LOGINNetra Aruna sepenuhnya bisa membaca bahwa botol obat itu tercantum nama pemiliknya yaitu Bima Wibisana. Akan tetapi, yang membuat Aruna terbelalak adalah obat yang tentu Aruna tahu bahwa itu adalah Sildenafil PDE5.
Apalagi ekspresi wajah Bima sepenuhnya berubah. dokter yang selama ini memiliki citra yang baik dan ramah, kini tampak sangat marah kepada Aruna. “Sildenafil PDE5,” kata Aruna. “Lancang sekali. Berikan obat di tanganmu itu!” Suara Bima memang tidak meninggi, tapi suaranya penuh dengan penekanan. Aruna tahu kalau memang suara dokter itu berubah. Cengkeraman Bima juga semakin kuat. “Lepaskan dokter. Anda menyakiti saya,” balas Aruna. “Kamu sudah kelewatan.” “Saya hanya membantu mengambilkan obat ini, dan rupanya botol obatnya atas nama dokter. Jadi ….” “Jadi apa?” “Saya bukan orang yang awam dengan hal medis, dokter. Saya juga adalah calon dokter. Jadi, saya tahu Sildenafil PDE5 itu obat apa. Obat itu adalah inhibitor yang bisa memperlancar aliran darah ke p*nis. dokter mengidap disfungsi ereksi kah?” Walau ragu, Aruna memilih bertanya. Ya, dia paham benar bahwa Sildenafil PDE5 memiliki kandungan senyawa yang menghambat enzim PDE5. Enzim PDE5 dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah di alat kelamin pria. Apabila pembuluh darah melebar, aliran darah berkurang, dan terjadilah Disfungsi Ereksi. Pertanyaan Aruna justru membuat Bima menjadi marah. Sebagai dokter yang sudah sekian tahun berjibaku di ruang IGD, dan ada calon dokter yang mendiagnosis dirinya membuat Bima geram dan marah. “Jangan asal mendiagnosis.” “Bukan asal, saya hanya membuat hipotesis dari obat itu.” Bima meraih paksa beberapa butir obat yang ada di tangan Aruna. Lalu, ia memegang pergelangan tangan Aruna dengan begitu kuat. “Sebaiknya tutup mulutmu. Tak perlu membuat hipotesis dan sebagainya. Juga ingat, kalau sampai orang tahu mengenai semua ini, aku pastikan masa-masa Koasmu tidak akan berhasil.” Ancaman Bima membuat Aruna terintimidasi. Menjadi seorang dokter adalah impiannya sejak kecil, sehingga Aruna tentu tidak ingin masa-masa Koas akan gagal begitu saja. Hanya menyelesaikan sedikit langkah sampai akhirnya disumpah dokter setelah dua tahun masa Koas selesai. Terlebih Aruna bukan dari keluarga kaya, setiap kali membayar UKT harus mengusahakan agar UKT terbayar. Untuk semua yang sudah dijalani, Aruna tentu tidak ingin gagal begitu saja. Aruna belum memberikan jawaban karena ia benar-benar terintimidasi dengan ancaman dokter Bima. Namun, setelah itu terdengar derap langkah yang menuju ke arah ruangan Bisma. Bahkan ada suara yang familiar di telingan Bima. Tanpa banyak bicara, Bima mengajak Aruna berdiri dan mereka berdua sama-sama bersembunyi di balik tirai jendela. Tangan Bima masih sempat mematikan lampu di ruangannya. Dengan begitu, terlihat bahwa tidak ada Bima di sana. “Bima … Bim.” Yang datang adalah Mama Ranti, mamanya Bima. Wanita paruh baya itu mencari anaknya yang sudah cukup lama tidak pulang ke rumah. Saat memasuki ruangan Bima, justru tidak ia temui putranya di sana. Di balik tirai, Bima mengisyaratkan agar Aruna diam. Tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Dagu Bima sampai beberapa kali mengenai kening Aruna. Situasi yang sangat tidak nyaman untuk Aruna. Apalagi, mereka harus berhimpitan seperti ini. Aruna membelalakkan matanya, tapi Bima meminta Aruna untuk diam. Bima sudah membuat keputusan bahwa mereka berdua akan bersembunyi sampai mamanya meninggalkan ruangannya. “Mama heran sekali dengan kamu, Bim. Sampai-sampai tidak mau pulang menemui Mama.” Mama Ranti mengedarkan pandangannya melihat ke seluruh ruangan. Di belakang Mama Ranti ada Suster There yang kemudian berbicara, “dokter Bima tidak ada di sini, Bu,” ucapnya dengan ramah. “Lalu di mana anak saya?” “Tadi dokter Bima baru keluar dari ruangan IGD. Coba saya akan bantu carikan.” “Katakan kepadanya kalau Mamanya datang.” “Baik, Ibu.” Mama Ranti segera meninggalkan ruangan milik anaknya itu. Sementara, Bima yang sudah membaca suasana kemudian mulai mengajak Aruna keluar dari balik tirai. Tampak Aruna langsung menjauh dari Bima. Bima tampak mengecek sesuatu dengan handphonenya. Di ruangan itu menjadi hening, dan Aruna berniat untuk pergi meninggalkan ruangan dokter Bima. “dokter,” panggilnya perlahan. “Hm, kenapa?” “Izinkan saya pergi,” ucap Aruna. “Urusan kita belum selesai.” Aruna tidak mengerti, padahal ia juga tidak mengungkapkan apa pun terkait Sildenafil PDE5 yang Bima miliki. Aruna juga bukan tipe orang yang suka mengumbar rahasia orang lain. “Semua terlanjur terjadi. Aku tahu rahasiamu. Termasuk orang-orang yang tadi berusaha menyakiti kamu. Jadi ….” “Jadi apa?” “Saya akan melunasi utang yang kamu miliki sehingga rentenir itu tidak akan menganiaya kamu lagi. Dengan syarat ….” Bima menjeda ucapannya lalu menatap wajah Aruna sebelum mengucapkan syaratnya. Pria itu tidak melupakan bahwa di hadapannya adalah seorang Junior yang masih butuh bimbingan untuk menjadi dokter. Seorang Junior yang masih harus banyak mengaplikasikan teorinya secara nyata. Seorang Junior yang juga jauh lebih muda dari Bima. “Syaratnya menikahlah denganku. Kontrak pernikahan,” lanjut Bima. Aruna segera menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin ia mau menikah dengan dokter Bima. Selain tidak ada perasaan apa pun, Aruna juga memiliki mimpi untuk bisa menyelesaikan pendidikan dokter sampai selesai terlebih dahulu."Apakah ada perubahan yang dirasakan?" tanya dokter Sony. Saat ini Bima dan Aruna kembali melakukan konsultasi dan pemeriksaan. Sudah menjadi komitmen Bima bahwa ia akan melakukan pengobatan secara rutin dan Aruna tetap mendampingi suaminya. "Rasanya belum ada sama sekali." "Sudah melakukan jelqing?" Kali ini Aruna menganggukkan kepalanya, "Ya, sudah. Sudah saya lakukan." "Kali ini coba Pak Bima untuk pemanasan. Biasanya saat melakukan pemanasan, saat mulai berhasrat itu alat vital pria akan mengeras dan tegak berdiri. Coba dulu." Bima dan Aruna saling tatap. Aruna walau tidak punya pengalaman sebelumnya, tapi karena belajar kedokteran, maka ia tahu bahwa yang dimaksud dokter Sony adalah melakukan pemanasan sebagai pasangan. "Loh, tidak apa-apa. Kalian kan sudah menikah." "Eh, iya, dok." Aru
Usai kepergian Mama Ranti dan Clara, acara makan malam menjadi jauh lebih tenang. Walau saat ada orang lain yang memperhatikan lehernya, membuat Aruna malu. Seumur hidup baru kali ini ada tanda merah di lehernya. Bima yang duduk di hadapan Aruna juga diam-diam kerap melihat hasil lukisan bibirnya di leher Aruna itu. Kalau dipikir juga cukup menggelikan, tapi ternyata itu berhasil membuat mamanya dan Clara pergi. "Makan yang banyak, Na," kata Bima. "Hm, secukupnya saja, Mas." Bima lalu menganggukkan kepalanya, di tengah-tengah acara makan malam sepupu Bima yang baru bertunangan berdansa bersama. Aruna ikut tersenyum karena pasangan yang memulai dengan cinta rasanya pasti hati berbunga-bunga. Berbeda dengan pasangan yang menikah karena melunasi utang. Lagu-lagu cinta mengalun seolah menjadi harmonisasi yang indah. Sesekali deburan
"Mama heran karena kamu berani datang di acara keluarga besar kami. Lihatlah, siapa kamu! Jelas, kamu tidak sebanding dengan keluarga besar kami." Mama Ranti kembali mencibir Aruna. Ia menunjukkan bahwa Aruna benar-benar berbeda kelas. "Baju seperti itu. Tidak terkesan Luxury sama sekali." "Ma, jangan melihat orang dari penampilannya." Bima menghela napas kalau tetap di sini sudah pasti Aruna akan selalu menjadi cibiran. Bima kemudian berdiri. Lebih baik mereka kembali masuk ke dalam kamar. "Mau ke mana, Bim?" tanya Clara. "Tempat yang indah. Sangat cocok untuk pasangan suami istri." Bima kemudian menatap istrinya, "Sayang, aku mau nambah lagi yah?" Aruna tidak paham maksudnya, tapi ia hanya tersipu dengan rona merah di wajahnya. Bim
Malam hari saat sudah berada di rumah, agaknya suasana hati Bima belum sepenuhnya membaik. Ia seperti berkaca sendiri. Ada trauma yang kembali bangkit. Trauma itu menekan secara mental, dan Bima merasakannya sekarang. Aruna yang lelah usai dari rumah sakit pun meluangkan waktu untuk duduk bersama dengan Bima. Aruna masih ingat saat Bima berkata dulu bahwa mereka harus saling bercerita agar hubungannya semakin akrab. "Mas ...." Aruna memanggil perlahan. Bima tersenyum tipis. Setelahnya Aruna kembali berbicara kepada suaminya. "Bagaimana perasaanmu?" "Hm, i am fine." "Tidak terlihat baik," balas Aruna. Bima tampak menghela napas, Aruna kemudian berbicara lagi, "Dulu memang Mas tidak ada tempat untuk berbagi, tapi katamu dulu bahwa s
"Pasien belum sadar usai kecelakaan. Cepat lakukan CT Scan terlebih dahulu." Bima memberikan instruksi kepada tenaga medis yang bekerja bersamanya. Siang itu datang pasien karena kecelakaan. Apabila dilihat dari luar tidak ada luka yang serius. Darah hanya di area lutut, tapi pasien itu belum sadar. Di sana ada pula para calon dokter yang siap setiap kali keadaan darurat. Begitu juga dengan Aruna yang berada di sana. "Catat denyut jantung, nadi, dan tekanan darah," perintah Bima. "Baik, dokter." Aruna segera lakukan apa yang Bima perintahkan. Tidak berselang lama, laporan sudah Bima dapatkan. Sembari menunggu, pasien dibawa ke ruang tindakan dan dipasangkan infus terlebih dahulu. "Saksi kecelakaan di mana?" tanya Bima. Datanglah seseorang yang menemui Bima siang itu, "Saya, dokter." "Bagaimana kronologinya?" "Saya du
Bima meraih tissue untuk membersihkan dirinya. Usai itu, rupanya Bima menuju ke kamar mandi, ia menyegarkan tubuhnya. Sementara Aruna berada di dapur, ia meminum hampir tiga gelas air putih. Aruna masih terkejut karena alat vital yang lembek bisa mengalami pelepasan. Apakah memang benar begitu? "Kenapa bisa? Kalau pijatan bisa memberikan stimulan di bagian otot-otot, jadi bisa juga ...." Aruna bertanya-tanya sendiri. Sampai akhirnya Bima menyusulnya. Pria itu terlihat segar dengan rambut yang masih setengah basah. "Kamu di sini? Aku mencarimu di kamar." "Aku minum." "Oh, makanya aku mencarimu." Aruna segera menaruh gelasnya, tapi kemudian Bima segera mengusap perlahan puncak kepala Ara. Gerakan kecil, tapi sensasinya seperti ada kepakan sayap kupu-kupu. Aruna menunduk. Ia mulai terbiasa dengan usapan Bima di puncak kepalanya. "Kita tidu
Tidak terasa sudah hampir dua bulan berlalu. Hubungan Aruna dan Bima sendiri tidak banyak mengalami peningkatan. Walau begitu keduanya tetap berusaha untuk bersikap profesional selama berada di dalam rumah sakit. Sampai sejauh ini juga hubungannya masih aman. B
Tidak terasa sudah sepekan berlalu. Sepekan yang masih menjadi masa adaptasi untuk Aruna. Roda berputar, begitu juga dengan hidupnya. Kali ini, sepulang dari rumah sakit, Aruna izin kepada suaminya untuk pergi ke rumah orang tuanya karena masih ada barang yang tertinggal di rumah orang tuanya.
Sebelum ke rumah sakit, Aruna akhirnya memilih untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengambil laptop dan beberapa buku kedokteran miliknya. Ketika tiba di rumah, Aruna pikir bahwa kedua orang tuanya akan bersedih karena ia kini telah menikah, tapi yang terjadi adalah seba
"Kalau sudah selesai, kita tidur." Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama. Hari suda







