ログインSebelum ke rumah sakit, Aruna akhirnya memilih untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengambil laptop dan beberapa buku kedokteran miliknya. Ketika tiba di rumah, Aruna pikir bahwa kedua orang tuanya akan bersedih karena ia kini telah menikah, tapi yang terjadi adalah sebaliknya, Aruna mendengar bahwa kedua orang tuanya justru senang.
Gadis itu masih berdiri di luar pintu rumah, dan ia mendengar semua percakapan Ayah dan Ibunya. Hatinya semakin bertambah sedih saat mendengar percakapan kedua orang tuanya. "Semua utang kita sudah lunas. Sertifikat rumah yang dulu kita gadaikan untuk membayar kuliah Aruna saat keterima Fakultas Kedokteran sekarang sudah kembali. Akhirnya, bebas utang ...." Ayahnya berkata begitu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Sementara Ibunya juga turut menganggukkan kepalanya. Bagi orang dari kelas ekonomi menengah ke bawah saat anaknya yang pintar berhasil diterima di Fakultas Kedokteran jujur saja merasakan dilema. Di satu sisi peluang untuk mengubah hidup saat si anak nanti lulus dan berhasil menjadi dokter. Akan tetapi, di sisi lain ada Sumbangan Pendidikan dan biaya UKT yang mahal. Para orang tua bahkan sampai mau menggadaikan Sertifikat rumahnya agar anaknya bisa sekolah di Fakultas kedokteran. "Nikahnya dadakan, tapi suaminya kaya raya," kata Pak Sandy. "Jelas. Kalau bukan orang kaya pasti Ayah juga mikir dua kali," balas istrinya. "Tentu saja. Aruna berhasil melunasi utang kita. Leganya. Tahu gitu dulu-dulu dia dinikahi dokter Bima, jadi kita tidak dililit utang, tidak dikejar-kejar rentenir, dan mendapatkan ancaman." Aruna yang masih termangu di depan pintu hanya bisa menekan perasaannya. Yang ia rasakan sekarang justru sedih karena seperti tidak merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bahkan ia dianggap hanya sebagai pelunas utang. Setelah itu, Aruna mengetuk pintu, kemudian ia menyapa kedua orang tuanya. "Ayah ... Ibu." "Kamu ngapain di sini? Harusnya kamu masih bersama suamimu," balas ibunya. "Aruna hanya mau mengambil laptop dan beberapa buku saja kok." "Ya sudah, sana ... buruan diambil. Kalau sudah buruan pulang." Aruna akhirnya segera masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil tas ransel yang biasa ia kenakan untuk kuliah dan menjalani masa koas. Buku-buku, dan juga seragam untuk koas di rumah sakit. Tak ketinggalan pula stetoskop dan juga masker. Sebelum meninggalkan kamarnya, Aruna sempat membeku beberapa saat di sana. Kamar yang selama ini menjadi tempatnya sejak kecil sampai dewasa sekarang harus ia tinggalkan. Keluar dari kamar, Ayahnya sudah bersuara kepada Aruna. "Sudah semua kan? Kalau sudah cepat kembali nanti suamimu mencarimu," katanya. "Iya." "Satu lagi, makasih ya Aruna ... kamu berhasil mendapatkan suami orang baik, jadinya semua utang kita lunas. Kamu memang pelunas utang." Hati Aruna sangat sedih mendengarnya. Ia kemudian segera berpamitan dan kembali ke apartemen suaminya untuk menaruh barangnya dan kemudian berjalan kaki ke rumah sakit. Hampir setengah jam kemudian, Aruna sudah berada di rumah sakit. Gadis itu mengenakan setelan baju warna hijau. Baru saja tiba sudah ada panggilan agar Aruna segera ke kamar operasi. Sembari berlari Aruna mengenakan sarung tangan medis dan masker. Setibanya di dalam ruang operasi, rupanya ada dokter Bima yang terlebih dahulu di sana. "Pasien mengalami patah tulang. Jadi harus kita pasang pen," kata dokter Bima. "Catat tekanan darah pasien, Aruna." Bima memberikan perintah kepada istrinya. Ia masih ingat terkait permintaan Aruna untuk bersikap sewajarnya dan profesional selama di rumah sakit. "Baik, dokter." Aruna turut melihat bagaimana dokter yang ada memasangkan pen untuk menyambungkan tulang yang patah. Selain itu ada gypsum yang juga dipasang untuk melindungi tulang yang baru disambungkan. "Operative Report jangan lupa," perintah dokter Bima. "Siap, dokter." Aruna mengerjakan Operatif Report atau dokumen medis resmi yang berisi temuan, diagnosis, teknik dan kondisi pasien sebelum, selama, dan sesudah operasi. Aruna harus menginputnya ke dalam aplikasi digital, ia mengerjakan dengan teliti dan hati-hati. Dari jauh Bima memperhatikan Aruna yang sedang mengerjakan Operatif Report. Di dalam hatinya, Bima merasa memang Aruna harus lebih banyak belajar. Masa-masa Koas seperti ini harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Sebab, masa yang paling berkesan, masa mendapatkan banyak ilmu dan keterampilan medis justru saat koas. Setelah itu Bima berjalan kembali ke ruangannya. Namun, ia justru berpapasan dengan Clara. Wanita cantik itu pun langsung mengajak bicara Bima. "Kamu sudah berada di rumah sakit? Bukankah kemarin kamu baru saja ...." "Tidak usah memperjelas apa pun, Clara. Apa yang kamu lihat sebaiknya diam." "Oh, jadi begitu keinginanmu. Kamu lupa kalau aku memiliki video yang bisa membuat Aruna menanggung malu. Satu lagi, kalau ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi masa koasnya dalam masalah besar." Clara merasa di atas angin. Pertama, ia memiliki rekaman video saat Aruna diancam oleh renterir di depan rumah sakit. Kedua, Clara melihat langsung bahwa Bima dan Aruna telah menikah. Masa intens selama Koas bisa berantakan kalau memutuskan menikah. Walau menikah adalah hak pribadi, nyatanya para calon dokter akan memilih menikah setelah masa koas berakhir. Sebab, biasanya pasangan akan komplain dengan jam kerja yang panjang, rotasi rumah sakit, atau penempatan di luar daerah selama masa koas. Ancaman Clara tak membuat Bima panik. Pria itu justru bisa bersikap dengan tenang. "Coba saja kalau kamu berani," balas Bima. "Kamu keterlaluan Bima. Selama ini kamu baik sama aku, tapi hanya demi wanita miskin dan rendahan itu kamu berubah!" Clara mulai menuding Bima yang bukan-bukan. Namun, Bima tetap tenang. Ia sudah berani mengambil keputusan dan tentunya akan bertanggung jawab. Sepenuhnya Bima yakin bahwa pria dipercaya karena keberaniannya untuk tidak ingkar janji dan berani bertanggung jawab. Itu akan buktikan bahwa ia berani mengambil risiko dan siap bertanggung jawab secara penuh."Apakah ada perubahan yang dirasakan?" tanya dokter Sony. Saat ini Bima dan Aruna kembali melakukan konsultasi dan pemeriksaan. Sudah menjadi komitmen Bima bahwa ia akan melakukan pengobatan secara rutin dan Aruna tetap mendampingi suaminya. "Rasanya belum ada sama sekali." "Sudah melakukan jelqing?" Kali ini Aruna menganggukkan kepalanya, "Ya, sudah. Sudah saya lakukan." "Kali ini coba Pak Bima untuk pemanasan. Biasanya saat melakukan pemanasan, saat mulai berhasrat itu alat vital pria akan mengeras dan tegak berdiri. Coba dulu." Bima dan Aruna saling tatap. Aruna walau tidak punya pengalaman sebelumnya, tapi karena belajar kedokteran, maka ia tahu bahwa yang dimaksud dokter Sony adalah melakukan pemanasan sebagai pasangan. "Loh, tidak apa-apa. Kalian kan sudah menikah." "Eh, iya, dok." Aru
Usai kepergian Mama Ranti dan Clara, acara makan malam menjadi jauh lebih tenang. Walau saat ada orang lain yang memperhatikan lehernya, membuat Aruna malu. Seumur hidup baru kali ini ada tanda merah di lehernya. Bima yang duduk di hadapan Aruna juga diam-diam kerap melihat hasil lukisan bibirnya di leher Aruna itu. Kalau dipikir juga cukup menggelikan, tapi ternyata itu berhasil membuat mamanya dan Clara pergi. "Makan yang banyak, Na," kata Bima. "Hm, secukupnya saja, Mas." Bima lalu menganggukkan kepalanya, di tengah-tengah acara makan malam sepupu Bima yang baru bertunangan berdansa bersama. Aruna ikut tersenyum karena pasangan yang memulai dengan cinta rasanya pasti hati berbunga-bunga. Berbeda dengan pasangan yang menikah karena melunasi utang. Lagu-lagu cinta mengalun seolah menjadi harmonisasi yang indah. Sesekali deburan
"Mama heran karena kamu berani datang di acara keluarga besar kami. Lihatlah, siapa kamu! Jelas, kamu tidak sebanding dengan keluarga besar kami." Mama Ranti kembali mencibir Aruna. Ia menunjukkan bahwa Aruna benar-benar berbeda kelas. "Baju seperti itu. Tidak terkesan Luxury sama sekali." "Ma, jangan melihat orang dari penampilannya." Bima menghela napas kalau tetap di sini sudah pasti Aruna akan selalu menjadi cibiran. Bima kemudian berdiri. Lebih baik mereka kembali masuk ke dalam kamar. "Mau ke mana, Bim?" tanya Clara. "Tempat yang indah. Sangat cocok untuk pasangan suami istri." Bima kemudian menatap istrinya, "Sayang, aku mau nambah lagi yah?" Aruna tidak paham maksudnya, tapi ia hanya tersipu dengan rona merah di wajahnya. Bim
Malam hari saat sudah berada di rumah, agaknya suasana hati Bima belum sepenuhnya membaik. Ia seperti berkaca sendiri. Ada trauma yang kembali bangkit. Trauma itu menekan secara mental, dan Bima merasakannya sekarang. Aruna yang lelah usai dari rumah sakit pun meluangkan waktu untuk duduk bersama dengan Bima. Aruna masih ingat saat Bima berkata dulu bahwa mereka harus saling bercerita agar hubungannya semakin akrab. "Mas ...." Aruna memanggil perlahan. Bima tersenyum tipis. Setelahnya Aruna kembali berbicara kepada suaminya. "Bagaimana perasaanmu?" "Hm, i am fine." "Tidak terlihat baik," balas Aruna. Bima tampak menghela napas, Aruna kemudian berbicara lagi, "Dulu memang Mas tidak ada tempat untuk berbagi, tapi katamu dulu bahwa s
"Pasien belum sadar usai kecelakaan. Cepat lakukan CT Scan terlebih dahulu." Bima memberikan instruksi kepada tenaga medis yang bekerja bersamanya. Siang itu datang pasien karena kecelakaan. Apabila dilihat dari luar tidak ada luka yang serius. Darah hanya di area lutut, tapi pasien itu belum sadar. Di sana ada pula para calon dokter yang siap setiap kali keadaan darurat. Begitu juga dengan Aruna yang berada di sana. "Catat denyut jantung, nadi, dan tekanan darah," perintah Bima. "Baik, dokter." Aruna segera lakukan apa yang Bima perintahkan. Tidak berselang lama, laporan sudah Bima dapatkan. Sembari menunggu, pasien dibawa ke ruang tindakan dan dipasangkan infus terlebih dahulu. "Saksi kecelakaan di mana?" tanya Bima. Datanglah seseorang yang menemui Bima siang itu, "Saya, dokter." "Bagaimana kronologinya?" "Saya du
Bima meraih tissue untuk membersihkan dirinya. Usai itu, rupanya Bima menuju ke kamar mandi, ia menyegarkan tubuhnya. Sementara Aruna berada di dapur, ia meminum hampir tiga gelas air putih. Aruna masih terkejut karena alat vital yang lembek bisa mengalami pelepasan. Apakah memang benar begitu? "Kenapa bisa? Kalau pijatan bisa memberikan stimulan di bagian otot-otot, jadi bisa juga ...." Aruna bertanya-tanya sendiri. Sampai akhirnya Bima menyusulnya. Pria itu terlihat segar dengan rambut yang masih setengah basah. "Kamu di sini? Aku mencarimu di kamar." "Aku minum." "Oh, makanya aku mencarimu." Aruna segera menaruh gelasnya, tapi kemudian Bima segera mengusap perlahan puncak kepala Ara. Gerakan kecil, tapi sensasinya seperti ada kepakan sayap kupu-kupu. Aruna menunduk. Ia mulai terbiasa dengan usapan Bima di puncak kepalanya. "Kita tidu
"Kalau sudah selesai, kita tidur." Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama. Hari suda
Setibanya di villa, Bima meminta Aruna untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Apalagi mereka usai kegerimisan, karenanya Bima meminta Aruna untuk mandi, dan setelah itu turun ke bawah menemuinya. "Mandilah dulu ... gerimis tadi bisa membuatmu masuk angin nanti," katanya.
Di sebuah Villa pribadi. Rupanya Bima mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Bunga-bunga Mawar Putih dan Baby Breath menghiasi kebun di depan villa. Di depan ada meja kecil dan juga hanya beberapa bangku yang hanya kurang dari 50 kursi saja. Terlihat jelas bahwa Bima adalah orang yang
Bima bukanlah orang yang mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Walau begitu profesinya sebagai dokter, kerap membuat Bima berpikir kritis dan mengambil keputusan secara cepat. Sebab, yang ada di hadapannya adalah pasien yang butuh pertolongan secara tepat.Sama seperti sekarang, Bima sudah







