Home / Fantasi / Pengantin Raja Malam / BAB 2 Aroma Darah yang Hilang

Share

BAB 2 Aroma Darah yang Hilang

Author: Ara Azzahra
last update publish date: 2026-06-30 16:56:52

Hujan masih turun. Butiran air membasahi wajah Selene yang memucat. Napasnya memburu, dadanya naik turun berusaha merebut udara yang hampir habis karena cengkeraman di lehernya.Tiba-tiba tekanan itu mengendur. Selene terbatuk keras begitu kedua kakinya kembali menyentuh tanah.

"Kh... khuk...!"

Tangannya refleks memegang leher yang terasa perih. Pria itu mundur satu langkah. Tatapan merahnya tak lagi dipenuhi niat membunuh. Sebaliknya, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Pria itu terlihat kebingungan atau lebih tepatnya ketidakpercayaan.

"Aneh..."

Suara rendah itu terdengar seperti gumaman untuk dirinya sendiri. Selene mengangkat kepala perlahan. Pria itu masih berdiri di depannya. Wajahnya nyaris sempurna. Kulit pucat tanpa cela. Rambut hitam yang basah oleh hujan jatuh menutupi sebagian dahinya dan yang paling mencolok tetaplah kedua matanya yang berwarna merah pekat seperti darah segar.

"Apa... kau..." suara Selene bergetar. "Kau vampir?" lanjutnya.

Pria itu tidak langsung menjawab dan membuat suasana menjadi semakin mencekam. Tatapan pria itu langsung berubah dingin.

"Kau tahu tentang vampir?"

Selene menelan ludah.

"Aku... hanya pernah membacanya di novel."

Pria itu mendengus pelan.

"Novel."

Nada suaranya terdengar seperti sedang menghina kata itu.

"Manusia memang pandai mengubah sejarah menjadi dongeng."

Ucapan itu membuat Selene mengernyit.

Apa maksudnya?

Belum sempat ia bertanya, pria itu kembali mengendus udara. Perlahan-lahan pria itu mendekat. Selene spontan mundur.

"Apa yang kau lakukan?"

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Selene. Tatapan yang seolah berusaha menembus kulitnya.

"Baumu..."

Selene makin bingung.

"Kenapa dengan bauku? Memang sih, aku belum mandi sore. Apa memang sebau itu?" Tanya Selene asal.

Pria itu tidak langsung menjawab dan wajahnya tetap serius. Ia tidak menanggapi celetukkan Selene. Selama lebih dari sembilan abad, ia mengenali aroma setiap jenis darah. Darah manusia, darah penyihir, darah manusia serigala, bahkan darah para bangsawan vampir, tapi roma gadis yang ada di depannya in tidak ada dalam ingatannya. Aroma itu begitu hangat, manis, tetapi bukan sekadar mengundang rasa haus Aroma itu justru menenangkan.

Mustahil.

Selama seribu tahun hidup, Eric Draven belum pernah merasakan ketenangan saat mencium darah manusia. Yang ada hanyalah rasa lapar, haus dan dorongan untuk menghabisi mangsa. Tetapi sekarang nyatanya rasa haus itu menghilang. Seolah monster dalam dirinya sedang tertidur. 

"Siapa kau?" Tanya Eric dengan tangan mengepal.

Selene menatapnya tak percaya.

"Apa?"

"Jawab."

"Aku... Selene."

"Bukan namamu."

Pria itu melangkah mendekat.

"Aku bertanya..."

"Makhluk apa kau?"

Selene hampir tertawa saking gugupnya.

"Seperti yang kau lihat aku ini manusia bukan hantu atau siluman ular kobra!"

Pria itu menggeleng pelan.

"Mustahil."

Ia kembali mengendus. Tatapannya semakin tajam.

"Tidak ada manusia yang memiliki aroma seperti ini."

Selene benar-benar mulai kesal.

"Aku memang manusia!"

"Kau berbohong."

"Kau sendiri baru saja menggigit orang!"

Pria itu terdiam. Selene baru menyadari apa yang ia katakan.

Astaga.

Kenapa malah membentak monster?

Pria itu menatapnya beberapa detik lalu senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Senyum pertama yang dilihat Selene. Aneh, senyuman itu tidak membuatnya merasa aman. Justru membuat bulu kuduknya semakin berdiri.

"Berani."

gumam pria itu.

"Sudah lama tidak ada manusia yang berani membentakku."

"Kalau kau mau membunuhku, bunuh saja."

Selene menatap lurus ke matanya.

"Tapi berhenti menganggapku makhluk aneh hanya karena bau badanku. Itu tidak sopan namanya."

Hening.

Eric menatap gadis itu lebih lama. Manusia biasanya akan menangis dan memohon kepadanya. Atau lebih sering pingsan dan mencoba kabur saat menghadapinya. Gadis ini justru berani memarahinya. Menarik, sangat menarik.

Tiba-tiba...

"Yang Mulia!"

Suara lain memecah keheningan. Bayangan hitam muncul di antara pepohonan. Sosok pria berambut perak berlutut begitu melihat Eric.

"Pasukan pemburu sudah mendekat."

Tatapan pria itu kemudian berpindah ke Selene. Matanya langsung membelalak.

"Manusia?"

Ia berdiri.

"Yang Mulia... dia melihat semuanya?"

Eric tidak menjawab. Pria berambut perak itu langsung menghunus pedang tipis berwarna hitam dari balik mantelnya.

"Kalau begitu biarkan saya menghabisinya."

Selene langsung memucat.

"Hei—"

Brak!

Pedang itu bahkan belum sempat bergerak. Tubuh pria berambut perak itu sudah terpental menghantam batang pohon.

"Yang Mulia?"

Ia menatap Eric dengan wajah penuh kebingungan. Eric sendiri tampak sama bingungnya. Mengapa... Mengapa ia baru saja melindungi manusia?

Seharusnya ia membiarkan gadis itu mati atau bahkan membunuhnya dengan tangannya sendiri, namun tubuhnya bergerak lebih dulu. Seolah ada sesuatu yang memaksanya.

"Aku yang akan memutuskan nasibnya."

Suara Eric kembali datar.

"Tapi—"

"Itu perintah."

Pria berambut perak itu langsung menunduk.

"Maafkan saya."

Selene memperhatikan semua itu dengan napas tertahan.

Yang Mulia?

Perintah?

Siapa sebenarnya pria ini?

Kalau dia benar-benar vampir, berarti ada banyak vampir lain yang berkeliaran di luar sana?

Dan mereka semua memanggil pria ini dengan penuh hormat. Eric memalingkan wajah. Tatapannya kembali bertemu dengan Selene.

"Aku seharusnya membunuhmu malam ini."

Selene menelan ludah.

"Tapi aku belum menemukan alasan mengapa darahmu berbeda. Jadi... kau akan tetap hidup."

Selene belum sempat bernapas lega. Eric melanjutkan ucapannya.

"Untuk sementara."

Seketika rasa lega itu lenyap. Eric melangkah mendekat. Ia mengangkat tangan. Jari telunjuknya menyentuh pelipis Selene.

"Hm?"

Selene mengernyit.

"Apa yang—"

Tatapan Eric berubah tajam.

"Aku akan menghapus ingatanmu."

Selene membeku.

"Hah?"

"Kau tidak akan mengingat malam ini."

"Tunggu!"

Belum sempat Selene menghindar, mata merah Eric tiba-tiba berpendar terang. Selene merasa kepalanya seperti dihantam sesuatu. Pandangannya berputar. Tubuhnya limbung, namun beberapa detik berlalu tidak terjadi apa-apa. Eric mengerutkan dahi, mustahil. Ia mencoba lagi. Gelombang energi tak kasatmata memenuhi udara di sekitar mereka. Daun-daun beterbangan, tanah bergetar pelan. Pria berambut perak sampai menundukkan kepala karena tekanan kekuatan itu.Tetapi... Selene masih berdiri di tempat dengan ekspresi bingung.

"Kenapa kau melotot begitu?"

Eric membeku.

Untuk pertama .kalinya dalam lebih dari sembilan ratus tahun, kemampuan hipnosisnya tidak bekerjaMata merahnya melebar, lalu bibirnya bergerak nyaris tanpa suara.

"...Blood Moon."

Kalimat itu membuat wajah pria berambut perak langsung kehilangan warna.

"Tidak mungkin..."

Ia menatap Selene seolah sedang melihat sesuatu yang seharusnya sudah punah ribuan tahun lalu. Sementara Selene, sama sekali tidak mengerti mengapa semua orang kini memandangnya seperti monster yang lebih mengerikan daripada Raja Malam sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Raja Malam   Bab 9 Alpha dan Luna

    Selene tidak mampu bergerak. Jantungnya berdetak begitu keras sampai telinganya berdenging.“A-apa...?”Suaranya hampir tidak terdengar. Ia menatap makhluk di hadapannya, lalu perlahan mengangkat wajah. Puluhan pasang mata menatapnya. Para vampire, bangsawan, penjaga, semuanya.Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Kastel Noctis, Selene berharap dirinya bisa bangun dari mimpi buruk.Sayangnya...Ini nyata.“Lucien.”Suara Eric terdengar rendah. Lucien langsung maju.“Yang Mulia.”“Bawa Selene ke belakangku.”Lucien mengangguk, namun sebelum ia sempat bergerak, suara lain terdengar dari sisi aula.“Jangan coba-coba.”Semua kepala menoleh.Kael berdiri di antara para werewolf. Ia berbeda dari yang lain. Tidak ada perubahan bentuk mengerikan pada tubuhnya. Ia masih tampak seperti seorang pria tampan, tinggi, dengan rambut hitam yang sedikit berantakan. Tatapan matanya berwarna emas terang, seperti binatang yang sedang mengamati mangsanya tetapi yang membuat Selene semakin takut bukan p

  • Pengantin Raja Malam   BAB 8 Bulan Darah

    Tidak ada seorang pun yang bergerak. Bahkan suara napas pun seolah menghilang dari aula. Selene berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat, menatap bulan di balik jendela besar. Bulan yang beberapa menit lalu berwarna putih keperakan kini berubah merah. Bukan merah samar.Merah pekat seperti darah.Cahaya merah itu menembus kaca dan jatuh tepat ke tubuh Selene. Lambang di lehernya menyala semakin terang.Deg.Selene tersentak.Rasa panas menjalar dari leher ke seluruh tubuhnya."Akh..."Tangannya mencengkeram sisi gaunnya.Eric langsung berdiri."Selene."Itu pertama kalinya suaranya terdengar berbeda. Bukan dengan nada dingin. Bukan juga ketenangan. Ada urgensi di sana.Selene mengangkat wajah."Aku..."Napasnya tersengal."Kenapa tubuhku panas?"Eric bergerak turun dari tempatnya, namun sebelum ia sempat mendekat, seorang bangsawan berdiri."Jangan sentuh dia!"Eric berhenti.Pria itu menunjuk Selene dengan wajah penuh ketakutan."Blood Moon telah bangkit!"Bisikan kembali terdeng

  • Pengantin Raja Malam   BAB 7 Dia Kembali

    Selene masih berdiri di depan cermin.Tubuhnya kaku.Tangannya mencengkeram ujung gaun tidur yang diberikan pelayan beberapa jam lalu. Suara perempuan itu masih bergema di kepalanya.Kau akhirnya kembali."Aku..."Selene menelan ludah."...tidak pernah ke sini sebelumnya."Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah pucat, mata sedikit sembap dan rambut berantakan. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.Namun kalimat itu terlalu nyata untuk disebut mimpi.Selene mendekati cermin. Ia menyentuh permukaannya. Rasanya dingin, sangat dingin."Kalau aku benar-benar pernah datang ke sini..."Ia mengerutkan dahi."Kenapa aku tidak ingat?"Tidak ada jawaban.Lambang di lehernya tiba-tiba berdenyut.Deg.Selene tersentak dan langsung menarik tangannya."Astaga..."Ia menutup leher dengan telapak tangan."Apa sebenarnya kamu ini?"Untuk pertama kalinya, ia berbicara kepada tanda itu seolah tanda tersebut bisa menjawab.Tentu saja tidak.Selene mengembuskan napas."Oke."Ia berjalan menjauh dari cermin.

  • Pengantin Raja Malam   BAB 6 Jamuan Para Bangsawan

    Selene tidak pernah membayangkan bahwa sebuah kastel bisa terasa lebih menakutkan daripada hutan yang dipenuhi vampir, namun ternyata bisa. Bahkan jauh lebih menakutkan. Langkah kakinya terdengar pelan di sepanjang koridor panjang Kastel Noctis.Tok.Tok.Tok.Lantai marmer hitam memantulkan bayangan mereka. Dinding-dinding tinggi dihiasi lukisan para bangsawan yang tidak Selene kenal. Sebagian besar wajah dalam lukisan itu tampak terlalu sempurna untuk disebut manusia.Mata mereka...semuanya berwarna merah.Selene berusaha tidak menatap terlalu lama, tapi semakin ia mencoba mengabaikan lukisan-lukisan itu, semakin ia merasa seolah-olah mata mereka mengikuti langkahnya. Ia mempercepat langkahnya sedikit. Eric berjalan beberapa meter di depannya. Ia tidak banyak bicara sejak mereka memasuki kastel. Lucien berada di belakang Selene. Sementara Lorcan, kepala pelayan yang tadi menyambut mereka, berjalan di sisi lain dengan sikap tenang."Kamarku masih jauh?"Selene akhirnya bertanya.Lorc

  • Pengantin Raja Malam   BAB 5 Kastel Sang Raja Malam

    Kabut perlahan menghilang. Tidak ada lagi suara benturan pedang, tidak ada lagi teriakan. Hutan yang beberapa saat lalu dipenuhi pertempuran kini kembali sunyi, menyisakan batang-batang pohon yang tumbang dan tanah yang dipenuhi bekas tebasan.Selene masih berdiri mematung. Ujung jarinya menyentuh lambang bulan sabit di lehernya. Kulit itu terasa hangat, sangat nyata."Apa... ini benar-benar ada?"Tak ada yang menjawab.Para vampir yang tadi mengepung mereka telah menghilang satu per satu setelah mendapat isyarat dari wanita bergaun hitam. Sebelum pergi, wanita itu sempat menatap Selene cukup lama. Tatapan yang membuat bulu kuduknya meremang."Aku akan datang menjemputmu lagi."Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Selene menarik napas panjang."Aduh, kakiku..."Ia mencoba melangkah, namun lututnya mendadak kehilangan tenaga. Tubuhnya limbung.Bruk.Ia terduduk di tanah yang basah bukan karena terluka. Melainkan karena tubuhnya akhirnya menyerah setelah menahan ketakutan sejak ta

  • Pengantin Raja Malam   BAB 4 Kemunculan Blood Moon

    Puluhan pasang mata merah menyala di balik kabut. Selene tidak lagi mampu menghitung jumlahnya. Mungkin ada lima puluh pasang mata atau lebih. Ia tidak bisa menghitungnya lagi karena semakin lama semakin banyak mereka berdatangan. Mereka berdiri diam di antara pepohonan, seolah sedang menunggu sebuah perintah. Hujan yang semula hanya berupa rintik kini benar-benar berhenti. Hutan berubah sunyi, begitu sunyi hingga Selene bisa mendengar detak jantungnya sendiri."Yang Mulia..."Pria berambut perak menundukkan kepala sedikit."Mereka semua mulai berdatangan."Eric tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan."Berapa banyak?""Lebih dari lima puluh."Selene spontan menoleh."Lima puluh?"Suaranya hampir tidak terdengar."Yang lima puluh itu... semuanya seperti kalian?"Pria berambut perak mengangguk pelan. Selene merasakan lututnya semakin lemas."Aku bahkan tidak sanggup menghadapi satu...Bagaimana mungkin ada lima puluh?"Ia memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur napas seperti y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status