Masuk“Arden… kau benar-benar yakin rumah ini masih aman?”Pertanyaan Aruna meluncur pelan di tengah ruang kerja yang mulai dipenuhi berkas. Setelah Reyna pergi membawa dokumen transaksi mencurigakan, suasana di dalam rumah utama Kaeswara terasa berbeda... seolah udara yang sama kini membawa rahasia baru.Arden tidak langsung menjawab. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu bersandar di kursi dengan napas panjang.“Jika kita bicara tentang keamanan mutlak,” katanya akhirnya, “maka tidak ada tempat yang benar-benar aman selama Paman Bima masih bebas bergerak.”Aruna memandangnya sejenak, lalu berkata lebih pelan, “Layla merasa tempat ini tidak aman lagi.”Kalimat itu membuat Arden menegakkan tubuh.“Dia bilang begitu?”Aruna mengangguk. “Tadi pagi, sebelum aku turun ke sini. Dia sedang sadar cukup lama. Tidak seperti biasanya.”Arden langsung berdiri.“Ayo kita ke Sayap Kiri.”Koridor menuju Sayap Kiri masih sama seperti biasanya... sunyi, tertutup, dan jauh dari aktivitas utama rumah. Hanya b
“Aku harap aku salah.”Suara Reyna terdengar pelan, tapi getar di dalamnya cukup untuk membuat ruangan kerja Arden yang biasanya tenang terasa menegang. Pagi itu, cahaya matahari masih lembut menyentuh kaca besar di belakang meja kerja, tetapi ekspresi Reyna tidak membawa kabar yang lembut.Aruna, yang duduk di sofa panjang di sudut ruangan, mengangkat wajahnya perlahan. Bayangan malam tanpa takut yang mereka lewati bersama masih terasa hangat di dadanya. Namun ia tahu, kehangatan itu memang tidak dimaksudkan untuk menggantikan perang... hanya untuk menguatkan sebelum perang benar-benar datang.Arden berdiri di belakang mejanya, jasnya sudah rapi, wajahnya kembali menjadi sosok pemimpin Kaeswara yang tak mudah dibaca.“Sampaikan saja, Reyna,” ucapnya tenang.Reyna menarik napas dalam, lalu meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja. “Saya menemukan pergerakan aset kecil yang tidak tercatat di laporan utama. Nilainya tidak besar jika dibandingkan dengan total aset Kaeswara… tapi
“Aku tidak takut mereka menyerang perusahaan, Aruna. Kau tahu itu.”Suara Arden terdengar tenang, tetapi ada sesuatu yang berat menggantung di ujung kalimatnya. Ia berdiri di depan jendela kamar, memandangi halaman yang gelap dengan tangan terlipat di dada, seolah dunia di luar sana adalah papan catur dan ia sedang menghitung langkah-langkah musuhnya.Aruna memperhatikannya dari belakang. Ia sudah mengenal bahasa tubuh pria itu cukup lama untuk tahu bahwa keheningan seperti ini bukan sekadar lelah. Ini adalah ketegangan yang dipendam terlalu lama.“Kalau begitu,” katanya lembut sambil melangkah mendekat, “yang kau takutkan bukan perusahaan.”Arden menghela napas pelan sebelum menoleh. Tatapannya turun ke wajah Aruna, dan untuk sesaat, topeng pemimpin keluarga Kaeswara itu retak.“Aku takut mereka menyerangmu,” akunya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya. “Paman Bima tidak akan berhenti pada gugatan warisan. Ia sudah menyebarkan rumor tentang kondisi mentalku, tentang kesta
“Aku tidak punya banyak waktu untuk mengulang ini, Aruna… jadi dengarkan aku baik-baik.”Suara Layla tidak lagi setajam biasanya.Ia terbaring di ranjang rumah sakit dengan cahaya senja menembus tirai tipis, membentuk garis-garis pucat di wajahnya yang kini terlihat lebih rapuh daripada yang pernah Aruna bayangkan. Aroma antiseptik bercampur dengan kesunyian yang terlalu bersih, seolah ruangan itu sengaja diciptakan untuk percakapan yang tidak ingin didengar siapa pun.Aruna duduk di kursi samping tempat tidur. Tangannya menggenggam tas kecilnya erat-erat, bukan karena gugup, tetapi karena ada sesuatu di udara yang terasa seperti akhir.“Apa yang ingin Kak Layla katakan?” tanyanya pelan.Layla tersenyum samar. Senyum yang dulu penuh percaya diri, kini lebih menyerupai bayangan.“Kau tidak pernah memanggilku Kak sebelumnya.”Aruna terdiam sejenak. “Sekarang berbeda.”Layla menatap langit-langit sebentar, seolah mengumpulkan tenaga.“Ya… sekarang memang berbeda.”Sunyi menggantung.Di l
“Kalau kewarasan bisa diwariskan, mungkin kau tidak akan pernah duduk di kursi itu, Arden.”Kalimat itu meluncur tenang, hampir lembut, namun tajamnya mengiris udara ruang kerja utama Kaeswara. Tidak ada teriakan bahkan meja yang dibanting. Hanya suara Paman Bima yang terukur, dingin, dan sangat sadar bahwa setiap kata memiliki bobot hukum.Arden tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat jendela tinggi, cahaya sore menipiskan bayangannya di lantai marmer. Di balik punggung tegaknya, ada getar halus yang hanya bisa dikenali oleh seseorang yang mengenalnya cukup lama, dan Aruna mengenalnya cukup lama.Aruna duduk sedikit di belakangnya. Tidak sebagai sekretaris. Tidak sebagai istri yang sekadar mendampingi. Tapi sebagai saksi hidup atas semua luka yang selama ini dipelintir menjadi rumor.Paman Bima tersenyum samar.“Aku tidak datang untuk berdebat secara emosional. Aku datang dengan kuasa hukum. Dan dengan permintaan resmi pembagian warisan keluarga Kaeswara, termasuk hak kepemili
“Kalau hari ini aku jatuh… kau yakin bisa hidup tenang setelahnya, Aruna?”Suara Rendra terdengar pelan, hampir seperti bisikan, saat mereka berpapasan di lorong menuju ruang sidang. Tak ada wartawan di sana. Tak ada hakim. Hanya dua orang yang pernah berdiri dalam lingkar kekuasaan yang sama.. dan kini saling berhadapan sebagai musuh.Aruna tidak langsung menjawab.Ia menatap lelaki itu dengan tatapan yang tidak lagi menyimpan takut. Tidak juga marah. Hanya tenang untuk seseorang yang dulu gemetar hanya karena satu ancaman.“Yang tidak bisa hidup tenang itu orang yang bersalah..” jawabnya akhirnya, suaranya datar namun tajam. “Aku hanya menagih apa yang seharusnya.”Rendra tersenyum tipis, senyum yang dulu mampu membuat banyak orang mundur satu langkah. Tapi hari ini, senyum itu tidak lagi berdaya.Karena di belakang Aruna, berdiri Arden.Dan Arden tidak perlu bicara untuk membuat tekanan berubah arah.Ruang sidang penuh. Kamera wartawan berderet seperti pasukan. Aroma kayu tua dan







