แชร์

2: Jawaban

ผู้เขียน: Ana_miauw
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-06 12:20:48

Setelah mengehla napas, Ustadz Rayyan segera menundukkan pandangan ke arah meja kayu di hadapannya untuk menjaga marwah Almira, memberikan ruang bagi wanita itu agar tidak merasa dihakimi. Raut wajahnya tetap teduh dan penuh wibawa.

“Mbak Almira. Saya paham, pertanyaan ini memang terasa berat karena menyangkut hal paling privat dalam rumah tangga. Namun, dalam syariat, ini adalah perkara penting. Islam adalah agama yang adil; ia tidak menghendaki penderitaan bagi siapa pun, baik suami maupun istri.”

Ustadz Rayyan kemudian mulai menjelaskan dengan bijak, bahwasanya—salah satu tujuan utama dalam pernikahan adalah hifzhun nafs, menjaga kesucian diri dan mendapatkan ketenangan batin atau sakinah. Hubungan biologis bukan sekadar pemuas nafsu, melainkan hak yang sah bagi suami maupun istri.

“Dan jika suami Mbak Almira—Mas Reza—mengalami kendala medis seperti impotensi atau kelemahan syahwat, maka secara syariat, itu merupakan alasan yang kuat bagi seorang istri untuk mengajukan fasakh atau pembatalan nikah di pengadilan.”

Almira menunduk, butiran bening mulai jatuh ke pangkuannya. Ternyata kalau ia masih suci bukan cerai seperti dugaannya, melainkan pembatalan pernikahan.

Ustadz melanjutkan, “Namun, Mbak, Islam juga mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru memutus ikatan suci saat ujian datang. Ada tahapan yang perlu dilalui agar tidak ada penyesalan.

“Syariat memberikan kesempatan bagi suami untuk berobat. Jika perkara ini sampai ke Pengadilan Agama, biasanya hakim akan memberikan waktu satu tahun Hijriah kepada suami untuk mengupayakan kesembuhan. Mengapa satu tahun? Karena dalam kurun waktu itu, manusia melewati empat musim yang berbeda. Secara medis dan psikologis, perubahan musim ini diyakini dapat memengaruhi metabolisme dan kondisi fisik seseorang secara signifikan.”

“Saya ambil pahitnya dulu ya, Ustadz, seandainya dalam kurun satu tahun itu beliau sedang atau masih berusaha namun belum juga sembuh, apakah jika keputusan saya untuk tetap berpisah membuat saya menjadi istri durhaka?” sela Almira, “sebab sebelumnya saya sudah mencoba bersabar selama dua tahun, dan saya merasa kesepian dan saya merasa seperti kehilangan arah di rumah sendiri.”

“Tidak, Mbak Almira,” jawab Ustadz Rayyan menenangkan. “Jika ikhtiar medis maupun ruqyah sudah dilakukan namun tetap tidak ada perubahan, dan Mbak khawatir kondisi ini membuat Mbak tidak bisa lagi menjaga kehormatan diri atau justru membuat Mbak menjadi tidak hormat kepada suami, maka berpisah adalah jalan yang dibolehkan untuk menghindari kemudaratan yang lebih besar.”

Ustadz Rayyan kembali memberikannya saran agar Almira tidak terlalu terburu-buru, dan bisa membicarakan kembali masalah ini pada suaminya, namun tanpa melukai harga dirinya sebagai lelaki sekaligus kepala keluarga.

“Katakan kalau Mbak Almira berjuang bersamanya, bukan melawannya. Kemudian, salat istikharah, petunjuk langsung kepada Pemilik Hati. Tanyakan pada batin yang terdalam, apakah cinta itu masih ada untuk menanti, ataukah perpisahan adalah satu-satunya cara agar tidak terjerumus ke dalam dosa...”

Almira mengusap air matanya yang mulai membasahi pipi. “Sesungguhnya saya masih mencintainya,” ujarnya terus terang.

“Mbak Almira. Suamimu sedang diuji fisiknya dan Mbak sedang diuji kesabarannya. Jika Mbak bertahan karena berharap pahala, itu adalah kemuliaan. Namun jika pintu kesabaran itu sudah tertutup karena takut melanggar batasan Allah, maka pintu lain akan terbuka tanpa menghapus kehormatan Mbak sebagai muslimah.”

Almira menarik napas panjang. Beban yang tadi menghimpitnya kini terasa lebih ringan. Ia tidak lagi merasa bersalah atas keinginannya, namun ia juga menyadari ada satu ikhtiar terakhir yang harus ia jalani: mendampingi Reza berobat dengan batas waktu yang jelas.

“Terima kasih, Ustadz. Saya paham sekarang. Saya akan mencoba berbicara sekali lagi dengan suami saya lebih serius. Jika dalam waktu yang disepakati tidak ada perubahan, saya akan kembali untuk langkah hukumnya,” ucap Almira kemudian.

Selina tersenyum lega sambil merangkul bahu sahabatnya. Mereka bangkit berdiri, membawa pulang sebuah pemahaman bahwa kebahagiaan seorang istri bukanlah sesuatu yang harus dikorbankan demi sebuah label pernikahan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    107: Epilog

    Enam bulan telah berlalu sejak fajar yang membawa perubahan besar itu menyingsing di atas langit Pesantren Al-Fatih. Kehidupan di ndalem kini telah menemukan ritme barunya—sebuah harmoni yang jauh lebih hidup daripada tahun-tahun sebelumnya yang hanya diisi oleh kesunyian. Cabang Butik baru Almira, kini juga berdiri anggun di sisi timur komplek pesantren, tepat di lahan yang dijanjikan Rayyan tempo hari. Bangunannya modern namun tetap memiliki sentuhan arsitektur Islam yang kental. Hari itu, Almira sedang duduk di meja kerjanya yang luas, memperhatikan dua orang santriwati tingkat akhir yang sedang magang di sana, belajar teknik memotong pola kain sutra.Almira mengusap perutnya yang kini sudah mulai menonjol di balik gamis longgar berbahan ceruti premium. “Ustazah, ini polanya sudah benar?” tanya salah satu santriwati dengan sopan.Almira tersenyum teduh. “Sudah bagus, Siti. Ingat, setiap jahitan itu seperti doa; harus rapi dan penuh kesabaran. Kalau hati kita tenang, pak

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    106: Masa Pencarian Sudah Selesai

    “Sekarang giliran kamu yang mandi. Mas tunggu di sini, kita shalat jamaah,” ucap Rayyan lembut, tangannya masih enggan lepas dari pinggang Almira.Almira mengangguk, melepaskan pelukannya. Lalu dengan segera, ia menyambar handuknya dan menghilang di balik pintu kamar mandi.Almira butuh waktu untuk menenangkan degup jantungnya yang sedari tadi tak mau kompromi. Di balik pintu, ia menyandarkan punggungnya, menarik napas dalam-dalam, dan tersenyum pada bayangannya sendiri di cermin.Sepuluh menit kemudian, Almira keluar dengan wajah yang jauh lebih segar. Ia sudah mengenakan mukena satin berwarna broken white yang senada dengan suasana kamar mereka.Rayyan sudah menunggu di atas sajadah, telah mengenakan baju koko putih bersih dan peci hitam yang membuatnya tampak sangat bersahaja namun berwibawa.“Allahu Akbar...”Rayyan memulai salat. Lantunan takbiratul ihramnya terdengar begitu mantap. Di belakangnya, Almira mengikuti setiap gerakan dengan kekhusyukan yang belum pernah ia rasa

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    105: Sepertinya Dia Menjaganya Untukmu

    Masih Di Kamar Pengantin... Kamar itu biasanya terasa sunyi dan fungsional, mencerminkan kepribadian Rayyan Al-Fatih yang praktis dan teratur. Tidak banyak hiasan, tidak ada barang yang berlebihan—semuanya tertata rapi sebagaimana hidupnya yang disiplin. Namun pagi ini, udaranya terasa berbeda. Lebih hangat, lebih hidup. Ada aroma mawar dan melati yang tertinggal dari riasan pengantin semalam, bercampur dengan aroma maskulin khas kayu cendana milik sang pemilik kamar dan wangi lembut Almira. Perpaduan itu menciptakan suasana baru yang membahagiakan.Almira az-Zahra mengerjapkan matanya, seolah takut jika semua ini hanya mimpi yang akan hilang begitu saja. Hal pertama yang ia rasakan adalah hangat di pinggangnya—sebuah lengan kokoh yang melingkar posesif, seakan memberi perlindungan tanpa perlu diminta. Begitu matanya terbuka sempurna, jantungnya langsung berdegup kencang, naik hingga ke pangkal tenggorokan.Hanya beberapa sentimeter dari wajahnya, Rayyan terlelap. Napas pria it

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    104: SUJUD SYUKUR DALAM JAMAAH PERTAMA

    Tangan kokoh Rayyan masih menggenggam jemari Almira saat mereka melintasi selasar ndalem yang mulai sunyi. Lampu-lampu taman temaram memberikan bayangan panjang di lantai kayu. Setiap langkah kaki Almira terasa berat, karena debaran di dadanya yang kian menggila. Ia merasa seperti remaja yang baru mengenal cinta, padahal ia adalah seorang ibu dari dua anak.Begitu mereka sampai di depan pintu kamar, Rayyan berhenti sejenak. Ia menatap Almira dengan senyum tipis yang begitu teduh, lalu perlahan membuka pintu jati tersebut. Wangi bunga melati dan mawar yang tadi sempat dipuji Selina kini menyeruak lebih kuat, menyambut mereka dalam kehangatan yang privat.Rayyan menutup pintu dan menguncinya. Bunyi klik kecil itu terdengar begitu nyaring di telinga Almira, seolah menandakan bahwa dunia luar—dengan segala fitnah dan kerumitannya—telah resmi terkunci di luar sana.“Mas ambil air wudhu dulu ya,” pamit Rayyan lembut.Almira hanya mengangguk kecil, membiarkan suaminya masuk ke kamar

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    103: Ayo, Kita Juga Butuh Istirahat🤭

    Adzan maghrib baru selesai ketika Rayyan perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Almira yang nampak lebih tenang, meski sisa air mata masih membekas di sudut matanya yang indah.“Ganti bajumu. Kita akan tunaikan hak Allah dulu,” ucap Rayyan. “Kita jamaah di sini?” tanya Almira. “Bagaimana kalau shalat Isya saja nanti? Sekaligus shalat...”“Ah, iya,” Almira segera mengangguk. Mengerti akan maksud pria itu. “Sekarang aku ke masjid besar dulu, bareng sama Papa Hendra dan para santri. Kamu shalat di ndalem saja bersama Mbak Fatma dan Mama Sofia, ya?”Almira mengangguk patuh. “Iya, Ustaz. Eh, Mas Ustaz.”Rayyan terkekeh, lalu mengusap kepala istrinya dengan gemas. Pintu ruang kerja terbuka, dan mereka keluar bersama. Di selasar, Selina sudah menunggu dengan wajah sumringah namun tetap menjaga sikap di depan sang Ustaz. Rayyan memberikan anggukan sopan kepada sahabat istrinya itu sebelum melangkah menuju area depan untuk bergabung dengan jamaah pria.“Tolong bantu aku

  • Pengantin Tanpa Malam Pertama    102: DERMAGA DOA DI PESANTREN AL-FATIH 2

    Waktu berlalu dengan cepat. Matahari mulai condong ke arah barat, meninggalkan semburat warna jingga dan ungu di langit Pesantren Al-Fatih. Setelah rangkaian acara yang melelahkan, para tamu mulai berpamitan.Mbak Fatma dengan sigap menghampiri anaknya sendiri dan juga keponakannya. “Sudah, Abang Akmal, Arka, Dina... ikut Ummi Fatma dulu yuk. Kita main di taman belakang, lihat ikan koi di kolam. Umma dan Abah mau istirahat sebentar, jangan diganggu ya,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Almira.Almira merasa wajahnya memanas. Ia mengikuti langkah Rayyan menuju bangunan utama ndalem. Mereka tidak menuju kamar pengantin, melainkan ke ruang kerja pribadi Rayyan. Sebuah ruangan yang sangat sakral, penuh dengan ribuan kitab yang tertumpuk rapi hingga ke langit-langit, dengan aroma parfum gaharu yang menenangkan dan udara yang sejuk.Begitu pintu jati itu tertutup, suasana mendadak menjadi sangat sunyi.Almira merasa lidahnya kelu. Meski mereka sudah sah, ada rasa canggung

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status