Share

Pengantin Tanpa Malam Pertama
Pengantin Tanpa Malam Pertama
Author: Ana_miauw

1: Konsultasi

Author: Ana_miauw
last update publish date: 2026-02-06 12:20:21

“Ustadz, suami saya impoten. Apa saya boleh mengajukan cerai karena permasalahan tersebut?”

***

Masjid Al-Ikhlas mulai lengang seiring berakhirnya kajian siang itu. Namun di salah satu pilar besar, Almira masih terpaku, dengan mata yang terus menatap ke arah pintu sayap kanan masjid bertuliskan “Bimbingan & Konsultasi Syariah”.

“Mir, ayoo!! Namamu udah dipanggil petugas dari tadi,” ajak Selina sambil menyentuh bahu Almira.

Padahal tadi Almira begitu bersemangat untuk mengkonsultasikan hal ini. Tapi kini dia justru mendadak ragu lagi, seperti sebelum-sebelumnya yang dia lakukan. Maju mundur.

“Duh, gimana ya, Sel? Apa nggak jadi aja ya? Pulang aja yuk!”

“Tuh, kan, gini lagi. Kita sudah sampai di sini, lho, Mir. Tinggal selangkah lagi supaya semua ini jadi jelas. Biar kamu tau, apa keputusan yang harus kamu ambil selanjutnya,” balas Selina tak sabaran.

“Apa nggak apa-apa?” Air mata Almira mulai menggenang di pelupuknya. “Ini... ini aib suamiku. Mas Reza itu lelaki baik, dia menjaga kehormatanku di depan semua orang. Apa nggak keterlaluan kalau aku justru menceritakan kekurangan fisiknya pada orang lain? Aku malu, Sel... aku takut ini jadi dosa besar karena mengumbar urusan ranjang.”

Selina memegang kedua bahu Almira, memaksa sahabatnya itu untuk menatapnya. “Dengar, Mir. Mengumbar aib itu kalau kamu ceritain ke tetangga sambil bergosip. Tapi ini konsultasi. Kamu lagi cari solusi dan obat serta kejelasan hukum supaya kamu nggak berdosa karena terus-menerus menyimpan rasa keselmu sama suamimu di hati. Islam itu adil, Mir. Kamu punya hak untuk bahagia, dan Mas Reza punya hak untuk dibantu sembuh. Ustadz Rayyan itu profesional, dia udah biasa menangani masalah berat seperti ini,” jelasnya panjang lebar, dan untuk lebih meyakinkannya lagi, ia juga menambahkan, “aku yakin nggak akan ada yang akan menghakimi kamu. Pasti mereka justru kasihan sama kamu kalau kamu menceritakannya. Sebaliknya, hati kamu juga bakal lebih plong nantinya.”

Almira menarik napasnya yang mendadak terasa sesak. “Tapi tetep aja... menyebutkan kata itu di depan Ustadz... rasanya bibirku kelu.”

“Ada aku, Mir. Aku temenin. Atau mungkin kalau nantinya kamu mendadak kesulitan buat ngejelasin masalahnya, aku bisa bantu. Percaya sama aku. Okay?”

Dengan sisa keberanian yang ada, Almira akhirnya mengangguk. Mereka melangkah menuju ruangan tersebut. Setelah mengetuk pintu, seorang asisten staf masjid mempersilakan mereka masuk. Pintu sengaja dibiarkan terbuka sepertiga bagian, dan staf tadi duduk di meja sudut luar, memastikan pertemuan itu tetap profesional dan terjaga dari fitnah.

Di dalam ruangan yang tenang, Ustadz Rayyan duduk di balik meja kerja yang dipenuhi kitab-kitab. Ia memberikan gestur sopan agar mereka duduk, namun tetap menjaga pandangannya tetap rendah.

“Silakan duduk, Mbak Almira, Mbak Selina,” sapa Ustadz Rayyan teduh.

Keheningan sempat menyergap selama beberapa detik. Almira menunduk dalam, pipinya memanas karena rasa malu yang amat sangat. Namun saat teringat dinginnya pernikahan mereka di hampir setiap malamnya, keberanian itu akhirnya muncul juga.

“Ustadz...” suara Almira nyaris tak terdengar, tertahan di kerongkongan. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa malu yang membakar pipinya. “Saya... saya datang membawa beban yang sebenarnya sangat memalukan untuk saya bagi. Tapi, saya nggak punya pilihan lain ke selain datang ke sini.”

Almira menjeda kalimatnya, matanya berkaca-kaca. “Mengenai suami saya, beliau... Beliau mengalami gangguan dalam menunaikan kewajiban biologisnya. Sudah lama kami hidup bersama dan saya masih suci, Ustadz. Apakah... apakah berdosa jika seorang istri seperti saya mengajukan cerai karena alasan tersebut?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    107: Epilog

    Enam bulan telah berlalu sejak fajar yang membawa perubahan besar itu menyingsing di atas langit Pesantren Al-Fatih. Kehidupan di ndalem kini telah menemukan ritme barunya—sebuah harmoni yang jauh lebih hidup daripada tahun-tahun sebelumnya yang hanya diisi oleh kesunyian. Cabang Butik baru Almira, kini juga berdiri anggun di sisi timur komplek pesantren, tepat di lahan yang dijanjikan Rayyan tempo hari. Bangunannya modern namun tetap memiliki sentuhan arsitektur Islam yang kental. Hari itu, Almira sedang duduk di meja kerjanya yang luas, memperhatikan dua orang santriwati tingkat akhir yang sedang magang di sana, belajar teknik memotong pola kain sutra.Almira mengusap perutnya yang kini sudah mulai menonjol di balik gamis longgar berbahan ceruti premium. “Ustazah, ini polanya sudah benar?” tanya salah satu santriwati dengan sopan.Almira tersenyum teduh. “Sudah bagus, Siti. Ingat, setiap jahitan itu seperti doa; harus rapi dan penuh kesabaran. Kalau hati kita tenang, pak

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    106: Masa Pencarian Sudah Selesai

    “Sekarang giliran kamu yang mandi. Mas tunggu di sini, kita shalat jamaah,” ucap Rayyan lembut, tangannya masih enggan lepas dari pinggang Almira.Almira mengangguk, melepaskan pelukannya. Lalu dengan segera, ia menyambar handuknya dan menghilang di balik pintu kamar mandi.Almira butuh waktu untuk menenangkan degup jantungnya yang sedari tadi tak mau kompromi. Di balik pintu, ia menyandarkan punggungnya, menarik napas dalam-dalam, dan tersenyum pada bayangannya sendiri di cermin.Sepuluh menit kemudian, Almira keluar dengan wajah yang jauh lebih segar. Ia sudah mengenakan mukena satin berwarna broken white yang senada dengan suasana kamar mereka.Rayyan sudah menunggu di atas sajadah, telah mengenakan baju koko putih bersih dan peci hitam yang membuatnya tampak sangat bersahaja namun berwibawa.“Allahu Akbar...”Rayyan memulai salat. Lantunan takbiratul ihramnya terdengar begitu mantap. Di belakangnya, Almira mengikuti setiap gerakan dengan kekhusyukan yang belum pernah ia rasa

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    105: Sepertinya Dia Menjaganya Untukmu

    Masih Di Kamar Pengantin... Kamar itu biasanya terasa sunyi dan fungsional, mencerminkan kepribadian Rayyan Al-Fatih yang praktis dan teratur. Tidak banyak hiasan, tidak ada barang yang berlebihan—semuanya tertata rapi sebagaimana hidupnya yang disiplin. Namun pagi ini, udaranya terasa berbeda. Lebih hangat, lebih hidup. Ada aroma mawar dan melati yang tertinggal dari riasan pengantin semalam, bercampur dengan aroma maskulin khas kayu cendana milik sang pemilik kamar dan wangi lembut Almira. Perpaduan itu menciptakan suasana baru yang membahagiakan.Almira az-Zahra mengerjapkan matanya, seolah takut jika semua ini hanya mimpi yang akan hilang begitu saja. Hal pertama yang ia rasakan adalah hangat di pinggangnya—sebuah lengan kokoh yang melingkar posesif, seakan memberi perlindungan tanpa perlu diminta. Begitu matanya terbuka sempurna, jantungnya langsung berdegup kencang, naik hingga ke pangkal tenggorokan.Hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, Rayyan terlelap. Napas pria it

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    104: SUJUD SYUKUR DALAM JAMAAH PERTAMA

    Tangan kokoh Rayyan masih menggenggam jemari Almira saat mereka melintasi selasar ndalem yang mulai sunyi. Lampu-lampu taman temaram memberikan bayangan panjang di lantai kayu. Setiap langkah kaki Almira terasa berat, karena debaran di dadanya yang kian menggila. Ia merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta, padahal ia adalah seorang ibu dari dua anak.Begitu mereka sampai di depan pintu kamar, Rayyan berhenti sejenak. Ia menatap Almira dengan senyum tipis yang begitu teduh, lalu perlahan membuka pintu jati tersebut. Wangi bunga melati dan mawar yang tadi sempat dipuji Selina kini menyeruak lebih kuat, menyambut mereka dalam kehangatan yang privat.Rayyan menutup pintu dan menguncinya. Bunyi klik kecil itu terdengar begitu nyaring di telinga Almira, seolah menandakan bahwa dunia luar—dengan segala fitnah dan kerumitannya—telah resmi terkunci di luar sana.“Mas ambil air wudhu dulu ya,” pamit Rayyan lembut.Almira hanya mengangguk kecil, membiarkan suaminya masuk ke kamar

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    103: Ayo, Kita Juga Butuh Istirahat🤭

    Adzan maghrib baru selesai ketika Rayyan perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Almira yang nampak lebih tenang, meski sisa air mata masih membekas di sudut matanya yang indah.“Ganti bajumu. Kita akan tunaikan hak Allah dulu,” ucap Rayyan. “Kita jamaah di sini?” tanya Almira. “Bagaimana kalau shalat Isya saja nanti? Sekaligus shalat...”“Ah, iya,” Almira segera mengangguk. Mengerti akan maksud pria itu. “Sekarang aku ke masjid besar dulu, bareng sama Papa Hendra dan para santri. Kamu shalat di ndalem saja bersama Mbak Fatma dan Mama Sofia, ya?”Almira mengangguk patuh. “Iya, Ustaz. Eh, Mas Ustaz.”Rayyan terkekeh, lalu mengusap kepala istrinya dengan gemas. Pintu ruang kerja terbuka, dan mereka keluar bersama. Di selasar, Selina sudah menunggu dengan wajah sumringah namun tetap menjaga sikap di depan sang Ustaz. Rayyan memberikan anggukan sopan kepada sahabat istrinya itu sebelum melangkah menuju area depan untuk bergabung dengan jamaah pria.“Tolong bantu aku

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    102: DERMAGA DOA DI PESANTREN AL-FATIH 2

    Waktu berlalu dengan cepat. Matahari mulai condong ke arah barat, meninggalkan semburat warna jingga dan ungu di langit Pesantren Al-Fatih. Setelah rangkaian acara yang melelahkan, para tamu mulai berpamitan.Mbak Fatma dengan sigap menghampiri anaknya sendiri dan juga keponakannya. “Sudah, Abang Akmal, Arka, Dina... ikut Ummi Fatma dulu yuk. Kita main di taman belakang, lihat ikan koi di kolam. Umma dan Abah mau istirahat sebentar, jangan diganggu ya,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Almira.Almira merasa wajahnya memanas. Ia mengikuti langkah Rayyan menuju bangunan utama ndalem. Mereka tidak menuju kamar pengantin, melainkan ke ruang kerja pribadi Rayyan. Sebuah ruangan yang sangat sakral, penuh dengan ribuan kitab yang tertumpuk rapi hingga ke langit-langit, dengan aroma parfum gaharu yang menenangkan dan udara yang sejuk.Begitu pintu jati itu tertutup, suasana mendadak menjadi sangat sunyi.Almira merasa lidahnya kelu. Meski mereka sudah sah, ada rasa canggung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status