MasukSetelah mengehla napas, Ustadz Rayyan segera menundukkan pandangan ke arah meja kayu di hadapannya untuk menjaga marwah Almira, memberikan ruang bagi wanita itu agar tidak merasa dihakimi. Raut wajahnya tetap teduh dan penuh wibawa.
“Mbak Almira. Saya paham, pertanyaan ini memang terasa berat karena menyangkut hal paling privat dalam rumah tangga. Namun, dalam syariat, ini adalah perkara penting. Islam adalah agama yang adil; ia tidak menghendaki penderitaan bagi siapa pun, baik suami maupun istri.” Ustadz Rayyan kemudian mulai menjelaskan dengan bijak, bahwasanya—salah satu tujuan utama dalam pernikahan adalah hifzhun nafs, menjaga kesucian diri dan mendapatkan ketenangan batin atau sakinah. Hubungan biologis bukan sekadar pemuas nafsu, melainkan hak yang sah bagi suami maupun istri. “Dan jika suami Mbak Almira—Mas Reza—mengalami kendala medis seperti impotensi atau kelemahan syahwat, maka secara syariat, itu merupakan alasan yang kuat bagi seorang istri untuk mengajukan fasakh atau pembatalan nikah di pengadilan.” Almira menunduk, butiran bening mulai jatuh ke pangkuannya. Ternyata kalau ia masih suci bukan cerai seperti dugaannya, melainkan pembatalan pernikahan. Ustadz melanjutkan, “Namun, Mbak, Islam juga mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru memutus ikatan suci saat ujian datang. Ada tahapan yang perlu dilalui agar tidak ada penyesalan. “Syariat memberikan kesempatan bagi suami untuk berobat. Jika perkara ini sampai ke Pengadilan Agama, biasanya hakim akan memberikan waktu satu tahun Hijriah kepada suami untuk mengupayakan kesembuhan. Mengapa satu tahun? Karena dalam kurun waktu itu, manusia melewati empat musim yang berbeda. Secara medis dan psikologis, perubahan musim ini diyakini dapat memengaruhi metabolisme dan kondisi fisik seseorang secara signifikan.” “Saya ambil pahitnya dulu ya, Ustadz, seandainya dalam kurun satu tahun itu beliau sedang atau masih berusaha namun belum juga sembuh, apakah jika keputusan saya untuk tetap berpisah membuat saya menjadi istri durhaka?” sela Almira, “sebab sebelumnya saya sudah mencoba bersabar selama dua tahun, dan saya merasa kesepian dan saya merasa seperti kehilangan arah di rumah sendiri.” “Tidak, Mbak Almira,” jawab Ustadz Rayyan menenangkan. “Jika ikhtiar medis maupun ruqyah sudah dilakukan namun tetap tidak ada perubahan, dan Mbak khawatir kondisi ini membuat Mbak tidak bisa lagi menjaga kehormatan diri atau justru membuat Mbak menjadi tidak hormat kepada suami, maka berpisah adalah jalan yang dibolehkan untuk menghindari kemudaratan yang lebih besar.” Ustadz Rayyan kembali memberikannya saran agar Almira tidak terlalu terburu-buru, dan bisa membicarakan kembali masalah ini pada suaminya, namun tanpa melukai harga dirinya sebagai lelaki sekaligus kepala keluarga. “Katakan kalau Mbak Almira berjuang bersamanya, bukan melawannya. Kemudian, salat istikharah, petunjuk langsung kepada Pemilik Hati. Tanyakan pada batin yang terdalam, apakah cinta itu masih ada untuk menanti, ataukah perpisahan adalah satu-satunya cara agar tidak terjerumus ke dalam dosa...” Almira mengusap air matanya yang mulai membasahi pipi. “Sesungguhnya saya masih mencintainya,” ujarnya terus terang. “Mbak Almira. Suamimu sedang diuji fisiknya dan Mbak sedang diuji kesabarannya. Jika Mbak bertahan karena berharap pahala, itu adalah kemuliaan. Namun jika pintu kesabaran itu sudah tertutup karena takut melanggar batasan Allah, maka pintu lain akan terbuka tanpa menghapus kehormatan Mbak sebagai muslimah.” Almira menarik napas panjang. Beban yang tadi menghimpitnya kini terasa lebih ringan. Ia tidak lagi merasa bersalah atas keinginannya, namun ia juga menyadari ada satu ikhtiar terakhir yang harus ia jalani: mendampingi Reza berobat dengan batas waktu yang jelas. “Terima kasih, Ustadz. Saya paham sekarang. Saya akan mencoba berbicara sekali lagi dengan suami saya lebih serius. Jika dalam waktu yang disepakati tidak ada perubahan, saya akan kembali untuk langkah hukumnya,” ucap Almira kemudian. Selina tersenyum lega sambil merangkul bahu sahabatnya. Mereka bangkit berdiri, membawa pulang sebuah pemahaman bahwa kebahagiaan seorang istri bukanlah sesuatu yang harus dikorbankan demi sebuah label pernikahan.Sinar matahari membasuh ruang makan dengan warna keemasan. Di mana Reza sudah duduk di sana, tampak santai menonton televisi. Ya, pria itu tampak lebih semringah karena sisa tawa dari obrolan mereka semalam, saat Almira menyandarkan kepala di bahunya sambil menonton televisi hingga dini hari. Kalau sedang demikian, Reza merasa bahwa Almira adalah istri yang sangat mencintainya. Jika saja sesuatu atau realitas yang ada pada dirinya, tak kembali membawa mereka ke permukaan.Di belakang Reza, Almira sendiri sedang menuangkan cairan kecoklatan dari panci kecil ke dalam gelas keramik. Itu adalah jamu akar-akaran yang dibawa oleh Ibu Ratna kemarin.“Diminum ya, Mas, selagi hangat,” Almira meletakkan gelas jamu tersebut di meja depan Reza duduk.“Apa ini?” Reza bertanya.“Ini jamu dari Ibu...”“Oh iya, Ibu kemarin ke sini ya?”“Iya, Mas. Nggak perlu dijelasin udah pahamlah ya, maksud beliau setiap datang ke sini. Soalnya pasti nggak akan jauh-jauh buat bahas cucu.” Almira tersenyum
Hampir tengah malam saat deru mesin mobil Reza terdengar di halaman. Almira masih terjaga di ruang tamu, menatap layar televisi yang sebenarnya tidak benar-benar ia tonton. Pikirannya melayang entah ke mana. Ya, seperti biasa—perempuan dengan segala ke-overthinking-annya.Almira beranjak membukakan pintu untuk Reza ketika pria itu masuk dengan wajah lelah.“Nggak langsung tidur aja, Al? Kan udah tahu kalau aku bakal pulang larut,” kata Reza.“Nggak masalah kan, Mas, kalau aku pengen nungguin kamu? Belum ngantuk juga soalnya,” sahut Almira sambil membantu meletakkan sepatu Reza di tempat yang semestinya.Ia menyuguhkan minum dan sedikit camilan sehat sebelum Reza benar-benar beristirahat. Almira menemaninya, sembari mengobrol tentang aktivitas mereka hari ini.“Selina udah kewalahan, jadi aku mutusin buat nambah satu karyawan lagi,” cerita Almira.“Itu bagus. Dengan begitu berarti kamu sudah membantu orang dengan membuka lowongan pekerjaan,” tanggap Reza.“Tapi… pengeluaran jadi nambah
Setengah melamun Almira saat memotong buah di mini barnya. Ia sama sekali tidak fokus hari ini sampai harus pulang lebih cepat. Riuh sekali kepala Almira. Terlalu banyak sesuatu yang sedang ia pikirkan. Salah satunya, percakapan panasnya dengan Reza pagi tadi.Tapi seperti yang dikatakan oleh ibu mertuanya, tibalah kini wanita tua itu di sini. Membuat Almira segera bergegas membuka pintu, begitu bel rumah terdengar.“Assalamualaikum, Al...” sapa wanita tua itu.“Waalaikumsalam, Ibu. Mari masuk, Bu,” jawab Almira sembari meraih tangan ibu mertuanya.“Reza belum pulang, Al?” Ibu Ratna melangkah masuk dengan membawa sebuah bungkusan kertas cukup besar. Aroma jamu-jamuan langsung menyeruak dari sana.“Belum, Bu. Mau Al buatin minum apa?”“Apa ya? Teh aja deh, Al.”Almira membawa mertuanya ke area dapur yang menyatu dengan ruang makan. Ibu Ratna duduk di kursi bar, memperhatikan punggung menantunya yang sibuk menyiapkan teh.“Sedang apa, Al? Masak apa sore-sore begini?” tanya beliau lembut
Keesokan paginya setelah keduanya melewati malam yang dingin itu, Almira menyusul Reza yang lebih dulu keluar kamar dibanding dirinya karena begitu selesai berbenah diri, ia langsung sibuk membalas semua pesan.Hingga ditemukannya sang suami di balik kitchen island, sedang memotong sayuran dengan gerakan profesional. Jelas, ini memang keahliannya.“Pagi, Al,” sapa Reza datar, tanpa menoleh. “Aku buatkan Egg Benedict dengan saus hollandaise kesukaanmu. Duduklah.”Almira menarik kursi bar. Memperhatikan punggung suaminya yang kokoh, namun menyimpan sekelumit rahasia yang mengunci rapat kebahagiaan mereka.Dan ketika Almira mencoba memulai pembicaraan, “Mas, soal yang semalam...”Reza langsung memotongnya, “Aku sudah bilang, hitungannya dimulai hari ini kan?”“Nggak, aku Cuma mau minta maaf kalau cara bicaraku mungkin membuatmu tersinggung.”Hening.Reza tak menjawab. Pada dasarnya hal ini memang melukainya. Tapi ia juga tak bisa memungkiri bahwa Almira hanya sedang memperjuangkan diriny
Pukul setengah sepuluh malam ketika Almira tiba di rumahnya. Di garasi, mobil Reza—suaminya sudah terparkir di tempatnya, hingga dipastikan pria itu sudah pulang lebih dulu, mungkin beberapa menit yang lalu.Sedikit cerita, kehidupan Almira sebenarnya sudah sangat berkecukupan. Reza adalah seorang chef di Hotel Internasional yang bergaji puluhan juta perbulan. Secara fisik, dia juga sempurna. Kekurangannya hanya satu, itu yang sedang Almira keluhkan.Sebenarnya ini tidak apa-apa kalau Reza mau berusaha. Sayangnya, pria itu terkesan tidak terlalu peduli atau bahkan cuek. Sementara Almira? Dia bahkan sudah sering dipaksa minum jamu dan obat-obatan oleh ibu mertuanya. Bahkan tak jarang, diantar untuk melakukan terapi macam-macam.Sedangkan Reza? Dialah yang dianggap sempurna. Semua kekurangan dan kesalahan ditumpahkan pada dirinya. Almira merasa ini tidak adil, ia tidak bisa membuka semuanya, juga atas nama cinta, tapi Reza malah terlihat biasa-biasa saja.Jika ditanya apakah Reza pria y
Setelah mengehla napas, Ustadz Rayyan segera menundukkan pandangan ke arah meja kayu di hadapannya untuk menjaga marwah Almira, memberikan ruang bagi wanita itu agar tidak merasa dihakimi. Raut wajahnya tetap teduh dan penuh wibawa.“Mbak Almira. Saya paham, pertanyaan ini memang terasa berat karena menyangkut hal paling privat dalam rumah tangga. Namun, dalam syariat, ini adalah perkara penting. Islam adalah agama yang adil; ia tidak menghendaki penderitaan bagi siapa pun, baik suami maupun istri.”Ustadz Rayyan kemudian mulai menjelaskan dengan bijak, bahwasanya—salah satu tujuan utama dalam pernikahan adalah hifzhun nafs, menjaga kesucian diri dan mendapatkan ketenangan batin atau sakinah. Hubungan biologis bukan sekadar pemuas nafsu, melainkan hak yang sah bagi suami maupun istri.“Dan jika suami Mbak Almira—Mas Reza—mengalami kendala medis seperti impotensi atau kelemahan syahwat, maka secara syariat, itu merupakan alasan yang kuat bagi seorang istri untuk mengajukan fasakh atau







