LOGIN“Aruna…”Suara itu nyaris tak terdengar. Lebih mirip embusan napas yang tersangkut di tenggorokan seseorang yang sudah lama lupa bagaimana caranya memanggil orang lain tanpa rasa takut.Aruna berhenti di ambang pintu.Bukan karena ia terkejut... ia sudah mendengar banyak hal yang lebih mengejutkan dalam hidupnya... melainkan karena ia tahu, jika ia bergerak terlalu cepat, momen rapuh itu bisa runtuh begitu saja.“Aku di sini,” jawab Aruna pelan. Tidak mendekat. Tidak mundur. Nada suaranya datar, aman. “Aku tidak akan masuk kalau kau tidak mau.”Keheningan kembali turun.Layla duduk di sudut ruangan, punggungnya bersandar pada dinding berwarna gading. Rambutnya disanggul asal, beberapa helai jatuh menutupi wajahnya. Tangannya mencengkeram ujung selimut, seperti orang yang bersiap menghadapi gelombang yang tak terlihat.“Suaramu…” Layla menelan ludah. “Tidak berisik.”Itu bukan pujian. Itu pengakuan.Aruna mengangguk, meski Layla mungkin tidak melihatnya. “Aku memang tidak suka berisik.
“Ini gila,” kata Aruna sambil menatap dokumen tebal di mejanya. Kertas-kertas itu hampir menumpuk setinggi lengan, setiap halaman membawa potongan puzzle yang lebih menakutkan daripada sebelumnya. “Mereka tidak main-main.”Arden duduk di seberangnya, kedua tangannya saling bertaut, menatap Aruna dengan mata yang menahan ledakan emosi. “Apa maksudmu, ‘tidak main-main’?”Aruna menghela napas panjang, matanya menyapu setiap baris laporan yang disusun rapi oleh Pak Herman. “Pak Herman menemukan sesuatu. Sesuatu yang menghubungkan Rendra langsung ke Paman Bima. Mereka… mereka bermain di level yang sama, Arden. Dan ini bukan sekadar bisnis atau utang lama... ini permainan hidup dan mati.”Arden meneguk. Udara di ruang kerja terasa berat, seolah setiap kata Aruna menekan dada. “Tunjukkan padaku.”Aruna menggeser dokumen itu ke arahnya, membuka halaman pertama. Grafik aliran dana, tanda tangan palsu, transaksi tersembunyi. “Lihat ini. Ada transfer besar dari rekening perusahaan Rendra ke akun
“Nama saya Herman.”Suara itu tenang, nyaris datar, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat rahasia sampai berhenti terkejut oleh apa pun.Arden tidak langsung menjawab. Ia menatap pria paruh baya di seberang meja... rambutnya sudah memutih di pelipis, kemeja abu-abu sederhana, jam tangan kulit yang tampak usang tapi dirawat. Tidak ada aura pamer. Tidak ada kesan ingin mengesankan.Justru itu yang membuatnya berbahaya.“Dan Anda tahu,” kata Arden pelan, “bahwa orang-orang yang ingin kami selidiki tidak bermain bersih.”Pak Herman mengangguk kecil. “Kalau mereka bermain bersih, Tuan Arden tidak akan memanggil saya.”Aruna menyilangkan kaki, mencondongkan tubuh ke depan. Matanya tajam, memindai setiap perubahan ekspresi pria itu.“Rendra,” ucap Aruna, jelas. “Dan Paman Bima.”Untuk pertama kalinya, Herman menghela napas lebih panjang dari sekadar formalitas.“Dua nama itu,” katanya, “punya ekor. Panjang. Dan tidak semua orang yang mengikutinya pulang dengan selamat.”Arden melir
Malam itu, Kaeswara tidak tidur.Rumah besar itu berdiri seperti makhluk hidup yang menahan napas... menunggu sesuatu pecah, atau justru disegel selamanya.Arden berdiri di depan jendela ruang kerja, punggungnya menghadap Aruna. Tangannya bertumpu di kusen, jari-jarinya mengepal, seolah jika ia sedikit saja lengah, seluruh bangunan yang ia lindungi selama bertahun-tahun akan runtuh bersamaan dengan dirinya.“Jonas tidak pernah berbicara tanpa maksud,” kata Arden akhirnya. Suaranya rendah, berat. “Jika dia mengatakan Surya yang menyarankan pernikahan itu… berarti semua yang kita jalani sejak awal adalah jebakan yang dipoles rapi.”Aruna mendekat, langkahnya pelan. Tidak tergesa. Tidak ragu.“Bukan jebakan untuk menghancurkanmu,” ucapnya. “Jebakan untuk membuatmu patuh.”Arden tertawa pendek... tawa tanpa humor.“Dan aku masuk ke dalamnya dengan sukarela.”Aruna berhenti tepat di belakangnya. Ia bisa melihat bayangan Arden di kaca jendela... lelaki kuat yang selama ini ia lawan, ia goda
Pagi di Kaeswara selalu tampak rapi.Terlalu rapi untuk sebuah rumah yang menyimpan terlalu banyak rahasia.Aruna berdiri di teras belakang, memandangi kebun yang basah oleh embun. Udara pagi menusuk dingin, tapi pikirannya jauh lebih tajam daripada angin. Setelah pertemuan dengan Paman Bima kemarin, satu hal mengganggunya tanpa henti:Orang itu terlalu tenang.Orang yang terlalu tenang saat kekuasaan digoyang, biasanya bukan penonton.“Jika sebuah rumah berdiri terlalu lama tanpa retak,” suara tua terdengar pelan, “biasanya retaknya disembunyikan di fondasi.”Aruna menoleh.Jonas berdiri di dekat pohon kamboja, membawa sekop kecil dan topi kebunnya yang sudah usang. Wajahnya tampak biasa saja... seperti tukang kebun tua yang tak tahu apa-apa. Tapi Aruna sudah belajar: Jonas selalu tahu terlalu banyak.“Kau memilih metafora bangunan pagi ini?” tanya Aruna.Jonas tersenyum samar.“Karena manusia sering lupa bahwa fondasi yang salah tidak runtuh saat dibangun… tapi saat dihuni.”Aruna m
Ruang kerja Paman Bima tidak pernah berubah.Kayu mahoni tua, rak buku penuh laporan yang tidak pernah benar-benar dibaca, dan satu lukisan besar di dinding... lukisan singa jantan tua dengan surai memudar, tetapi mata masih tajam.Arden berdiri di depan lukisan itu sesaat sebelum masuk.Ia tahu simbol itu bukan kebetulan.Paman Bima selalu suka mengingatkan siapa yang merasa dirinya alfa.Pintu dibuka dari dalam.“Masuk,” suara Paman Bima berat, tenang, dan terlalu santai untuk orang yang baru saja menerima tekanan dari Rendra.Arden masuk lebih dulu.Aruna menyusul setengah langkah di belakang... cukup jauh untuk terlihat seperti aksesori, cukup dekat untuk mendengar segalanya.“Arden,” Paman Bima tersenyum tipis. “Sudah lama kita tidak bicara tanpa pengacara di ruangan.”“Biasanya karena pembicaraan kita jarang jujur,” jawab Arden datar.Paman Bima tertawa kecil, lalu pandangannya bergeser ke Aruna.Oh.Di sanalah perubahan atmosfer itu terasa.Tatapan menilai.Tatapan meremehkan.







