Share

Bab 12

Author: Pena Gayatri
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-16 21:50:56

Tidak terasa sudah sepekan berlalu. Sepekan yang masih menjadi masa adaptasi untuk Aruna. Roda berputar, begitu juga dengan hidupnya. Kali ini, sepulang dari rumah sakit, Aruna izin kepada suaminya untuk pergi ke rumah orang tuanya karena masih ada barang yang tertinggal di rumah orang tuanya.

"dokter, boleh aku ke rumah orang tuaku sebentar?"

"Mau ke sana untuk apa?"

"Hanya mengambil beberapa buku dan perlengkapan medis yang aku punya."

"Aku antar saja."

"Tidak usah, dokter."

"Tidak apa-apa. Lagipula, ada barang-barang yang akan kamu bawa."

Apabila Bima sudah berkata demikian, Aruna tidak bisa menolak. Akhirnya yang bisa Aruna lakukan adalah nuruti Bima. Sekarang, mereka menuju ke rumah Aruna. Sekaligus ini menjadi pertama kalinya bagi Bima mengunjungi rumah mertuanya.

Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan yang mereka lakukan. Hanya Aruna yang mengarahkan saja rute untuk tiba di rumahnya. Hampir satu jam, barulah mereka tiba.

"Yang mana rumahmu?" tanya Bima.

"Itu, rumah dengan cat warna cokelat," jawab Aruna sembari menunjuk sebuah rumah dengan warna cokelat.

Bima mengedarkan pandangannya dan mulai melihat rumah dengan warna cokelat tua itu. Bima tidak mengira bahwa ukuran rumah itu terbilang kecil. Cat temboknya juga mulai pudar. Bima melirik Aruna perlahan, tidak mengira bahwa Aruna datang dari keluarga terbilang tidak mampu.

Namun, di dalam hatinya Bima juga merasa bangga karena Aruna adalah mahasiswa yang pandai. Sedikit banyak Bima mengerti bahwa dulu Aruna bisa masuk Fakultas Kedokteran dari jalur PMDK. Bima juga tahu bahwa Aruna memiliki Indeks Prestasi yang bagus. Selain itu, Aruna sudah mempublikasikan beberapa jurnal. Ini adalah bukti nyata bahwa kemiskinan tidak memadamkan mimpi seseorang. Di sisinya ada contoh nyata, seorang anak dari keluarga biasa yang sebentar lagi akan disumpah dokter.

"Rumah yang paling jelek," kata Aruna perlahan.

"Bukan masalah bangunannya, Na ... tapi rumah itu tentu sangat berharga karena banyak kenangan di sana," jawab Bima.

"Ya, rumah sejak aku kecil sampai sekarang."

Saat mengatakan demikian ada senyuman getir. Memori yang Aruna ingat adalah saat orang tuanya bertengkar sejak ia masih kecil, atau kekerasan yang ia terima dari orang tuanya, dan dikejar-kejar rentenir dari utang.

"Kita masuk?"

"Iya."

Aruna dan Bima berjalan ke menuju ke rumah. Ketika sudah di depan pintu Aruna mengucapkan salam sembari mengetuk pintu rumahnya.

"Assalamualaikum."

Cukup lama tidak ada jawaban, Aruna mengulangi kembali. Sampai akhirnya, Ibunya membukakan pintu. Awalnya wajah ibunya masam saat melihat Aruna, tapi ekspresi wajahnya seketika berubah ketika tahu bahwa Aruna datang bersama Bima.

"Waalaikumsalam, ada Aruna dan menantu. Silakan masuk. Duduk dulu."

Keduanya dipersilakan duduk di ruang tamu. Layaknya orang yang baru pertama kali mengunjungi rumah, Bima memang mengamati bagian rumah itu. Tanpa berbicara dan bertanya, Bima tahu kalau rumah itu hanya memiliki dua kamar, satu dapur, dan satu kamar mandi.

"Siang, Bu," sapa Bima perlahan.

"Iya, kalian dari mana? Dari rumah sakit atau dari mana? Seharusnya telepon Ibu dulu kalau mau datang. Na, kamu gak nelpon Ibu dulu sih? Kalau tahu kamu datang dengan suamimu, pasti Ibu bisa masak dulu."

"Maaf, Bu ... tadi niatnya Aruna mau sendiri, tapi dokter Bima eh maksudnya Mas Bima mau nganter."

Aruna terpaksa mengganti panggilan suaminya yang biasanya dokter menjadi Mas. Bima sendiri tidak mempermasalahkan, justru sejujurnya ia senang kalau Aruna mengubah panggilannya.

"Ck, gimana sih kamu? Di rumah gak ada apa-apa. Ibu kan malu," kata Ibunya dengan suara lirih dan sedikit mencubit paha Aruna.

Cubitan kecil dan itu terasa sakit. Aruna sampai mengusap sendiri pahanya perlahan. Kemudian Bima berbicara.

"Kami tidak lama kok, Bu. Hanya mau mengambil buku-buku, stetoskop, dan barang Aruna lainnya."

"Oh, gitu. Bagus deh kalau semuanya dibawa. Biar rumah ini lebih lega karena barangnya berkurang."

Aruna menatap ibunya, kenapa ibunya justru berkata demikian. Padahal biasanya para ibu bersedih saat anak meninggalkan rumah. Akan tetapi, sekarang justru ia sendiri seperti dipersilakan untuk pergi.

Aruna berkata kepada suaminya, "Aku ambil barangku dulu ya, Mas."

"Di mana? Aku bantu?"

"Iya, biar dibantu suamimu, Na. Biar cepat selesai."

Akhirnya Bima mengikuti Aruna untuk masuk ke dalam kamarnya. Pria itu memperhatikan kamar Aruna yang terbilang sempit dengan sebuah kasur yang begitu tipis. Bima membayangkan pasti tidur semalaman akan tidak nyenyak dan bangun pagi justru tubuh menjadi sakit. Walau demikian, pria itu hanya diam dan tidak berkomentar.

Bima mengamati area meja belajar yang begitu rapi. Ada perpustakaan kecil di sudut kamar. Bima juga memperhatikan saat Aruna hendak memilih beberapa baju dan memasukkannya ke dalam tas. Namun, setelahnya Bima berbicara kepada Aruna.

"Baju itu tidak usah dibawa, Na," ucapnya.

"Kenapa, dokter? Masih bisa untuk ganti."

Bima tidak langsung menjawab. Namun, hatinya tersentuh melihat banyak pakaian dengan warna yang usang. Pria itu kemudian baru berbicara lagi, "Nanti aku belikan saja baju-baju untuk di rumah."

"Gak usah beli semuanya, dokter. Aku gak mau terlalu merepotkan dokter."

Aruna mengamati baju-bajunya sampai ia melihat banyak bajunya yang warnanya telah usang. Tentu saja ada rasa malu, kemudian ia bertanya kepada Bima.

"Apakah karena bajuku sudah jelek? Jadi, tidak layak untuk dibawa ke tempat dokter yang bagus itu?"

"Bukan begitu ...."

"Gak sebagus pakaian milik dokter kan? Ya, memang seperti ini. Aku gak malu kok karena yang punya hanya ini."

"Jangan salah sangka. Aku menawarkan yang terbaik. Kebaikan seseorang hanya disalah sangkakan dengan pikiran negatif. Kamu layak mendapatkan yang jauh lebih baik."

Kedua mata Aruna berkaca-kaca. Ia harus mengartikan semua ini bagaimana, apakah ini sebuah kebaikan yang tulus? Atau sebatas rasa kasihan saja yang Bima tunjukan kepadanya?

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 12

    Tidak terasa sudah sepekan berlalu. Sepekan yang masih menjadi masa adaptasi untuk Aruna. Roda berputar, begitu juga dengan hidupnya. Kali ini, sepulang dari rumah sakit, Aruna izin kepada suaminya untuk pergi ke rumah orang tuanya karena masih ada barang yang tertinggal di rumah orang tuanya. "dokter, boleh aku ke rumah orang tuaku sebentar?" "Mau ke sana untuk apa?" "Hanya mengambil beberapa buku dan perlengkapan medis yang aku punya." "Aku antar saja." "Tidak usah, dokter." "Tidak apa-apa. Lagipula, ada barang-barang yang akan kamu bawa." Apabila Bima sudah berkata demikian, Aruna tidak bisa menolak. Akhirnya yang bisa Aruna lakukan adalah nuruti Bima. Sekarang, mereka menuju ke rumah Aruna. Sekaligus ini menjadi pertama kalinya bagi Bima mengunjungi rumah mertuanya. Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan yang mereka lakukan. Hanya Ar

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 11

    Lima Tahun yang Lalu ...."Ada benturan di pangkal pahanya Anda. Benturan yang sangat keras menghantam pe-nis. Oleh karena itu, Anda terkena Aterosklesis."Bima masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Ia baru saja mendapatkan operasi karena mengalami kecelakaan mobil. Tuhan masih berbaik hati karena Bima bisa selamat. Sayangnya, pria itu kini divonis terkena Aterosklesis."Aterosklesis, dokter?""Ya, benar. Aterosklesis. Telah terjadi penyempitan dan pembekuan pembuluh darah di pe-nis Anda. Aliran darah menjadi terhambat dan Aterosklesis itu akan menyebabkan Disfungsi Ereksi atau DE."Vonis dari dokter membuat Bima menjadi lemas sekaligus cemas. Usianya masih muda saat itu. Selain itu, Bima adalah perjaka. Pemuda itu tidak pernah berusaha untuk mempermainkan wanita. Walau berstatus single, Bima juga memiliki angan-angan untuk menikah di usia 30 tahun. Akan tetapi, setelah mendengar apa yang dokter sampaikan Bima sempat takut kalau DE yang ia alami bisa

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 10

    "Selamat siang, silakan duduk. Sudah lama tidak melakukan cek up ya, dokter Bima." dokter Spesialis Andrologi yang selama ini menangani Bima adalah dokter Sonny. Sudah beberapa kali Bima datang untuk melakukan kontrol dan mendapatkan obat yang harus diminum. "Iya, dokter. Saya sibuk belakangan ini," balasnya. "Kepala IGD sudah pasti sangat sibuk, dokter Bima. Tumben sekali hari ini ada yang mendampingi." Bima menganggukkan kepalanya, lalu ia memperkenalkan Aruna kepada dokter Sonny. "Perkenalkan, istri saya ...." "Siang dok, saya Aruna." "Saya dokter Sonny spesialis Andrologi yang selama ini menangani dokter Bima. Rupanya suda

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 9

    Walau semalam tidur lebih dari tengah malam, pagi ini Aruna sudah bangun. Aruna sendiri memang terbiasa untuk bangun lebih pagi. Dulu sewaktu belum menikah, Aruna menghabiskan waktu di pagi hari untuk belajar dan membantu ibunya memasak di dapur. Sekarang, Aruna juga sudah menuju ke dapur. Walau belum meminta izin kepada Bima, sekarang Aruna sudah melihat apa yang ada di dalam kulkas. Gadis itu tampak bingung karena yang ada di dalam kulkas hanya air putih. Tidak ada bahan makanan sama sekali. "Apakah selama ini dokter Bima tidak pernah memasak di rumah?" Aruna menghela napas panjang. Kalau sudah tinggal bersama, dibiayai sekolah sampai pendidikan spesialis dan Aruna tidak melakukan apa pun rasanya Aruna menjadi orang yang tidak tahu diri. Aruna kebingungan harus menyiapkan sarapan apa karena tidak ada yang bisa dimasak pagi ini. Ingin keluar dan berbelanja, area apartemen ini juga masih a

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 8

    Aruna menyelesaikan masa koas hari ini. Sampai jam 23.00 malam, ia baru selesai menginput semua Operatif Report. Tubuh sudah begitu lelah, dan esok jam 08.00 pagi ia sudah harus kembali ke rumah sakit. Ketika keluar dari rumah sakit, Aruna sudah bertekad akan berjalan kaki untuk sampai ke apartemen milik suaminya. Namun, saat keluar dari lobby, Aruna benar-benar tidak mengira karena suaminya tampak menunggunya. Pria itu berdiri di depan mobil. Saat melihat Aruna, wajah Bima terlihat lega. Ia menunggu sampai Aruna berjalan ke arahnya. "Ayo, pulang," ajaknya. "dokter apa baru selesai?" "Hm." Padahal sebenarnya Bima sudah selesai praktik sejak sore tadi. Namun, sejak dulu memang Bima lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Ia juga dulu lebih banyak tidur di rumah sakit daripada pulang ke rumah orang tuanya. Baru satu setengah tahun belakangan, ia membeli sebuah apartemen yang jaraknya hanya 200 meter saja dari rumah sakit. Sehingga, kalau ada emergency call dari rumah saki

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 7

    Sebelum ke rumah sakit, Aruna akhirnya memilih untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengambil laptop dan beberapa buku kedokteran miliknya. Ketika tiba di rumah, Aruna pikir bahwa kedua orang tuanya akan bersedih karena ia kini telah menikah, tapi yang terjadi adalah sebaliknya, Aruna mendengar bahwa kedua orang tuanya justru senang. Gadis itu masih berdiri di luar pintu rumah, dan ia mendengar semua percakapan Ayah dan Ibunya. Hatinya semakin bertambah sedih saat mendengar percakapan kedua orang tuanya. "Semua utang kita sudah lunas. Sertifikat rumah yang dulu kita gadaikan untuk membayar kuliah Aruna saat keterima Fakultas Kedokteran sekarang sudah kembali. Akhirnya, bebas utang ...." Ayahnya berkata begitu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Sementara Ibunya juga turut menganggukkan kepalanya. Bagi orang dari kelas ekonomi menengah ke bawah saat anaknya yang pintar berhasil diterima di Fakultas Kedo

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status