Mag-log inBima bukanlah orang yang mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Walau begitu profesinya sebagai dokter, kerap membuat Bima berpikir kritis dan mengambil keputusan secara cepat. Sebab, yang ada di hadapannya adalah pasien yang butuh pertolongan secara tepat.
Sama seperti sekarang, Bima sudah memikirkan semua di kepalanya dan kontrak pernikahan yang ia ajukan kepada Aruna. Semua bukan tanpa sebab, Bima sudah memikirkan segala risikonya. “Saya tidak mau,” kata Aruna. “Tenang saja. Kamu boleh memikirkannya. Kalau sudah, kamu boleh menemui saya.” Aruna tidak bisa tiba-tiba harus menikah dengan Bima. Aruna sudah berniat untuk segera pulang, tapi Bima segera menahan Aruna kembali. “Saya bersihkan dulu luka kamu, baru kamu boleh pergi.” Bima mengambil kapas dan antiseptik, lalu menyeka sudut bibir Aruna. Gadis itu tidak nyaman dengan apa yang Bima lakukan. Jika melakukan ke pasien semua perasaan rasanya wajar, tapi setelah mendengar ajakan Bima rasanya Aruna harus menjaga jarak dari seniornya itu. Sementara Bima walaupun mengidap satu penyakit yang belum ia jelaskan secara gamblang, tetap saja terasa desiran di hatinya. Walau demikian, Bima segera membuang perasaan itu jauh-jauh dan memilih bersikap profesional. “Sudah selesai. Kamu boleh pulang,” kata Bima. “Saya pulang dulu, dok … makasih.” Aruna mengenakan maskernya terlebih dahulu dan segera meninggalkan ruangan dokter Bima. Dalam perjalanan pulang, Aruna berpikir keras bagaimana cara melunasi utang dan bertahan hidup selama sebulan ini. Sebab, uang di dompetnya telah diambil orang-orang jahat yang menganiayanya. Untung saja masih ada saldo di dompet digitalnya. Sehingga Aruna masih bisa bertahan dengan sisa-sisa rupiah di dompet digitalnya. *** Beberapa Hari Kemudian …. Hari masih pagi, tapi sudah ada keributan di rumah Aruna. Ya, pagi itu renterir kembali datang ke rumah Aruna. Ia berkata kasar dan memberikan ancaman kepada Pak Sandy, yang adalah ayah Aruna. “Utangmu sudah jatuh tempo. Kamu janji akan membayarnya, tapi mana? Ha!” “Bulan depan akan saya lunasi,” balas Pak Sandy. “Utang tidak kamu bayar, bunganya juga tidak kamu berikan!” Rentenir bernama Dahlan itu kemudian mengarahkan sebuah pisau ke Sandy. Aruna tentu yang ada di sana sangat takut. Ia takut kalau rentenir itu sampai menyakiti ayahnya. “Kalau sampai tiga hari lagi kamu belum bisa membayar utangmu. Aku akan membakar rumah ini!” Dahlan kemudian pergi dari rumah itu. Aruna kemudian menghampiri ayahnya dan bertanya, “Sebenarnya berapa banyak utangnya Ayah?” “Sebenarnya 50 juta, tapi utang itu berbunga. Sekarang menjadi 62 juta.” “62 juta … buat apa, Ayah?” Sandy kemudian menjawab putrinya itu, “Dana sumbangan pendidikan untuk masuk ke Fakultas Kedokteran tidak murah, Na. Waktu itu Ayah juga tidak banyak memiliki tabungan.” Aruna merasa sedih sekali karena ayahnya berutang untuk membiayai kuliahnya dengan membayar dana sumbangan pendidikan di awal menjadi mahasiswa baru. Jika waktu itu Aruna tahu bahwa ayahnya sedang tidak punya uang, Aruna tidak akan memilih Fakultas Kedokteran. “Dari mana mendapatkan uang sebanyak itu selama tiga hari, Yah?” Aruna menangis. Sandy kemudian berusaha menenangkan Aruna, “Sudah … kamu harus koas sekarang. Pergilah. Ayah akan mencari cara agar bisa membayar utangnya Ayah.” Aruna berusaha menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah cukup tenang, ia segera menaiki sepeda motornya dan menuju rumah sakit. Wajahnya sembab dan bola mata yang sedikit merah karena usai menangis, tapi Aruna harus tetap profesional. “Bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu?” Saat menjalankan tugas, beberapa kali Aruna kurang fokus. Sama seperti saat di ruang operasi, ia justru mengambil gunting padahal dokter Bima tak meminta gunting. Usai tugas itu, dokter Bima meminta Aruna menemuinya lagi. “Saya meminta pisau bedah bukan gunting. Sedikit saja salah berdampak vatal, Aruna.” Suara dokter Bima tidak meninggi, tapi terdengar bahwa suaranya tegas. Aruna menundukkan kepalanya. Ya, Aruna mengakui dalam hati bahwa ia kurang fokus. “Pasti semua ini ada hubungannya dengan utang piutang kemarin kan?” “Tidak, dokter.” “Lalu?” Aruna lagi-lagi menunduk. Bima kemudian berbicara kembali. “Saya bisa membantu kamu melunasi utang keluargamu. Berapa nominalnya? Syaratnya kamu harus menikah dengan saya. Itu saja.” “Ss … saya ….” “Mana yang jauh prioritas tentu bisa kamu tentukan. Saya akan memberikan setengah dari Utangmu, dan setelahnya utang itu akan lunas kalau kamu sudah menjadi pengantin saya. Itu jauh lebih baik, daripada ketidakfokusan kamu justru berdampak pada keselamatan pasien.” Selembar kontrak rupanya sudah Bisma sediakan. Ia meminta Aruna membaca isi kontrak itu. Setelah itu, Bisma mengeluarkan amplop coklat dari laci mejanya. Terdapat uang kurang lebih 35 juta di sana. “Bayarkan itu terlebih dahulu dan akhir pekan nanti bersiaplah. Kamu hanya perlu mengenakan apa yang ada di dalam Kotak ini dan menunggu seorang supir akan menjemputmu.” “dokter, tapi ….” “Apa kamu masih akan menolak setelah semua yang terjadi? Kamu tentu paham bahwa masa koas adalah tempat kamu mengimplementasikan ilmumu? Tanda tangan saja.” Untuk beberapa menit Aruna hanya mematung. Namun, sangat tidak mudah juga harus membayar utang dalam jumlah begitu besar. Tangan Aurna kemudian meraih pena yang ada di atas meja dan kemudian membubuhkan tanda tangan di sana. Usai dari ruangan dokter Bima, Aruna naik ke rooftop rumah sakit. Gadis itu menangis dan berteriak histeris meluapkan perasaannya. “Akhh … kenapa harus begini jalannya!” Aruna menangis karena merasa jalan hidup sangat tidak adil baginya. Kerap kali orang-orang seperti Aruna tidak punya hak untuk membela diri. Namun, mau bagaimana lagi kalau kenyataan sering kali tidak seindah angan. *** Akhir Pekan Kemudian …. Aruna telah mengenakan kebaya dengan warna putih. Rambutnya hanya dipanggil sederhana dengan sedikit rangkaian bunga Melati. Gadis itu mengetuk sebuah Villa. Selang beberapa saat pintu villa itu terbuka, Bima sendiri yang membuka pintunya. Pria itu terkesima dengan gadis yang kini berdiri di hadapannya. Calon dokter yang biasa dia lihat di rumah sakit dengan mengenakan Scrub Medis atau baju jaga yang sering berwarna hijau kini hadir dengan mengenakan kebaya putih bersih. Di matanya, Aruna terlihat sangat cantik. Sangat berbeda dengan keseharian yang selama ini terlihat di rumah sakit. Benarkah Bima benar-benar tertarik pada Aruna?"Apakah ada perubahan yang dirasakan?" tanya dokter Sony. Saat ini Bima dan Aruna kembali melakukan konsultasi dan pemeriksaan. Sudah menjadi komitmen Bima bahwa ia akan melakukan pengobatan secara rutin dan Aruna tetap mendampingi suaminya. "Rasanya belum ada sama sekali." "Sudah melakukan jelqing?" Kali ini Aruna menganggukkan kepalanya, "Ya, sudah. Sudah saya lakukan." "Kali ini coba Pak Bima untuk pemanasan. Biasanya saat melakukan pemanasan, saat mulai berhasrat itu alat vital pria akan mengeras dan tegak berdiri. Coba dulu." Bima dan Aruna saling tatap. Aruna walau tidak punya pengalaman sebelumnya, tapi karena belajar kedokteran, maka ia tahu bahwa yang dimaksud dokter Sony adalah melakukan pemanasan sebagai pasangan. "Loh, tidak apa-apa. Kalian kan sudah menikah." "Eh, iya, dok." Aru
Usai kepergian Mama Ranti dan Clara, acara makan malam menjadi jauh lebih tenang. Walau saat ada orang lain yang memperhatikan lehernya, membuat Aruna malu. Seumur hidup baru kali ini ada tanda merah di lehernya. Bima yang duduk di hadapan Aruna juga diam-diam kerap melihat hasil lukisan bibirnya di leher Aruna itu. Kalau dipikir juga cukup menggelikan, tapi ternyata itu berhasil membuat mamanya dan Clara pergi. "Makan yang banyak, Na," kata Bima. "Hm, secukupnya saja, Mas." Bima lalu menganggukkan kepalanya, di tengah-tengah acara makan malam sepupu Bima yang baru bertunangan berdansa bersama. Aruna ikut tersenyum karena pasangan yang memulai dengan cinta rasanya pasti hati berbunga-bunga. Berbeda dengan pasangan yang menikah karena melunasi utang. Lagu-lagu cinta mengalun seolah menjadi harmonisasi yang indah. Sesekali deburan
"Mama heran karena kamu berani datang di acara keluarga besar kami. Lihatlah, siapa kamu! Jelas, kamu tidak sebanding dengan keluarga besar kami." Mama Ranti kembali mencibir Aruna. Ia menunjukkan bahwa Aruna benar-benar berbeda kelas. "Baju seperti itu. Tidak terkesan Luxury sama sekali." "Ma, jangan melihat orang dari penampilannya." Bima menghela napas kalau tetap di sini sudah pasti Aruna akan selalu menjadi cibiran. Bima kemudian berdiri. Lebih baik mereka kembali masuk ke dalam kamar. "Mau ke mana, Bim?" tanya Clara. "Tempat yang indah. Sangat cocok untuk pasangan suami istri." Bima kemudian menatap istrinya, "Sayang, aku mau nambah lagi yah?" Aruna tidak paham maksudnya, tapi ia hanya tersipu dengan rona merah di wajahnya. Bim
Malam hari saat sudah berada di rumah, agaknya suasana hati Bima belum sepenuhnya membaik. Ia seperti berkaca sendiri. Ada trauma yang kembali bangkit. Trauma itu menekan secara mental, dan Bima merasakannya sekarang. Aruna yang lelah usai dari rumah sakit pun meluangkan waktu untuk duduk bersama dengan Bima. Aruna masih ingat saat Bima berkata dulu bahwa mereka harus saling bercerita agar hubungannya semakin akrab. "Mas ...." Aruna memanggil perlahan. Bima tersenyum tipis. Setelahnya Aruna kembali berbicara kepada suaminya. "Bagaimana perasaanmu?" "Hm, i am fine." "Tidak terlihat baik," balas Aruna. Bima tampak menghela napas, Aruna kemudian berbicara lagi, "Dulu memang Mas tidak ada tempat untuk berbagi, tapi katamu dulu bahwa s
"Pasien belum sadar usai kecelakaan. Cepat lakukan CT Scan terlebih dahulu." Bima memberikan instruksi kepada tenaga medis yang bekerja bersamanya. Siang itu datang pasien karena kecelakaan. Apabila dilihat dari luar tidak ada luka yang serius. Darah hanya di area lutut, tapi pasien itu belum sadar. Di sana ada pula para calon dokter yang siap setiap kali keadaan darurat. Begitu juga dengan Aruna yang berada di sana. "Catat denyut jantung, nadi, dan tekanan darah," perintah Bima. "Baik, dokter." Aruna segera lakukan apa yang Bima perintahkan. Tidak berselang lama, laporan sudah Bima dapatkan. Sembari menunggu, pasien dibawa ke ruang tindakan dan dipasangkan infus terlebih dahulu. "Saksi kecelakaan di mana?" tanya Bima. Datanglah seseorang yang menemui Bima siang itu, "Saya, dokter." "Bagaimana kronologinya?" "Saya du
Bima meraih tissue untuk membersihkan dirinya. Usai itu, rupanya Bima menuju ke kamar mandi, ia menyegarkan tubuhnya. Sementara Aruna berada di dapur, ia meminum hampir tiga gelas air putih. Aruna masih terkejut karena alat vital yang lembek bisa mengalami pelepasan. Apakah memang benar begitu? "Kenapa bisa? Kalau pijatan bisa memberikan stimulan di bagian otot-otot, jadi bisa juga ...." Aruna bertanya-tanya sendiri. Sampai akhirnya Bima menyusulnya. Pria itu terlihat segar dengan rambut yang masih setengah basah. "Kamu di sini? Aku mencarimu di kamar." "Aku minum." "Oh, makanya aku mencarimu." Aruna segera menaruh gelasnya, tapi kemudian Bima segera mengusap perlahan puncak kepala Ara. Gerakan kecil, tapi sensasinya seperti ada kepakan sayap kupu-kupu. Aruna menunduk. Ia mulai terbiasa dengan usapan Bima di puncak kepalanya. "Kita tidu
Setibanya di villa, Bima meminta Aruna untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Apalagi mereka usai kegerimisan, karenanya Bima meminta Aruna untuk mandi, dan setelah itu turun ke bawah menemuinya. "Mandilah dulu ... gerimis tadi bisa membuatmu masuk angin nanti," katanya.
Netra Aruna sepenuhnya bisa membaca bahwa botol obat itu tercantum nama pemiliknya yaitu Bima Wibisana. Akan tetapi, yang membuat Aruna terbelalak adalah obat yang tentu Aruna tahu bahwa itu adalah Sildenafil PDE5. Apalagi ekspresi wajah Bima sepenuhnya berubah. dokter yang selama ini memili
Siang yang begitu terik, calon dokter yang sedang mengikuti masa Koas baru saja menyelesaikan tugas jaga di IGD. Wajah cantiknya sedikit sayu karena semalaman ia berjaga. Namanya adalah Aruna, yang kini baru saja memasuki masa Koas di salah satu rumah sakit di kota Metropolitan. Begitu
Di sebuah Villa pribadi. Rupanya Bima mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Bunga-bunga Mawar Putih dan Baby Breath menghiasi kebun di depan villa. Di depan ada meja kecil dan juga hanya beberapa bangku yang hanya kurang dari 50 kursi saja. Terlihat jelas bahwa Bima adalah orang yang







