MasukEryx bukan pria bodoh. Sepanjang malam setelah pembicaraan di taman paviliun barat itu, ia tidak bisa memejamkan mata. Setiap kali ia mengingat sorot mata "Rhea" saat membahas tentang mendiang sekretarisnya, ada sesuatu yang terasa janggal. Ketertarikan pengawal pribadinya itu pada kasus Felix terlalu mendalam, terlalu personal, dan terlalu sarat akan emosi untuk ukuran seorang asing yang mengaku hanya mengincar uang dan kekuasaan Leander. Pagi-pagi sekali, tanpa membawa pengawal lain dan tanpa sepengetahuan Aeri, Eryx mengambil langkah ekstrem. Ia mengendarai mobilnya sendiri menuju distrik pinggiran tempat orang tua Felix tinggal. Rumah tua itu tampak sepi dan diselimuti duka yang belum usai. Kedatangan sang calon kepala dinasti Leander tentu mengejutkan kedua orang tua yang telah berambut perak itu. Mereka menyambutnya dengan ketakutan yang kentara. Eryx duduk di kursi kayu yang berderit, menolak teh yang disuguhkan. "Aku tidak akan lama," ucap Eryx datar, matanya menyisir ruang
Eryx memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan sepasang manik mata gelapnya mengunci wajah Aeri. Di bawah remang cahaya lampu taman, keheningan di antara mereka terasa sangat berbeda dari biasanya—bukan lagi ketegangan yang mencekik dari dua orang yang saling mengintai, melainkan kesunyian yang aneh dari dua orang yang sama-sama tersesat dalam labirin nestapa."Kau juga sedih?" Eryx mengulang kalimat itu dengan suara rendah, nyaris menyerupai bisikan angin malam. Sudut bibirnya terangkat tipis, mengukir senyuman hambar yang sarat akan kepasrahan. "Karena apa, Gahensa? Atau... haruskah aku memanggilmu Rhea malam ini?"Aeri terenyak kecil saat nama palsu itu kembali diucapkan. Ia buru-buru membuang pandangannya ke arah hamparan mawar hitam yang tumbuh liar di tepi kolam taman. "Saya sedih karena melihat bagaimana dunia ini berjalan, Tuan Muda. Di tempat seperti Leander, kebenaran terasa seperti barang mewah yang sengaja dikubur demi angka-angka di atas kertas logistik. Nyawa seseorang s
Rapat besar Dewan Tetua malam itu akhirnya ditutup tanpa konklusi mutlak mengenai kematian Felix, menyisakan ketegangan laten yang siap meledak kapan saja. Begitu para petinggi membubarkan diri, atmosfer di dalam kediaman Leander justru kian memekat.Di salah satu sudut koridor remang yang menuju ke arah taman sayap barat, Selena melangkah dengan anggun namun tergesa. Tanpa sepengetahuan siapa pun, ia telah mengatur pertemuan sepihak. Di sana, bersandar pada pilar marmer, berdiri detektif kementerian terbaik yang belakangan ini mengobrak-abrik ketenangan dinasti mereka.Selena berhenti beberapa langkah di hadapan pria itu, melipat kedua tangannya di dada dengan dagu terangkat tinggi. "Siapa yang memintamu mengungkap kembali kasus Felix?" tanyanya langsung, tanpa basa-basi. "Kematian seorang pengawal rendahan tidak akan membuat detektif sekelasmu bergerak semudah ini, kecuali ada bidak besar yang membayarmu."Namun, detektif itu hanya tersenyum tipis, enggan menjawab. Ia memperbaiki le
Aeri merasakan seluruh pandangan di dalam aula besar itu bergeser dan mengunci sosoknya dalam seketika. Perintah Eryx laksana petir di siang bolong, menghancurkan posisi bertahannya sebagai pengamat pasif. Di bawah tatapan ratusan pasang mata yang dipenuhi kecurigaan dan ketakutan, Aeri dipaksa melangkah maju. Setiap ketukan sepatu taktisnya di atas karpet merah beludru terdengar begitu nyaring di telinganya sendiri. Otaknya berputar liar. Koper bukti di ruang kerja barat? Eryx tidak pernah memberitahunya tentang hal ini sebelumnya. Pria itu sengaja menjadikannya pion utama di tengah altar penghakiman ini. Saat melewati barisan kursi, Aeri bisa melihat rahang Kaeragha mengencang, sementara Selena tampak menegakkan punggungnya dengan raut wajah yang mendadak menegang. Aeri melangkah mantap keluar dari aula melalui pintu samping yang dijaga ketat, menuju ruang kerja barat paviliun utama. Pikirannya berpacu dengan waktu. Begitu tiba di dalam ruangan mewah yang sunyi itu, matanya lang
Malam berlalu seperti mimpi buruk yang enggan usai, dan ketika fajar menyingsing di ufuk timur, kabut tebal menyelimuti seluruh area kediaman utama Leander. Aeri terbangun dengan kepala yang terasa jauh lebih ringan berkat efek obat semalam, tetapi beban di dadanya justru terasa berkali-kali lipat lebih berat. Hari pelantikan sang pewaris telah tiba. Hari di mana semua rahasia yang terkubur di balik dinding-dinding marmer ini dipaksa menyeruak ke permukaan.Aeri segera mengenakan seragam taktis formalnya. Dia menjalin rambut panjangnya dengan amat rapi, menekannya di balik wig pendek, lalu memasang baret hitamnya dengan presisi yang sempurna. Di cermin, sosok "Gahensa" yang kaku, dingin, dan tanpa cela kembali menatapnya. Tidak boleh ada sedikit pun gurat kelemahan. Hari ini, dia adalah seorang prajurit, seorang adik yang menuntut balas, bukan wanita rapuh bernama Rhea yang menangis di atas ranjang Eryx.Tepat pukul tujuh malam, Aula Agung Leander telah disulap menjadi samudra kemewah
Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang solid, meninggalkan Aeri dalam kesunyian yang mencekam. Dia menatap langit-langit kamar yang tinggi, tempat bayangan lampu gantung membentuk pola-pola aneh yang tampak seperti jaring laba-laba yang siap mengurungnya selamanya. Setitik air mata kembali lolos dari sudut matanya, membasahi bantal sutra di bawah kepalanya.Kata-kata Eryx barusan—"Aku tidak suka barang milikku rusak sebelum waktunya"—terasa seperti belati yang diputar di dalam lukanya. Pria itu memperlakukannya seperti properti, sebuah aset yang harus dijaga agar tetap berfungsi demi kepentingannya sendiri. Namun, di balik kedinginan itu, cara Eryx menggendongnya dan kelembutan yang tidak disengaja saat menyelimutinya tadi terus mengacaukan logika Aeri."Kau harus fokus, Aeri," bisik wanita itu pada dirinya sendiri, meremas selimut tebal yang menutupi dadanya. "Dia adalah seorang Leander. Siapa pun dia di masa lalu, sekarang dia adalah calon kepala dinasti yang paling kejam. Jang
"Kak Gahensa, kenapa kamu buru-buru sekali? Aku masih hidup sekarang. Artinya adalah, aku masih bisa bertarung," bisik Eryx di depan wajah Aeri. Aeri menahan nafas dengan kedua mata terbelalak. Lagi-lagi dia gegabah. Namun jika tidak didorong, bagaimana dia akan segera mengetahui dibalik kematia
Di daratan utama, jeritan peluru di Gudang 44 akhirnya mereda. Pasukan elite akademi yang digerakkan oleh dana taktis Eryx, berkolaborasi dengan tim taktis Tiago Leander, berhasil membalikkan keadaan. Alih-alih melakukan pembantaian, perintah mutlak dari Eryx yang diteruskan secara rahasia membu
Pagi hari tiba membawa kabut tipis yang menyelimuti Renhill. Sesuai dengan instruksi Tiago, sebuah mobil limusin hitam mewah sudah terparkir di depan lobi utama. Tidak lama kemudian, Lyra Xan datang. Wanita itu tampak anggun sekaligus angkuh dalam balutan gaun kasual mahal, lengkap dengan kacamata
Eryx masih terpaku. Rasa panik yang samar di matanya perlahan mengendap, digantikan oleh senyuman tipis yang dipaksakan. Dia menatap Gahensa dengan pandangan menilai. Pertanyaan tentang Kaeragha dan Felix jelas mengusik ketenangannya, namun hasrat untuk bebas dari cengkeraman ayahnya jauh lebih bes







