam ini tidak. Air mata justru jatuh lebih dulu. Ia buru-buru mengusapnya.

"Aku tidak boleh panik..."

Kalimat itu terdengar lebih seperti usaha meyakinkan diri sendiri. Suara langkah kaki mendekat. Selene mengangkat kepala. Pria berambut perak berhenti sekitar dua meter darinya. Kini, untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat jelas. Pria itu memiliki rahang yang tegas, sorot mata abu-abu dan rambut perak panjang yang diikat rendah di belakang kepala. Usianya tampak tidak lebih dari tiga puluh tahun.

Padahal Selene tahu, penampilan tidak bisa dijadikan patokan di dunia ini. Pria itu menundukkan kepala sedikit.

"Perkenalkan, saya Lucien Aster. Kapten Ksatria Bayangan sekaligus pengawal pribadi Yang Mulia."

Selene menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

"Selene."

"Saya tahu."

Lucien menjawab singkat.

"Tampaknya sekarang semua orang tahu."

Nada bicaranya tetap formal, namun ada sedikit kehangatan dibanding sebelumnya. Selene mencoba berdiri. Kakinya kembali goyah. Lucien refleks mengulurkan tangan, namun sebelum sempat menyentuhnya, seseorang lebih dulu berdiri di antara mereka.

Tatapan Raja Malam jatuh pada tangan Lucien yang masih terulur. Meski hanya sesaat, tapi Lucien langsung menarik tangannya kembali.

"Maaf, Yang Mulia. Saya hanya ingin membantu."

Eric tidak menjawab. Ia memandang Selene.

"Kau bisa berjalan?"

Selene ingin mengatakan "bisa."

Namun kebohongan itu langsung terbaca dari kedua kakinya yang masih gemetar. Ia mengembuskan napas pelan.

"...Sepertinya belum."

Hening sejenak. Selene menunggu Eric menyuruhnya berdiri sendiri. Sebaliknya, Eric melepas mantel hitamnya yang panjang lalu meletakkannya di atas bahu Selene. Mantel itu masih terasa hangat. Aroma kayu cedar dan hujan samar-samar tercium darinya. Selene berkedip bingung.

"Kamu..."

Eric memotong singkat.

"Suhu tubuhmu turun. Kalau terus seperti ini, kau akan pingsan."

Selene spontan memegang mantel itu.

"...Terima kasih."

Eric mengangguk tipis. Lucien yang menyaksikan pemandangan itu memilih diam. Selama hampir empat abad mengabdi, belum pernah sekalipun ia melihat Rajanya meminjamkan mantel kepada siapa pun. Bahkan kepada bangsawan vampir.

Ia melirik Selene sekali lagi.

"Siapa sebenarnya gadis ini?"

Belum sempat pertanyaan itu terjawab, udara di depan mereka bergetar. Kabut kembali berkumpul membentuk sebuah lengkungan batu raksasa yang perlahan muncul dari kehampaan. Gerbang itu menjulang hampir sepuluh meter. Dipenuhi ukiran bulan, mawar, dan simbol-simbol kuno yang tidak dikenali Selene. Ia memandanginya dengan napas tertahan.

"Tadi... Gerbang ini tidak ada, kok sekarang...."

Lucien mengangguk.

"Memang. Gerbang Kastel Noctis hanya terbuka atas kehendak Raja Malam."

Selene menelan ludah. Ia menatap Eric, lalu kembali menatap gerbang itu. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.

"Kalau aku masuk, apa aku masih bisa pulang?"

Pertanyaan itu meluncur pelan. Tidak ada nada bercanda. Hanya ketakutan yang sangat manusiawi. Eric tidak langsung menjawab. Ia memandang gerbang yang mulai terbuka perlahan. Di baliknya tampak jalan batu panjang yang menghilang di tengah lautan kabut, lalu ia berkata dengan suara rendah.

"Aku akan mengantarmu pulang."

Selene mengembuskan napas lega, namun Eric melanjutkan kalimatnya.

"...setelah aku menemukan alasan mengapa seluruh dunia malam mencarimu."

Harapan yang baru tumbuh seketika mengecil. Selene menggenggam mantel di bahunya. Ia sadar, ia tidak sedang diajak bertamu. Ia sedang memasuki dunia yang sama sekali asing dan untuk sementara ia tidak punya pilihan selain mempercayai pria yang paling berbahaya di dunia itu.

---

Gerbang batu raksasa itu terbuka perlahan. Suara gesekan batu menggema panjang, memecah kesunyian hutan. Kabut putih mengalir keluar dari celah gerbang seperti napas seekor makhluk purba yang baru terbangun dari tidur panjangnya. Selene berdiri mematung. Ia menatap lorong batu di balik gerbang itu. Lorong itu gelap dan sepi. Entah mengapa... terasa begitu jauh.

"Masuk."

Suara Eric terdengar datar.

Selene menoleh.

"Di... di sana?"

Eric hanya mengangguk sekali. Selene menggenggam tali ranselnya lebih erat. Ia belum benar-benar percaya pada pria itu. Bahkan beberapa puluh menit yang lalu, pria yang sama mencekik lehernya dan berniat menghapus ingatannya, tapi tidak ada pilihan lain.

Ia menarik napas panjang.

"Laripun juga percuma..." gumamnya sangat pelan.

Lucien yang berjalan di belakangnya sempat mendengar. Sudut bibirnya nyaris terangkat, tetapi ia segera memasang wajah serius kembali. Begitu melewati gerbang, udara langsung berubah. Tidak lagi sedingin hutan, justru terasa hangat. Kabut yang tadi memenuhi pandangan perlahan menyingkir, memperlihatkan jalan batu hitam yang membentang lurus.

Di kanan dan kirinya tumbuh pohon-pohon besar berdaun keperakan. Daun-daun itu memantulkan cahaya bulan, membuat seluruh jalan tampak seperti diselimuti kilau perak. Selene mengangkat kepala.

"Indah..."

Kalimat itu keluar tanpa sadar. Ini pertama kalinya malam itu ia mengucapkan sesuatu yang bukan karena panik. Matanya terus bergerak ke segala arah. Bunga-bunga hitam bermekaran di sepanjang jalan. Air sungai yang mengalir di samping mereka berwarna bening seperti kaca. Bahkan udara di tempat itu memiliki aroma bunga yang lembut. Sulit dipercaya tempat seindah ini dihuni oleh para vampir.

"Kau terkejut?"

Suara Lucien memecah keheningan. Selene mengangguk pelan.

"Aku kira..."

Ia berhenti sejenak, tampak ragu melanjutkan.

"Katakan saja."

Lucien mempersilakan.

"Aku kira kastel vampir itu... ya... banyak tengkorak, lilin di mana-mana, banyak laba-laba dan kelelawar."

Lucien berkedip, beberapa detik ia benar-benar tidak tahu harus menjawab.

"Kenapa laba-laba?"

Selene langsung menyesal.

"Oh, aku minta maaf. Mungkin aku terlalu banyak nonton film dan membaca novel."

Lucien akhirnya menghela napas pelan.

"Dunia manusia memang aneh."

Selene menunduk malu.

"Ya, mungkin, hehe"

Beberapa langkah di depan mereka, Eric berjalan tanpa menoleh sedikit pun, tapi entah kenapa sudut bibirnya tampak bergerak sangat tipis. Kalau Lucien tidak mengenal Rajanya selama hampir empat abad, mungkin ia akan mengira itu hanya ilusi.

Perjalanan berlangsung hampir lima belas menit. Semakin jauh mereka berjalan, kabut mulai menipis. Lalu, Selene berhenti. Napasnya tercekat.

Di kejauhan berdiri sebuah kastel yang begitu megah hingga sulit dipercaya. Menara-menara tinggi menjulang ke langit. Jendela-jendela kaca memantulkan cahaya bulan. Ratusan lampu kristal menyala hangat di balik dinding batu hitam. Air mancur besar mengalir di halaman depan. Bunga mawar merah memenuhi taman yang membentang di sisi kanan dan kiri jalan.

Semuanya terlihat hidup. Bukan kastel angker seperti yang dibayangkannya. Melainkan sebuah kerajaan yang masih bernapas.

"Ini..."

Selene hampir lupa berkedip.

"...besar sekali."

Lucien mengangguk.

"Inilah Kastel Noctis."

"Rumah Raja Malam selama sembilan abad."

Selene menatap Eric tanpa sadar.

"Dia tinggal sendirian di tempat sebesar ini?"

Entah kenapa, pikiran itu justru membuat dadanya terasa sedikit sesak.

Belum sempat mereka mendekati tangga utama, pintu kastel terbuka lebar. Puluhan orang keluar bersamaan. Mereka berbaris rapi di kedua sisi tangga. Ada pria, wanita, usia muda maupun tua semuanya berpakaian serba hitam.

Begitu Eric menaiki anak tangga pertama, seluruh orang itu serempak berlutut.

"Selamat datang kembali, Yang Mulia."

Suara mereka bergema memenuhi halaman. Selene refleks berhenti berjalan. Ia belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Semua orang menundukkan kepala tanpa berani menatap wajah Eric. Suasananya begitu khidmat hingga ia ikut menahan napas.

Seorang pria tua melangkah maju. Rambutnya memutih, punggungnya sedikit membungkuk, namun sorot matanya masih tajam. Ia membungkuk hormat kepada Eric.

"Yang Mulia, semua persiapan telah selesai."

Eric mengangguk singkat.

"Lorcan."

"Ya, Yang Mulia."

"Siapkan kamar tamu."

Pria tua itu mengangguk, namun ketika pandangannya jatuh pada Selene, ekspresinya berubah. Ia tampak benar-benar terkejut.

"Manusia...?"

Bisikan-bisikan langsung terdengar di antara para pelayan.

"Manusia?"

"Kenapa manusia masuk kastel?"

"Belum pernah terjadi..."

Selene langsung merasa tidak nyaman. Tatapan mereka bukan penuh rasa ingin tahu melainkan...curiga. Bahkan beberapa di antaranya tampak jijik. Tanpa sadar, Selene mundur setengah langkah. Lucien menangkap gerakan kecil itu. Ia berdiri sedikit lebih dekat. Tidak terlalu dekat hingga mencolok, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia berjaga.

Eric menghentikan langkahnya. Semua bisikan langsung lenyap. Ia menoleh perlahan ke arah para pelayan.

"Hormati tamuku."

Hanya empat kata, namun seluruh halaman kembali sunyi. Lorcan langsung membungkuk lebih dalam.

"Maafkan kami, Yang Mulia."

Eric kembali berjalan memasuki kastel. Selene masih berdiri di tempat dan Lucien mendekatinya.

"Ayo," ajaknya.

Selene menoleh pelan.

"Mereka...Kelihatannya tidak suka ada aku."

Lucien menjawab jujur.

"Benar."

Selene tersenyum kecil, bukan karena lucu lebih karena gugup.

"Syukurlah."

Lucien mengernyit.

"Syukurlah?"

"Kalau mereka pura-pura ramah..."

Selene menarik napas.

"...aku malah lebih takut."

Lucien terdiam, kalimat itu sederhana, namun juga masuk akal.

Ia mempersilakan Selene berjalan lebih dulu. Ketika gadis itu sudah beberapa langkah di depan, Lucien menatap punggungnya cukup lama.

"Dia benar-benar berbeda..."

Bukan karena darahnya ataupun karena lambang Blood Moon. Melainkan karena di tengah rasa takut yang jelas terlihat di wajahnya, ia masih berusaha bersikap jujur.

Malam itu, Lucien mulai mengerti mengapa Rajanya memilih membawa manusia itu ke kastel.

Sementara itu, jauh di balkon lantai tiga, sepasang mata merah mengawasi kedatangan mereka. Seorang wanita berambut hitam panjang berdiri dalam diam. Gaunnya berkibar diterpa angin malam. Tatapannya tidak lepas dari sosok Selene.

"Jadi..."

gumamnya pelan.

"Dia manusia yang dipilih Raja Malam."

Bibir wanita itu perlahan membentuk senyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.

"Kalau begitu...aku akan memastikan dia tidak bertahan lama di kastel ini."

Di bawah sinar bulan purnama, cincin bermata rubi di jari wanita itu memancarkan cahaya merah gelap. Pertanda bahwa seseorang baru saja mulai memainkan permainan yang jauh lebih berbahaya daripada perburuan di Hutan Blackwood.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pengantin Raja Malam   Bab 9 Alpha dan Luna

    Selene tidak mampu bergerak. Jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya berdenging.“A-apa...?”Suaranya hampir tidak terdengar. Ia menatap makhluk di hadapannya, lalu perlahan mengangkat wajah. Puluhan pasang mata menatapnya. Para vampire, bangsawan, penjaga, semuanya.Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Kastel Noctis, Selene berharap dirinya bisa bangun dari mimpi buruk.Sayangnya...Ini nyata.“Lucien.”Suara Eric terdengar rendah. Lucien langsung maju.“Yang Mulia.”“Bawa Selene ke belakangku.”Lucien mengangguk, namun sebelum ia sempat bergerak, suara lain terdengar dari sisi aula.“Jangan coba-coba.”Semua kepala menoleh.Kael berdiri di antara para werewolf. Ia berbeda dari yang lain. Tidak ada perubahan bentuk mengerikan pada tubuhnya. Ia masih tampak seperti seorang pria tampan, tinggi, dengan rambut hitam yang sedikit berantakan. Tatapan matanya berwarna emas terang, seperti binatang yang sedang mengamati mangsanya tetapi yang membuat Selene semakin takut bukan p

  • Pengantin Raja Malam   BAB 8 Bulan Darah

    Tidak ada seorang pun yang bergerak. Bahkan suara napas pun seolah menghilang dari aula. Selene berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat, menatap bulan di balik jendela besar. Bulan yang beberapa menit lalu berwarna putih keperakan kini berubah merah. Bukan merah samar.Merah pekat seperti darah.Cahaya merah itu menembus kaca dan jatuh tepat ke tubuh Selene. Lambang di lehernya menyala semakin terang.Deg.Selene tersentak.Rasa panas menjalar dari leher ke seluruh tubuhnya."Akh..."Tangannya mencengkeram sisi gaunnya.Eric langsung berdiri."Selene."Itu pertama kalinya suaranya terdengar berbeda. Bukan dengan nada dingin. Bukan juga ketenangan. Ada urgensi di sana.Selene mengangkat wajah."Aku..."Napasnya tersengal."Kenapa tubuhku panas?"Eric bergerak turun dari tempatnya, namun sebelum ia sempat mendekat, seorang bangsawan berdiri."Jangan sentuh dia!"Eric berhenti.Pria itu menunjuk Selene dengan wajah penuh ketakutan."Blood Moon telah bangkit!"Bisikan kembali terdeng

  • Pengantin Raja Malam   BAB 7 Dia Kembali

    Selene masih berdiri di depan cermin.Tubuhnya kaku.Tangannya mencengkeram ujung gaun tidur yang diberikan pelayan beberapa jam lalu. Suara perempuan itu masih bergema di kepalanya.Kau akhirnya kembali."Aku..."Selene menelan ludah."...tidak pernah ke sini sebelumnya."Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah pucat, mata sedikit sembap dan rambut berantakan. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Namun kalimat itu terlalu nyata untuk disebut mimpi.Selene mendekati cermin. Ia menyentuh permukaannya. Rasanya dingin, sangat dingin."Kalau aku benar-benar pernah datang ke sini..."Ia mengerutkan dahi."Kenapa aku tidak ingat?"Tidak ada jawaban.Lambang di lehernya tiba-tiba berdenyut.Deg.Selene tersentak dan langsung menarik tangannya."Astaga..."Ia menutup leher dengan telapak tangan."Apa sebenarnya kamu ini?"Untuk pertama kalinya, ia berbicara kepada tanda itu seolah tanda tersebut bisa menjawab.Tentu saja tidak.Selene mengembuskan napas."Oke."Ia berjalan menjauh dari cermin.

  • Pengantin Raja Malam   BAB 6 Jamuan Para Bangsawan

    Selene tidak pernah membayangkan bahwa sebuah kastel bisa terasa lebih menakutkan daripada hutan yang dipenuhi vampir, namun ternyata bisa. Bahkan jauh lebih menakutkan. Langkah kakinya terdengar pelan di sepanjang koridor panjang Kastel Noctis.Tok.Tok.Tok.Lantai marmer hitam memantulkan bayangan mereka. Dinding-dinding tinggi dihiasi lukisan para bangsawan yang tidak Selene kenal. Sebagian besar wajah dalam lukisan itu tampak terlalu sempurna untuk disebut manusia.Mata mereka...semuanya berwarna merah.Selene berusaha tidak menatap terlalu lama, tapi semakin ia mencoba mengabaikan lukisan-lukisan itu, semakin ia merasa seolah-olah mata mereka mengikuti langkahnya. Ia mempercepat langkahnya sedikit. Eric berjalan beberapa meter di depannya. Ia tidak banyak bicara sejak mereka memasuki kastel. Lucien berada di belakang Selene. Sementara Lorcan, kepala pelayan yang tadi menyambut mereka, berjalan di sisi lain dengan sikap tenang."Kamarku masih jauh?"Selene akhirnya bertanya.Lorc

  • Pengantin Raja Malam   BAB 5 Kastel Sang Raja Malam

    Kabut perlahan menghilang. Tidak ada lagi suara benturan pedang, tidak ada lagi teriakan. Hutan yang beberapa saat lalu dipenuhi pertempuran kini kembali sunyi, menyisakan batang-batang pohon yang tumbang dan tanah yang dipenuhi bekas tebasan.Selene masih berdiri mematung. Ujung jarinya menyentuh lambang bulan sabit di lehernya. Kulit itu terasa hangat, sangat nyata."Apa... ini benar-benar ada?"Tak ada yang menjawab.Para vampir yang tadi mengepung mereka telah menghilang satu per satu setelah mendapat isyarat dari wanita bergaun hitam. Sebelum pergi, wanita itu sempat menatap Selene cukup lama. Tatapan yang membuat bulu kuduknya meremang."Aku akan datang menjemputmu lagi."Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Selene menarik napas panjang."Aduh, kakiku..."Ia mencoba melangkah, namun lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung.Bruk.Ia terduduk di tanah yang basah bukan karena terluka. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyerah setelah menahan ketakutan sejak ta

  • Pengantin Raja Malam   BAB 4 Kemunculan Blood Moon

    Puluhan pasang mata merah menyala di balik kabut. Selene tidak lagi mampu menghitung jumlahnya. Mungkin ada lima puluh pasang mata atau lebih. Ia tidak bisa menghitungnya lagi karena semakin lama semakin banyak mereka berdatangan. Mereka berdiri diam di antara pepohonan, seolah sedang menunggu sebuah perintah. Hujan yang semula hanya berupa rintik kini benar-benar berhenti. Hutan berubah sunyi, begitu sunyi hingga Selene bisa mendengar detak jantungnya sendiri."Yang Mulia..."Pria berambut perak menundukkan kepala sedikit."Mereka semua mulai berdatangan."Eric tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan."Berapa banyak?""Lebih dari lima puluh."Selene spontan menoleh."Lima puluh?"Suaranya hampir tidak terdengar."Yang lima puluh itu... semuanya seperti kalian?"Pria berambut perak mengangguk pelan. Selene merasakan lututnya semakin lemas."Aku bahkan tidak sanggup menghadapi satu...Bagaimana mungkin ada lima puluh?"Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas seperti y

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status