Home / Romansa / Pengantin di Gerbang Hitam / Bab 46 Reyna Menguji Aruna

Share

Bab 46 Reyna Menguji Aruna

Author: Aira Jiva
last update Last Updated: 2026-01-12 19:54:30

“Pintunya kebuka.”

Aruna berhenti melangkah.

Itu bukan suara Arden. Bukan Jonas.

Itu Reyna.

Nada suaranya datar, hampir santai, seperti sedang mengomentari cuaca... padahal mereka berdiri tepat di depan Sayap Kiri. Tempat yang selama ini lebih dijaga daripada ruang rapat direksi.

Aruna melirik ke engsel pintu kayu berat itu. Benar. Tidak terkunci. Sedikit terbuka, cukup untuk melihat lorong sunyi di dalamnya.

“Kau lupa menguncinya?” tanya Aruna, alisnya terangkat tipis.

Reyna menyilangkan tangan. Tatapannya tajam, tapi tidak menyerang. Lebih seperti… menunggu.

“Atau kau mau masuk?” balasnya.

Aruna tertawa kecil. Bukan tawa mengejek. Lebih seperti refleks orang yang tahu sedang diuji.

“Kalau aku masuk, kau akan berdiri di situ sambil mencari alasan untuk tidak percaya,” katanya ringan. “Kalau aku tidak masuk, kau akan bilang aku pura-pura baik.”

Reyna menatapnya lama.

“Kau belajar cepat,” katanya akhirnya.

“Lingkungan memaksa,” jawab Aruna. “Rumah ini tidak ramah pada orang yang lambat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 49 Serangan Balik

    “Kalau kita menyerangnya dari depan, kita akan kalah sebelum sidang pertama dibuka.”Rendra berkata tanpa emosi, suaranya datar seperti laporan cuaca, tapi setiap katanya mengandung niat yang dingin. Ia duduk bersilang kaki di kursi kulit, jari-jarinya menyentuh tepi meja seolah sedang menakar berat dosa yang akan ia lakukan.Paman Bima tidak langsung menjawab. Ia menuang minuman ke gelas kristal, mengamati cairan itu berputar perlahan sebelum akhirnya berkata, “Kau sudah mencoba menjatuhkannya dari depan. Kau gagal. Sekarang kau datang dengan wajah tenang dan mengatakan ini seolah-olah kau baru saja menemukan pencerahan.”Rendra tersenyum tipis, tidak tersinggung. “Bukan pencerahan. Koreksi strategi. Arden bukan tipe yang runtuh karena teriakan atau ancaman. Dia bertahan karena merasa dirinya sah.”Paman Bima menoleh, tatapannya tajam. “Dan kau ingin mencabut rasa sah itu?”“Bukan mencabut,” jawab Rendra pelan, nadanya hampir seperti dosen yang sedang mengajar murid bodoh, “menggoyah

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 48 Ibu Ratna Memohon Perlindungan

    “Kalau saya bilang… saya sudah kehabisan tempat untuk lari.”Kalimat itu jatuh di ruang tamu Kaeswara seperti benda pecah yang tidak bisa disatukan kembali.Arden tidak langsung duduk. Ia berdiri di dekat jendela besar, setengah membelakangi perempuan paruh baya yang duduk kaku di sofa... tangannya saling mencengkeram, wajahnya pucat, matanya merah bukan karena menangis, tapi karena terlalu lama menahan takut.Aruna berdiri di samping Arden. Diam. Mengamati. Seperti biasa.“Ulangi,” kata Arden akhirnya. Suaranya rendah, stabil. Tidak mengancam, tapi juga tidak ramah. “Dengan jelas.”Ibu Ratna menelan ludah. “Rendra… sudah tidak butuh saya lagi. Saya pikir selama ini saya aman karena saya patuh. Tapi sekarang...” napasnya tersengal, “...sekarang saya tahu terlalu banyak.”Arden menoleh perlahan. Tatapan itu membuat bahu Ibu Ratna menegang.“Dan kau baru datang ke sini,” ucap Arden, “setelah Reyna mulai bergerak. Setelah pintu-pintu tertentu tidak lagi tertutup rapat. Itu bukan kebetula

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 47 Reyna Berganti Pihak

    “Aku tahu kau belum tidur.”Suara itu datang dari belakang Aruna, lirih namun pasti. Tidak mendesak. Tidak juga ragu.Aruna menghentikan langkahnya di koridor panjang yang menghadap taman belakang. Lampu dinding menyala redup, memantulkan bayangan dedaunan yang bergerak pelan tertiup angin malam.“Aku memang belum,” jawabnya tanpa menoleh. “Tapi kau juga belum.”Beberapa detik berlalu sebelum Reyna berdiri di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tidak lagi menjaga jarak berlebihan seperti biasanya. Untuk pertama kalinya, posturnya tidak kaku... bahunya sedikit turun, napasnya lebih panjang.“Pintu itu,” ujar Reyna akhirnya, menatap lurus ke depan. “Kau tahu kenapa aku membiarkannya terbuka?”Aruna mengangguk pelan. “Karena jika ditutup rapat, semua orang akan curiga. Tapi jika dibiarkan terbuka sedikit… hanya orang yang berniat buruk yang akan masuk.”Reyna meliriknya sekilas. Ada kilatan sesuatu di sana... bukan sinis, bukan curiga. Kagum yang tertahan.“Kau cepat belajar,” katanya.“Aku

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 46 Reyna Menguji Aruna

    “Pintunya kebuka.”Aruna berhenti melangkah.Itu bukan suara Arden. Bukan Jonas.Itu Reyna.Nada suaranya datar, hampir santai, seperti sedang mengomentari cuaca... padahal mereka berdiri tepat di depan Sayap Kiri. Tempat yang selama ini lebih dijaga daripada ruang rapat direksi.Aruna melirik ke engsel pintu kayu berat itu. Benar. Tidak terkunci. Sedikit terbuka, cukup untuk melihat lorong sunyi di dalamnya.“Kau lupa menguncinya?” tanya Aruna, alisnya terangkat tipis.Reyna menyilangkan tangan. Tatapannya tajam, tapi tidak menyerang. Lebih seperti… menunggu.“Atau kau mau masuk?” balasnya.Aruna tertawa kecil. Bukan tawa mengejek. Lebih seperti refleks orang yang tahu sedang diuji.“Kalau aku masuk, kau akan berdiri di situ sambil mencari alasan untuk tidak percaya,” katanya ringan. “Kalau aku tidak masuk, kau akan bilang aku pura-pura baik.”Reyna menatapnya lama.“Kau belajar cepat,” katanya akhirnya.“Lingkungan memaksa,” jawab Aruna. “Rumah ini tidak ramah pada orang yang lambat

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 45 Di Bawah Lampu, Kita Berdiri

    “Apakah Anda siap?”Pertanyaan itu datang dari produser acara dengan suara rendah tapi tegang. Lampu studio belum sepenuhnya menyala. Kamera masih dalam posisi siaga. Namun atmosfer di ruangan itu sudah terasa seperti medan tempur.Arden berdiri tegak, jas gelapnya rapi, wajahnya tenang... terlalu tenang untuk seseorang yang beberapa hari terakhir namanya digeret ke mana-mana.Di sampingnya, Aruna berdiri dengan sikap santai, punggung lurus, dagu sedikit terangkat. Gaun yang ia kenakan tidak mencolok, tapi tegas. Tidak ada perhiasan berlebihan. Tidak ada kesan “istri yang dipamerkan”. Ia terlihat seperti seseorang yang tahu persis mengapa ia ada di sana.Arden meliriknya.“Kalau mereka menyerang,” ucapnya pelan, hampir tak terdengar, “aku bisa bicara sendiri.”Aruna menoleh, menatapnya sekilas... cukup untuk menyampaikan segalanya.“Dan kalau mereka menyudutkan?” balasnya ringan. “Aku tidak datang untuk diam.”Produser mengangguk kecil. “Tiga… dua… satu.”Lampu menyala.—“Selamat mal

  • Pengantin di Gerbang Hitam   Bab 44 Pernyataan yang Membelah Kaeswara

    “Ini sudah menyebar.”Suara Aruna terdengar tenang, tapi ketenangan itu bukan milik orang yang tidak peduli. Itu ketenangan seseorang yang sudah lebih dulu bersiap menghadapi badai.Arden mengangkat kepala dari meja kerjanya. Lampu ruangan masih redup. Pagi belum benar-benar menang atas malam. Kemeja yang ia kenakan kusut ringan, kancing atas terbuka... jejak keputusan semalam yang belum sepenuhnya kembali menjadi rutinitas formal.“Apa?” tanyanya singkat.Aruna melangkah mendekat, meletakkan tabletnya di atas meja kerja Arden, lalu memutarnya perlahan agar layar menghadap tepat ke arahnya.Judul besar itu langsung menghantam.PAMAN BIMA BUKA SUARA: DEMI KAESWARA, ARDEN HARUS MENYINGKIRTidak ada tanda seru. Tidak ada kata-kata kasar. Justru itulah yang membuatnya berbahaya.Arden tidak langsung bereaksi. Ia menatap layar itu lama. Terlalu lama untuk sekadar membaca.“Putar,” katanya akhirnya.—Wajah Paman Bima muncul memenuhi layar. Rambutnya rapi, jasnya sempurna, ekspresinya tenan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status