Início / Fantasi / Pengantin Raja Malam / BAB 4 Kemunculan Blood Moon

Compartilhar

BAB 4 Kemunculan Blood Moon

Autor: Ara Azzahra
last update Data de publicação: 2026-07-01 15:22:52

Puluhan pasang mata merah menyala di balik kabut. Selene tidak lagi mampu menghitung jumlahnya. Mungkin ada lima puluh pasang mata atau lebih. Ia tidak bisa menghitungnya lagi karena semakin lama semakin banyak mereka berdatangan. Mereka berdiri diam di antara pepohonan, seolah sedang menunggu sebuah perintah. Hujan yang semula hanya berupa rintik kini benar-benar berhenti. Hutan berubah sunyi, begitu sunyi hingga Selene bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

"Yang Mulia..."

Pria berambut perak menundukkan kepala sedikit.

"Mereka semua mulai berdatangan."

Eric tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan.

"Berapa banyak?"

"Lebih dari lima puluh."

Selene spontan menoleh.

"Lima puluh?"

Suaranya hampir tidak terdengar.

"Yang lima puluh itu... semuanya seperti kalian?"

Pria berambut perak mengangguk pelan. Selene merasakan lututnya semakin lemas.

"Aku bahkan tidak sanggup menghadapi satu...Bagaimana mungkin ada lima puluh?"

Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas seperti yang pernah diajarkan dosennya. Tarik napas, buang perlaha lewat mulut, ulangi dan jangan panik. Kalau panik, otak tidak bisa berpikir, namun begitu membuka mata kembali, puluhan sosok berjubah hitam itu telah melangkah keluar dari balik pepohonan. Mereka benar-benar ada, bukan ilusi ataupun mimpi.

"Serahkan Blood Moon kepada kami."

Salah seorang yang berdiri paling depan membuka suara. Nada bicaranya tenang, namun mengandung ancaman yang jelas. Eric menjawab tanpa mengubah ekspresi.

"Tidak akan."

"Kalau begitu..."

Pria itu mengangkat tangan.

"Maafkan kami."

Dalam sekejap, puluhan sosok itu bergerak bersamaan. Tanah berguncang, udara dipenuhi desir angin. Selene hanya sempat melihat bayangan hitam melesat dari berbagai arah.

"Di belakangku."

Suara Eric terdengar singkat. Selene tidak membantah. Ia langsung mundur beberapa langkah hingga berdiri di belakang punggung pria itu. Tangannya mengepal erat. Bukan karena berani, melainkan agar tidak gemetar terlalu hebat. Dentingan pedang memenuhi hutan. Cahaya merah dan hitam beradu di udara. Selene tidak lagi mampu mengikuti siapa menyerang siapa. Yang ia lihat hanyalah kilatan-kilatan cepat. Sesekali terdengar jeritan, sesekali tubuh seseorang terpental menghantam pohon. Cabang-cabang besar patah seperti ranting kecil.

"Ini bukan pertarungan...ini bencana," pekiknya dalam hati.

Tiba-tiba, seseorang muncul di sisi kirinya jaraknya terlalu dekat. Selene membelalak karena ia melihat taring, mata merah dan wajah yang sangat pucat. Makhluk itu mengulurkan tangan ke arahnya. Refleks, Selene mundur. Tumitnya tersangkut akar pohon. Tubuhnya jatuh terduduk.

"Ah!"

Makhluk itu tersenyum tipis.

"Kau ikut denganku."

Selene menggeleng cepat.

"Ja-jangan..."

Tangannya meraba tanah di sekelilingnya. Mencari apa saja yang bisa dipakai untuk melindungi diri. Yang ditemukan hanya batu sebesar kepalan tangan. Tanpa berpikir panjang, ia melemparkannya.

Tuk!

Batu itu mengenai dahi sang vampir. Makhluk itu terdiam beberapa detik. Selene ikut membeku.

"Astaga...Kenapa aku malah lempar batu?"

Vampir itu menyentuh dahinya perlahan, lalu menatap Selene.

"...Berani sekali."

Selene buru-buru menggeleng.

"Bukan...anu itu karena aku panik. Itu refleks."

Kalimat itu keluar begitu saja. Bahkan dirinya sendiri tidak tahu mengapa masih sempat menjelaskan. Vampir itu melangkah maju.

"Refleksmu akan membuatmu mati."

Belum sempat ia meraih Selene, sebuah bayangan hitam melintas.

SRET!

Tubuh vampir itu terpental. Eric berdiri di antara mereka. Pedang hitamnya meneteskan darah. Tatapannya jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Ia tidak mengatakan apa pun. Hanya melirik Selene sekilas. Tatapan singkat itu seolah memastikan satu hal.

Calon mangsanya masih hidup.

Selene mengangguk kecil tanpa sadar. Eric kembali menghilang ke tengah pertempuran.

"Yang Mulia!"

Pria berambut perak berteriak.

"Dari belakang!"

Empat vampir menyerang Eric bersamaan, namun sesuatu yang aneh terjadi. Begitu mereka mendekati Eric, bayangan hitam di bawah kaki Raja Malam bergerak sendiri. Seperti makhluk hidup. Bayangan itu menjulur, melilit kaki para penyerang, lalu menarik mereka hingga jatuh berlutut.

Selene menahan napas.

"Bayangan...Dia mengendalikan bayangan?"

Ia selalu percaya setiap hal pasti punya penjelasan, tapi malam ini... ilmu pengetahuan yang dipelajarinya seolah tidak lagi berguna.

Suara pelan tiba-tiba terdengar di dekat telinganya.

"Jadi... kau yang mereka cari."

Selene menoleh cepat. Seorang wanita berdiri hanya beberapa langkah darinya. Gaun hitam panjang, rambut seputih salju dan mata merah yang jauh lebih terang daripada vampir lain.

Wanita itu tersenyum. Ia terlihat sangat cantik, namun senyum itu membuat bulu kuduk Selene berdiri.

"Siapa... kau?"

Wanita itu tidak menjawab. Tatapannya turun ke leher Selene.

"Lihatlah."

Selene mengernyit.

"Lihat apa?"

Wanita itu mengangkat jari menunjuk kulit leher Selene. Pria berambut perak yang melihat ke arah mereka mendadak membelalak.

"Yang Mulia!"

Suaranya kali ini terdengar benar-benar panik, Eric menoleh. Pandangan tajamnya langsung jatuh ke arah Selene. Ekspresi wajahnya langsung berubah. Bukan karena marah melainkan terrkejut. Selene spontan menyentuh lehernya sendiri. Ada rasa hangat, kulitnya terasa panas. Seolah ada sesuatu yang terbakar dari dalam.

"Apa...Ada apa?"

Wanita bergaun hitam tersenyum semakin lebar.

"Segelnya mulai terbuka."

Selene tidak mengerti.

"Segel, Tidak..."

Ia menggeleng pelan.

"Aku tidak punya tato."

Wanita itu terkekeh lirih.

"Bukan tato. Coba lihat bayanganmu."

Selene perlahan menoleh. Di genangan air hujan di bawah kakinya, ia melihat pantulan dirinya sendiri dan di sisi kiri lehernya muncul lambang berbentuk bulan sabit berwarna merah keperakan. Lambang itu berdenyut pelan. Seolah memiliki kehidupan.

Selene menyentuhnya, rasanya tidak sakit, tapi terasa hangat.

"Apa ini..."

Wanita itu menatap Eric penuh kemenangan.

"Raja Malam, Blood Moon telah bangun."

Keheningan menyelimuti hutan. Bahkan para vampir yang sedang bertarung ikut menghentikan gerakan mereka. Semua mata kini tertuju kepada Selene. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bukan sekedar diperhatikan melainkan diburu dan jauh di lubuk hatinya, muncul firasat buruk. Malam ini bukan awal dari akhir.

Malam ini adalah awal dari kehidupan yang tidak akan pernah bisa ia tinggalkan lagi.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pengantin Raja Malam   BAB 5 Kastel Sang Raja Malam

    Kabut perlahan menghilang. Tidak ada lagi suara benturan pedang, tidak ada lagi teriakan. Hutan yang beberapa saat lalu dipenuhi pertempuran kini kembali sunyi, menyisakan batang-batang pohon yang tumbang dan tanah yang dipenuhi bekas tebasan.Selene masih berdiri mematung. Ujung jarinya menyentuh lambang bulan sabit di lehernya. Kulit itu terasa hangat, sangat nyata."Apa... ini benar-benar ada?"Tak ada yang menjawab.Para vampir yang tadi mengepung mereka telah menghilang satu per satu setelah mendapat isyarat dari wanita bergaun hitam. Sebelum pergi, wanita itu sempat menatap Selene cukup lama. Tatapan yang membuat bulu kuduknya meremang."Aku akan datang menjemputmu lagi."Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Selene menarik napas panjang."Aduh, kakiku..."Ia mencoba melangkah, namun lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung.Bruk.Ia terduduk di tanah yang basah bukan karena terluka. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyerah setelah menahan ketakutan sejak ta

  • Pengantin Raja Malam   BAB 4 Kemunculan Blood Moon

    Puluhan pasang mata merah menyala di balik kabut. Selene tidak lagi mampu menghitung jumlahnya. Mungkin ada lima puluh pasang mata atau lebih. Ia tidak bisa menghitungnya lagi karena semakin lama semakin banyak mereka berdatangan. Mereka berdiri diam di antara pepohonan, seolah sedang menunggu sebuah perintah. Hujan yang semula hanya berupa rintik kini benar-benar berhenti. Hutan berubah sunyi, begitu sunyi hingga Selene bisa mendengar detak jantungnya sendiri."Yang Mulia..."Pria berambut perak menundukkan kepala sedikit."Mereka semua mulai berdatangan."Eric tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan."Berapa banyak?""Lebih dari lima puluh."Selene spontan menoleh."Lima puluh?"Suaranya hampir tidak terdengar."Yang lima puluh itu... semuanya seperti kalian?"Pria berambut perak mengangguk pelan. Selene merasakan lututnya semakin lemas."Aku bahkan tidak sanggup menghadapi satu...Bagaimana mungkin ada lima puluh?"Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas seperti y

  • Pengantin Raja Malam   BAB 3 Gerbang yang Tak Pernah Terbuka

    Angin malam berubah semakin dingin. Selene masih terpaku di tempatnya, sementara dadanya naik turun dengan napas yang belum kembali teratur. Tenggorokannya masih terasa perih akibat cekikan beberapa menit lalu. Setiap kali ia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi, jantungnya kembali berdegup kencang. Seorang pria menggigit leher manusia. Mayat yang mengering dalam hitungan detik. Pria itu bermata merah seperti api, memiliki taring dan kata yang terus terngiang di kepalanya adalah Blood Moon."Aku pasti mengalami halusinasi..." ucapnya dalam hati mencoba menenangkan diri.Namun bahkan pikirannya sendiri menolak mempercayai alasan itu. Halusinasi tidak meninggalkan bekas rasa sakit di leher. Halusinasi juga tidak membuat tanah dipenuhi bau darah yang begitu nyata hingga membuat perutnya mual. Ia menelan ludah, tangannya tanpa sadar meraba saku jaket, mencari ponselnya. Kosong, tidak ada benda apapun di sana. Ia baru ingat ponselnya terjatuh ketika pria bernama Eric itu mencekikny

  • Pengantin Raja Malam   BAB 2 Aroma Darah yang Hilang

    Hujan masih turun. Butiran air membasahi wajah Selene yang memucat. Napasnya memburu, dadanya naik turun berusaha merebut udara yang hampir habis karena cengkeraman di lehernya.Tiba-tiba tekanan itu mengendur. Selene terbatuk keras begitu kedua kakinya kembali menyentuh tanah."Kh... khuk...!"Tangannya refleks memegang leher yang terasa perih. Pria itu mundur satu langkah. Tatapan merahnya tak lagi dipenuhi niat membunuh. Sebaliknya, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Pria itu terlihat kebingungan atau lebih tepatnya ketidakpercayaan."Aneh..."Suara rendah itu terdengar seperti gumaman untuk dirinya sendiri. Selene mengangkat kepala perlahan. Pria itu masih berdiri di depannya. Wajahnya nyaris sempurna. Kulit pucat tanpa cela. Rambut hitam yang basah oleh hujan jatuh menutupi sebagian dahinya dan yang paling mencolok tetaplah kedua matanya yang berwarna merah pekat seperti darah segar."Apa... kau..." suara Selene bergetar. "Kau vampir?" lanjutnya.Pria itu tidak langsung menjaw

  • Pengantin Raja Malam   BAB 1 Hujan, Darah, dan Mata Merah

    Malam itu, hujan turun tanpa belas kasihan. Butiran air menghantam aspal dengan suara berirama, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti jalanan kota Ravenhill. Lampu-lampu jalan tampak redup di balik tirai hujan, sementara angin dingin bertiup membawa aroma tanah basah yang menusuk hidung.Selene Ardelia menarik ranselnya lebih erat ke dada."Kenapa juga aku harus lembur di perpustakaan sampai malam begini..." gumamnya pelan.Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul 23.47. Layar itu berkedip lemah sebelum akhirnya mati."Ayolah, jangan sekarang..."Ia menekan tombol daya beberapa kali. Tetap tidak menyala."Habis baterai."Selene mengembuskan napas panjang. Sempurna. Taksi daring tak bisa dipesan. Bus terakhir sudah lewat hampir satu jam lalu. Pilihannya hanya satu yaitu berjalan kaki. Untung apartemen kontrakannya tidak terlalu jauh dari kampus. Jika melewati jalan utama, ia membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit, tapi ada jalan pintas. Jalan kecil yang membelah Hutan Blackwood

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status