Share

Bab 2

Author: Pena Gayatri
last update publish date: 2026-05-11 17:00:15

Netra Aruna sepenuhnya bisa membaca bahwa botol obat itu tercantum nama pemiliknya yaitu Bima Wibisana. Akan tetapi, yang membuat Aruna terbelalak adalah obat yang tentu Aruna tahu bahwa itu adalah Sildenafil PDE5.

Apalagi ekspresi wajah Bima sepenuhnya berubah. dokter yang selama ini memiliki citra yang baik dan ramah, kini tampak sangat marah kepada Aruna.

“Sildenafil PDE5,” kata Aruna.

“Lancang sekali. Berikan obat di tanganmu itu!”

Suara Bima memang tidak meninggi, tapi suaranya penuh dengan penekanan. Aruna tahu kalau memang suara dokter itu berubah. Cengkeraman Bima juga semakin kuat.

“Lepaskan dokter. Anda menyakiti saya,” balas Aruna.

“Kamu sudah kelewatan.”

“Saya hanya membantu mengambilkan obat ini, dan rupanya botol obatnya atas nama dokter. Jadi ….”

“Jadi apa?”

“Saya bukan orang yang awam dengan hal medis, dokter. Saya juga adalah calon dokter. Jadi, saya tahu Sildenafil PDE5 itu obat apa. Obat itu adalah inhibitor yang bisa memperlancar aliran darah ke p*nis. dokter mengidap disfungsi ereksi kah?”

Walau ragu, Aruna memilih bertanya. Ya, dia paham benar bahwa Sildenafil PDE5 memiliki kandungan senyawa yang menghambat enzim PDE5. Enzim PDE5 dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah di alat kelamin pria. Apabila pembuluh darah melebar, aliran darah berkurang, dan terjadilah Disfungsi Ereksi.

Pertanyaan Aruna justru membuat Bima menjadi marah. Sebagai dokter yang sudah sekian tahun berjibaku di ruang IGD, dan ada calon dokter yang mendiagnosis dirinya membuat Bima geram dan marah.

“Jangan asal mendiagnosis.”

“Bukan asal, saya hanya membuat hipotesis dari obat itu.”

Bima meraih paksa beberapa butir obat yang ada di tangan Aruna. Lalu, ia memegang pergelangan tangan Aruna dengan begitu kuat.

“Sebaiknya tutup mulutmu. Tak perlu membuat hipotesis dan sebagainya. Juga ingat, kalau sampai orang tahu mengenai semua ini, aku pastikan masa-masa Koasmu tidak akan berhasil.”

Ancaman Bima membuat Aruna terintimidasi. Menjadi seorang dokter adalah impiannya sejak kecil, sehingga Aruna tentu tidak ingin masa-masa Koas akan gagal begitu saja. Hanya menyelesaikan sedikit langkah sampai akhirnya disumpah dokter setelah dua tahun masa Koas selesai. Terlebih Aruna bukan dari keluarga kaya, setiap kali membayar UKT harus mengusahakan agar UKT terbayar. Untuk semua yang sudah dijalani, Aruna tentu tidak ingin gagal begitu saja.

Aruna belum memberikan jawaban karena ia benar-benar terintimidasi dengan ancaman dokter Bima. Namun, setelah itu terdengar derap langkah yang menuju ke arah ruangan Bisma. Bahkan ada suara yang familiar di telingan Bima. Tanpa banyak bicara, Bima mengajak Aruna berdiri dan mereka berdua sama-sama bersembunyi di balik tirai jendela. Tangan Bima masih sempat mematikan lampu di ruangannya. Dengan begitu, terlihat bahwa tidak ada Bima di sana.

“Bima … Bim.”

Yang datang adalah Mama Ranti, mamanya Bima. Wanita paruh baya itu mencari anaknya yang sudah cukup lama tidak pulang ke rumah. Saat memasuki ruangan Bima, justru tidak ia temui putranya di sana.

Di balik tirai, Bima mengisyaratkan agar Aruna diam. Tubuh mereka saling menempel satu sama lain. Dagu Bima sampai beberapa kali mengenai kening Aruna. Situasi yang sangat tidak nyaman untuk Aruna. Apalagi, mereka harus berhimpitan seperti ini.

Aruna membelalakkan matanya, tapi Bima meminta Aruna untuk diam. Bima sudah membuat keputusan bahwa mereka berdua akan bersembunyi sampai mamanya meninggalkan ruangannya.

“Mama heran sekali dengan kamu, Bim. Sampai-sampai tidak mau pulang menemui Mama.”

Mama Ranti mengedarkan pandangannya melihat ke seluruh ruangan. Di belakang Mama Ranti ada Suster There yang kemudian berbicara, “dokter Bima tidak ada di sini, Bu,” ucapnya dengan ramah.

“Lalu di mana anak saya?”

“Tadi dokter Bima baru keluar dari ruangan IGD. Coba saya akan bantu carikan.”

“Katakan kepadanya kalau Mamanya datang.”

“Baik, Ibu.”

Mama Ranti segera meninggalkan ruangan milik anaknya itu. Sementara, Bima yang sudah membaca suasana kemudian mulai mengajak Aruna keluar dari balik tirai. Tampak Aruna langsung menjauh dari Bima.

Bima tampak mengecek sesuatu dengan handphonenya. Di ruangan itu menjadi hening, dan Aruna berniat untuk pergi meninggalkan ruangan dokter Bima.

“dokter,” panggilnya perlahan.

“Hm, kenapa?”

“Izinkan saya pergi,” ucap Aruna.

“Urusan kita belum selesai.”

Aruna tidak mengerti, padahal ia juga tidak mengungkapkan apa pun terkait Sildenafil PDE5 yang Bima miliki. Aruna juga bukan tipe orang yang suka mengumbar rahasia orang lain.

“Semua terlanjur terjadi. Aku tahu rahasiamu. Termasuk orang-orang yang tadi berusaha menyakiti kamu. Jadi ….”

“Jadi apa?”

“Saya akan melunasi utang yang kamu miliki sehingga rentenir itu tidak akan menganiaya kamu lagi. Dengan syarat ….”

Bima menjeda ucapannya lalu menatap wajah Aruna sebelum mengucapkan syaratnya. Pria itu tidak melupakan bahwa di hadapannya adalah seorang Junior yang masih butuh bimbingan untuk menjadi dokter. Seorang Junior yang masih harus banyak mengaplikasikan teorinya secara nyata. Seorang Junior yang juga jauh lebih muda dari Bima.

“Syaratnya menikahlah denganku. Kontrak pernikahan,” lanjut Bima.

Aruna segera menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin ia mau menikah dengan dokter Bima. Selain tidak ada perasaan apa pun, Aruna juga memiliki mimpi untuk bisa menyelesaikan pendidikan dokter sampai selesai terlebih dahulu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 11

    Lima Tahun yang Lalu ...."Ada benturan di pangkal pahanya Anda. Benturan yang sangat keras menghantam pe-nis. Oleh karena itu, Anda terkena Aterosklesis."Bima masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Ia baru saja mendapatkan operasi karena mengalami kecelakaan mobil. Tuhan masih berbaik hati karena Bima bisa selamat. Sayangnya, pria itu kini divonis terkena Aterosklesis."Aterosklesis, dokter?""Ya, benar. Aterosklesis. Telah terjadi penyempitan dan pembekuan pembuluh darah di pe-nis Anda. Aliran darah menjadi terhambat dan Aterosklesis itu akan menyebabkan Disfungsi Ereksi atau DE."Vonis dari dokter membuat Bima menjadi lemas sekaligus cemas. Usianya masih muda saat itu. Selain itu, Bima adalah perjaka. Pemuda itu tidak pernah berusaha untuk mempermainkan wanita. Walau berstatus single, Bima juga memiliki angan-angan untuk menikah di usia 30 tahun. Akan tetapi, setelah mendengar apa yang dokter sampaikan Bima sempat takut kalau DE yang ia alami bisa

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 10

    "Selamat siang, silakan duduk. Sudah lama tidak melakukan cek up ya, dokter Bima." dokter Spesialis Andrologi yang selama ini menangani Bima adalah dokter Sonny. Sudah beberapa kali Bima datang untuk melakukan kontrol dan mendapatkan obat yang harus diminum. "Iya, dokter. Saya sibuk belakangan ini," balasnya. "Kepala IGD sudah pasti sangat sibuk, dokter Bima. Tumben sekali hari ini ada yang mendampingi." Bima menganggukkan kepalanya, lalu ia memperkenalkan Aruna kepada dokter Sonny. "Perkenalkan, istri saya ...." "Siang dok, saya Aruna." "Saya dokter Sonny spesialis Andrologi yang selama ini menangani dokter Bima. Rupanya suda

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 9

    Walau semalam tidur lebih dari tengah malam, pagi ini Aruna sudah bangun. Aruna sendiri memang terbiasa untuk bangun lebih pagi. Dulu sewaktu belum menikah, Aruna menghabiskan waktu di pagi hari untuk belajar dan membantu ibunya memasak di dapur. Sekarang, Aruna juga sudah menuju ke dapur. Walau belum meminta izin kepada Bima, sekarang Aruna sudah melihat apa yang ada di dalam kulkas. Gadis itu tampak bingung karena yang ada di dalam kulkas hanya air putih. Tidak ada bahan makanan sama sekali. "Apakah selama ini dokter Bima tidak pernah memasak di rumah?" Aruna menghela napas panjang. Kalau sudah tinggal bersama, dibiayai sekolah sampai pendidikan spesialis dan Aruna tidak melakukan apa pun rasanya Aruna menjadi orang yang tidak tahu diri. Aruna kebingungan harus menyiapkan sarapan apa karena tidak ada yang bisa dimasak pagi ini. Ingin keluar dan berbelanja, area apartemen ini juga masih a

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 8

    Aruna menyelesaikan masa koas hari ini. Sampai jam 23.00 malam, ia baru selesai menginput semua Operatif Report. Tubuh sudah begitu lelah, dan esok jam 08.00 pagi ia sudah harus kembali ke rumah sakit. Ketika keluar dari rumah sakit, Aruna sudah bertekad akan berjalan kaki untuk sampai ke apartemen milik suaminya. Namun, saat keluar dari lobby, Aruna benar-benar tidak mengira karena suaminya tampak menunggunya. Pria itu berdiri di depan mobil. Saat melihat Aruna, wajah Bima terlihat lega. Ia menunggu sampai Aruna berjalan ke arahnya. "Ayo, pulang," ajaknya. "dokter apa baru selesai?" "Hm." Padahal sebenarnya Bima sudah selesai praktik sejak sore tadi. Namun, sejak dulu memang Bima lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Ia juga dulu lebih banyak tidur di rumah sakit daripada pulang ke rumah orang tuanya. Baru satu setengah tahun belakangan, ia membeli sebuah apartemen yang jaraknya hanya 200 meter saja dari rumah sakit. Sehingga, kalau ada emergency call dari rumah saki

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 7

    Sebelum ke rumah sakit, Aruna akhirnya memilih untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengambil laptop dan beberapa buku kedokteran miliknya. Ketika tiba di rumah, Aruna pikir bahwa kedua orang tuanya akan bersedih karena ia kini telah menikah, tapi yang terjadi adalah sebaliknya, Aruna mendengar bahwa kedua orang tuanya justru senang. Gadis itu masih berdiri di luar pintu rumah, dan ia mendengar semua percakapan Ayah dan Ibunya. Hatinya semakin bertambah sedih saat mendengar percakapan kedua orang tuanya. "Semua utang kita sudah lunas. Sertifikat rumah yang dulu kita gadaikan untuk membayar kuliah Aruna saat keterima Fakultas Kedokteran sekarang sudah kembali. Akhirnya, bebas utang ...." Ayahnya berkata begitu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Sementara Ibunya juga turut menganggukkan kepalanya. Bagi orang dari kelas ekonomi menengah ke bawah saat anaknya yang pintar berhasil diterima di Fakultas Kedo

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 6

    "Kalau sudah selesai, kita tidur." Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama. Hari sudah malam, Aruna masih berada di ruang tamu. Rupanya malam itu hujan semakin deras, tapi ia belum beranjak ke kamar. Tentu saja Aruna takut dan canggung kalau harus sekamar dengan Bima. Merasa karena Aruna tidak segera masuk ke dalam kamar, akhirnya Bima kembali turun ke bawah. Ia mendatangi Aruna yang masih berada di ruang tamu. "Tidak tidur?" tanyanya. "Ada berapa kamar di tempat ini, dokter?" tanya Aruna. "Hanya ada satu kamar. Ini adalah villa pribadiku, bukan villa keluarga sehingga kamarnya memang hanya ada satu." "Aku tidur di sini saja," balas Aruna. Bahkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status