LOGIN"Kalau sudah selesai, kita tidur."
Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama. Hari sudah malam, Aruna masih berada di ruang tamu. Rupanya malam itu hujan semakin deras, tapi ia belum beranjak ke kamar. Tentu saja Aruna takut dan canggung kalau harus sekamar dengan Bima. Merasa karena Aruna tidak segera masuk ke dalam kamar, akhirnya Bima kembali turun ke bawah. Ia mendatangi Aruna yang masih berada di ruang tamu. "Tidak tidur?" tanyanya. "Ada berapa kamar di tempat ini, dokter?" tanya Aruna. "Hanya ada satu kamar. Ini adalah villa pribadiku, bukan villa keluarga sehingga kamarnya memang hanya ada satu." "Aku tidur di sini saja," balas Aruna. Bahkan Aruna tak segan menepuk perlahan sofa yang sekarang ia duduki. Bima kemudian duduk di sisi Aruna, "Kenapa?" "Tidak apa-apa." "Aruna, apa kamu lupa kalau kita sudah menikah?" "Tentu saja aku tidak lupa." "Lalu? Kenapa ingin tidur di sini?" Aruna terdiam, ia tidak bisa memberikan jawaban. Bima kemudian memberikan penjelasan kepada Aruna. "Walau sebatas kontrak, tapi kita pasangan sungguhan. Dalam kontrak itu juga disebutkan bahwa kamu akan membantuku untuk sembuh. Aku juga berjanji akan melunasi semua utang, menyelesaikan biaya pendidikan, dan akan membiayai sampai kamu mengambil dokter spesialis. Rasanya semua sebanding. Kita sama-sama diuntungkan." "Hanya saja ...." Aruna hendak berbicara, tapi Bima kemudian melirik Aruna. Pria itu kembali berbicara perlahan. "Ini sudah malam, aku sudah lelah. Esok pagi aku juga akan berjaga di IGD. Ayo, kita beristirahat saja." Keduanya kemudian menuju ke dalam kamar. Aruna sudah menyangka pastilah di dalam kamar itu hanya ada satu ranjang. Ingin berdebat lagi, badan juga sudah lelah. Namun, Aruna merasa tidak bisa seranjang dengan suaminya sendiri. "Tenang saja, aku tidak akan melewati batas," kata Bima. Pria itu menjeda ucapannya sesaat, kemudian mulai berbicara kembali, "Setidaknya sampai kamu terbiasa dulu. Waktu kita masih panjang sampai kamu mendapatkan gelar dokter spesialis." "Sejujurnya bukan seperti ini yang aku harapkan." "Semua sudah terjadi. Kita sama-sama berada di dunia medis, keputusan harus diambil dengan cepat. Begitu pula sekarang. Tidurlah. Hari ini sudah begitu melelahkan." Bima menaiki ranjang terlebih dahulu. Pria itu berbaring miring tentu dengan memunggungi Aruna. Sebagai pria, Bima sendiri tahu bahwa Aruna membutuhkan waktu dan penyesuaian. Selain itu, Bima juga merasa bahwa hubungan mereka masih panjang. Banyak hal yang harus dilakukan bersama. Beberapa saat barulah kemudian Aruna menaiki ranjang perlahan. Mata rasanya tidak ingin terpejam, ia berjaga karena tidak ingin terjadi sesuatu di antara dirinya dan Bima. Dua sejoli itu saling memunggungi. Aruna juga kemudian menaruh dua guling yang seolah menjadi pembatas antara dirinya dan Bima. "Tak usah setakut itu. Kita bisa melakukan semua perlahan. Besok pagi kita kembali ke Jakarta dan aku langsung ke rumah sakit setelahnya." Malam berlalu begitu saja. Apabila biasanya pasangan pengantin akan memadu kasih di malam pertamanya, tapi tidak dengan Aruna dan Bima yang justru saling memunggungi. Aruna hanya bisa menerima jalan hidupnya yang tidak bisa bebas dan sesuai dengan keinginannya sendiri. *** Keesokan Paginya .... Sekarang Bima dan Aruna tengah dalam perjalanan untuk kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan juga tidak banyak yang mereka bicarakan bersama. Sampai akhirnya mereka sudah tiba di apartemen milik Bima. Aruna cukup terkejut karena lokasi apartemen itu tidak begitu jauh dari rumah sakit tempat Bima bekerja dan juga tempatnya menjalani masa Koas. "Ini apartemenku. Mulai hari ini, kamu akan tinggal di sini. Hari ini jam berapa ke rumah sakit?" tanya Bima. "Jam 14.00 dan akan pulang jam 23.00," jawab Aruna. "Baiklah. Sudah ada yang aku persiapkan dan bisa kamu pakai." "dokter, bolehkah kita berdiskusi sebentar?" "Apa?" "Sebaiknya kita tidak terlalu mencolok saat di rumah sakit. Semisal aku mengalami kesulitan di masa koas di rumah sakit tidak usah membantuku." "Ada Clara yang mengetahui pernikahan kita," jelas Bima. "Rasanya dokter bisa menangani dokter Clara nanti. Akan terjadi gosip kalau ada yang tahu semua ini. Selain itu, dokter tentu paham satu hal bahwa selama Koas dan selama menjadi Residen nanti aku pun tidak akan bisa hamil. Sebab, calon Residen harus menandatangani untuk menunda kehamilan selama Residen berlangsung." "Aku sudah mengetahuinya. Tenang saja." "Jadi, dokter setuju kan? Semua tetap pada tempatnya." "Baiklah, aku akan mengusahakannya. Lalu, bagaimana caramu ke rumah sakit nanti siang?" "Aku bisa berjalan kaki saja. Jaraknya hanya 200 meter. Tidak jauh." Bima menganggukkan kepalanya, sementara memang ia tidak ingin terlalu banyak perdebatan. Ia harus segera menuju ruang IGD sekarang. "Baiklah, kamu istirahat dulu. Aku akan ke rumah sakit. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Bima segera meninggalkan apartemennya. Sedangkan Aruna bingung harus melakukan apa setelah ini. Saat itu, air matanya justru menetes. Hidup yang berubah total, Aruna hanya bisa menjalani dan terus bertahan."Apakah ada perubahan yang dirasakan?" tanya dokter Sony. Saat ini Bima dan Aruna kembali melakukan konsultasi dan pemeriksaan. Sudah menjadi komitmen Bima bahwa ia akan melakukan pengobatan secara rutin dan Aruna tetap mendampingi suaminya. "Rasanya belum ada sama sekali." "Sudah melakukan jelqing?" Kali ini Aruna menganggukkan kepalanya, "Ya, sudah. Sudah saya lakukan." "Kali ini coba Pak Bima untuk pemanasan. Biasanya saat melakukan pemanasan, saat mulai berhasrat itu alat vital pria akan mengeras dan tegak berdiri. Coba dulu." Bima dan Aruna saling tatap. Aruna walau tidak punya pengalaman sebelumnya, tapi karena belajar kedokteran, maka ia tahu bahwa yang dimaksud dokter Sony adalah melakukan pemanasan sebagai pasangan. "Loh, tidak apa-apa. Kalian kan sudah menikah." "Eh, iya, dok." Aru
Usai kepergian Mama Ranti dan Clara, acara makan malam menjadi jauh lebih tenang. Walau saat ada orang lain yang memperhatikan lehernya, membuat Aruna malu. Seumur hidup baru kali ini ada tanda merah di lehernya. Bima yang duduk di hadapan Aruna juga diam-diam kerap melihat hasil lukisan bibirnya di leher Aruna itu. Kalau dipikir juga cukup menggelikan, tapi ternyata itu berhasil membuat mamanya dan Clara pergi. "Makan yang banyak, Na," kata Bima. "Hm, secukupnya saja, Mas." Bima lalu menganggukkan kepalanya, di tengah-tengah acara makan malam sepupu Bima yang baru bertunangan berdansa bersama. Aruna ikut tersenyum karena pasangan yang memulai dengan cinta rasanya pasti hati berbunga-bunga. Berbeda dengan pasangan yang menikah karena melunasi utang. Lagu-lagu cinta mengalun seolah menjadi harmonisasi yang indah. Sesekali deburan
"Mama heran karena kamu berani datang di acara keluarga besar kami. Lihatlah, siapa kamu! Jelas, kamu tidak sebanding dengan keluarga besar kami." Mama Ranti kembali mencibir Aruna. Ia menunjukkan bahwa Aruna benar-benar berbeda kelas. "Baju seperti itu. Tidak terkesan Luxury sama sekali." "Ma, jangan melihat orang dari penampilannya." Bima menghela napas kalau tetap di sini sudah pasti Aruna akan selalu menjadi cibiran. Bima kemudian berdiri. Lebih baik mereka kembali masuk ke dalam kamar. "Mau ke mana, Bim?" tanya Clara. "Tempat yang indah. Sangat cocok untuk pasangan suami istri." Bima kemudian menatap istrinya, "Sayang, aku mau nambah lagi yah?" Aruna tidak paham maksudnya, tapi ia hanya tersipu dengan rona merah di wajahnya. Bim
Malam hari saat sudah berada di rumah, agaknya suasana hati Bima belum sepenuhnya membaik. Ia seperti berkaca sendiri. Ada trauma yang kembali bangkit. Trauma itu menekan secara mental, dan Bima merasakannya sekarang. Aruna yang lelah usai dari rumah sakit pun meluangkan waktu untuk duduk bersama dengan Bima. Aruna masih ingat saat Bima berkata dulu bahwa mereka harus saling bercerita agar hubungannya semakin akrab. "Mas ...." Aruna memanggil perlahan. Bima tersenyum tipis. Setelahnya Aruna kembali berbicara kepada suaminya. "Bagaimana perasaanmu?" "Hm, i am fine." "Tidak terlihat baik," balas Aruna. Bima tampak menghela napas, Aruna kemudian berbicara lagi, "Dulu memang Mas tidak ada tempat untuk berbagi, tapi katamu dulu bahwa s
"Pasien belum sadar usai kecelakaan. Cepat lakukan CT Scan terlebih dahulu." Bima memberikan instruksi kepada tenaga medis yang bekerja bersamanya. Siang itu datang pasien karena kecelakaan. Apabila dilihat dari luar tidak ada luka yang serius. Darah hanya di area lutut, tapi pasien itu belum sadar. Di sana ada pula para calon dokter yang siap setiap kali keadaan darurat. Begitu juga dengan Aruna yang berada di sana. "Catat denyut jantung, nadi, dan tekanan darah," perintah Bima. "Baik, dokter." Aruna segera lakukan apa yang Bima perintahkan. Tidak berselang lama, laporan sudah Bima dapatkan. Sembari menunggu, pasien dibawa ke ruang tindakan dan dipasangkan infus terlebih dahulu. "Saksi kecelakaan di mana?" tanya Bima. Datanglah seseorang yang menemui Bima siang itu, "Saya, dokter." "Bagaimana kronologinya?" "Saya du
Bima meraih tissue untuk membersihkan dirinya. Usai itu, rupanya Bima menuju ke kamar mandi, ia menyegarkan tubuhnya. Sementara Aruna berada di dapur, ia meminum hampir tiga gelas air putih. Aruna masih terkejut karena alat vital yang lembek bisa mengalami pelepasan. Apakah memang benar begitu? "Kenapa bisa? Kalau pijatan bisa memberikan stimulan di bagian otot-otot, jadi bisa juga ...." Aruna bertanya-tanya sendiri. Sampai akhirnya Bima menyusulnya. Pria itu terlihat segar dengan rambut yang masih setengah basah. "Kamu di sini? Aku mencarimu di kamar." "Aku minum." "Oh, makanya aku mencarimu." Aruna segera menaruh gelasnya, tapi kemudian Bima segera mengusap perlahan puncak kepala Ara. Gerakan kecil, tapi sensasinya seperti ada kepakan sayap kupu-kupu. Aruna menunduk. Ia mulai terbiasa dengan usapan Bima di puncak kepalanya. "Kita tidu
Bima bukanlah orang yang mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Walau begitu profesinya sebagai dokter, kerap membuat Bima berpikir kritis dan mengambil keputusan secara cepat. Sebab, yang ada di hadapannya adalah pasien yang butuh pertolongan secara tepat.Sama seperti sekarang, Bima sudah
Netra Aruna sepenuhnya bisa membaca bahwa botol obat itu tercantum nama pemiliknya yaitu Bima Wibisana. Akan tetapi, yang membuat Aruna terbelalak adalah obat yang tentu Aruna tahu bahwa itu adalah Sildenafil PDE5. Apalagi ekspresi wajah Bima sepenuhnya berubah. dokter yang selama ini memili
Di sebuah Villa pribadi. Rupanya Bima mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Bunga-bunga Mawar Putih dan Baby Breath menghiasi kebun di depan villa. Di depan ada meja kecil dan juga hanya beberapa bangku yang hanya kurang dari 50 kursi saja. Terlihat jelas bahwa Bima adalah orang yang
Siang yang begitu terik, calon dokter yang sedang mengikuti masa Koas baru saja menyelesaikan tugas jaga di IGD. Wajah cantiknya sedikit sayu karena semalaman ia berjaga. Namanya adalah Aruna, yang kini baru saja memasuki masa Koas di salah satu rumah sakit di kota Metropolitan. Begitu







