Share

Bab 6

Penulis: Pena Gayatri
last update Tanggal publikasi: 2026-05-13 18:15:59

"Kalau sudah selesai, kita tidur."

Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama.

Hari sudah malam, Aruna masih berada di ruang tamu. Rupanya malam itu hujan semakin deras, tapi ia belum beranjak ke kamar. Tentu saja Aruna takut dan canggung kalau harus sekamar dengan Bima.

Merasa karena Aruna tidak segera masuk ke dalam kamar, akhirnya Bima kembali turun ke bawah. Ia mendatangi Aruna yang masih berada di ruang tamu.

"Tidak tidur?" tanyanya.

"Ada berapa kamar di tempat ini, dokter?" tanya Aruna.

"Hanya ada satu kamar. Ini adalah villa pribadiku, bukan villa keluarga sehingga kamarnya memang hanya ada satu."

"Aku tidur di sini saja," balas Aruna. Bahkan Aruna tak segan menepuk perlahan sofa yang sekarang ia duduki.

Bima kemudian duduk di sisi Aruna, "Kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Aruna, apa kamu lupa kalau kita sudah menikah?"

"Tentu saja aku tidak lupa."

"Lalu? Kenapa ingin tidur di sini?"

Aruna terdiam, ia tidak bisa memberikan jawaban. Bima kemudian memberikan penjelasan kepada Aruna.

"Walau sebatas kontrak, tapi kita pasangan sungguhan. Dalam kontrak itu juga disebutkan bahwa kamu akan membantuku untuk sembuh. Aku juga berjanji akan melunasi semua utang, menyelesaikan biaya pendidikan, dan akan membiayai sampai kamu mengambil dokter spesialis. Rasanya semua sebanding. Kita sama-sama diuntungkan."

"Hanya saja ...."

Aruna hendak berbicara, tapi Bima kemudian melirik Aruna. Pria itu kembali berbicara perlahan.

"Ini sudah malam, aku sudah lelah. Esok pagi aku juga akan berjaga di IGD. Ayo, kita beristirahat saja."

Keduanya kemudian menuju ke dalam kamar. Aruna sudah menyangka pastilah di dalam kamar itu hanya ada satu ranjang. Ingin berdebat lagi, badan juga sudah lelah. Namun, Aruna merasa tidak bisa seranjang dengan suaminya sendiri.

"Tenang saja, aku tidak akan melewati batas," kata Bima.

Pria itu menjeda ucapannya sesaat, kemudian mulai berbicara kembali, "Setidaknya sampai kamu terbiasa dulu. Waktu kita masih panjang sampai kamu mendapatkan gelar dokter spesialis."

"Sejujurnya bukan seperti ini yang aku harapkan."

"Semua sudah terjadi. Kita sama-sama berada di dunia medis, keputusan harus diambil dengan cepat. Begitu pula sekarang. Tidurlah. Hari ini sudah begitu melelahkan."

Bima menaiki ranjang terlebih dahulu. Pria itu berbaring miring tentu dengan memunggungi Aruna. Sebagai pria, Bima sendiri tahu bahwa Aruna membutuhkan waktu dan penyesuaian. Selain itu, Bima juga merasa bahwa hubungan mereka masih panjang. Banyak hal yang harus dilakukan bersama.

Beberapa saat barulah kemudian Aruna menaiki ranjang perlahan. Mata rasanya tidak ingin terpejam, ia berjaga karena tidak ingin terjadi sesuatu di antara dirinya dan Bima. Dua sejoli itu saling memunggungi. Aruna juga kemudian menaruh dua guling yang seolah menjadi pembatas antara dirinya dan Bima.

"Tak usah setakut itu. Kita bisa melakukan semua perlahan. Besok pagi kita kembali ke Jakarta dan aku langsung ke rumah sakit setelahnya."

Malam berlalu begitu saja. Apabila biasanya pasangan pengantin akan memadu kasih di malam pertamanya, tapi tidak dengan Aruna dan Bima yang justru saling memunggungi. Aruna hanya bisa menerima jalan hidupnya yang tidak bisa bebas dan sesuai dengan keinginannya sendiri.

***

Keesokan Paginya ....

Sekarang Bima dan Aruna tengah dalam perjalanan untuk kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan juga tidak banyak yang mereka bicarakan bersama. Sampai akhirnya mereka sudah tiba di apartemen milik Bima. Aruna cukup terkejut karena lokasi apartemen itu tidak begitu jauh dari rumah sakit tempat Bima bekerja dan juga tempatnya menjalani masa Koas.

"Ini apartemenku. Mulai hari ini, kamu akan tinggal di sini. Hari ini jam berapa ke rumah sakit?" tanya Bima.

"Jam 14.00 dan akan pulang jam 23.00," jawab Aruna.

"Baiklah. Sudah ada yang aku persiapkan dan bisa kamu pakai."

"dokter, bolehkah kita berdiskusi sebentar?"

"Apa?"

"Sebaiknya kita tidak terlalu mencolok saat di rumah sakit. Semisal aku mengalami kesulitan di masa koas di rumah sakit tidak usah membantuku."

"Ada Clara yang mengetahui pernikahan kita," jelas Bima.

"Rasanya dokter bisa menangani dokter Clara nanti. Akan terjadi gosip kalau ada yang tahu semua ini. Selain itu, dokter tentu paham satu hal bahwa selama Koas dan selama menjadi Residen nanti aku pun tidak akan bisa hamil. Sebab, calon Residen harus menandatangani untuk menunda kehamilan selama Residen berlangsung."

"Aku sudah mengetahuinya. Tenang saja."

"Jadi, dokter setuju kan? Semua tetap pada tempatnya."

"Baiklah, aku akan mengusahakannya. Lalu, bagaimana caramu ke rumah sakit nanti siang?"

"Aku bisa berjalan kaki saja. Jaraknya hanya 200 meter. Tidak jauh."

Bima menganggukkan kepalanya, sementara memang ia tidak ingin terlalu banyak perdebatan. Ia harus segera menuju ruang IGD sekarang.

"Baiklah, kamu istirahat dulu. Aku akan ke rumah sakit. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Bima segera meninggalkan apartemennya. Sedangkan Aruna bingung harus melakukan apa setelah ini. Saat itu, air matanya justru menetes. Hidup yang berubah total, Aruna hanya bisa menjalani dan terus bertahan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 11

    Lima Tahun yang Lalu ...."Ada benturan di pangkal pahanya Anda. Benturan yang sangat keras menghantam pe-nis. Oleh karena itu, Anda terkena Aterosklesis."Bima masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Ia baru saja mendapatkan operasi karena mengalami kecelakaan mobil. Tuhan masih berbaik hati karena Bima bisa selamat. Sayangnya, pria itu kini divonis terkena Aterosklesis."Aterosklesis, dokter?""Ya, benar. Aterosklesis. Telah terjadi penyempitan dan pembekuan pembuluh darah di pe-nis Anda. Aliran darah menjadi terhambat dan Aterosklesis itu akan menyebabkan Disfungsi Ereksi atau DE."Vonis dari dokter membuat Bima menjadi lemas sekaligus cemas. Usianya masih muda saat itu. Selain itu, Bima adalah perjaka. Pemuda itu tidak pernah berusaha untuk mempermainkan wanita. Walau berstatus single, Bima juga memiliki angan-angan untuk menikah di usia 30 tahun. Akan tetapi, setelah mendengar apa yang dokter sampaikan Bima sempat takut kalau DE yang ia alami bisa

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 10

    "Selamat siang, silakan duduk. Sudah lama tidak melakukan cek up ya, dokter Bima." dokter Spesialis Andrologi yang selama ini menangani Bima adalah dokter Sonny. Sudah beberapa kali Bima datang untuk melakukan kontrol dan mendapatkan obat yang harus diminum. "Iya, dokter. Saya sibuk belakangan ini," balasnya. "Kepala IGD sudah pasti sangat sibuk, dokter Bima. Tumben sekali hari ini ada yang mendampingi." Bima menganggukkan kepalanya, lalu ia memperkenalkan Aruna kepada dokter Sonny. "Perkenalkan, istri saya ...." "Siang dok, saya Aruna." "Saya dokter Sonny spesialis Andrologi yang selama ini menangani dokter Bima. Rupanya suda

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 9

    Walau semalam tidur lebih dari tengah malam, pagi ini Aruna sudah bangun. Aruna sendiri memang terbiasa untuk bangun lebih pagi. Dulu sewaktu belum menikah, Aruna menghabiskan waktu di pagi hari untuk belajar dan membantu ibunya memasak di dapur. Sekarang, Aruna juga sudah menuju ke dapur. Walau belum meminta izin kepada Bima, sekarang Aruna sudah melihat apa yang ada di dalam kulkas. Gadis itu tampak bingung karena yang ada di dalam kulkas hanya air putih. Tidak ada bahan makanan sama sekali. "Apakah selama ini dokter Bima tidak pernah memasak di rumah?" Aruna menghela napas panjang. Kalau sudah tinggal bersama, dibiayai sekolah sampai pendidikan spesialis dan Aruna tidak melakukan apa pun rasanya Aruna menjadi orang yang tidak tahu diri. Aruna kebingungan harus menyiapkan sarapan apa karena tidak ada yang bisa dimasak pagi ini. Ingin keluar dan berbelanja, area apartemen ini juga masih a

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 8

    Aruna menyelesaikan masa koas hari ini. Sampai jam 23.00 malam, ia baru selesai menginput semua Operatif Report. Tubuh sudah begitu lelah, dan esok jam 08.00 pagi ia sudah harus kembali ke rumah sakit. Ketika keluar dari rumah sakit, Aruna sudah bertekad akan berjalan kaki untuk sampai ke apartemen milik suaminya. Namun, saat keluar dari lobby, Aruna benar-benar tidak mengira karena suaminya tampak menunggunya. Pria itu berdiri di depan mobil. Saat melihat Aruna, wajah Bima terlihat lega. Ia menunggu sampai Aruna berjalan ke arahnya. "Ayo, pulang," ajaknya. "dokter apa baru selesai?" "Hm." Padahal sebenarnya Bima sudah selesai praktik sejak sore tadi. Namun, sejak dulu memang Bima lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Ia juga dulu lebih banyak tidur di rumah sakit daripada pulang ke rumah orang tuanya. Baru satu setengah tahun belakangan, ia membeli sebuah apartemen yang jaraknya hanya 200 meter saja dari rumah sakit. Sehingga, kalau ada emergency call dari rumah saki

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 7

    Sebelum ke rumah sakit, Aruna akhirnya memilih untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengambil laptop dan beberapa buku kedokteran miliknya. Ketika tiba di rumah, Aruna pikir bahwa kedua orang tuanya akan bersedih karena ia kini telah menikah, tapi yang terjadi adalah sebaliknya, Aruna mendengar bahwa kedua orang tuanya justru senang. Gadis itu masih berdiri di luar pintu rumah, dan ia mendengar semua percakapan Ayah dan Ibunya. Hatinya semakin bertambah sedih saat mendengar percakapan kedua orang tuanya. "Semua utang kita sudah lunas. Sertifikat rumah yang dulu kita gadaikan untuk membayar kuliah Aruna saat keterima Fakultas Kedokteran sekarang sudah kembali. Akhirnya, bebas utang ...." Ayahnya berkata begitu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Sementara Ibunya juga turut menganggukkan kepalanya. Bagi orang dari kelas ekonomi menengah ke bawah saat anaknya yang pintar berhasil diterima di Fakultas Kedo

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 6

    "Kalau sudah selesai, kita tidur." Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama. Hari sudah malam, Aruna masih berada di ruang tamu. Rupanya malam itu hujan semakin deras, tapi ia belum beranjak ke kamar. Tentu saja Aruna takut dan canggung kalau harus sekamar dengan Bima. Merasa karena Aruna tidak segera masuk ke dalam kamar, akhirnya Bima kembali turun ke bawah. Ia mendatangi Aruna yang masih berada di ruang tamu. "Tidak tidur?" tanyanya. "Ada berapa kamar di tempat ini, dokter?" tanya Aruna. "Hanya ada satu kamar. Ini adalah villa pribadiku, bukan villa keluarga sehingga kamarnya memang hanya ada satu." "Aku tidur di sini saja," balas Aruna. Bahkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status